BAB Berlendir

16 Mar 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image BAB Berlendir
Lendir yang terlihat saat BAB menandakan adanya masalah pencernaan
Lendir yang keluar saat buang air besar (BAB) adalah hal yang normal. Namun, biasanya lendir tersebut tidak terlihat dengan mata telanjang. Apabila tinja berlendir dan dapat diamati dengan jelas, hal tersebut dapat menandakan masalah pencernaan.Tinja atau feses biasanya memang mengandung sedikit lendir yang diproduksi oleh usus. Lendir ini berfungsi untuk menjaga lapisan usus tetap lembab dan terlumasi serta membantu melancarkan proses buang air besar.Umumnya, lendir yang dihasilkan tubuh secara alami berwarna bening dan bertekstur encer. Beberapa faktor seperti penyakit, pola makan, atau kondisi lingkungan dapat mengubah ciri fisik lendir yang normal. Konsistensi lendir dapat berubah menjadi lebih kental. Warnanya juga bisa mengalami perubahan.Konsultasikan pada dokter apabila Anda mendapati lendir yang terasa tidak normal pada tinja. Dokter akan memeriksa untuk menemukan penyebabnya agar pengobatan paling efektif dapat diberikan.
Beberapa kondisi berikut dapat menjadi penyebab BAB berlendir secara tidak normal, antara lain:
  • Irritable bowel syndrome (IBS): kelainan yang umum terjadi pada sistem pencernaan. Kondisi ini memengaruhi fungsi normal usus besar, dan dapat meningkatkan jumlah lendir yang muncul pada tinja saat BAB.
  • Intoleransi laktosa: gangguan pencernaan akibat tubuh yang tidak mampu mencerna dan menyerap laktosa. Akibatnya, laktosa yang dikonsumsi akan terus berada di usus tanpa tercerna dengan baik. Kondisi ini memicu berbagai gejala gangguan pencernaan, termasuk BAB berlendir.
  • Infeksi saluran cerna: dapat disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, atau parasit yang berasal dari makanan dan minuman yang terkontaminasi atau akibat buruknya kebersihan diri. Kondisi ini biasanya dipicu disentri, yaitu BAB yang disertai darah atau lendir. Disentri merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan amoeba.
  • Kolitis ulserativa: menyebabkan peradangan dan luka jangka panjang di lapisan paling dalam dari usus besar (kolon) dan dubur, sehingga memungkinkan tinja menjadi berlendir ketika BAB.
  • Crohn’s disease atau penyakit Crohn: peradangan saluran cerna yang kronis. Kondisi ini dapat terjadi pada setiap bagian saluran cerna, meski paling sering di area usus. Salah satu gejalanya adalah BAB berlendir.
  • Penyakit Celiac: gangguan kekebalan tubuh yang memicu kerusakan vili usus halus dan gangguan penyerapan nutrisi. Penderita harus menghindari konsumsi makanan yang mengandung gluten untuk mencegah munculnya gejala, termasuk BAB berlendir.
  • Fisura ani: luka robekan yang terjadi pada dinding saluran anus. Robekan tersebut dapat menyebabkan rasa sakit serta hingga perdarahan serta lendir berlebih saat buang air besar.
  • Fistula ani: lubang abnormal seperti terowongan kecil yang terbentuk di antara kulit dan otot anus. Iritasi hingga BAB berlendir menjadi gejala kondisi ini.
  • Volvulus: kondisi usus besar yang terpelintir sehingga menyebabkan tersumbatnya usus dan lendir abnormal pada tinja.
  • Masalah malabsorpsi: disebabkan oleh sejumlah gangguan pada usus sehingga tidak dapat menyerap atau mencerna nutrisi. Contohnya adalah pankreatitis kronis, masalah kardiovaskular tertentu maupun penyakit celiac.
  • Fibrosis kistik: kelainan bawaan yang menyebabkan lendir kental terbentuk di paru-paru dan sistem pencernaan. Hal ini memicu infeksi dan masalah dalam mencerna makanan termasuk BAB berlendir.
  • Gastroenteritis: infeksi usus akibat bakteri atau virus yang menyerang lambung dan usus. Gejala umum infeksi ini adalah adanya lendir yang tidak biasa pada feses.
  • Obstruksi usus: penyumbatan yang terjadi pada usus. Akibatnya, makanan, cairan, asam lambung dan gas dapat menumpuk di belakang tempat penyumbatan dan menimbulkan berbagai gejala termasuk BAB berlendir.
  • Alergi makanan: beberapa makanan seperti kacang-kacangan, laktosa atau gluten dapat menyebabkan alergi yang memicu munculnya lendir abnormal pada tinja
  • Proktitis: peradangan yang terjadi pada lapisan dalam dari rektum. Penderita proktitis dapat merasa kesakitan atau tidak nyaman, dan terus-menerus ingin buang air besar dengan tinja yang berlendir.
  • Divertikulitis: radang akibat infeksi yang terjadi di diverticula pada dinding usus bagian dalam.
  • Keracunan makanan: ditandai dengan gejala seperti flu dan adanya lender ketika buang air besar
  • Kanker di saluran pencernaan: meliputi kanker esofagus, lambung, usus kecil, usus besar, atau rektum. Kanker dapat mengganggu fungsi normal dari saluran pencernaan dan berbagai gejala pun akan bermunculan, termasuk tinja berlendir.
  • Komplikasi operasi, baik secara ileostomi atau kolostomi: beberapa orang yang pernah menjalani baik ileostomi atau kolostomi mungkin akan menemukan adanya lendir di tinja
  • Konstipasi atau sembelit: kondisi yang ditandai dengan kesulitan buang air besar selama beberapa minggu atau lebih 
  • Obat-obatan tertentu: antibiotik dapat memengaruhi bakteri dan flora yang berada di usus sehingga dapat menyebabkan diare dan meningkatkan gerakan lendir
  • Dehidrasi: tubuh yang kekurangan cairan akan mengalami dehidrasi. Kondisi ini terjadi jika air yang keluar tubuh lebih banyak dibanding yang diterima. Salah satu gejalanya yakni BAB berlendir.
 
Hubungi dokter apabila Anda mendapati lendir saat buang air besar, terutama yang diikuti kondisi seperti berikut ini.
 
Medicalnewstoday. https://www.medicalnewstoday.com/articles/310101#when-doctor
Diakses pada 14 Januari 2021
Gutcare. https://www.gutcare.com.sg/mucus-in-stool-why-it-happens-and-what-does-it-mean/
Diakses pada 14 Januari 2021
Buoyhealth. https://www.buoyhealth.com/learn/mucousy-stools#gastrointestinal-cancers
Diakses pada 14 Januari 2021
Tuasaude. https://www.tuasaude.com/en/mucus-in-stools/
Diakses pada 14 Januari 2021
WebMD. https://www.webmd.com/digestive-disorders/mucus-in-poop-stool#1
Diakses pada 14 Januari 2021
Verywellhealth. https://www.verywellhealth.com/what-can-cause-mucus-in-the-stool-1943021
Diakses pada 14 Januari 2021
Healthgrades. https://www.healthgrades.com/right-care/digestive-health/mucus-in-stool
Diakses pada 14 Januari 2021
 
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email