Alergi adalah bentuk respons sistem imun terhadap benda asing yang dianggap berbahaya oleh tubuh. Benda asing ini disebut alergen (pemicu alergi).

Pada orang yang tidak memiliki alergi, alergen umumnya tidak membahayakan kesehatan. Namun sistem kekebalan tubuh pada penderita alergi menganggap alergen sebagai ancaman bagi tubuh, sehingga menyerang alergen dan memicu reaksi alergi. 

Reaksi alergi tidak boleh disepelekan. Bila alergi terjadi dengan kondisi sangat parah (anafilaksis), nyawa penderitanya akan dalam bahaya. Karena itu, anafilaksis harus ditangani secepatnya di rumah sakit.

Gejala alergi berbeda-beda pada tiap penderita, tergantung tipe alergi dan tingkat keparahannya. Berikut ciri-ciri alergi berdasarkan jenis alerginya:

  • Alergi makanan

Alergi makanan dapat menyebabkan pembengkakan, biduran atau kaligata, mual, rasa lelah berlebihan, dan sebagainya. Reaksi alergi setelah mengonsumsi makanan tertentu terkadang tidak langsung muncul sehabis Anda makan, namun bisa beberapa menit hingga jam setelahnya. 

Bila Anda mengalami reaksi alergi serius setelah melahap makanan tertentu dan tidak tahu penyebab spesifiknya, segeralah berkonsultasi ke dokter. 

 

  • Alergi yang berkaitan dengan musim atau cuaca tertentu

Alergi yang berhubungan dengan musim atau cuaca tertentu disebut hay fever atau rinitis alergi. Gejalanya mirip dengan gejala flu yang meliputi hidung tersumbat atau berair serta mata yang membengkak. 

Hay fever merupakan reaksi alergi terhadap serbuk tanaman tertentu atau zat lainnya. Terdapat dua jenis hay fever, yaitu tipe musiman dan parenial .

Hay fever musiman hanya terjadi ketika memasuki musim tanaman tertentu, yang melepas serbuk dan memicu alergi. Sementara rinitis alergi tipe parenial merupakan hay fever yang tidak dipengaruhi oleh musim tanaman. 

 

  • Alergi akibat gigitan serangga dan pemakaian obat-obatan

Gigitan serangga dan obat-obatan tertentu dapat menimbulkan reaksi alergi berupa:

  • Pembengkakan yang luas di sekitar area gigitan.
  • Rasa gatal dan terbentuk biduran di sekujur tubuh.
  • Batuk-batuk.
  • Mengi, yakni timbul bunyi ‘ngik’ tiap menarik napas.
  • Rasa sesak atau kesulitan bernapas.

 

  • Alergi pada kulit

Reaksi alergi pada kulit mungkin merupakan suatu gejala dari alergi pada umumnya. Alergi ini bisa juga muncul sebagai akibat paparan alergen langsung ke kulit. 

Beberapa gejala alergi kulit meliputi:

  • Ruam kemerahan.
  • Eksim yang gatal dan gampang berdarah.
  • Sakit tenggorokan atau tenggorokan gatal akibat iritasi dan peradangan tenggorokan.
  • Biduran.
  • Pembengkakan mata.
  • Sensasi panas seperti terbakar. 

 

  • Anafilaksis

Reaksi alergi berat dapat menimbulkan masalah serius yang disebut anafilaksis. Gejala anafilaksis umumnya berupa:

  • Kesulitan bernapas.
  • Rasa kerongkongan seperti menyempit
  • Pusing.
  • Sensasi seperti hendak pingsan.
  • Pingsan.

Bila Anda mengalami gejala anafilaksis, segeralah ke unit gawat darurat rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan secepat mungkin.

Penelitian tidak menemukan jawaban pasti mengenai penyebab alergi. Oleh sebab itu, pemicu sistem imun menyerang benda asing yang sebenarnya tidak berbahaya bagi tubuh juga belum diketahui hingga sekarang. 

Meski demikian, para pakar memperkirakan ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami alergi. Faktor-faktor risiko tersebut meliputi:

  • Faktor genetik

Apabila ada anggoa keluarga Anda yang mengalami alergi tertentu, risiko Anda untuk mengalami alergi juga akan meningkat. Jenis alergi yang muncul pun terkadang tidak sama. 

  • Mengidap penyakit tertentu 

Seseorang lebih rentan mengalami alergi bila dirinya mengidap asma, biduran, atau eksim.

Beberapa alergen di bawah ini juga sering menjadi pencetus reaksi alergi:

  • Serbuk sari, bulu binatang, tungau, dan banyak lagi
  • Makanan tertentu, seperti kacang-kacangan, gandum, kedelai, ikan, kerang, telur, dan susu.
  • Sengatan serangga, misalnya lebah.
  • Obat-obatan tertentu, terutama golongan antibiotik penisilin.
  • Bahan tertentu, contohnya lateks.

Dokter mendiagnosis alergi dengan tiga langkah berikut ini:

  • Menanyakan beberapa hal seputar gejala Anda.
  • Menanyakan tentang riwayat medis Anda maupun keluarga.
  • Melakukan pemeriksaan fisik.
  • Melakukan pemeriksaan penunjang untuk mengetahui penyebab alergi.

Pemeriksaan penunjang yang biasanya dokter sarankan untuk mendiagnosis dan mengindentifikasi penyebab alergi adalah pemeriksaan darah dan tes alergi di kulit (skin prick test). 

Pada saat tes darah, dokter akan mengecek ada tidaknya antibodi yang menyebabkan reaksi alergi. Antibodi ini bernama imunoglobulin E (IgE). 

Sementara pada tes alergi pada kulit, kulit Anda akan dicukit atau digores dengan jarum kecil yang mengandung alergen tertentu.

Kulit yang menjadi lokasi skin prick test kemudian didiamkan selama beberapa saat sambil dipantau. Jika terjadi reaksi tertentu pada kulit Anda, ini menandakan bahwa Anda memiliki alergi terhadap zat tersebut.

Terdapat beberapa tipe pengobatan alergi berdasarkan jenis dan tingkat keparahannya. Berikut sederet penanganan alergi yang dapat direkomendasikan oleh dokter:

  • Obat-obatan

Obat alergi dapat membantu dalam mengatasi gejala alergi yang ringan. Obat antihistamin, kortikosteroid, dekongestan merupakan contohnya. Obat ini bisa didapat secara bebas maupun dengan resep dokter. 

  • Suntikan Epinefrin

Bila Anda mengalami anafilaksis, dokter atau petugas medis akan langsung memberikan suntikan epinefrin untuk meredakan gejalanya supaya tidak berujung fatal. 

  • Imunoterapi

Jenis terapi ini hanya boleh diberikan oleh dokter. Imunoterapi dilakukan dengan memberikan suntikan selama beberapa tahun untuk membantu tubuh penderita agar terbiasa dengan alergen tertentu. Dengan ini, reaksi alergi di kemudian hari bisa dikurangi bahkan dicegah.

Alergi termasuk penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Namun bila penyebabnya sudah diketahui, Anda bisa mencegah serangannya dengan menghindari alergen tersebut. 

Anda juga sebaiknya selalu menyediakan obat alergi di rumah maupun membawanya dalam tas saat bepergian. Dengan ini, Anda bisa langsung menggunakannya ketika reaksi alergi menyerang agar tidak berujung pada anafilaksis.

Segera berkonsultasi dengan dokter apabila Anda mengalami gejala alergi, terutama jika tingkat keparahan gejala termasuk berat atau anafilaksis.

Saat gejala pertama kali dirasakan, Anda mungkin ke dokter umum dulu. Bila mencurigai kondisi Anda sebagai reaksi alergi, dokter umum mungkin akan merujuk Anda ke dokter spesialis alergi.

Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:

  • Buat daftar seputar gejala alergi yang Anda rasakan dan apa saja alergen yang mungkin menyebabkannya.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat obat-obatan, obat herbal, suplemen, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.

Saat pemeriksaan, dokter mungkin akan mengajukan beberapa pertanyaan berikut:

  • Apa saja gejala yang Anda rasakan? 
  • Apa saja faktor pencetus reaksi alergi yang mungkin Anda miliki?
  • Apakah Anda rutin mengkonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya dan apa saja pengobatan yang sudah Anda coba?

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan mungkin menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis dan mencari penyebab alergi agar dokter bisa merencanakan pengobatan yang tepat.

Healthline. https://www.healthline.com/health/allergies
Diakses pada 31 Oktober 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/allergies/symptoms-causes/syc-20351497
Diakses pada 31 Oktober 2019

WebMD. https://www.webmd.com/allergies/guide/allergy-symptoms-types
Diakses pada 31 Oktober 2019

Asthma and Allergy Foundation of America. https://www.aafa.org/allergies.aspx
Diakses pada 31 Oktober 2019

Artikel Terkait