Anemia

Ditinjau dr. Fridawati pada 27 Mar 2019
Wanita dan individu dengan penyakit kronis seperti kanker, memiliki risiko tinggi untuk terkena anemia.
Anemia merupakan gangguan kurangnya sel darah merah yang ditandai dengan mudah merasa lemah dan lelah

Pengertian Anemia

Anemia merupakan gangguan berupa kekurangan sel darah merah yang terlalu berlebihan. Sel darah merah berfungsi untuk membawa oksigen ke seluruh organ tubuh. Apabila sel darah merah rendah, maka jumlah oksigen juga menjadi rendah. Gejala anemia disebabkan oleh kurangnya kadar oksigen yang mengalir ke jaringan dan organ vital di tubuh. Sel darah merah diukur berdasarkan jumlah hemoglobin. Sebab, hemoglobin merupakan protein kaya zat besi dalam sel darah merah yang membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Selain itu, hemoglobin juga membawa sel darah merah yang jenuh dengan karbondioksida kembali ke paru-paru untuk dikeluarkan.

Ada berbagai jenis anemia, dengan penyebab tersendiri. Anemia dapat bersifat sementara maupun berlangsung dalam jangka panjang, dalam tingkat ringan atau berat.

Wanita dan individu dengan penyakit kronis seperti kanker, memiliki risiko tinggi untuk terkena anemia.

Pengobatan dari anemia bervariasi, mulai dari suplemen, sampai dengan prosedur medis. Anemia jenis tertentu mungkin dapat dicegah dengan menjalani pola makan yang sehat.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Gejala dan tanda yang ditimbulkan berbeda-beda, tergantung pada penyebabnya, di antaranya adalah : 

  • Mudah merasa lelah dan lemah
  • Perubahan warna kulit menjadi pucat dan menguning
  • Detak jantung yang tidak teratur
  • Kesulitan bernapas
  • Pusing dan kepala terasa ringan
  • Nyeri pada dada
  • Rasa dingin pada tangan dan kaki
  • Sakit kepala

Gejala awal dari anemia dapat ringan sehingga seringkali tidak disadari. Tetapi gejala akan memburuk ketika anemia semakin memburuk.

Penyebab

Zat besi, vitamin B-12, dan asam folat sangat dibutuhkan oleh sel darah merah di dalam tubuh. Umumnya 0,8 hingga 1 persen sel darah merah berganti setiap harinya, dan sel darah merah dapat hidup 100 hingga 120 hari. Secara umum, proses apapun yang mengganggu keseimbangan antara produksi dan penghancuran sel darah merah, dapat menyebabkan anemia. Beberapa penyebab umum anemia adalah:

  • Penurunan produksi sel darah merah
  • Peningkatan penghancuran sel darah merah
  • Perdarahan yang menyebabkan kehilangan sel darah merah lebih cepat dibandingkan regenerasinya

Jenis-jenis anemia dan penyebabnya:

Anemia defisiensi zat besi
Anemia ini merupakan jenis yang paling umum terjadi. Anemia ini disebabkan oleh kekurangan zat besi di dalam tubuh. Sumsum tulang belakang membutuhkan zat besi yang cukup, untuk memproduksi hemoglobin. Tanpa zat besi yang memadai, tubuh tidak dapat menghasilkan cukup hemoglobin untuk sel darah merah. Anemia zat besi seringkali dialami oleh wanita hamil, wanita yang kehilangan darah akibat banyaknya menstruasi, tukak, kanker, dan penggunaan rutin obat pereda nyeri yang dijual bebas, seperti aspirin.

Anemia defisiensi vitamin
Selain zat besi, tubuh memerlukan vitamin B12 dan asam folat, untuk menghasilkan sel darah merah yang cukup dan sehat. Diet yang menyebabkan kekurangan kedua nutrisi ini, dapat menyebabkan penurunan produksi sel darah merah. Namun, beberapa orang yang telah mengonsumsi cukup vitamin B12 pun, masih mengalami anemia defisiensi vitamin B12. Sebab, tubuh mereka ternyata tetap tidak dapat memproses vitamin tersebut. Kondisi ini dikenal sebagai anemia pernisiosa.

Anemia karena penyakit kronis
Penyakit tertentu seperti kanker, HIV/AIDS, rheumatoid arthritis, penyakit ginjal, penyakit Chron, dan penyakit peradangan lainnya, dapat mengganggu produksi sel darah merah.

Anemia aplastik
Anemia aplastik merupakan anemia yang jarang terjadi, tapi bisa mengancam nyawa, ketika tubuh tidak dapat memproduksi sel darah yang cukup. Penyebab dari anemia ini adalah infeksi, pemakaian obat-obatan tertentu, penyakit autoimun, dan paparan terhadap bahan kimia yang beracun.

Anemia yang berhubungan dengan penyakit pada sumsum tulang belakang
Berbagai jenis penyakit seperti leukemia dan myelofibrosis, dapat menyebabkan anemia, yang memengaruhi produksi sel darah pada sumsum tulang belakang. Dampak dari kanker dan gangguan seperti kanker dapat bervariasi, mulai dari ringan sampai dengan mengancam nyawa.

Anemia hemolitik
Anemia ini terjadi apabila hancurnya sel darah merah, lebih cepat dibandingkan dengan regenerasinya oleh sumsum tulang belakang. Ada penyakit darah tertentu yang dapat meningkatkan penghancuran sel darah merah. Kondisi ini bisa diturunkan secara genetik, maupun dialami di kemudian hari.

Sickle cell anemia (anemia sel sabit)
Anemia sel sabit diturunkan secara genetik, dan disebabkan oleh kecacatan atau kerusakan hemoglobin, yang mengakibatkan sel merah berubah bentuk menjadi sabit (sickle). Ini merupakan bentuk yang abnormal. Sel-sel yang abnormal ini akan mati sebelum waktunya, sehingga menyebabkan tubuh kekurangan kronis dari sel darah merah.

Anemia lainnya
Ada pula jenis anemia lainnya, seperti thallasemia dan anemia malaria.

Diagnosis

Untuk mendeteksi penyakit ini, dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan agar bisa mengetahui riwayat medis Anda, lalu melakukan pemeriksaan fisik, dan melakukan beberapa tes, berupa pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan sel darah merah, pemeriksaan kadar zat besi, ferritin, vitamin B12, serum folat, serta pemeriksaan diagnostik tambahan.

1. Tes Darah Lengkap atau Complete Blood Count (CBC)

Pemeriksaan  ini dilakukan dengan cara mengukur kadar sel darah di dalam sampel darah. Pada kasus anemia, dokter akan melihat jumlah hematokrit (kadar sel darah merah yang terdapat di dalam darah) dan hemoglobin dalam darah.
Berikut ini kadar hematokrit orang dewasa yang normal:

  • 40-52% pada pria
  • 35-47% pada wanita

Jumlah kadar hematokrit orang dewasa yang normal:

  • 14-18 g/dl pada pria
  • 12-16 g/dl pada wanita

2. Pemeriksaan Sel Darah Merah

Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan ukuran dan bentuk sel darah merah. Tes tersebut juga berfungsi untuk melihat kemungkinan adanya ukuran, bentuk, dan warna abnormal sel darah merah.

3. Pemeriksaan Kadar Zat Besi, Ferritin, Vitamin B12, dan Serum Folat

4. Tes Diagnostik Tambahan

Apabila menderita anemia, maka Anda membutuhkan pemeriksaan lain, yang berfungsi untuk menentukan penyebab dan pemicu anemia penyakit tersebut. Anda kemungkinan diminta menjalani pengujian pada sampel tulang sumsum, untuk mendeteksi anemia.

Pengobatan

Pengobatan untuk anemia diberikan berdasarkan penyebabnya.

Anemia defisiensi zat besi
Penanganan terhadap anemia jenis ini biasanya dilakukan melalui pemberian suplemen zat besi, serta perubahan pola makan. Apabila anemia ini disebabkan oleh kehilangan darah selain dari menstruasi, maka sumber perdarahan harus ditemukan dan dihentikan. Langkah ini mungkin memerlukan pembedahan.

Anemia defisiensi vitamin
Untuk anemia defisiensi vitamin B12 dan asam folat, penanganannya berupa pemberian suplemen, dan peningkatan nutrisi tersebut dalam diet sehari-hari. Jika sistem pencernaan sulit untuk menyerap vitamin B12 dari makanan, maka mungkin akan diperlukan suntikan vitamin B12. Pada tahap awal, suntikan vitamin B12 akan diberikan setiap hari. Kemudian, pemberiannya akan disesuaikan menjadi sekali dalam sebulan. Kemungkinan, suntikan ini harus diteruskan seumur hidup, tergantung pada kondisi penderita.

Anemia karena penyakit kronis
Tidak ada pengobatan spesifik untuk untuk anemia jenis ini. Dokter akan fokus untuk mencari dan mengobati penyebab dari anemia. Jika anemia menjadi berat, transfusi darah dan injeksi eritropoietin sintetis akan diperlukan, untuk menstimulasi produksi sel darah merah dan meringankan rasa lelah.

Anemia aplastik
Anemia ini dapat ditangani melalui transfusi darah, untuk meningkatkan kadar sel darah merah. Penderitanya mungkin akan membutuhkan transplantasi sumsum tulang belakang, jika terdapat penyakit maupun kerusakan sumsum tulang belakang, yang bisa menurunkan kualitas sel-sel darah merah.

Anemia yang berhubungan dengan penyakit sumsum tulang belakang
Penanganan untuk anemia jenis ini bisa dilakukan melalui pemberian obat-obatan, kemoterapi, maupun transplantasi sumsum tulang belakang.

Anemia hemolitik
Salah satu langkah yang bisa dilakukan untuk menangani anemia hemolitik adalah dengan menghindari penggunaan obat-obatan yang diduga menjadi pemicunya, dan mengobati infeksi yang berhubungan dengan anemia hemolitik. Selain itu, konsumsi obat yang dapat menekan kekebalan tubuh juga harus dihentikan. Sebab, obat-obatan ini mungkin sedang menyerang dan menghancurkan sel darah merah di dalam tubuh.
Tergantung dari beratnya anemia hemolitis, transfusi darah atau plasmafaresis mungkin dibutuhkan. Pada beberapa kasus, pengangkatan limpa mungkin dapat membantu.

Anemia sel sabit (sickle cell anemia)
Anemia jenis ini bisa ditangani melalui pemberian oksigen, obat pereda nyeri (obat minum maupun melalui infus), untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah komplikasi. Dokter akan menyarankan transfusi darah, suplemen asam folat  dan antibiotik. Transplantasi sumsum tulang belakang mungkin efektif untuk sejumlah kondisi. Obat kanker seperti hidroksiurea juga bisa  dipakai untuk mengobati anemia sel sabit.

Thallasemia
Thallasemia dapat ditangani melalui transfusi darah, suplemen asam folat, obat-obatan, pengangkatan limpa, atau transplantasi sel induk dan sumsum tulang belakang.

Pencegahan

Tidak semua anemia dapat dicegah. Namun, Anda dapat melakukan beberapa hal ini untuk mencegah anemia defisiensi besi dan defisiensi vitamin.

  • Memenuhi kebutuhan zat besi dengan mengonsumsi makanan tinggi zat besi seperti daging sapi, kacang-kacangan, lentil, maupun sereal yang diperkaya dengan zat besi, sayuran berwarna hijau gelap, dan buah-buahan yang dikeringkan.
  • Mencukupi kebutuhan folat. Nutrisi ini dan bentuk sintetisnya dapat ditemukan pada buah dan jus buah, sayuran berwarna hijau gelap, kacang polong, kacang jogo, kacang tanah, produk gandum seperti roti, sereal, pasta dan nasi.
  • Mencukupi vitamin B-12 dengan mengonsumsi makanan yang kaya vitamin B12 seperti daging, produk olahan susu, produk susu kacang dan sereal yang diperkaya dengan vitamin B12
  • Mencukupi vitamin C. Makanan kaya vitamin C seperti buah-buahan sitrus dan jus, paprika, brokoli, tomat, melon dan stroberi bisa menjadi pilihan. Makanan-makanan ini membantu penyerapan zat besi.
  • Melakukan konsultasi ke dokter jika Anda memiliki keluarga dengan riwayat anemia
  • Mencegah malaria

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Apabila Anda mengalami kelelahan tanpa sebab dan memiliki gejala yang mengarah pada penyakit ini, segera berkonsultasi dengan dokter.

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Berkonsultasi dengan Dokter?

Pada saat membuat janji, pastikan untuk menanyakan persiapan yang perlu Anda lakukan terlebih dahulu termasuk apa saja yang mungkin tampak berhubungan dengan gejala yang dialami. Jadi, menyiapkan daftar pertanyaan dapat membuat kunjungan Anda lebih efektif. Untuk anemia, berikut ini pertanyaan dasar untuk diajukan kepada dokter.

  • Apa yang menjadi penyebab utama penyakit saya?
  • Pemeriksaan apa saja yang saya perlukan?
  • Apakah penyakit saya bersifat sementara atau permanen?
  • Pengobatan apa yang tersedia dan yang saya perlukan?
  • Apakah efek samping dari pengobatan tersebut ?
  • Saya mempunyai masalah kesehatan lainnya. Bagaimana cara terbaik untuk menanganinya?
  • Apakah ada batasan diet yang harus saya ikuti ?
  • Apakah saya perlu menambahkan makanan khusus didalam diet? Seperti apa takarannya?
  • Haruskah saya menemui dokter spesialis?

Apa yang Akan Dilakukan Dokter pada Saat Konsultasi?

Dokter mungkin akan memberikan beberapa pertanyaan, dan sebaiknya Anda memberikan informasi yang jelas, agar dokter dapat mendiagnosis lebih baik. Berikut ini pertanyaan yang mungkin diajukan:

  • Kapan Anda merasakan tanda-tanda ini?
  • Apakah gejala yang Anda rasakan hilang timbul atau terus-menerus ada?
  • Seberapa parah gejala yang timbul?
  • Apakah Anda seorang perokok?
  • Apa yang memperbaiki atau memperburuk keadaan Anda?
  • Apakah Anda seorang vegetarian?
  • Berapa banyak porsi buah dan sayuran yang Anda konsumsi dalam sehari?
  • Apakah Anda mengonsumsi alkohol? Jika iya, seberapa sering dan biasanya seberapa banyak alkohol yang diminum?
  • Apakah belakangan ini Anda mendonasikan darah Anda lebih dari sekali?
Referensi

Healthline. (n.d.). Anemia. https://www.healthline.com/symptom/anemia
Diakses pada 12 Juli 2018

MayoClinic. (n.d.). Anemia. MayoClinic: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/anemia/symptoms-causes/syc-20351360
Diakses pada 12 Juli 2018

Back to Top