Penyakit Lainnya

Alergi Obat

Diterbitkan: 05 May 2021 | Popy Hervi PutriDitinjau oleh dr. Anandika Pawitri
image Alergi Obat
Ruam dan biduran pada kulit adalah gejala alergi obat.
Alergi obat adalah reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh terhadap obat. Pada individu yang mengalami alergi obat, sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan terhadap obat yang digunakan, karena obat dianggap sebagai benda asing yang dapat membahayakan tubuh.Obat yang mampu memicu reaksi alergi bisa berupa obat herbal, obat yang dijual bebas dari apotek, maupun dari resep dokter. Namun, ada beberapa obat yang lebih berisiko memicu alergi obat.Tanda dan gejala yang paling umum dari alergi obat adalah gatal-gatal, munculnya ruam atau demam. Alergi obat dapat menyebabkan reaksi yang serius, termasuk memengaruhi sistem tubuh secara keseluruhan (anafilaksis) sehingga mengancam nyawa.Alergi obat tidak sama dengan efek samping obat, yang biasanya tercantum pada label obat. Alergi obat juga berbeda dari keracunan obat yang disebabkan oleh overdosis. 
Alergi Obat
Dokter spesialis Umum, Kulit
GejalaGatal di kulit atau mata, ruam kulit, pembengkakan bibir, lidah, atau wajah setelah minum obat
Faktor risikoUsia, faktor genetik
Metode diagnosisTes kulit, tes darah
PengobatanObat-obatan
ObatAntihistamin, kortikosteroid oral
KomplikasiKesulitan bernapas, tekanan darah menurun, penurunan kesadaran
Kapan harus ke dokter?Mengalami kesulitan bernapas, tekanan darah menurun, penurunan kesadaran
Gejala umum alergi obat antara lain:
  • Biduran (hives), berupa kulit kemerahan dengan sedikit pembengkakan atau penonjolan
  • Gatal pada kulit atau mata
  • Ruam kulit
  • Pembengkakan pada bibir, lidah, atau wajah
  • Mengi (suara bernada tinggi saat bernapas)
  • Demam
  • Sesak napas
  • Hidung berair
  • Mata gatal dan berair
 
Alergi obat terjadi ketika sistem kekebalan tubuh Anda secara keliru mengidentifikasikan obat sebagai zat yang berbahaya, seperti virus atau bakteri. Setelah mendeteksi obat sebagai zat yang berbahaya, sistem kekebalan tubuh akan menghasilkan antibodi khusus untuk obat itu.Kondisi ini mungkin terjadi saat Anda pertama kali mengonsumsi obat tersebut. Namun, biasanya alergi tidak berkembang sampai terjadinya paparan yang berulang.Sehingga pada penggunaan obat berikutnya, antibodi baru dapat mengidentifikasi substansi obat sebagai pengganggu dan melawannya. Proses inilah yang menyebabkan timbulnya gejala alergi obat.Siapapun dapat mengalami reaksi alergi terhadap obat. Namun, beberapa faktor dapat meningkatkan risiko Anda, termasuk:
  • Usia dan jenis Kelamin
  • Faktor genetik
  • Gangguan kesehatan yang terjadi bersamaan (misalnya Virus Ebstein-Barr (EBV), human immunodeficiency virus (HIV), asma)
  • Reaksi obat sebelumnya
Meskipun setiap obat berpotensi menyebabkan reaksi alergi, beberapa obat memiliki risiko yang lebih tinggi. Obat-obatan tersebut termasuk:
  • Penisilin dan antibiotik terkait
  • Antibiotik yang mengandung sulfonamida (obat sulfa)
  • Obat antiinflamasi nonsteroid seperti ibuprofen dan naproxen
  • Aspirin
  • Obat kemoterapi
 

Reaksi obat non-alergi

Kadang-kadang, reaksi terhadap obat dapat menghasilkan tanda dan gejala yang hampir sama dengan alergi obat. Namun, reaksi obat tersebut tidak disebabkan oleh aktivitas sistem kekebalan tubuh.Kondisi ini disebut reaksi hipersensitivitas non-alergi atau reaksi obat pseudoalergik. Jenis obat yang dapat menyebabkan kondisi ini antara lain:
  • Aspirin
  • Pewarna yang digunakan dalam tes pencitraan (radiocontrast media)
  • Opiat untuk mengobati rasa sakit
  • Anestesi lokal
 
Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada Anda. Informasi mengenai timbulnya gejala, waktu minum obat, dan perbaikan atau perburukan gejala adalah petunjuk penting untuk membantu dokter membuat diagnosis.Dokter mungkin akan membutuhkan pemeriksaan tambahan, atau merujuk Anda ke dokter spesialis alergi untuk beberapa pemeriksaan khusus berikut ini:
  • Tes kulit

Dokter atau perawat akan mengaplikasikan obat yang diduga menyebabkan alergi ke kulit Anda menggunakan jarum kecil, dengan cara digoreskan atau ditusukkan ke kulit. Hasil positif terhadap tes akan menyebabkan kulit kemerahan, muncul benjolan atau gatal-gatal.
  • Tes darah

Dokter mungkin meminta Anda menjalani tes darah untuk mengeliminasi kondisi lain yang dapat menyebabkan tanda atau gejala alergi obat.Meskipun dapat mendeteksi reaksi alergi terhadap obat, tes darah tidak sering digunakan. Sebab, beberapa penelitian mengatakan bahwa hasilnya kurang akurat. Tes darah biasanya dilakukan dokter jika hasil dari tes kulit menunjukan alergi obat yang parah. 
Tindakan-tindakan berikut ini dapat digunakan untuk menangani reaksi alergi terhadap obat:
  • Menghentikan penggunaan obat. Jika dokter menyatakan Anda memiliki alergi obat atau kemungkinan alergi obat, penghentian penggunaan obat adalah langkah pertama dalam penanganan. Dalam beberapa kasus, ini mungkin satu-satunya langkah yang diperlukan.
  • Dokter juga akan menyarankan Anda untuk tidak menggunakan lagi obat yang memicu alergi ke depannya.
  • Dokter mungkin meresepkan antihistamin atau merekomendasikan antihistamin dari apotek, seperti diphenhydramine. Obat ini dapat menghambat zat kimia, yaitu histamin dihasilkan oleh sistem kekebalan tubuh, selama reaksi alergi.
  • Baik kortikosteroid oral maupun yang disuntikkan, dapat digunakan untuk mengobati peradangan akibat reaksi alergi obat yang lebih serius.
  • Untuk batuk atau adanya saluran paru-paru yang tersumbat, dokter mungkin meresepkan obat yang disebut bronkodilator, untuk memperluas saluran penapasan Anda.
  • Pengobatan anafilaksis. Anafilaksis membutuhkan injeksi epinefrin segera, serta perawatan rumah sakit untuk mempertahankan tekanan darah dan menjaga jalur pernapasan tetap terbuka.
  • Beta klam, jika Anda memiliki kondisi kesehatan tertentu (misalnya infeksi bakteri berulang atau defisiensi imun).
 

Komplikasi alergi obat

Jika tidak ditangani dengan optimal dapat berujung komplikasi seperti:
  • Kesulitan bernapas 
  • Tekanan darah menurun
  • Muntah
  • Mual
  • Diare
  • Kram perut
  • Nadi melambat atau sangat cepat
  • Penurunan kesadaran
Alergi obat yang berat dapat menyebabkan anafilaksis, walaupun sebenarnya jarang terjadi. Anafilaksis merupakan reaksi yang dapat memengaruhi berbagai sistem organ dan berpotensi mengancam nyawa, sehingga memerlukan penanganan darurat. Tanda dan gejala anafilaksis meliputi:
  • Nyeri atau kram perut
  • Diare
  • Penyempitan saluran pernapasan dan tenggorokan, yang menyebabkan kesulitan bernapas, suara mengi atau suara serak
  • Pusing, kehilangan kesadaran, kepala terasa ringan
  • Biduran (hives) diberbagai bagian tubuh
  • Mual, muntah
  • Denyut nadi yang terlalu lemah atau cepat
  • Penurunan tekanan darah
  • Kejang
Tapi tidak hanya itu, reaksi alergi obat yang kurang umum, terjadi dalam hitungan hari atau minggu setelah mengonsumsi obat. Reaksi tersebut dapat bertahan selama beberapa waktu setelah Anda berhenti mengonsumsi obat. Kondisi ini termasuk:
  • Serum sickness, yang dapat menyebabkan demam, nyeri sendi, ruam, bengkak dan mual
  • Anemia yang diakibatkan oleh obat, berupa penurunan sel darah merah yang dapat menyebabkan kelelahan, detak jantung tidak teratur, sesak napas dan gejala lainnya
  • Drug Rash with Eosinophilia and Systemic Symptoms (DRESS), yang menyebabkan ruam, peningkatan jumlah sel darah putih, pembengkakan tubuh secara keseluruhan, pembengkakan kelenjar getah bening, dan kambuhnya infeksi hepatitis aktif
  • Peradangan pada ginjal (nephritis), yang dapat menyebabkan demam, darah pada urine, pembengkakan secara umum, kebingungan, dan gejala lainnya
 
Jika Anda memiliki alergi obat, pencegahan terbaik adalah dengan menghindari penggunaan obat tersebut. Langkah-langkah yang dapat Anda lakukan sebagai perlindungan adalah:
  • Memberikan informasi pada tenaga medis

Pastikan bahwa alergi obat diidentifikasi secara jelas dalam rekam medis Anda. Beri tahu tenaga kesehatan lainnya, seperti dokter gigi atau dokter spesialis lainnya.
  • Kenakan gelang penanda

Kenakan gelang yang menandakan kondisi alergi obat Anda. Informasi ini dapat memastikan Anda mendapatkan perawatan yang tepat dalam keadaan darurat. 
Hubungi bantuan medis darurat jika Anda mengalami tanda-tanda reaksi yang berat, atau dicurigai mengalami anafilaksis setelah mengonsumsi obat tertentu. Jika mengalami gejala alergi obat yang lebih ringan, temui dokter sesegera mungkin. 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Bersiaplah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut. Informasi Anda penting dalam membantu dokter Anda menentukan penyebab dari gejala yang ada.
  • Gejala apa saja yang Anda alami?
  • Kapan gejala dimulai?
  • Berapa lama gejala itu bertahan?
  • Apakah Anda baru saja memulai pengobatan baru? Jika iya, obat apa?
  • Kapan Anda memulai pengobatan baru tersebut?
  • Apakah Anda sudah berhenti atau masih mengonsumsi obat baru tersebut?
  • Obat dari apotek atau dari resep dokter apa yang Anda sedang konsumsi?
  • Apakah ada obat herbal, vitamin atau suplemen makanan lainnya yang sedang dikonsumsi?
  • Pada pukul berapakah Anda mengonsumsi obat atau suplemen tersebut?
  • Apakah Anda meningkatkan dosis obat atau suplemen yang sedang dikonsumsi?
  • Apakah Anda sudah berhenti minum obat atau suplemen tersebut?
  • Apakah Anda sudah mencoba untuk mengobati gejala Anda, dan apakah gejala membaik atau memburuk?
  • Apakah Anda pernah mengalami reaksi terhadap obat di masa lalu? Jika ya, obat apakah itu?
  • Apakah Anda memiliki alergi makanan, atau alergi lainnya?
  • Apakah ada anggota keluarga yang memiliki riwayat alergi obat?
 
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/drug-allergy/diagnosis-treatment/drc-20371839
Diakses pada 12 November 2018
Medline Plus. https://medlineplus.gov/ency/article/000819.htm
Diakses pada 12 November 2018
WebMD. https://www.webmd.com/allergies/allergies-medications#1
Diakses pada 12 November 2018
American Academy of Allergy Asthma & Immunology. https://www.aaaai.org/conditions-and-treatments/library/allergy-library/medications-and-drug-allergic-reactions
Diakses pada 5 Mei 2021
American College of Allergy, Asthma, & Immunology. https://acaai.org/allergies/types/drug-allergies
Diakses pada 5 Mei 2021
World Allergy Association. https://www.worldallergy.org/education-and-programs/education/allergic-disease-resource-center/professionals/drug-allergies
Diakses pada 5 Mei 2021
NICE. https://www.nice.org.uk/guidance/cg183/resources/drug-allergy-diagnosis-and-management-pdf-35109811022821
Diakses pada 5 Mei 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email