Perut

Akalasia

28 Apr 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Akalasia
Otot esofagus tidak bekerja dengan sempurna menjadi penyebab akalasia.
Akalasia adalah penyakit langka yang menyerang serabut otot di kerongkongan yang dinamakan sfingter esofagus. Penyakit ini menyebabkan sfingter esofagus kehilangan kemampuannya untuk mendorong makanan ke lambung.Pada kondisi normal, sfingter esofagus yang memiliki bentuk seperti cincin ini berfungsi untuk menghubungkan rongga mulut (faring) dan perut. Ketika makan atau minum, otot esofagus akan berkontraksi untuk mendorong makanan, kemudian sfingter akan merenggang agar makanan dapat masuk ke lambung. Pada penderita akalasia, otot sfingter tersebut tidak bekerja dengan sempurna sehingga mempengaruhi pergerakan otot. Akibatnya, makanan dan minuman sulit untuk masuk ke perut.Penyakit ini terjadi seketika, biasanya penderita mengalami gejalanya secara berangsur-angsur. Apabila tidak segera ditangani, penderita dapat menderita komplikasi, salah satunya adalah risiko terkena kanker esofagus. Belum ada obat untuk mengobati akalasia, namun penderita masih bisa melakukan penanganan agar gejala yang dialami menjadi lebih ringan.Penanganan akalasia yang tersedia saat ini meliputi pemberian obat-obatan dan tindakan medis seperti injeksi botoks, peregangan otot (ballon dilation) hingga operasi.
Akalasia
Dokter spesialis Penyakit Dalam
GejalaSulit menelan, muntah, tersedak
Faktor risikoInfeksi herpes, measles, autoimun
Metode diagnosisWawancara, pemeriksaan fisik, manometri esofagus
PengobatanObat, peregangan otot (ballon dilation), operasi
ObatCalcium channel blockers, nitrat
KomplikasiPneumonia aspirasi, perforasi esofagus, kanker esofagus
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala
Tidak semua penderita akalasia menunjukkan gejala, namun kebanyakan akan mengalami kesulitan menelan makanan dan cairan (disfagia). Kesulitan menelan dapat menyebabkan batuk dan tersedak. Gejala lain yang dapat dialami adalah:
  • Muntah
  • Dada terasa panas (heartburn)
  • Sakit dada
  • Infeksi dada berulang
  • Meneteskan air liur atau muntahan makanan atau cairan
  • Sakit atau tidak nyaman setelah mengonsumsi makanan
  • Penurunan berat badan secara bertahap namun signifikan
Gejala akalasia semakin lama akan semakin memburuk apabila tidak ditangani dengan cepat. Sayangnya, karena umumnya gejala awal dirasa ringan, kebanyakan penderita tidak segera menanganinya hingga kondisinya sudah parah.Padahal apabila ditangani sejak awal, komplikasi bisa dihindari dan gejala bisa ditangani dengan baik. Maka dari itu, sangat penting untuk segera mendapatkan pengobatan yang tepat untuk mengatasi gejala akalasia, bahkan jika gejala tersebut dirasa tidak mengganggu Anda.
Penyebab akalasia masih belum diketahui. Berdasarkan berbagai penelitian, faktor-faktor yang diduga menjadi penyebab akalasia antara lain:
  • Rusak atau hilangnya saraf pada dinding esofagus, sehingga otot-otot esofagus menjadi kaku.
  • Faktor genetik, meski sangat jarang terjadi, akalasia dapat diwariskan dari keluarga.
  • Meski belum diketahui pasti, ada anggapan bahwa dalam faktor ini laki-laki lebih rawan daripada perempuan
  • Faktor usia, akalasia paling banyak terjadi pada pasien dengan rentang usia antara 20 hingga 60 tahun. Walau begitu, anak-anak pun tetap bisa terjangkit penyakit ini
  • Kelainan autoimun, para peneliti juga mencurigai adanya peran respons autoimun di mana sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel otot sfingter yang sehat.
  • Infeksi virus dari penyakit lain yang menyerang saraf, seperti herpes dan measles
Gejala akalasia mirip dengan gangguan pencernaan pada biasanya. Untuk mendiagnosa akalasia, dokter akan merekomendasikan:
  • Manometri esofagus. Tes ini mengukur kontraksi otot ritmik di esofagus ketika menelan, koordinasi otot-otot kerongkongan, dan seberapa baik sfingter esofagus di bagian bawah rileks atau membuka selama menelan.
  • Sinar-X (Rontgen) sistem pencernaan bagian atas. Sinar-X diambil setelah pasien meminum cairan khusus yang melapisi saluran pencernaan. Lapisan ini memudahkan dokter untuk melihat siluet esofagus, lambung, dan usus bagian atas. Menelan pil barium sebelumnya juga direkomendasikan untuk membantu mengidentifikasi sumbatan esofagus.
  • Endoskopi saluran cerna bagian atas. Dokter akan memasukkan tabung tipis dan lentur yang dilengkapi dengan kamera (endoskopi) ke tenggorokan untuk memeriksa bagian dalam esofagus dan perut.
Baca juga: Alami Gangguan Saluran Pencernaan? Kunjungi Dokter Gastroenterologi
Saat ini tidak ada obat untuk menyembuhkan akalasia, karena saraf otot esofagus yang rusak tidak bisa kembali seperti semula. Meski begitu, gejala yang timbul masih bisa ditangani. Penanganan berfokus untuk melemaskan otot sfingter esofagus agar jalur menuju lambung terbuka.Metode-metode penanganan gejala akalasia antara lain:
  • Pengobatan
Jenis obat yang bisa melemaskan otot seperti antagonis kalsium dan nitrat dapat membuat otot sfingter esofagus mengendur sehingga makanan dan minuman bisa lebih mudah masuk ke lambung.Meminum obat merupakan metode paling praktis untuk menangani akalasia yang bisa dilakukan di rumah. Hanya saja, metode ini dianggap tidak efektif dalam waktu lama, dan banyak menghasilkan efek samping yang tidak diinginkan seperti sakit kepala dan tekanan darah rendah. Maka dari itu, biasanya metode ini dilakukan ketika penderita tidak ingin atau tidak bisa menjalani operasi.
  • Peregangan otot (balloon dilation)
Suatu alat seperti balon akan dimasukkan ke esofagus menggunakan endoskopi. Balon tersebut kemudian akan digelembungkan untuk membantu meregangkan cincin sfingter agar makanan dapat masuk ke perut. Pasien akan diberikan obat penenang ketika prosedur ini dilakukan. Metode ini memiliki tingkat keberhasilan yang cukup tinggi, namun ada kemungkinan komplikasi seperti sakit dada dan demam.
  • Injeksi Botox
Melalui endoskopi, botox disuntikkan ke cincin otot agar tidak berkontraksi. Tingkat keberhasilan metode ini cukup tinggi, terutama pada pasien berusia diatas 50 tahun atau pengidap akalasia bertekanan tinggi. Hanya saja, seperti menggunakan obat-obatan, efektifitas suntikan botox semakin lama akan berkurang sehingga suntikkan perlu dilakukan lagi di kemudian hari.
  • Operasi myotomy
Melalui operasi ini, serat otot di sfingter esofagus menuju lambung akan dipotong agar otot bisa melemas. Pasien akan dibius dan umumnya perlu diopname selama satu atau dua hari. Dari sekian banyak metode pengobatan, operasi ini yang dianggap paling efektif.

Komplikasi

Jika tidak ditangani dengan baik, komplikasi yang bisa timbul akibat akalasia antara lain:
  • Pneumonia aspirasi, yakni peradangan pada paru-paru akibat ada benda asing yang masuk. Ini disebabkan oleh makanan atau minuman di esofagus yang naik kembali ke atas kerongkongan dan masuk ke paru paru karena saluran menuju lambung tertutup.
  • Perforasi esofagus, yakni robeknya dinding kerongkongan.
  • Kanker esofagus.
Sayangnya, karena penyebab akalasia masih belum diketahui dengan pasti, langkah untuk mencegahnya pun masih tidak diketahui hingga saat ini.Baca juga: Ini Pertolongan Pertama untuk Orang yang Tersedak
Segeralah jadwalkan konsultasi dengan dokter apabila Anda memiliki kekhawatiran atau menyadari adanya gejala akalasia, seperti kesulitan menelan makanan dan minuman, rasa nyeri di dada, sering tersedak dan batuk yang tak kunjung sembuh. Terutama apabila ada riwayat keluarga yang terkena akalasia.Baca jawaban dokter: Batuk tidak sembuh-sembuh, kenapa?
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal berikut:
  • Tuliskan semua gejala-gejala yang telah dialami untuk diberitahukan kepada dokter
  • Buatlah daftar semua obat-obatan dan suplemen yang pernah telah dikonsumsi untuk diinformasikan kepada dokter
  • Tuliskan riwayat penyakit atau alergi yang pernah dialami, begitu juga dengan riwayat medis keluarga
  • Tuliskan pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan pada dokter
  • Ada baiknya untuk mempertimbangkan perlunya didampingi keluarga atau orang terdekat Anda. Adanya pendamping bisa memberikan Anda dukungan moral ketika menghadapi dokter. Mereka pun dapat membantu mengingat informasi yang disampaikan dokter ketika konsultasi.
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkena akalasia?
  • Adakah ada obat-obatan yang rutin Anda konsumsi?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis sebelumnya? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah dicoba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan untuk memastikan diagnosis akalasia agar bisa segera dilakukan penanganan yang tepat.
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3108680/
Diakses pada 26 April 2021
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/achalasia/symptoms-causes/syc-20352850
Diakses pada 26 April 2021
Web MD. https://www.webmd.com/digestive-disorders/achalasia-what-to-know#1
Diakses pada 24 Desember 2018
Healthline. https://www.healthline.com/health/achalasia#risk-factors
Diakses pada 26 April 2021
Uptodate. https://www.uptodate.com/contents/achalasia-beyond-the-basics
Diakses pada 26 April 2021
Medicinenet. https://www.medicinenet.com/achalasia/article.htm
Diakses pada 26 April 2021
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/achalasia/
Diakses pada 26 April 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email