Anemia Aplastik

Ditulis oleh Olivia
Ditinjau dr. Widiastuti
Anemia aplastik disebut juga sebagai penyakit dengan kegagalan sumsum tulang
Sumsum tulang tidak memproduksi cukup sel darah merah, putih, maupun keping darah.

Pengertian Anemia Aplastik

Anemia aplastik merupakan sebuah kondisi kelainan darah yang langka, saat sumsum tulang tidak dapat memproduksi jumlah sel darah yang cukup. Anemia aplastik disebut juga sebagai penyakit dengan kegagalan sumsum tulang. Sel darah yang tidak dapat diproduksi secara cukup adalah trombosit (keping darah), eritrosit (sel darah merah), atau leukosit (sel darah putih). Sebagian orang tidak dapat memproduksi ketiga jenis sel darah. Namun, sebagian lagi tidak dapat memproduksi hanya satu jenis sel darah saja.

Anemia aplastik dapat terjadi pada setiap orang dengan seluruh golongan usia. Meski demikian, penyakit ini lebih sering ditemukan pada remaja, dewasa muda dan usia lanjut. Anemia aplastik dapat timbul secara perlahan dan memburuk, seiring berjalannya waktu atau muncul secara tiba-tiba. Sel darah merah berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Sementara itu, sel darah putih membantu memerangi infeksi dalam tubuh.

Fungsi dari trombosit adalah untuk membantu pembekuan darah dan menghentikan perdarahan. Apabila anemia aplastik tidak segera mendapatkan penanganan, maka jumlah sel darah akan menjadi sangat rendah, dan dapat mengancam jiwa. Di Indonesia, kejadian anemia aplastik tergolong cukup langka, dengan jumlah di bawah 15.000 kasus per tahunnya. 

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Gejala yang ditimbulkan bergantung pada jenis sel darah yang tidak dapat diproduksi. Sebab, setiap sel darah memiliki fungsi yang berbeda. Jika yang tidak dapat diproduksi adalah sel darah merah, maka gejala yang timbul adalah:

  • Mudah Lelah
  • Sesak napas
  • Pusing
  • Kulit pucat
  • Detak jantung yang tidak teratur (aritmia)

Sementara itu, yang menjadi gejala kekurangan sel darah putih adalah:

  • Cenderung lebih mudah terkena infeksi
  • Demam yang berulang

Seorang pasien yang kekurangan trombosit akan menunjukkan gejala:

  • Mudah memar dan berdarah yang dapat sulit dihentikan
  • Mimisan
  • Gusi berdarah
  • Darah pada feses
  • Pendarahan menstruasi yang berat (pada wanita)

Penyebab

Anemia aplastik timbul ketika adanya gangguan pada sumsum tulang yang menyebabkan kerusakan sumsum tulang secara langsung, terjadinya perlambatan produksi sel darah, atau terhentinya produksi sel darah. Anemia aplastik tidak mengganggu kualitas sel darah yang diproduksi, sehingga fungsi dan bentuknya masih normal. Hanya saja, jumlahnya yang berukurang. Penyebab anemia aplastik dapat digolongkan menjadi dua kelompok besar, yaitu anemia aplastik didapat dan herediter (diturunkan).

Berikut adalah penyebab anemia aplastik didapat:

Sebanyak 75 dari 100 kasus anemia aplastik didapat adalah idiopatik. Dengan kata lain, tidak dapat ditemukan penyebab pasti anemia aplastik. Sementara itu, sisanya diduga berkaitan dengan:

  • Toksin seperti pestisida, arsenik dan benzene
  • Radiasi dan kemoterapi (pengobatan untuk kanker)
  • Virus seperti Epstein-Barr, Hepatitis, cytomegalovirus, parvovirus B-19 dan HIV
  • Kelainan autoimun seperti lupus dan reumatoid arthritis
  • Obat-obatan, yaitu kloramfenikol
  • Kehamilan, karena anemia aplastik dapat terjadi pada saat kehamilan dan menghilang setelah persalinan
  • Kanker dari bagian tubuh lain yang menyebar, dan menyerang sumsum tulang sehingga menyebabkan anemia aplastik

Penyebab anemia aplastik herediter/diturunkan:

  • Anemia Fanconi
  • Sindroma Shwachman-Diamond
  • Anemia Diamond-Blackfan
  • Diskeratosis kongenital

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya anemia aplastik, yaitu:

  • Pemakaian obat-obatan seperti kloramfenikol dalam jangka panjang
  • Menderita penyakit lain seperti paroxysmal nocturnal hemoglobinuria
  • Infeksi hepatitis baru
  • Kehamilan
  • Penyakit autoimun seperti lupus atau artritis reumatoid
  • Riwayat keluarga dengan penyakit anemia aplastik

Diagnosis

Diagnosis perlu dilakukan oleh dokter spesialis hematologi, yakni dokter yang memiliki spesialisasi dalam penyakit dan kelainan darah. Berikut ini adalah prosedur dan pemeriksaan untuk mendapatkan diagnosis.

  • Menanyakan riwayat penyakit:
    Dokter dapat menanyakan hal-hal seperti adanya tanda dan gejala anemia yang dirasakan, kondisi pasien yang mudah memar dan mengalami perdarahan, konsumsi obat-obatan tertentu, prosedur radiasi dan kemoterapi, serta tanda-tanda infeksi seperti demam. Selain itu, dokter biasanya menanyakan informasi tentang riwayat keluarga dengan anemia maupun kelainan darah.
  • Pemeriksaan fisik:
    Dokter akan memeriksa tanda dan gejala dari anemia, seperti kulit yang pucat, suara detak jantung yang tidak teratur, suara napas, pembengkakan kaki, dan pemeriksaan abdomen untuk melihat kemungkinan pembesaran limpa atau hati.
  • Pemeriksaan darah lengkap:
    Pemeriksaan darah lengkap dibutuhkan untuk melihat jumlah sel darah yang terdapat dalam tubuh. Kriteria diagnosis dari anemia aplastik adalah jika didapatkan setidaknya dua kondisi di bawah ini:
  1. Hemoglobin <10 g/dL (Normal: 12-18 g/dL)
  2. Trombosit <50.000/mm3 (Normal: 150.000-450.000/mm3)
  3. Jumlah absolut neutrofil: <1.5 × 109/L (Normal: 2.0–7.0×109/L)
  • Biopsi sumsum tulang:
    Biopsi adalah tindakan pengambilan sampel menggunakan jarum. Sampel sumsum tulang ini kemudian akan dilihat dibawah mikroskop untuk diperiksa jumlah dan jenis sel yang terdapat di dalamnya. Pada anemia aplastik, akan ditemukan rendahnya jumlah ketiga jenis sel darah pada sumsum tulang.
  • Pemeriksaan penunjang lainnya:
    1. X-ray (foto rontgen), CT scan atau USG: untuk melihat adanya tanda dan gejala kanker, anemia Fanconi, dan lain-lain. Tujuannya, untuk membantu mencari penyebab dari anemia aplastik.
    2. Tes fungsi hati, untuk melihat adanya infeksi baru hepatitis atau penyakit hati lainnya.
    3. Pemeriksaan untuk melihat kadar vitamin B12, yang bertujuan menyingkirkan kemungkinan anemia disebabkan oleh defisiensi vitamin B12.

Pengobatan

Pengobatan anemia aplastik bertujuan untuk meningkatkan jumlah sel darah dalam tubuh, sehingga gejala yang dirasakan akan berkurang. Pengobatan yang umum dilakukan adalah melalui:

  • Antibiotik:
    Pada pasien dengan jumlah sel darah putih yang rendah (neutropenia), antibiotik dibutuhkan untuk memerangi infeksi.
  • Transfusi darah:
    untuk mengontrol perdarahan dan meringankan gejala penyakit.
  • Growth Factors:
    Growth factors adalah hormon yang umum ditemukan dalam tubuh yang memberi sinyal pada sumsum tulang untuk memproduksi tipe sel darah tertentu. Growth factors sintetis akan diberikan pada penderita dengan kegagalan fungsi sumsum tulang, supaya jumlah sel darah meningkat.
  • Imunoterapi:
    Untuk penderita yang tidak dapat menjalankan transplantasi sumsum tulang atau anemia aplastiknya disebabkan oleh gangguan autoimun, maka akan diberikan obat untuk menekan sistem imun. Sehingga, sistem imun tidak menyerang sumsum tulang dan dapat meningkatkan produksi sel darah dengan lebih baik.
  • Transplantasi sumsum tulang:
    Disebut juga dengan transplantasi sel punca (stem cell) atau transplantasi hematopoesis sel punca (hematopoietic stem cell transplant - HSCT). Pada penderita anemia aplastik berat, diperlukan transplantasi sumsum tulang untuk menggantikan sumsum yang telah rusak. Transplantasi juga merupakan sebuah metode pengobatan yang dapat bersifat menyembuhkan.

Pencegahan

Hingga saat ini, belum ditemukan cara apapun untuk mencegah terjadinya anemia aplastik. Namun, mengurangi paparan insektisida, herbisida, pelarut organik, dan bahan-bahan kimia lain yang dapat menurunkan risiko terjangkitnya anemia aplastik.

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Jika merasakan adanya gejala seperti kelelahan, mudah memar, mudah berdarah, kulit pucat, memiliki hasil tes darah yang lebih rendah dari biasanya, dan gejala lainnya, segera berkonsultasi dengan dokter. Jadi, gejala Anda dapat dievaluasi, dan dokter bisa memberikan diagnosis lebih dini.

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Berkonsultasi dengan Dokter?

Ada beberapa hal yang dapat anda lakukan untuk mempersiapkan diri sebelum berkonsultasi dengan dokter, yaitu:

  • Buatlah janji dengan dokter yang menangani anemia aplastik, yaitu dokter spesialis hematologi
  • Buatlah daftar gejala yang dirasakan, obat-obatan yang diminum secara rutin, dan pertanyaan yang ingin diajukan pada dokter
  • Jika telah menjalani pemeriksaan laboratorium seperti pemeriksaan darah, bawalah hasil tes tersebut, agar dokter dapat melihat riwayat medis Anda
  • Jika diperlukan, ajaklah keluarga atau teman untuk mendampingi saat berkunjung ke dokter, agar dapat membantu Anda secara emosional dalam berdiskusi dengan dokter

Apa yang Akan Dilakukan Dokter pada Saat Konsultasi?

Pada saat konsultasi, dokter mencatat identitas dan keluhan yang Anda rasakan. Setelah itu dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, seperti mengukur tekanan darah dan mendengarkan detak jantung. Dokter kemudian akan meminta Anda untuk menjalani pemeriksaan laboratorium lain yang mendukung diagnosis, seperti pemeriksaan darah. Setelah hasil didapatkan, maka dokter bisa menetapkan diagnosis. Dokter kemudian akan berdiskusi dengan Anda mengenai metode pengobatan yang terbaik dan paling cocok.

Referensi

Aplastic Anemia and MDS International Foundation. https://www.aamds.org/diseases/aplastic-anemia
diakses pada 5 November 2018.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/aplastic-anemia/symptoms-causes/syc-20355015
diakses pada 5 November 2018.

Dan. L, L., Harrison's Hematology and Oncology, 2010.
diakses pada 5 November 2018.

National Heart, Lung, and Blood Institute. https://www.nhlbi.nih.gov/health-topics/aplastic-anemia
diakses pada 5 November 2018.

Epocrates. https://online.epocrates.com/diseases/9611/Aplastic-anemia/Key-Highlights
diakses pada 5 November 2018.

Back to Top