Batuk Rejan

Ditinjau dr. Indra Wijaya, Sp.PD-KMED, M.Kes, FINASIM pada 12 Apr 2019
Gejala batuk rejan adalah demam, suara serak, dan timbul suara saat bernapas.
Batuk rejan dapat dicegah dengan melakukan vaksinasi difteri dan Haemophilus Influenza tipe B pada anak.

Pengertian Batuk Rejan

Batuk rejan atau pertusis adalah kondisi yang mempengaruhi saluran pernapasan bayi dan anak-anak. Batuk rejan mengacu pada infeksi saluran pernapasan bagian atas yang menyebabkan batuk. 

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Batuk rejan berawal dari flu biasa. Namun ketika terjadi peradangan atau inflamasi, batuk akan semakin serius. Batuk rejan berangsur-angsur memburuk di malam hari, dan semakin memburuk pada keadaan menangis dan batuk. Gejala lain yang timbul adalah demam, suara serak, dan timbul suara saat bernapas.

Penyebab

Batuk rejan umumnya disebabkan oleh infeksi virus parainfluenza. Virus ini tersebar melalui udara. Bayi dan anak-anak dapat terinfeksi saat menghirup udara yang terinfeksi. Partikel virus dalam udara juga dapat berkembang pada mainan dan permukaan lainnya. Jika bayi dan anak-anak menyentuh permukaan yang terkontaminasi, kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut, maka kemungkinan besar infeksi akan terjadi.

Diagnosis

Pertama-tama, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik. Dokter akan memeriksa dada, tenggorokan dan mengamati pernapasan. Tes X-ray atau tes lain juga dapat dilakukan untuk mengamati kemungkinan penyakit lain.

Pengobatan

Pengobatan batuk rejan dapat dilakukan di rumah. Usahakan agar bayi dan anak-anak merasa nyaman dan aman, karena tangisan akan memperburuk obstruksi pernapasan. Jika gejala tidak hilang atau memburuk setelah lima hari, dokter mungkin akan meresepkan sejenis steroid (glucocorticoid) untuk mengurangi peradangan di saluran napas. Manfaat dari obat dapat dirasakan dalam enam jam. Dexamethasone juga biasa direkomendasikan karena efeknya yang tahan lama (hingga 72 jam).

Pencegahan

Sama halnya dengan pencegahan flu dan pilek, pencegahan batuk rejan dimulai dari mencuci tangan, menjauhkan bayi dan anak-anak dari siapapun yang sakit, dan mengajarkan anak-anak untuk menutup mulut maupun hidung saat batuk dan bersin.

Untuk mencegah infeksi yang lebih serius, lakukan vaksinasi difteri dan Haemophilus Influenza tipe B untuk bayi dan anak anda. Vaksinasi tersebut melindungi pasien dari beberapa infeksi saluran napas bagian atas yang meskipun sangat jarang terjadi namun juga sangat berbahaya.

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Segera hubungi dokter atau rumah sakit terdekat jika anak anda:

  • Mengeluarkan suara bernada tinggi saat menghirup dan menghembuskan napas.
  • Meneteskan air liur dan sulit menelan
  • Terlihat jauh lebih rewel, gelisah, lesu, dan lelah daripada biasanya
  • Bernapas lebih cepat dari biasanya
  • Kesulitan bernapas
  • Kulit sekitar hidung, mulut, dan kuku menjadi biru atau keabu-abuan

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Berkonsultasi dengan Dokter?

Jika gejala anak semakin memburuk dan pengobatan tidak menunjukkan perbaikan, segera hubungi dokter. Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan untuk menentukan pengobatan yang tepat, misalnya:

  • Apa gejala anak anda?
  • Apakah anak anda mengalami demam atau kesulitan menelan?
  • Sudah berapa lama anak anda mengalami gejala?
  • Seberapa cepat batuk anak anda memburuk?
  • Pernahkah anda memperhatikan pola batuk anak anda?
Referensi

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/whooping-cough/symptoms-causes/syc-20378973
diakses pada 11 Januari 2019.

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/whooping-cough/ 
diakses pada 11 Januari 2019.

Web MD. https://www.webmd.com/children/whooping-cough-symptoms-treatment#1
diakses pada 11 Januari 2019.

Back to Top