Anemia Defisiensi Vitamin B12 dan Folat

Ditulis oleh Olivia
Anemia defisiensi vitamin B12 dan folat adalah kondisi dimana jumlah hemoglobin dalam sel darah merah kurang dari normal
Kekurangan vitamin B12 sering terjadi kepada orang usia lanjut dengan angka kejadian 1 setiap 10 orang berusia 75 tahun, dan 1 setiap 20 orang berusia 65-74 tahun.

Pengertian Anemia Defisiensi Vitamin B12 dan Folat

Anemia adalah suatu kondisi dimana jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pengangkut oksigen) dalam sel darah merah kurang dari normal. Jika jumlah sel darah normal namun hemoglobin sedikit, sel darah merah tetap tidak dapat berfungsi dengan normal karena hemoglobin diperlukan untuk mengangkut oksigen yang akan diedarkan ke seluruh tubuh.

Ada beberapa macam tipe anemia yang dibedakan berdasarkan penyebabnya, salah satunya adalah anemia defisiensi vitamin B12 dan folat. Anemia ini disebabkan oleh kurangnya kadar vitamin B12 dan folat dalam tubuh. Vitamin B12 dan folat berfungsi untuk pembentukan sel darah merah yang normal. Jika kadarnya kurang, pembentukan sel darah merah terganggu sehingga bentuk sel darah merah menjadi lebih besar dan tidak dapat berfungsi secara normal.

Kurang vitamin B12 dan folat sering terjadi pada orang tua, dengan angka kejadian 1 setiap 10 orang berusia 75 tahun, dan 1 setiap 20 orang berusia 65-74 tahun.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Vitamin B12 dan folat tidak hanya berfungsi untuk pembentukan sel darah merah, melainkan juga untuk mendukung fungsi sistem saraf tubuh. Sehingga, kekurangan salah satu dari vitamin tersebut dapat menyebabkan berbagai macam gejala di samping anemia.

Gejala anemia antara lain:

  • Mudah lelah
  • Lemas
  • Sulit berkonsentrasi
  • Iritabilitas
  • Sakit kepala
  • Jantung berdebar-debar
  • Sesak napas
  • Kulit atau mukosa (selaput lendir, seperti di kelopak mata bagian dalam) pucat

Gejala kekurangan vitamin B12 dan folat selain anemia:

  • Kesemutan
  • Lidah membengkak, kemerahan, dan tampak mengkilap
  • Kemerahan di sudut mulut 
  • Nyeri menelan
  • Sariawan
  • Mual, muntah, nyeri perut, diare, terutama setelah makan
  • Penurunan berat badan
  • Kelemahan otot
  • Gangguan keseimbangan dan koordinasi
  • Gangguan penglihatan
  • Gangguan psikologis seperti depresi
  • Gangguan memori, pemahaman, dan penilaian
  • Bingung

Kulit dan mukosa (selaput lendir) tampak lebih gelap, terutama pada jari-jari dan telapak tangan dan kaki.

Penyebab

Ada banyak kondisi yang dapat menyebabkan kekurangan vitamin B12 maupun folat, antara lain:

  • Anemia pernisiosa: penyakit autoimun dimana sel imun menyerang sel sehat pada lambung yang berfungsi untuk menyerap vitamin B12 yang berasal dari makanan. Sehingga, vitamin B12 yang dikonsumsi tidak dapat masuk ke dalam tubuh.
  • Kekurangan konsumsi vitamin B12: sering terjadi pada orang dengan diet vegetarian.
  • Penyakit saluran cerna yang menyebabkan terganggunya penyerapan vitamin B12, contohnya penyakit Crohn, HIV, dan penyakit infeksi lain.
  • Kekurangan mineral zinc/seng: menghambat penyerapan vitamin B12.
  • Obat-obatan: beberapa obat dapat mengganggu penyerapan vitamin B12 di lambung, seperti obat anti kejang (fenitoin, dilantin), obat maag (antasida, atau golongan penghambat pompa proton seperti omeprazole dan lansoprazole), metotreksat, antibiotik (trimetoprim, sulfonamida), obat anti diabetes (metformin).
  • Gangguan metabolisme: contohnya pada hipotiroid (rendahnya kadar hormon tiroid).
  • Kelainan bawaan, dimana terjadi kekurangan enzim untuk metabolisme folat.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko kurang vitamin B12 dan folat adalah:

  • Konsumsi alkohol berlebihan
  • Malnutrisi (kurang gizi maupun obesitas)
  • Ibu hamil dan menyusui karena terdapat peningkatan kebutuhan vitamin B12 dan folat
  • Bayi: membutuhkan lebih banyak vitamin untuk pertumbuhan
  • Lansia
  • Penyakit ginjal dan hati, terutama yang membatasi konsumsi makanan tertentu
  • Menjalani hemodialisis: folat dapat ikut terbuang saat pencucian darah
  • Merokok
  • Pernah menjalani operasi pemotongan usus
  • Kanker
  • Anemia hemolitik (anemia akibat pecahnya sel darah merah)

Diagnosis

Beberapa tes yang dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis kekurangan vitamin B12 dan folat:

  • Pemeriksaan darah lengkap: dilakukan untuk melihat jumlah dan ukuran sel darah merah, juga untuk mengukur kadar vitamin B12 dan folat
  • Pemeriksaan darah dan urin untuk mengukur metabolisme vitamin B12 dan folat, yang secara tidak langsung dapat menunjukkan kadar vitamin B12 dan folat.
  • Pemeriksaan terhadap anemia pernisiosa dengan cara mendeteksi antibodi penyebab.
  • Tes Schilling: untuk melihat kelainan penyerapan vitamin B12.

Selain uji di atas, penegakkan diagnosis juga dapat dibantu dengan cara melihat perbaikan gejala maupun hasil laboratorium setelah pemberian vitamin B12 dan folat. Jika membaik setelah diberikan suplemen, maka anemia disebabkan oleh defisiensi vitamin tersebut.

Pengobatan

Terapi untuk kekurangan vitamin B12 dan folat dilakukan dengan menggantikan kekurangannya, baik dengan meminum tablet atau menyuntikkan vitamin B12. Biasanya, vitamin B12 diberikan pertama-tama dengan disuntikkan. Kemudian, pemberian berikutnya tergantung penyebab yang mendasari, dapat diberikan dalam bentuk tablet suplemen atau suntikan rutin. Lama pemberian juga tergantung penyebab, pada beberapa kasus membutuhkan suplemen vitamin B12 seumur hidup.

Sementara itu, tablet asam folat dapat digunakan untuk mengembalikan kadar folat dalam batas normal dan biasanya dikonsumsi sampai empat bulan.

Selain terapi suplementasi, asupan makanan juga harus diperhatikan. Makanan tinggi vitamin B12 contohnya adalah daging, telur, ikan, produk olahan susu, jamur, dan makanan yang diperkaya vitamin B12. Sedangkan makanan tinggi asam folat contohnya adalah sayuran hijau seperti brokoli, biji-bijian, buah, sereal dan produk susu.

Kekurangan vitamin B12 dan asam folat dapat menyebabkan:

  • Gangguan sistem saraf, dapat bersifat permanen
  • Penurunan kognitif
  • Kesuburan terganggu (sulit beroleh keturunan)
  • Penyakit jantung
  • Peningkatan risiko kanker

Pada ibu hamil, kekurangan vitamin B12 maupun folat dapat menyebabkan:

  • Komplikasi kehamilan, bahkan sampai keguguran
  • Kelainan pada bayi (cacat tabung saraf, autis, diabetes)
  • Gangguan tumbuh kembang anak
  • Risiko leukemia (kanker darah) pada anak meningkat

Pencegahan

Mencegah terjadinya maupun mencegah kambuhnya anemia defisiensi vitamin B12 dan folat paling baik dilakukan dengan mengonsumsi makanan yang tinggi vitamin B12 dan folat, seperti yang telah disebutkan.

Selain itu, mengolah makanan juga harus dilakukan secara tepat. Pengolahan makanan yang terlalu lama dan panas akan merusak folat pada makanan.

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Jika Anda merasakan gejala di atas, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter.

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Berkonsultasi dengan Dokter?

  • Membuat janji untuk berkonsultasi
  • Mencatat daftar pertanyaan yang ingin ditanyakan
  • Mencatat gejala yang dialami
  • Membawa berkas medis

Apa yang Akan Dilakukan Dokter pada Saat Konsultasi?

Dokter akan menjalankan serangkaian pemeriksaan untuk mengukur kadar vitamin B12 dan folat dalam tubuh Anda dan mencari penyebab yang mendasarinya. Setelah itu, pengobatan dilakukan berdasarkan penyebab.

Jika diperlukan, dokter akan merujuk Anda ke dokter spesialis gizi untuk membantu terapi nutrisi.

Referensi

Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/vitamin-b12-deficiency-symptoms
Diakses pada 17 Desember 2018.

Jama Network. https://jamanetwork.com/journals/jamainternalmedicine/fullarticle/485067
Diakses pada 17 Desember 2018.

Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/200184-overview
Diakses pada 17 Desember 2018.

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/vitamin-b12-or-folate-deficiency-anaemia
Diakses pada 17 Desember 2018.

WebMD. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/vitamin-b12-deficiency-anemia#1
Diakses pada 17 Desember 2018.

Back to Top