Istilah amputasi merujuk pada hilangnya atau diangkatnya anggota gerak seseorang. Penyebabnya bisa terbagi menjadi dua berikut ini:

  • Amputasi yang terjadi secara tidak sengaja akibat kecelakaan.
  • Amputasi yang direncanakan untuk menyelamatkan sisa jaringan yang masih sehat.

Pada amputasi karena cedera atau trauma, bisa tidaknya bagian yang amputasi untuk disambungkan kembali ke jaringan yang sehat, tergantung pada seberapa parah trauma yang dialami oleh penderita.

Tidak hanya menyebabkan masalah fisik, amputasi juga seringkali mengakibatkan masalah psikis bagi penderitanya.

Setelah Anda menjalani amputasi, kondisi-kondisi di bawah ini bisa dialami oleh penderitanya:

  • Phantom limb pain

Nyeri termasuk gejala pascaamputasi yang lazim dirasakan oleh penderita, baik amputasi akibat trauma ataupun pembedahan. Kondisi ini dikenal dengan istilah phantom limb pain atau phantom pain.

Phantom pain adalah perasaan nyeri atau sakit yang dirasakan berasal dari jaringan tubuh yang sebenarnya sudah tidak ada. Dulunya, kondisi ini dianggap sebagai masalah psikis pasien setelah mengalami amputasi.

Namun saat ini, penyebab phantom limb pain telah diketahui. Pemicunya gangguan pada saraf tulang belakang dan otak.

  • Painless limb sensation

Selain rasa nyeri, penderita yang merasakan sensasi bahwa jaringan yang mengalami amputasi seolah-olah masih ada. Kondisi ini disebut sebagai painless limb sensation.

  • Masalah psikis

Tak hanya mengakibatkan masalah fisik, amputasi juga bisa menyebabkan masalah psikis pada penderitanya.

Penderita yang berencana menjalani amputasi terencana lewat pembedahan biasanya akan melewati fase kedukaan. Fase ini meliputi penolakan atau penyangkalan, kemarahan, perimbangan akan pilihan lain, depresi, kemudian penerimaan.

Penderita yang mengalami amputasi akibat trauma biasanya tidak mengalami tahap kedukaan tersebut. Tapi mereka lebih cenderung mengalami gangguan stres pascatrauma (post traumatic stress disorder/ PTSD) dan depresi.

Amputasi 

  • Akibat trauma

Cedera atau trauma yang menjadi penyebab amputasi bisa berupa kecelakaan, serangan binatang buas, atau luka peperangan.

  • Akibat pembedahan

Sementara amputasi akibat prosedur pembedahan biasanya dilakukan untuk mengatasi komplikasi gangrene (jaringan mati) karena sejumlah gangguan kesehatan. Misalnya, diabetes, radang dingin (frostbite), aterosklerosis, kanker, infeksi tulang, serta penyakit lain yang mengganggu aliran darah.

Terdapat beberapa tahap diagnosis amputasi yang akan dilakukan oleh dokter. Berikut penjelasannya:

  • Dokter akan menanyakan seputar gejala yang dialami oleh pasien, serta riwayat penyakit yang pernah atau sedang diderita.
  • Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan penunjang.

Dari hasil wawancara, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang tersebut, dokter dapat menentukan perlu tidaknya tindakan amputasi dan seberapa banyak jaringan yang harus diamputasi. 

Bila Anda menemukan seseorang yang mengalami kecelakaan sehingga ada bagian tubuhnya yang teramputasi akibat kecelakaan atau trauma, segera berikan pertolongan pertama yang meliputi:

  • Evaluasi jalur napas penderita

Periksa apakah ada sumbatan pada jalan napas yang membuat korban sulit bernapas, serta bagaimana kondisi pernapasan dan sirkulasi penderita.

  • Tenangkan korban

Bila korban sadarkan diri dan diserang panik, usahakan untuk menenangkan korban.

  • Kendalikan pendarahan

Anda bisa melakukannya dengan memberikan tekanan langsung pada luka terbuka dan mengangkat bagian yang mengalami cedera. Bila perdarahan terus terjadi, coba cek ulang sumber pendarahan.

Jika sumber perdarahan sudah terdeteksi, berikan tekanan pada sumber pendarahan tersebut. Apabila perdarahan cukup banyak, bebatkan kain pada luka.

Setelahnya, segera bawa penderita ke rumah sakit terdekat. Pasalnya, bebat yang erat dan terlalu lama juga tidak baik bagi peredaran darah penderita.

  • Tangani bagian tubuh yang mengalami amputasi sebagian

Bila ada bagian tubuh penderita yang teramputasi sebagian, usahakan untuk memegang dan merekatkan bagian tersebut ke posisinya semula. Sebisa mungkin, bersihkan area yang teramputasi dari kotoran.

  • Tangani bagian tubuh yang mengalami amputasi total

Bila ada bagian tubuh penderita teramputasi secara total, bungkus bagian tubuh tersebut dengan kain lembap yang bersih. Lalu, letakkan dalam plastik yang tertutup dan taruh dalam air es.

Mendinginkan bagian tubuh yang putus dapat meningkatkan kemungkinan keberhasilan prosedur penyambungan kembali. Jika tidak didinginkan, bagian tubuh yang teramputasi hanya akan bertahan selama 4-6 jam.

Namun ingatlah, jangan meletakkan bagian tubuh yang teramputasi langsung ke dalam air es tanpa membungkusnya dengan plastik. Bila air es tidak tersedia, usahakan agar bagian tubuh yang teramputasi tidak terkena panas.

  • Cegah syok

Langkah ini bisa dilakukan dengan membaringkan penderita di permukaan datar dan mengangkat kakinya setinggi 30 cm. Anda juga bisa menutupi tubuhnya dengan selimut.

Tapi jangan membaringkan penderita bila ia mengalami cedera pada kepala, leher, tulang belakang, atau kaki.

  • Periksa bagian tubuh lain

Bila pendarahan sudah terkendali, periksa apakah korban mengalami cedera di area tubuh lain.

  • Temani penderita

Tetaplah bersama penderita sampai petugas medis datang.

Penanganan selanjutnya akan dilakukan oleh petugas medis profesional. Pada amputasi akibat kecelakaan maupun yang direncanakan, beberapa langkah pascaamputasi di bawah ini umumnya akan dianjurkan:

  • Fisioterapi harus dilakukan di bawah bimbingan fisioterapis profesional. Latihan fisik ini umumnya diawali dengan latihan peregangan.
  • Bila diperlukan, dokter juga dapat menganjurkan penggunaan alat prostetik pada bagian tubuh yang teramputasi. Dengan ini, penderita bisa melanjutkan aktivitasnya sehari-hari.
  • Bagi penderita yang mengalami phantom pain setelah menjalani amputasi, dokter bisa meresepkan obat-obatan dan/atau konseling.
  • Penderita juga dapat bergabung dalam support group guna mendapatkan dukungan moral atau berbagi pengalaman dengan orang-orang yang telah menjalani amputasi.

Untuk mencegah amputasi traumatik akibat kecelakaan, selalu gunakan alat pelindung diri ketika mengerjakan sesuatu dengan alat tajam. Jangan lupa pula untuk senantiasa mengenakan sabuk pengaman ketika mengendarai mobil maupun helm saat naik motor dan bersepeda.

Bagi penderita penyakit kronis (seperti diabetes atau aterosklerosis), Anda dianjurkan untuk mengendalikan penyakitnya dengan menerapkan pola hidup sehat, rutin mengonsumsi obat-obatan yang diresepkan oleh dokter, dan menjalani pemeriksaan medis sesuai anjuran dokter.

Segera cari pertolongan medis bila Anda atau ada orang di sekitar Anda yang mengalami amputasi traumatik. Bagi penderita penyakit kronis, berkonsultasilah ke dokter jika Anda mengalami luka yang tidak kunjung sembuh.

Penderita amputasi traumatik umumnya langsung dibawa ke unit gawat darurat rumah sakit. Bila Anda mengalami cedera yang cukup berat, mungkin diperlukan tindakan pembedahan secepatnya.

Untuk penderita diabetes dengan luka yang tidak kunjung sembuh, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini sebelum pemeriksaan:

  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.

Saat pemeriksaan, dokter mungkin akan mengajukan beberapa pertanyaan berikut ini:

  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah penyakit yang Anda derita sudah terkontrol dengan baik? Misalnya, kadar gula darah pada penderita diabetes.
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya dan apa saja pengobatan yang sudah Anda coba?

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang guna menentukan diagnosis dan penanganan yang tepat. Langkah ini juga akan memastikan apakah Anda membutuhkan amputasi atau tidak.

Medicinet. https://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=12537
Diakses pada 13 November 2019

Medline Plus.https://medlineplus.gov/ency/article/000006.htm
Diakses pada 13 November 2019

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2018851/
Diakses pada 13 November 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/phantom-pain/symptoms-causes/syc-20376272
Diakses 9 November 2019

WebMD. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/definition-amputation#2
Diakses pada 13 November 2019

Artikel Terkait