Alergi Obat

Ditinjau dr. Widiastuti pada 27 Mar 2019
Alergi obat memiliki gejala umum seperti biduran atau demam dan dapat berakhir serius hingga mengancam nyawa.
Ruam dan biduran pada kulit adalah gejala alergi obat.

Pengertian Alergi Obat

Alergi obat adalah reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh terhadap obat. Pada individu yang mengalami alergi obat, sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan terhadap obat yang digunakan, karena obat dianggap sebagai benda asing yang dapat membahayakan tubuh. Obat yang mampu memicu alergi bisa berupa obat herbal, obat yang dijual bebas, dari apotek, maupun dari resep dokter. Namun, ada beberapa obat yang lebih berisiko memicu alergi obat.

Tanda dan gejala yang paling umum dari alergi obat adalah gatal-gatal, munculnya ruam atau demam. Alergi obat dapat menyebabkan reaksi yang serius, termasuk memengaruhi sistem tubuh secara keseluruhan (anafilaksis), sehingga mengancam nyawa. Alergi obat tidak sama dengan efek samping obat, yang biasanya tercantum pada label obat. Alergi obat juga berbeda dari keracunan obat yang disebabkan oleh overdosis.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Sistem kekebalan tubuh Anda dapat menghasilkan protein yang dikenal sebagai antibodi untuk melawan benda asing (alergen). Pada kasus alergi obat, antibodi pada tubuh akan menganggap obat sebagai benda asing yang berbahaya, sehingga akan dilawan oleh antibodi tersebut.

Anda mungkin tidak mengalami gejala alergi saat pertama kali mengonsumsi obat, karena tubuh menghasilkan antibodi secara bertahap. Sehingga pada penggunaan obat berikutnya, antibodi baru dapat mengidentifikasi substansi obat sebagai pengganggu dan melawannya. Proses inilah yang menyebabkan timbulnya gejala alergi obat.

Sebagian besar alergi obat menyebabkan ruam kulit dan gatal-gatal (biduran). Gejala-gejala ini dapat terjadi seketika, atau beberapa jam setelah mengonsumsi obat.  Serum sickness adalah jenis alergi obat tertunda, yang terjadi seminggu atau lebih, setelah Anda terpapar obat atau vaksin.

Gejala umum alergi obat antara lain:

  • Biduran (hives), berupa kulit kemerahan dengan sedikit pembengkakan atau penonjolan
  • Gatal pada kulit atau mata
  • Ruam kulit
  • Pembengkakan pada bibir, lidah, atau wajah
  • Mengi (suara bernada tinggi saat bernapas)
  • Demam
  • Sesak napas
  • Hidung berair
  • Mata gatal dan berair

Alergi obat yang berat dapat menyebabkan anafilaksis, walaupun sebenarnya jarang terjadi. Anafilaksis merupakan reaksi yang dapat memengaruhi berbagai sistem organ dan berpotensi mengancam nyawa, sehingga memerlukan penanganan darurat. Tanda dan gejala anafilaksis meliputi:

  • Nyeri atau kram perut
  • Rasa gelisah
  • Diare
  • Penyempitan saluran pernapasan dan tenggorokan, yang menyebabkan kesulitan bernapas, suara mengi atau suara serak
  • Pusing, kehilangan kesadaran, kepala terasa ringan
  • Biduran (hives) diberbagai bagian tubuh
  • Mual, muntah
  • Denyut nadi yang terlalu lemah atau cepat
  • Detak jantung cepat atau tidak teratur (palpitasi)
  • Penurunan tekanan darah
  • Kejang

Kondisi Lain Akibat Alergi Obat

Reaksi alergi obat yang kurang umum, terjadi dalam hitungan hari atau minggu setelah mengonsumsi obat. Reaksi tersebut dapat bertahan selama beberapa waktu setelah Anda berhenti mengonsumsi obat. Kondisi ini termasuk:

  • Serum sickness, yang dapat menyebabkan demam, nyeri sendi, ruam, bengkak dan mual
  • Anemia yang diakibatkan oleh obat, berupa penurunan sel darah merah yang dapat menyebabkan kelelahan, detak jantung tidak teratur, sesak napas dan gejala lainnya
  • Drug Rash with Eosinophilia and Systemic Symptoms (DRESS), yang menyebabkan ruam, peningkatan jumlah sel darah putih, pembengkakan tubuh secara keseluruhan, pembengkakan kelenjar getah bening, dan kambuhnya infeksi hepatitis aktif
  • Peradangan pada ginjal (nephritis), yang dapat menyebabkan demam, darah pada urine, pembengkakan secara umum, kebingungan, dan gejala lainnya

Faktor Risiko

Siapapun dapat mengalami reaksi alergi terhadap obat. Namun, beberapa faktor dapat meningkatkan risiko Anda, termasuk:

  • Riwayat alergi lainnya, seperti alergi makanan atau rinitis alergi (hay fever)
  • Riwayat alergi obat pribadi atau riwayat alergi obat pada keluarga
  • Peningkatan paparan terhadap obat, misalnya karena peningkatan dosis, peningkatan jumlah atau jangka waktu penggunaan
  • Penyakit tertentu yang berkaitan dengan reaksi alergi obat, seperti infeksi HIV atau virus Epstein-Barr

Penyebab

Alergi obat terjadi ketika sistem kekebalan tubuh Anda secara keliru mengidentifikasikan obat sebagai zat yang berbahaya, seperti virus atau bakteri. Setelah mendeteksi obat sebagai zat yang berbahaya, sistem kekebalan tubuh akan menghasilkan antibodi khusus untuk obat itu. Kondisi ini mungkin terjadi saat Anda pertama kali mengonsumsi obat tersebut. Namun, biasanya alergi tidak berkembang sampai terjadinya paparan yang berulang.

Pada penggunaan berikutnya, antibodi spesifik ini akan mengenali obat, dan mengarahkan serangan sistem kekebalan tubuh terhadap obat tersebut. Bahan kimia yang dikeluarkan oleh proses ini, menyebabkan tanda dan gejala yang berkaitan dengan reaksi alergi.

Jenis obat yang dapat menyebabkan alergi

Meskipun setiap obat berpotensi menyebabkan reaksi alergi, beberapa obat memiliki risiko yang lebih tinggi. Obat-obatan tersebut termasuk:

  • Antibiotik, seperti penisilin
  • Pereda nyeri, seperti aspirin, ibuprofen dan naproxen sodium
  • Obat kemoterapi untuk kanker
  • Obat untuk penyakit autoimun, seperti rheumatoid arthritis

Reaksi obat non-alergi

Kadang-kadang, reaksi terhadap obat dapat menghasilkan tanda dan gejala yang hampir sama dengan alergi obat. Namun, reaksi obat tersebut tidak disebabkan oleh aktivitas sistem kekebalan tubuh. Kondisi ini disebut reaksi hipersensitivitas non-alergi atau reaksi obat pseudoalergik. Jenis obat yang dapat menyebabkan kondisi ini antara lain:

  • Aspirin
  • Pewarna yang digunakan dalam tes pencitraan (radiocontrast media)
  • Opiat untuk mengobati rasa sakit
  • Anestesi lokal

Diagnosis

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada Anda. Informasi mengenai timbulnya gejala, waktu minum obat, dan perbaikan atau perburukan gejala adalah petunjuk penting untuk membantu dokter membuat diagnosis. Dokter mungkin akan membutuhkan pemeriksaan tambahan, atau merujuk Anda ke dokter spesialis alergi untuk beberapa pemeriksaan khusus berikut ini:

  • Tes kulit
    Dokter atau perawat akan mengaplikasikan obat yang diduga menyebabkan alergi ke kulit Anda menggunakan jarum kecil, dengan cara digoreskan atau ditusukkan ke kulit. Hasil positif terhadap tes akan menyebabkan kulit kemerahan, muncul benjolan atau gatal-gatal.
  • Tes darah
    Dokter mungkin meminta Anda menjalani tes darah untuk mengeliminasi kondisi lain yang dapat menyebabkan tanda atau gejala alergi obat.

Meskipun dapat mendeteksi reaksi alergi terhadap obat, tes darah tidak sering digunakan. Sebab, beberapa penelitian mengatakan bahwa hasilnya kurang akurat. Tes darah biasanya dilakukan dokter jika hasil dari tes kulit menunjukan alergi obat yang parah.

Pengobatan

Tindakan-tindakan berikut ini dapat digunakan untuk menangani reaksi alergi terhadap obat:

  • Menghentikan penggunaan obat. Jika dokter menyatakan Anda memiliki alergi obat atau kemungkinan alergi obat, penghentian penggunaan obat adalah langkah pertama dalam penanganan. Dalam beberapa kasus, ini mungkin satu-satunya langkah yang diperlukan.
  • Dokter mungkin meresepkan antihistamin atau merekomendasikan antihistamin dari apotek, seperti diphenhydramine. Obat ini dapat menghambat zat kimia, yaitu histamin dihasilkan oleh sistem kekebalan tubuh, selama reaksi alergi.
  • Baik kortikosteroid oral maupun yang disuntikkan, dapat digunakan untuk mengobati peradangan akibat reaksi alergi obat yang lebih serius.
  • Untuk batuk atau adanya saluran paru-paru yang tersumbat, dokter mungkin meresepkan obat yang disebut bronkodilator, untuk memperluas saluran penapasan Anda.
  • Pengobatan anafilaksis. Anafilaksis membutuhkan injeksi epinefrin segera, serta perawatan rumah sakit untuk mempertahankan tekanan darah dan menjaga jalur pernapasan tetap terbuka.

Pencegahan

Jika Anda memiliki alergi obat, pencegahan terbaik adalah dengan menghindari penggunaan obat tersebut. Langkah-langkah yang dapat Anda lakukan sebagai perlindungan adalah:

  • Memberikan informasi kepada tenaga medis. Pastikan bahwa alergi obat diidentifikasi secara jelas dalam rekam medis Anda. Beri tahu tenaga kesehatan lainnya, seperti dokter gigi atau dokter spesialis lainnya.
  • Kenakan gelang penanda. Kenakan gelang yang menandakan kondisi alergi obat Anda. Informasi ini dapat memastikan Anda mendapatkan perawatan yang tepat dalam keadaan darurat.

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Hubungi bantuan medis darurat jika Anda mengalami tanda-tanda reaksi yang berat, atau dicurigai mengalami anafilaksis setelah mengonsumsi obat tertentu. Jika mengalami gejala alergi obat yang lebih ringan, temui dokter sesegera mungkin.

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Berkonsultasi dengan Dokter?

  1. Tuliskan gejala apapun yang Anda alami, termasuk yang mungkin terlihat tidak terkait dengan alergi obat. Foto kulit ketika ruam atau bengkak, dan tunjukkan kepada dokter. Ini dapat membantu dokter Anda jika tanda dan gejala sudah hilang pada saat berkonsultasi.
  2. Tuliskan informasi pribadi seputar riwayat medis keluarga, dan riwayat alergi jika ada.
  3. Buat daftar semua obat, vitamin atau suplemen yang Anda konsumsi. Catat dosis masing-masing.
  4. Tuliskan pertanyaan untuk dokter mengenai kondisi kesehatan Anda.

Apa yang Akan Dilakukan Dokter pada Saat Konsultasi?

Bersiaplah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut. Informasi Anda penting dalam membantu dokter Anda menentukan penyebab dari gejala yang ada.

  • Gejala apa saja yang Anda alami?
  • Kapan gejala dimulai?
  • Berapa lama gejala itu bertahan?
  • Apakah Anda baru saja memulai pengobatan baru? Jika iya, obat apa?
  • Kapan Anda memulai pengobatan baru tersebut?
  • Apakah Anda sudah berhenti atau masih mengonsumsi obat baru tersebut?
  • Obat dari apotek atau dari resep dokter apa yang Anda sedang konsumsi?
  • Apakah ada obat herbal, vitamin atau suplemen makanan lainnya yang sedang dikonsumsi?
  • Pada pukul berapakah Anda mengonsumsi obat atau suplemen tersebut?
  • Apakah Anda meningkatkan dosis obat atau suplemen yang sedang dikonsumsi?
  • Apakah Anda sudah berhenti minum obat atau suplemen tersebut?
  • Apakah Anda sudah mencoba untuk mengobati gejala Anda, dan apakah gejala membaik atau memburuk?
  • Apakah Anda pernah mengalami reaksi terhadap obat di masa lalu? Jika ya, obat apakah itu?
  • Apakah Anda memiliki alergi makanan, atau alergi lainnya?
  • Apakah ada anggota keluarga yang memiliki riwayat alergi obat?
Referensi

AAAAI. https://www.aaaai.org/conditions-and-treatments/library/allergy-library/medications-and-drug-allergic-reactions
Diakses pada 12 November 2018

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/drug-allergy/diagnosis-treatment/drc-20371839
Diakses pada 12 November 2018

MedlinePlus. https://medlineplus.gov/ency/article/000819.htm
Diakses pada 12 November 2018

WebMD. https://www.webmd.com/allergies/allergies-medications#1
Diakses pada 12 November 2018

Back to Top