Alzheimer

Ditinjau dr. Fridawati
Penyakit Alzheimer merupakan salah satu penyebab demensia.
Penyakit Alzheimer membuat sel-sel otak mati dan menyebabkan penurunan pada fungsi otak (demensia)

Pengertian Alzheimer

Penyakit Alzheimer adalah penyakit yang menyerang fungsi otak sehingga mengakibatkan hilangnya daya ingat dan fungsi kognitif lainnya. Penyakit ini berkembang secara progresif, yaitu bertambah parah seiring berjalannya waktu. Kemampuan intelektual dan sosial pada penderita Alzheimer akan terus menurun dikarenakan sel otak pada penderita Alzheimer memburuk dan akhirnya mati.

Pada tahap awal, penderita Alzheimer akan merasa sedikit kebingungan dan mengalami kesulitan dalam mengingat percakapan ataupun kejadian-kejadian yang baru saja terjadi. Perlahan-lahan, penderita Alzheimer akan mengalami masalah ingatan yang parah sampai dapat melupakan orang-orang penting dalam hidupnya, mengalami perubahan kepribadian, dan tidak dapat melakukan aktivitas-aktivitas sehari-hari.

Keluarga dan orang-orang terdekat penderita akan dapat melihat bagaimana penyakit ini semakin hari semakin bertambah parah. Pada tahapan lebih lanjutnya, penyakit ini dapat mengakibatkan komplikasi karena keparahan dari hilangnya fungsi otak (seperti, dehidrasi, malnutrisi, atau infeksi) sampai akhirnya memuat penderita meninggal.

Untuk saat ini, obat-obatan yang dikhususkan untuk Alzheimer dan juga strategi penanganannya hanya dapat membantu meringankan gejala Alzheimer, walaupun hanya untuk sementara. Sampai saat ini, belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan penyakit Alzheimer. Tujuan dari penanganan Alzheimer adalah  membantu penderita berfungsi semaksimal mungkin dan selama mungkin.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Pada awal mulanya, penderita Alzheimer akan mengalami penurunan daya ingat dan juga akan merasa sedikit kebingungan. Seiring dengan berjalannya waktu, gejala dari Alzheimer akan semakin memburuk sehingga penderita bahkan akan melupakan orang terdekat ataupun peristiwa yang baru terjadi. Gejala Alzheimer berbeda-beda pada setiap penderita. Penderita Alzheimer biasanya merasakan perbedaan yang terjadi pada dirinya. Namun, apabila penderita tidak merasakan sesuatu, orang-orang terdekatnya seperti keluarga, teman dekat atau rekan kerja akan merasakan perubahan tersebut. Penderita Alzheimer akan merasakan kesulitan dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari, seperti menyetir, memasak, mandi, dan juga berpakaian.

Penyakit Alzheimer akan menyebabkan gangguan pada:

  • Ingatan,  penderita akan menanyakan hal-hal secara berulang tanpa menyadarinya, melupakan percakapan serta perjanjian (dan bahkan tidak akan mengingatnya lagi), melupakan tempat yang sering didatanginya, dan secara rutin melupakan benda yang diletakkan dan biasanya benda tersebut diletakkan di tempat yang tidak seharusnya. Penderita juga kesulitan dalam mencari kata untuk mendeskripsikan suatu benda, mengekspresikan pemikirannya, atau saat sedang berbicara dalam percakapan. Pada kasus yang parah, penderita akan melupakan nama keluarganya dan statusnya.

  • Berpikir dan penalaran, penderita Alzheimer akan mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi dan fokus terutama untuk konsep-konsep yang abstrak, seperti angka. Penderita akan kesulitan untuk melakukan multitasking (melakukan berbagai hal atau aktivitas dalam waktu yang bersamaan), mengatur keuangan, dan membayar tagihan. Kesulitan ini pada akhirnya dapat menjadi semakin parah hingga penderita sulit untuk mengenali dan berurusan dengan angka.

  • Perencanaan dan melakukan aktivitas yang familiar, penderita menjadi kesulitan untuk melakukan rutinitas yang membutuhkan perencanaan, seperti memasak, bermain game, dan sebagainya. Pada akhirnya, saat Alzheimer menjadi makin parah, penderita akan melupakan cara-cara untuk melakukan aktivitas mendasar, seperti mandi, memakai baju, dan sebagainya. 

  • Perubahan dalam kepribadian dan perilaku, meliputi:
    • Perubahan suasana hati (mood swings)
    • Apatis 
    • Depresi
    • Menarik diri dari kehidupan sosial
    • Tidak mempercayai orang lain
    • Perubahan dalam kebiasaan tidur
    • Cepat marah dan agresif
    • Berkeliaran
    • Kehilangan kendali diri, seperti melakukan hal-hal yang memalukan di publik (loss of inhibitions)
    • Mengalami kepercayaan mengenai suatu hal yang tidak sesuai dengan realita yang ada (delusi), seperti mempercayai bahwa sesuatu telah dicuri. 

Penyebab

Para ilmuwan beranggapan bahwa penyebab dari penyakit Alzheimer berasal dari faktor genetik, gaya hidup dan pengaruh lingkungan yang dapat memengaruhi daya ingat dan fungsi otak seiring berjalannya waktu. Walaupun penyebab dari Alzheimer belum dapat dimengerti sepenuhnya, tetapi dapat dipastikan bahwa Alzheimer berefek terhadap fungsi otak. Alzheimer merusak dan mematikan sel-sel otak dan membuat jumlah sel-sel otak menjadi lebih sedikit daripada normalnya. Semakin banyak sel-sel otak yang mati, maka otak akan semakin mengalami penyusutan.

Terdapat dua jenis protein yang mungkin berperan dalam perkembangan Alzheimer, yaitu:

  • Protein beta amiloid, beta amiloid merupakan pecahan dari protein yang lebih besar. Saat kumpulan-kumpulan beta amiloid menggumpal dan menjadi satu atau menjadi plak amiloid (amyloid plaques). Gumpalan tersebut memiliki efek beracun pada neuron yang dapat menganggu komunikasi antar sel.  

  • Protein tau, penderita Alzheimer memiliki protein tau yang berubah bentuk dan menjadi filamen PH (neurofibrillary tangles). Pada awalnya, protein tau befungsi untuk mendukung dan menyalurkan nutrisi dan material-material penting lainnya di neuron. Namun, protein tau yang telah berubah menjadi filamen PH bersifat racun bagi sel dan dapat menganggu sistem penyaluran nutrisi dan material-material penting lainnya di neuron.

Faktor – faktor lain yang dapat memicu penyakit Alzheimer adalah:

  • Usia, semakin bertambahnya usia, semakin tinggi risiko seseorang terkena Alzheimer. Terutama bagi individu yang telah mencapai usia 65 tahun. Namun, perlu diketahui bahwa mengalami Alzheimer bukanlah bagian dari proses menjadi tua. 

  • Individu dengan sindrom down (down syndrome), risiko terkena penyakit Alzheimer akan semakin tinggi apabila seseorang mengidap sindrom down

  • Riwayat keluarga dan genetik, individu dengan anggota keluarga yang memiliki Alzheimer memiliki risiko yang tinggi untuk memiliki Alzheimer. Perubahan gen (mutasi gen) tertentu juga dapat berperan dalam meningkatkan risiko seseorang mengalami Alzheimer. 

  • Individu dengan trauma di bagian kepala, risiko terkena penyakit Alzheimer akan semakin tinggi apabila seseorang pernah mengalami trauma di bagian kepala. 

  • Jenis Kelamin, wanita memiliki risiko yang lebih tinggi mengidap Alzheimer daripada pria.

  • Gangguan kognitif yang ringan (mild cognitive impairment), individu dengan gangguan kognitif yang ringan pada bagian memori akan lebih mungkin untuk mengalami Alzheimer.

  • Faktor risiko penyakit jantung, penelitian menemukan bahwa faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit jantung juga merupakan faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami Alzheimer, seperti kurang berolahraga, obesitas, perokok aktif dan pasif, tekanan darah yang tinggi, tingkat kolesterol yang tinggi, dan menderita diabetes tipe 2 yang kurang diawasi.

  • Pola tidur yang buruk, individu yang sulit untuk tertidur atau tetap tertidur lebih berisiko untuk mengalami Alzheimer. 

Diagnosis

Diagnosis dilakukan melalui:

  • Informasi dari penderita dan orang-orang di sekitarnya, penjabaran gejala-gejala yang dialami penderita dan bagaimana gejala-gejala tersebut memengaruhi kehidupan sehari-hari penderita.

  • Pemeriksaan fisik dan neurologis, berupa pemeriksaan gerak refleks, kekuatan dan nada otot, kemampuan untuk bangkit dari kursi dan berjalan ke sisi lain ruangan, koordinasi, dan keseimbangan.

  • Tes laboratorium, akan dilakukan tes darah untuk mengetahui penyebab lain dari kehilangan ingatan dan kebingungan, seperti gangguan tiroid atau kekurangan vitamin.

  • Pemeriksaan status mental dan neuropsikologis, berupa pemeriksaan memori dan kemampuan berpikir. 

  • Gambaran otak, tes-tes untuk melihat ada tidaknya abnormalitas pada otak yang mungkin dapat menyebabkan perubahan fungsi otak, seperti tumor, stroke, trauma pada otak, dan sebagainya. Tes ini juga dapat digunakan untuk melihat bagian otak mana yang mengalami perubahan karena Alzheimer. Tes-tes yang digunakan dapat berupa tes MRI, CT scan, tes PET, dan sebagainya.

  • Tusukan pada tulang belakang (lumbar puncture), meliputi pengambilan cairan cerebrospinal untuk mengetahui tingkat dari protein tau dan amiloid.

Pengobatan

Sampai saat ini, belum ditemukan obat yang dapat mengatasi dan menyembuhkan penyakit Alzheimer, tetapi tersedia obat-obatan yang dapat membantu mengurangi gejala Alzheimer. Beberapa penanganan yang dapat diberikan untuk membantu gejala yang dialami oleh penderi Alzheimer adalah:

  • Medikasi, terdapat dua macam obat yang digunakan untuk membantu menangani gejala kognitif yang dialami, yaitu:
    • Penghambat kholinesterase (cholinesterase inhibitors), membantu meningkatkan komunikasi antar sel serta menangani depresi dan kecemasan.
    • Memantine (Namenda), membantu menghambat perkembangan dari Alzheimer dan biasanya digabung dengan obat penghambat kholinesterase. 

  • Terapi, berupa terapi simulasi kognitif (cognitive stimulation therapy) dapat membantu untuk mendukung memori, kemampuan menyelesaikan masalah, dan kemampuan berbahasa penderita. 

Jika orang-orang terdekat Anda mengalami Alzheimer, Anda dapat membantunya dengan menciptakan lingkungan yang mendukung dan aman bagi penderita. Anda juga dapat mencari tahu mengenai Alzheimer dan selalu sabar mendukung serta menemani penderita. Perlu diingat, Anda tidak boleh lupa untuk menerapkan teknik-teknik dalam mengatasi stres dan relaksasi, seperti yoga, meditasi, dan sebagainya. Beberapa hal yag dapat dilakukan adalah:

  • Menempatkan medikasi di lokasi yang aman dan buat daftar centang untuk memantau obat dan dosis yang diminum oleh penderita.
  • Selalu membuat janji pertemuan pada hari dan waktu yang sama.
  • Buang perabotan-perabotan atau benda-benda yang tidak digunakan.
  • Mengatur pembayaran dan deposit keuangan menjadi otomatis. 
  • Selalu menempatkan kunci, dompet, telepon genggam, dan benda-benda berharga lainnya di satu tempat yang sama di rumah agar tidak hilang.
  • Berikan telepon genggam dengan fitur lokasi agar pengasuh penderita dapat memantau lokasi penderita, sertakan juga nomor-nomor penting ke dalam kontak telepon genggam penderita.
  • Memasang pegangan yang kokoh di tangga dan kamar mandi.
  • Selalu memastikan bahwa penderita membawa kartu identifikasi atau gelang yang dapat memberikan sinyal kepada pihak medis.
  • Menaruh foto-foto atau benda-benda yang bermakna di sekitar rumah.
  • Menggunakan kalender atau papan tulis untuk mengatur jadwal sehari-hari penderita di rumah, bentuklah kebiasaan pada penderita untuk selalu mencentang hal-hal yang telah diselesaikan.
  • Memastikan sepatu atau sandal yang digunakan penderita sudah cukup nyaman dan tidak selip.
  • Kurangi jumlah cermin di rumah, karena bayangan-bayangan pada cermin dapat membingungkan dan menakuti penderita Alzheimer.
  • Mengingatkan penderita untuk makan dan minum, jika penderita sulit untuk makan, Anda dapat mengganti jenis makanannya ke dalam bentuk cairan dan berkalori tinggi. 
  • Mememani dan membantu penderita untuk berolahraga secara rutin.
  • Selalu berinteraksi dengan penderita atau memasukkan penderita ke komunitas-komunitas dengan orang-orang yang mengalami hal yang serupa agar penderita dapat bersosialisasi. 
  • Lakukanlah hobi atau aktivitas-aktivitas yang dapat meningkatkan rasa senang penderita bersama penderita, seperti melukis, membaca, dan sebagainya. 

Pencegahan

Tidak ada cara yang efektif untuk mencegah penyakit Alzheimer. Namun, Anda dapat menerapkan pola hidup yang sehat untuk mengurangi risiko mengalami Alzheimer, seperti berolahraga secara teratur, menerapkan diet dengan makanan yang segar dan rendah lemak, mengikuti penanganan yang diberikan jika Anda memiliki diabetes, kolesterol tinggi, dan tekanan darah tinggi, serta berhenti merokok. 

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Jika Anda atau orang-orang tedekat Anda mengalami penurunan memori atau fungsi otak, atau mengalami gejala-gejala yang dicantumkan ke atas, segera konsultasikan ke dokter dan ahli kesehatan mental lainnya. 

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Berkonsultasi dengan Dokter?

Sebelum berkonsultasi dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya, Anda dapat menyiapkan riwayat kondisi medis, kontak-kontak tim medis yang diajak berkonsultasi, semua obat-obatan dan zat-zat yang dikonsumsi, daftar gejala yang dialami, dan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan ke dokter dan ahli kesehatan mental.

Apa yang Akan Dilakukan Dokter pada Saat Konsultasi?

Dokter dan ahli kesehatan mental lainnya dapat mengajukan beberapa pertanyaan, seperti: 

  • Apakah Anda mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas yang biasa Anda lakukan, seperti misalnya mengatur keuangan atau berbelanja?
  • Apakah ada yang menyadari perubahan pada diri Anda?
  • Apakah Anda memiliki energi yang lebih dari biasanya, kurang dari biasanya, atau sama?
  • Obat, vitamin, atau suplemen apa yang Anda konsumsi? 
  • Apakah Anda minum alkohol? Berapa banyak?
  • Apakah Anda mengalami kesulitan mengingat sesuatu? Kapan Anda menyadarinya?
  • Apakah gejala-gejala yang Anda rasakan bertambah buruk atau terkadang menjadi baik?
  • Bagaimana suasana hati Anda? Apakah Anda merasa lebih murung, cemas, atau sedih dari yang biasanya?
  • Apakah Anda pernah kehilangan arah saat mengemudi atau saat berada di lokasi yang familiar?
  • Apakah Anda pernah melakukan tes pendengaran dan penglihatan baru-baru ini?
  • Apakah Anda melakukan sesuatu saat Anda tidur, seperti memukul, menendang dan sebagainya? Apakah Anda mendengkur saat tidur?
  • Apakah Anda memiliki kesulitan dalam mengingat pertemuan dengan tim medis atau lupa meminum obat?
  • Apakah ada anggota keluarga Anda yang mengalami gangguan memori? Atau adakah anggota keluarga Anda yang didiagnosis mengalami Alzheimer atau demensia
  • Apakah Anda pernah gemetaran atau kesulitan untuk bangun?
  • Apakah orang-orang sekitar Anda pernah mengekspresikan kekhawatiran dengan cara Anda berkendara?
  • Apakah Anda pernah menyadari perubahan-perubahan dari cara Anda meresponi suatu kejadian atau orang-orang di sekitar Anda?
Referensi

Mayo Clinic. 
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/alzheimers-disease/symptoms-causes/syc-20350447
Diakses pada 25 September 2018

Medscape.
https://emedicine.medscape.com/article/1134817-overview#a1
Diakses pada 19 Maret 2018

NHS. 
https://www.nhs.uk/conditions/alzheimers-disease
Diakses pada 25 September 2018

Back to Top