Penyakit Lainnya

Anemia Aplastik

21 Oct 2021 | Lenny TanDitinjau oleh dr. Anandika Pawitri
image Anemia Aplastik
Anemia aplastik terjadi karena sumsum tulang tak memproduksi cukup sel darah merah, putih, dan keping darah
Anemia aplastik adalah penyakit kelainan darah langka yang terjadi akibat sumsum tulang tidak mampu memproduksi sel darah dalam jumlah yang cukup. Sel darah ini terdiri dari:
  • Sel darah merah (eritrosit), yang berisi protein hemoglobin untuk mengantar oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh
  • Sel darah putih (leukosit), yang berfungsi membunuh kuman yang masuk ke tubuh
  • Keping darah (trombosit/platelet), yang penting untuk proses pembekuan darah dan menghentikan perdarahan
Penyakit ini juga sering disebut dengan istilah kegagalan sumsum tulang. Apabila anemia ini tidak segera mendapatkan penanganan, jumlah sel darah akan menjadi sangat rendah.Sebagai akibatnya, penderita dapat mengalami gangguan fungsi dan kehilangan berbagai nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. Pasalnya, sel darah memiliki plasma yang mengandung garam, protein, hormon, mineral, vitamin, serta senyawa kimia lainnya.Jenis anemia aplastik terbagi dalam dua tipe, yaitu anemia aplastik yang didapatkan (acquired aplastic anemia) dan anemia aplastik bawaan (inherited bone marrow failure syndrome).Acquired aplastic anemia umumnya terjadi ketika penderita dewasa. Sementara inherited bone marrow failure syndrome lebih sering ditemukan pada anak-anak dan remaja.Anemia aplastik dapat timbul secara perlahan-lahan maupun tiba-tiba, dan memburuk seiring waktu hingga bisa mengancam nyawa penderitanya. Namun di Indonesia sendiri, kejadian anemia ini tergolong cukup langka, yakni dengan jumlah di bawah 15.000 kasus per tahunnya. 
Anemia Aplastik
Dokter spesialis Penyakit Dalam
GejalaMudah lelah, sesak napas, kulit pucat
Faktor risikoPenggunaan obat kloramfenikol jangka panjang, infeksi hepatitis baru, penyakit autoimun
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, tes darah, biopsi sumsum tulang
PengobatanObat-obatan, transfusi darah, transplantasi sumsum tulang
ObatAntibiotik, imunoterapi
KomplikasiInfeksi berat, perdarahan
Kapan harus ke dokter?Mengalami kondisi mudah lelah, gampang memar, dan kulit pucat
Gejala anemia aplastik bergantung pada jenis sel darah yang tidak dapat diproduksi oleh sumsum tulang. Sebab, setiap sel darah memiliki fungsi yang berbeda.

Gejala akibat gangguan produksi sel darah merah

Gejala akibat gangguan produksi sel darah putih

  • Lebih mudah terkena infeksi
  • Demam yang berulang kali terjadi

Gejala akibat gangguan produksi trombosit

  • Mudah memar
  • Perdarahan yang sulit dihentikan
  • Mimisan
  • Gusi berdarah
  • Darah pada tinja
  • Perdarahan menstruasi yang berat (pada wanita)
 
Penyebab anemia aplastik dapat digolongkan berdasarkan jenisnya berikut ini:

Acquired aplastic anaemia

Sebanyak 75 dari 100 kasus anemia aplastik didapat adalah idiopatik, atau tidak dapat ditemukan penyebab pastinya. Sementara sisanya diduga berkaitan dengan:
  • Toksin, seperti pestisida, arsenik, dan benzene
  • Radioterapi dan kemoterapi
  • Virus, seperti Epstein-Barr, hepatitis, cytomegalovirus, parvovirus B-19, dan HIV
  • Kelainan autoimun, seperti lupus dan reumatoid arthritis
  • Obat-obatan, seperti kloramfenikol
  • Penyakit lain, seperti paroxysmal nocturnal hemoglobinuria
  • Kehamilan
  • Kanker yang menyebardari bagian tubuh lain dan menyerang sumsum tulang

Inherited bone marrow failure syndrome (anemia plastic bawaan)

Jenis anemia aplastik ini terjadi karena kelainan genetik yang diwariskan. Biasanya, kondisi ini diturunkan dari orangtua yang juga mengalami anemia aplastik atau menderita penyakit lain yang mengarah pada anemia ini. Berikut contohnya:
  • Anemia Fanconi
  • Sindroma Shwachman-Diamond
  • Anemia Diamond-Blackfan
  • Diskeratosis kongenital
 
Diagnosis anemia aplastik perlu dilakukan oleh dokter spesialis hematologi, yakni dokter yang memiliki spesialisasi dalam penyakit dan kelainan darah. Dokter dapat menganjurkan beberapa pemeriksaan berikut:
  • Tanya jawab

Dokter dapat menanyakan gejala yang dirasakan, faktor risiko, serta riwayat medis pasien maupun keluarga.
  • Pemeriksaan fisik

Dokter akan memeriksa tanda-tanda anemia pada tubuh pasien, seperti kulit yang pucat, detak jantung, suara napas, dan lain-lain. Dokter juga bisa melakukan pemeriksaan perut untuk melihat ada tidaknya pembesaran limpa atau hati.
  • Pemeriksaan darah lengkap

Pemeriksaan darah lengkap bertujuan melihat jumlah sel darah dalam tubuh. Seseorang dianggap mengalami anemia aplastik jika memiliki kadar:- Hemoglobin <10 g/dL- Trombosit <50.000/mm3- Jumlah absolut neutrofil: <1.5 × 109/L
  • Biopsi sumsum tulang

Biopsi sumsum tulang dilakukan dengan mengambilan sampel cairan dari sumsum tulang, yang kemudian duperiksa di bawah mikroskop.
  • Pencitraan

Tes pencitraan bisa dianjurkan untuk melihat ada tidaknya tanda-tanda kanker, anemia Fanconi, dan penyakit lain. Dengan ini, dokter bisa mendeteksi kemungkinan penyebab anemia aplastik. Contoh tes ini meliputi rontgen, CT scan, dan USG.
  • Tes fungsi hati

Tes fungsi hati dilakukan untuk melihat ada tidaknya infeksi baru hepatitis atau penyakit hati lainnya.
  • Tes kadar vitamin B12

Pemeriksaan ini berfungsi menyingkirkan kemungkinan anemia disebabkan oleh defisiensi vitamin B12. 
Pengobatan anemia aplastik bertujuan meningkatkan jumlah sel darah dalam tubuh pasien, sehingga gejalanya bisa berkurang. Beberapa pilihan penanganan yang biasanya dianjurkan oleh dokter meliputi:
  • Antibiotik

Pasien dengan jumlah sel neutrofil yang rendah, akan sering mengalami infeksi. Untuk itu, dokter akan memberikan antibiotik untuk melawan infeksi ini.
  • Transfusi darah

Transfusi darah dilakukan pada pasien yang mengalami perdarahan dan infeksi. Prosedur ini bisa dijalani sekali dalam seminggu.
  • Growth factors

Growth factors adalah hormon tubuh yang berfungsi memberi sinyal pada sumsum tulang untuk memproduksi tipe sel darah tertentu.Dokter bisa memberikan growth factors sintetis pada penderita supaya produksi jumlah sel darahnya dapat meningkat. Contoh obat ini meliputi granulocyte colony stimulating factor (G-CSF), granulocyte-monocyte colony stimulating factor (GM-CSF), and erythropoiesis stimulating agent seperti eritropoietin (EPO).
  • Transplantasi sumsum tulang

Prosedur yang juga disebut transplantasi sel punca (stem cell) dan transplantasi hematopoesis sel punca (hematopoietic stem cell transplant - HSCT) ini disarankan untuk penderita anemia aplastik berat.Transplantasi ini akan menggantikan sumsum tulang yang telah rusak. Dengan begitu, pasien bisa sembuh dari anemia aplastik.
  • Imunoterapi

Untuk penderita yang tidak dapat menjalani transplantasi sumsum tulang atau mengalami anemia aplastik akibat penyakit autoimun, imunoterapi bisa menjadi pilihan penanganan.Prosedur ini dilakukan dengan pemberian obat untuk menekan sistem imun. Dengan ini, sistem imun tidak lagi menyerang sumsum tulang dan produksi sel darah bisa meningkatkan. 

Komplikasi anemia aplastik

Jika tidak ditangani dengan benar, anemia ini bisa menimbulkan komplikasi berupa:
  • Infeksi berat
  • Perdarahan
  • Komplikasi akibat transplantasi sumsum tulang
  • Reaksi alergi terhadap obat-obatan
  • Hemochromatosis, yakni penumpukan zat besi dalam jaringan tubuh yang dihasilkan dari banyaknya transfusi sel darah merah
 
Cara mencegah anemia aplastik tidak diketahui hingga saat ini. Pasalnya, penyebabnya juga belum diketahui secara pasti.Namun risiko penyakit ini mungkin bisa dikurangi dengan menghindari paparan insektisida, herbisida, pelarut organik, dan bahan-bahan kimia lainnya. 
Hubungi dokter bila Anda mengalami gejala dan kondisi di bawah ini ini:
  • Kelelahan
  • Mudah memar
  • Mudah berdarah
  • Kulit pucat
  • Hasil tes darah yang tidak normal
 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut ini:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan Anda pertama kali mengalami gejalanya?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait anemia aplastik?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis anemia aplastik agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Aplastic Anemia and MDS International Foundation. https://www.aamds.org/diseases/aplastic-anemia
Diakses pada 19 Oktober 2021
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/aplastic-anemia/symptoms-causes/syc-20355015
Diakses pada 19 Oktober 2021
Medline Plus. https://medlineplus.gov/aplasticanemia.html
Diakses pada 19 Oktober 2021
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3064251/
Diakses pada 19 Oktober 2021
National Heart, Lung, and Blood Institute. https://www.nhlbi.nih.gov/health-topics/aplastic-anemia
Diakses pada 19 Oktober 2021
Epocrates. https://online.epocrates.com/diseases/9611/Aplastic-anemia/Key-Highlights
Diakses pada 19 Oktober 2021
Leukimia Care. https://www.leukaemiacare.org.uk/support-and-information/information-about-blood-cancer/blood-cancer-information/aplastic-anaemia/
Diakses pada 19 Oktober 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email