Aneurisma Aorta

Ditinjau dr. Widiastuti
Aneurisma aorta adalah pembengkakan aorta yang dapat berakhir pada pecahnya pembuluh darah.
Pembengkakan atau tonjolan terdapat pada aorta yang mengedarkan darah ke seluruh tubuh.

Pengertian Aneurisma Aorta

Aneurisma aorta merupakan pembengkakan atau tonjolan abnormal pada dinding pembuluh darah utama (aorta), yang membawa darah dari jantung ke seluruh tubuh. Aneurisma aorta dapat terjadi di berbagai lokasi pada aorta dan dapat berbentuk seperti tabung (fusiform), maupun bulat (sakular).

Aorta merupakan pembuluh darah utama dan terbesar pada tubuh, yang berperan mengantarkan oksigen keseluruh bagian tubuh. Aorta keluar dari bilik kiri jantung, melengkung ke bawah dan bergerak melalui dada, lalu ke area perut. Aneurisma aorta biasanya mulai dengan ukuran kecil. Namun, kondisi ini dapat menjadi serius dan mengancam nyawa bila tidak diawasi dengan baik.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Pada stadium awal, penyakit ini mungkin tidak menimbulkan gejala. Saat penyakit ini berkembang menjadi lebih besar, maka gejala yang mungkin timbulkan adalah sakit pada perut, dada, atau punggung. Kondisi ini biasanya tidak terdeteksi sampai pasien menjalani pemeriksaan rutin ke dokter.

Ketika pecah, kondisi aneurisma menjadi darurat dengan gejala yang serius. Gejala yang dapat ditimbulkan antara lain:

  • Nyeri yang terjadi secara mendadak, hebat, dan terus-menerus pada perut atau punggung.
  • Pusing
  • Kepala terasa ringan
  • Kulit terasa dingin dan lembap
  • Tekanan darah menurun
  • Denyut nadi terasa cepat
  • Sesak napas
  • Pingsan atau kehilangan kesadaran.

Penyebab

Penyakit ini disebabkan oleh berbagai hal yang melemahkan dinding aorta. Pada orang sehat, dinding aorta bersifat lentur dan dapat meregang untuk menangani perubahan normal dalam aliran darah. Namun seiring pertambahan usia, dinding aorta menjadi lemah karena tekanan darah tinggi, merokok, atau kadar kolesterol tinggi.

Karena adanya bagian dinding aorta yang melemah, maka tonjolan keluar dapat terjadi pada bagian tersebut. Semakin besar tonjolan tersebut berkembang, maka semakin besar risikonya untuk pecah. Pecahnya tonjolan bisa menimbulkan pendarahan masif di dalam tubuh dan berpotensi fatal, apabila tidak segera ditangani.

Ada dua jenis aneurisma aorta, yaitu aneurisma aorta perut dan aneurisma aorta toraks.

  • Aneurisma aorta perut merupakan jenis aneurisma aorta yang terjadi di sepanjang bagian aorta yang melalui perut Kondisi ini lebih umum terjadi dibandingkan dengan aneurisma aorta pada dada, dan lebih kerap dialami oleh individu dengan:
    • Riwayat sebagai perokok
    • Aterosklerosis (pengerasan dari pembuluh darah arteri)
    • Tekanan darah tinggi
    • Keluarga dengan riwayat aneurisma aorta pada perut
  • Aneurisma aorta toraks (dada) merupakan jenis aneurisma aorta yang terjadi di sepanjang aorta yang melalui rongga dada. Aneurisma aorta toraks (dada) lebih umum terjadi pada orang yang lahir dengan kelainan katup aorta, atau pada individu dengan kondisi yang berdampak pada jaringan dan pembuluh darah. Misalnya, sindrom Marfan, atau sindrom Ehlers-Danlos. Cedera yang disebabkan oleh kecelakaan mobil atau dari olahraga dapat melemahkan dinding aorta pada dada.

Pada beberapa kasus, seseorang dapat menderita aneurisma aorta perut dan aneurisma aorta toraks secara bersamaan. Penyakit ini dapat meningkatkan peluang untuk terkena diseksi aorta. Diseksi aorta adalah kondisi yang terjadi ketika muncul robekan pada lapisan dalam dari dinding aorta, dan menyebabkan satu atau lebih lapisan dinding tersebut terpisah, dan akan melemahkan dinding aorta. Menderita aneurisma aorta juga meningkatkan risiko terhadap pecahnya aneurisma tersebut.

Diagnosis

Aneurisma aorta biasanya ditemukan ketika seseorang menjalani pemeriksaan rutin medis. Aneurisma aorta toraks dapat dideteksi melalui pemeriksaan medis. Untuk jenis aneurisma aorta toraks, tes yang dapat dilakukan yaitu:

  • Foto rontgen dada
  • Echocardiogram
  • CT scan
  • Magnetic resonance angiography (MRA), yaitu MRI yang menggambarkan struktur pembuluh darah

Sementara itu, aneurisma perut sering ditemukan secara tidak sengaja saat melakukan konsultasi dengan dokter. Untuk jenis aneurisma perut, pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah:

  • USG pada perut
  • Foto rontgen pada dada
  • Echocardiogram
  • CT scan
  • Pemindaian MRA

Dokter merekomendasikan pemeriksaan bagi mereka yang berusia 60 tahun ke atas, untuk mencegah adanya aneurisma aorta. Terutama bagi para perokok dan individu dengan keluarga yang memiliki riwayat aneurisma aorta.

Pengobatan

Untuk aneurisma yang ringan dan berada tahap awal, biasanya belum membutuhkan pengobatan. Apabila Anda memiliki aneurisma kecil, dokter akan memantau perubahan pada aneurisma. Apabila kondisi ini berisiko mengganggu kesehatan Anda, maka dokter akan menyarankan untuk melakukan pembedahan sebelum tonjolan tersebut pecah. Jenis pembedahan yang dapat dilakukan adalah pembedahan terbuka dan pembedahan endovaskular.

Pembedahan terbuka

Pembedahan ini dilakukan dengan membuat sayatan pada bagian dada atau perut, untuk mengangkat bagian yang rusak dari aorta, lalu menggantinya dengan yang sehat melalui pencangkokan. Setelah pembedahan, pasien membutuhkan waktu yang cukup lama untuk pemulihan.

Pembedahan endovaskular

Pembedahan ini dilakukan dengan menggunakan kateter kecil yang melalui arteri femoralis lalu menuju ke bagian aorta yang rusak. Setelah itu, dokter akan melakukan pencangkokan kecil ke bagian yang rusak dan disatukan dengan aorta Anda. Hal ini berfungsi untuk memperkuat dinding aorta dan untuk mencegah tonjolan yang ada untuk pecah. Biasanya pemulihan setelah pembedahan lebih cepat. Selain itu, dokter juga dapat memberikan obat untuk mengontrol tekanan darah tinggi dan pemicu lain yang dapat menyebabkan penyakit ini.

Pencegahan

Belum ada cara pasti untuk mencegah penyakit ini. Namun, hal yang dapat Anda lakukan adalah dengan menjalani gaya hidup sehat sehingga dapat memperkecil risiko terjadinya aneurisma dan meningkatkan kesehatan pada umumnya. Cara-cara yang dapat dilakukan, seperti:

  • Menjaga tekanan darah agar tetap stabil dan normal
  • Menjaga kadar kolestrol pada kadar yang normal
  • Melakukan olahraga secara teratur
  • Menjaga berat badan tetap stabil dan ideal sesuai dengan indeks massa tubuh
  • Berhenti merokok dan hindari rokok
  • Mengurangi konsumsi makanan yang berlemak, mengandung banyak gula, maupun garam
Referensi

Healthline. https://www.healthline.com/health/aortic-aneurysm
Diakses pada 5 Desember 2018

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/aortic-aneurysm/symptoms-causes/syc-20369472
Diakses pada 5 Desember 2018

Back to Top