Penyakit Lainnya

Alergi Makanan

07 Jul 2021 | Dedi IrawanDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Alergi Makanan
Tanda-tanda umum alergi makanan antara lain masalah pencernaan, gatal, hingga kesulitan bernapas
Alergi makanan adalah reaksi sistem kekebalan tubuh yang terjadi setelah mengonsumsi beberapa makanan tertentu. Bahkan sebagian kecil dari makanan dapat menjadi pemicu alergi, terutama gejalanya seperti masalah pencernaan, gatal-gatal, atau saluran napas bengkak.Pada beberapa orang, kondisi ini dapat menyebabkan gejala yang parah atau reaksi yang mengancam jiwa yang dikenal sebagai sebagai anafilaksis. Jenis alergi ini menyerang pada 6-8 persen pada anak dibawah umur 3 tahun dan lebih dari 3 persen pada orang dewasa.Sangat mudah untuk membedakan alergi makanan dengan reaksi yang lebih umum yang dikenal sebagai intoleransi makanan. Intoleransi makanan merupakan reaksi tubuh yang tidak terlalu serius dan tidak melibatkan sistem imun. 
Alergi Makanan
Dokter spesialis Penyakit Dalam, Gizi
GejalaGatal di mulut, ruam merah, pembengkakan di wajah, mulut, tenggorokan atau bagian lain tubuh
Faktor risikoRiwayat keluarga, usia, alergi lain
Metode diagnosisPemeriksaan fisik dan riwayat keluarga, tes kulit, tes darah
PengobatanMenghindari alergen, obat-obatan
ObatObat antihistamin
KomplikasiAnafilaksis, eksim
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala reaksi alergi makanan atau reaksi anafilaksis
Gejala alergi makanan terjadi beberapa detik atau menit setelah mengonsumsi makanan. Beberapa orang akan merasakan reaksi alergi yang parah yang dapat mengancam nyawa. Tipe reaksi alergi yang paling umum terhadap makanan dimediasi imunoglobulin e (IgE).Adapun gejala akibat kondisi ini dapat berupa:
  • Munculnya rasa gatal pada mulut
  • Ruam merah yang timbul dan gatal, dalam beberapa kasus, kulit akan berubah merah gatal tetapi tanpa ruam yang timbul
  • Pembengkakan pada wajah, mulut, tenggorokan atau area lain pada tubuh
  • Kesulitan menelan
  • Napas berbunyi dan pendek alias sesak napas
  • Pusing dan sensasi seperti melayang
  • Mual atau muntah
  • Sakit pada daerah perut atau diare
  • Demam serbuk bunga (hay fever), dengan gejala bersin atau mata yang gatal
Pada individu tertentu, reaksi alergi parah alias anafilaksis bisa saja terjadi. Kondisi ini harus segera diatasi karena berpotensi mengancam jiwa penderitanya. Adapun gejala dari kondisi membahayakan ini, antara lain:
  • Terjadi penyempitan dan pengetatan saluran udara
  • Pembengkakan terjadi pada tenggorokan atau muncul sensasi seperti ada benjolan di tenggorokan yang membuat penderita sulit bernapas
  • Mengalami syok yang ditandai dengan penurunan tekanan darah yang parah
  • Denyut nadi cepat
  • Merasa pusing, sakit kepala ringan, atau bahkan kehilangan kesadaran
Alergi makanan jenis lain adalah yang tidak melibatkan IgE. Reaksinya akan lebih lambat, bahkan bisa beberapa hari setelah mengonsumsi makanan pemicu. Adapun gejala dari alergi jenis ini antara lain:
  • Muncul kemerahan dan gatal-gatal pada kulit
  • Jika tidak muncul gejala pertama, kulit mengalami ruam merah yang gatal
  • Muncul gejala eksim atopik seperti kulit menjadi gatal, merah, kering dan pecah-pecah
Gejala lain bisa jauh lebih tidak jelas dan kadang-kadang dianggap disebabkan oleh sesuatu selain alergi. Gejala ini termasuk:
  • Muntah dengan atau tanpa diare
  • Kram perut
  • Sembelit
Jika kondisi ini menimpa bayi, gejalanya bisa berupa tangisan yang berlebihan dan tanpa henti. Gejala ini muncul meski bayi sudah diberi makan dengan baik dan popoknya tidak perlu diganti. 
Penyebab alergi makanan adalah sistem imun yang keliru mengindentifikasi makanan atau zat tertentu sebagai sesuatu yang membahayakan. Sebagai reaksinya, sistem imun akan memicu sel untuk melepaskan antibody bernama immuniglobulin E (IgE).Dikeluarkannya antibodi tersebut berfungsi untuk menetralisir alergi yang disebabkan oleh makanan atau zat dalam makanan. Ketika penderita mengonsumsi bagian kecil dari makanan, antibodi IgE akan mengenali zat tersebut.Antibodi kemudian memberi sinyal kepada sistem imun untuk melepaskan zat kimia yang disebut histamin ke dalam pembuluh darah. Zat kimia inilah yang kemudian akan menyebabkan gejala alergi.Pada orang dewasa, alergi makanan dipicu dengan beberapa jenis protein:
  • Kerang, udang, dan kepiting
  • Kacang
  • Walnut dan kacang pecan
  • Ikan
Pada anak-anak, makanan penyebab alergi bisa berupa:
  • Kacang
  • Telur
  • Susu sapi
  • Gandum
  • Kedelai
 

Faktor risiko alergi makanan

Faktor risiko alergi makanan yang memperbesar peluang terjadinya kondisi ini antara lain:
  • Riwayat keluarga

Seseorang akan memiliki risiko tinggi terhadap alergi makanan jika asma, eksim, gatal-gatal atau alergi seperti demam serbuk sari sangat umum terjadi dalam keluarga.
  • Alergi lain
Jika seseorang alergi pada satu jenis makanan, ia akan memiliki risiko tinggi untuk mengalami alergi terhadap makanan lain. Demikian pula bila ia mengidap alergi lain, seperti alergi serbuk sari atau eksim.
  • Usia

Alergi makanan lebih umum terjadi pada anak, terutama bayi dan anak kecil. Ketika tumbuh dewasa, sistem pencernaan akan ikut berkembang sehingga penyerapan terhadap makanan atau komponen makanan yang memicu alergi akan berkurang.
  • Asma

Asma dan alergi makanan sering terjadi bersamaan. Ketika mereka terjadi bersamaan gejala menjadi lebih parah. 
Diagnosis alergi makanan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Hingga kini, belum ada satupun cara yang sempurna guna memastikan kondisi ini. Artinya, dokter mungkin akan melakukan beberapa metode sekaligus guna mendapatkan hasil akurat.Metode yang mungkin akan dilakukan dokter antara lain:
  • Pemeriksaan fisik

Dokter akan memeriksa dengan rinci gejala yang dialami. Jenis makanan dan seberapa banyak yang dikonsumsi juga akan ditanyakan oleh dokter.Pemeriksaan fisik juga dilakukan dokter seteliti mungkin guna mengidentifikasi sekaligus mengeliminasi masalah medis lain yang mungkin ada.
  • Riwayat keluarga

Dokter juga akan menanyakan tentang riwayat keluarga Anda apakah ada yang mengidap alergi atau tidak.
  • Tes kulit

Metode lain yang mungkin dilakukan adalah tes kulit. Tes ini dilakukan untuk menentukan reaksi alergi terhadap makanan tertentu. Dokter akan meletakkan sejumlah kecil makanan tertentu pada kulit lengan atau punggung.Lalu, kulit akan ditusuk oleh jarum agar zat yang ada dalam makanan masuk ke bawah permukaan kulit. Setelahnya, dokter akan menunggu apakah ada reaksi alergi atau tidak. Namun, tes ini belumlah cukup guna mengonfirmasi alergi makanan.
  • Tes darah

Tes darah dilakukan untuk mengukur antibodi IgE. Keberadaannya akan menjadi ukuran respon tubuh terhadap makanan tertentu.
  • Diet eliminasi

Penderita akan diminta melakukan diet eliminasi, yaitu menghentikan konsumsi makanan yang dicurigai menyebabkan alergi. Hanya saja, metode ini cenderung merepotkan dan susah untuk memberikan hasil yang valid.
  • Konsumsi makanan pemicu

Dokter mungkin akan meminta Anda mengonsumsi makanan yang diduga menjadi pemicu alergi. Konsumsi makanan ini akan diberikan secara bertahap mulai dari sedikit hingga banyak. Jika ternyata makanan ini tidak menyebabkan alergi, maka aman untuk dikonsumsi penderita. 
Salah satu cara untuk menghindari reaksi alergi adalah dengan menghindari makanan yang menyebabkan tanda dan gejala alergi muncul. Untuk reaksi alergi sedang, obat yang dijual bebas seperti antihistamin dapat dijadikan pengobatan alergi makanan terutama untuk mengurangi gejala.Obat tersebut dapat dikonsumsi setelah mengonsumsi makanan yang menyebabkan alergi untuk membantu menghilangkan gejala seperti gatal. Perlu diingat bahwa antihistamin tidak dapat mengobati reaksi alergi yang parah. Reaksi alergi yang parah membutuhkan suntikan epinefrin darurat.Banyak orang dengan riwayat alergi yang parah membawa epinefrin. Jika dokter meresepkan suntikan epinefrin, Anda harus mengetahui beberapa syarat berikut:
  • Mengetahui bagaimana menggunakan jarum suntik
  • Membawanya setiap saat
  • Pastikan untuk mengganti pen epinefrin sebelum tanggal kadaluarsa
 

Komplikasi alergi makanan

Komplikasi alergi makanan bisa terjadi dan cenderung membahayakan. Adapun komplikasi tersebut bisa berupa:
  • Anafilaksis

Asnafilaksis merupakan reaksi alergi yang bisa mengancam jiwa penderitanya.
  • Dermatitis atopik (eksim)

Alergi makanan dapat menyebabkan komplikasi berupa reaksi kulit seperti eksim atopik. 
Pencegahan alergi makanan umumnya bisa dilakukan penderita agar mereka tidak terkena kondisi ini di masa dating. Adapun langkah pencegahan yang bisa dilakukan antara lain:
  • Mengetahui dan menghindari makanan atau minuman yang bisa menjadi pemicu alergi
  • Setiap Anda mengetahui makanan atau minuman yang dikonsumsi
  • Pastikan membaca label makanan atau minuman sebelum mengonsumsinya
  • Jika punya alergi parah, pastikan orang di sekitar Anda mengetahuinya
  • Konsultasikan dengan dokter kemungkinan mendapat resep suntik epinefrin
  • Waspadalah jika pergi ke tempat makan umum, usahakn bertanya kepada penyedia makanan apakah menu yang ada mengandung zat pemicu alergi atau tidak
Jika anak Anda yang menderita alergi, maka Anda sebaiknya melakukan beberapa hal berikut:
  • Memberitahu kepada orang lain, terutama yang berkaitan dengan anak Anda, bahwa si Kecil memiliki alergi
  • Memberitahu kepada orang dewasa lain di rumah mengenai gejala alergi
  • Tuliskanlah langkah-langkah yang harus diambil jika si Kecil terserang alergi
  • Berikan tulisan mengenai langkah-langkah penanganan tersebut kepada perawat atau guru si Kecil
  • Jika memungkinkan, pakaikanlah peralatan medis yang menandakan di kecil menderita alergi guna mempermudah pemberian pertolongan pertama kepadanya
 
Kunjungilah dokter atau ahli alergi jika Anda memiliki gejala alergi makanan. Usahakan menemui mereka saat reaksi alergi sedang berlangsung. Hal ini penting agar dokter bisa mendiagnosisnya dengan baik.Pastikan Anda menghubungi nomor gawat darurat jika memiliki reaksi alergi parah seperti di bawah ini:
  • Mengalami penyempitan saluran udara yang membuat sulit bernafas
  • Menderita syok yang ditandai dengan penurunan tekanan darah yang parah
  • Denyut nadi cepat
  • Pusing atau sakit kepala ringan
 
Sebelum melakukan kunjungan ke dokter, persiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buatlah daftar seputar gejala yang muncul.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang dialami oleh pasien. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi oleh pasien.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan kepada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberi dukungan moral maupun membantu mengingat informasi yang disampaikan dokter.
 
Dokter kemungkinan akan mengajukan pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang dirasakan pasien?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait alergi makanan?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis alergi makanan agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/food-allergy/symptoms-causes/syc-20355095
Diakses pada 15 Oktober 2018
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/food-allergy/symptoms/
Diakses pada 15 Oktober 2018
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email