Bekuan darah adalah kondisi di mana darah menggumpal dan menjadi seperti gel. Kondisi ini sebenarnya normal terjadi. Tubuh akan membekukan darah ketika terjadi luka supaya darah tidak mengalir terus menerus. Namun ada kondisi di mana terjadi bekuan darah yang terjadi secara tidak normal sehingga menyebabkan penyakit.

Bekuan darah ini dapat terjadi di pembuluh darah arteri (saluran yang membawa darah dari jantung ke seluruh tubuh) ataupun pembuluh darah vena (saluran yang membawa darah dari seluruh tubuh ke jantung). Keduanya memiliki gejala dan mekanisme penyebab yang berbeda.

 

Gejala dari bekuan darah tergantung dari lokasi bekuan darah tersebut. Berikut gejala bekuan darah berdasarkan lokasinya ialah:

Deep Vein Thrombosis (DVT)

Deep vein thrombosis adalah bekuan darah yang terjadi pada pembuluh vena bagian dalam. Jika bekuan darah terjadi pada pembuluh vena yang lokasinya dekat dengan kulit atau dipermukaan tubuh, maka disebut superficial vein thrombosis.

Bekuan darah pada DVT umumnya terjadi di paha dan betis berupa:

  1. Perubahan warna menjadi lebih gelap atau merah.
  2. Bengkak.
  3. Nyeri.
  4. Hangat jika disentuh.

Bekuan darah pada DVT dapat lepas dari tempat awalnya melekat dan kemudian terbawa aliran darah ke area lain. Bekuan darah yang terbawa aliran darah ini disebut dengan emboli. Emboli dapat menghambat aliran darah dan menimbulkan gejala sakit di lokasi emboli berada. Contohnya, emboli yang ada di paru-paru dapat menyebabkan kondisi pulmonary emboli. Keluhan penyakit ini adalah sesak nafas, batuk (dapat berupa batuk berdarah bisa juga tidak), nafas menjadi cepat dan nyeri dada.

Bekuan darah di pembuluh darah arteri

Arus darah pada pembuluh arteri lebih deras dibandingkan pembuluh vena. Oleh karena itu bekuan darah kecil saja dapat menyebabkan sumbatan. Umumnya emboli pada arteri dapat menyumbat aliran darah ke otak atau jantung sehingga menyebabkan stroke.

Bekuan darah di pembuluh darah arteri dan bekuan darah di pembuluh darah vena memiliki penyebab berbeda.

Bekuan darah di Vena

Beberapa faktor yang meningkatkan risiko bekuan darah di vena:

  1. Aliran darah yang stasis dalam jangka waktu panjang, salah satu contohnya adalah duduk dalam jangka waktu yang lama di pesawat, atau ketika tidak dapat bergerak setelah operasi.
  2. Hypercoagulability (kondisi yang membuat darah mudah untuk menggumpal). Hal ini disebabkan oleh kelainan genetik berupa kelebihan jumlah faktor pembekuan VIII, IX, XI, kurangnya protein pengencer darah seperti protein S, protein C, antithrombin III, mutasi gen prothrombin, kadar homosistein tinggi, gangguan sistem fibrinolisis.
    Hiperkoagulabilitasi juga dapat terjadi pada penderita kanker, obesitas, diabetes melitus, kehamilan, sedang mengonsumsi pil KB, lupus dan dalam pengobatan hormonal.
  3. Kerusakan pada pembuluh vena. Beberapa penyebabnya adalah operasi, infeksi berat atau sepsis, penggunaan narkotika jenis suntik, sedang dalam pengobatan kemoterapi.

Bekuan darah di arteri

Bekuan darah di arteri merupakan gabungan dari lemak dan darah. Hal ini terjadi jika terdapat luka di pembuluh darah arteri dan terdapat banyak lemak di dalam darah. Faktor yang meningkatkan risiko dari penyakit ini:

  1. Merokok.
  2. Tekanan darah yang tinggi.
  3. Kadar kolesterol yang tinggi dalam darah.
  4. Genetik.
  5. Diabetes.
  6. Pola makan tidak sehat.

Dokter akan melakukan tanya jawab, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis. Beberapa pemeriksaan penunjang yang disarankan adalah:

  • Duplex ultrasonography: untuk memeriksa adakah hambatan pada pembuluh darah.
  • D-dimer: untuk mendeteksi uraian gumpalan darah pada aliran darah.
  • Contrast venography procedure: menyuntikkan zat kontras pada pembuluh darah lalu di dilakukan foto rontgen untuk melihat ada atau tidak pembuluh darah yang terhambat.
  • Magnetic resonance imaging (MRI).
  • Pemeriksaan laboratorium darah (untuk memeriksa kadar kolesterol dalam darah).
  • EKG (Electrocardiogram): pemeriksaan kelistrikan jantung untuk menilai adakah kelainan jantung yang disebabkan oleh DVT.
  • Chest X-Ray: foto rontgen dada untuk mengetahui gangguan organ yang disebabkan oleh DVT.
  • Ankle/Brachial Index: pemeriksaan tekanan antara kaki dan tangan. Pemeriksaan ini dilakukan karena mudah dan tidak invasif.
  • Angiography: prosedur medis dengan menggunakan sinar-X untuk memeriksa kondisi jantung, pembuluh darah arteri dan vena.

Pengobatan terhadapat bekuan darah tergantung dari jenis penyakit dan tingkat keparahnya. Fokus pengobatan adalah menghancurkan bekuan darah yang menyumbat aliran darah dan mencegah kejadian ini terjadi kembali. Berikut beberapa penanganan yang mungkin akan disarankan:

  • Obat anticoagulant: obat yang dapat diberikan adalah rivaroxaban, fondaparinux,apixaban, dabigatran, dan warfarin.
  • Obat untuk menurunkan kolesterol.
  • Obat anti-platelet.
  • Obat beta-blocker.
  • Obat angiotension-converting enzyme.

Pencegahan terhadap bekuan yang terjadi di vena dan arteri berbeda, namun sederhananya pencegahan yang dapat dilakukan adalah menghindari faktor-faktor yang meningkatkan risiko bekuan darah seperti melaksanakan hidup sehat yakni tidak merokok, konsumsi makanan bergizi dan seimbang, menjaga berat badan ideal, konsumsi air mineral 2 liter per hari, hindari duduk terlalu lama dan berolahraga secara teratur.

Segeralah mencari pertolongan medis bila Anda mengalami gejala sesak napas, rasa tidak nyaman di dada, kaki atau tangan terasa hangat, pucat dan membiru.

Saat gejala pertama kali dirasakan, Anda mungkin ke dokter umum dulu. Bila dokter mencurigai kondisi yang Anda alami diluar kompetensinya, dokter akan merujuk Anda ke dokter spesialis.

Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:

  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat obat-obatan atau vitamin yang secara rutin anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.

Saat pemeriksaan, dokter mungkin akan mengajukan beberapa pertanyaan berikut ini:

  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda menderita kondisi tertentu yang meningkatkan risiko Anda mengalami bekuan darah?
  • Apakah Anda rutin mengkonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya dan apa saja pengobatan yang sudah Anda coba?

Setelah itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik dan mungkin menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis.

American Society of Hematology. https://www.hematology.org/Patients/Clots/
Diakses 8 November 2019

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5778510/
Diakses 8 November 2019

Artikel Terkait