Agorafobia

Ditinjau dr. Miranda Rachellina pada 12 Okt 2018
Penderita agorafobia akan merasa terjebak, tidak berdaya, dan malu ketika berada di tengah keramaian.
Penderita agorafobia merasa membutuhkan seseorang, seperti kerabat atau teman, untuk pergi bersama ke tempat-tempat umum.

Pengertian Agorafobia

Agorafobia adalah jenis gangguan kecemasan dimana ada ketakutan berlebihan terhadap ruangan terbuka atau tempat umum. Penderita biasanya menghindari tempat atau situasi yang mungkin menyebabkan panik, merasa terperangkap, tidak berdaya, atau malu. Situasi atau tempat yang dapat memicu dapat berupa menggunakan transportasi umum, berada di ruang terbuka ataupun tertutup yang publik, berdiri dalam antrean, atau berada di tengah keramaian.

Penderita mungkin merasa membutuhkan seseorang, seperti kerabat atau teman, untuk pergi bersama ke tempat-tempat umum. Rasa takut bisa begitu besar sehingga penderita tidak bisa meninggalkan rumah dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Ketakutan yang dirasakan karena takut tidak bisa mendapatkan jalan keluar atau bantuan saat rasa cemas yang dirasakan makin kuat. Biasanya penderita agorafobia pernah mengalami serangan panik yang berkembang menjadi agorafobia. 

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5) yang menjadi panduan untuk Asosiasi Psikiater Amerika (American Psychiatrist Association), kriteria-kriteria dari gangguan agorafobia adalah:  

  • Adanya ketakutan atau kecemasan yang terlihat jelas pada setidaknya dua dari kelima situasi di bawah ini:
    • Menggunakan transportasi umum (contoh, bis, kereta, dan sebagainya).
    • Berada di tempat terbuka (contoh, pasar, jembatan, tempat parkir, dan sebagainya).
    • Berada di tempat tertutup (comtoh, toko, bioskop, dan sebagainya).
    • Mengantri atau berada di tengah keramaian.
    • Berada di luar rumah sendirian.
  • Individu menghindari situasi-situasi tersebut karena berpikir bahwa sulit untuk melarikan diri atau bantuan tidak akan tersedia saat gejala-gejala panik atau yang membuat malu (contoh, takut jatuh di dekapan orang yang tua, atau takut mengompol di publik) berkembang.
  • Rasa cemas, takut, atau penghindaran terus-menerus ada selama enam bulan atau lebih.
  • Rasa takut, cemas, atau penghindaran menimbulkan gangguan pada aspek-aspek kehidupan individu (contoh, kehidupan sosial, pekerjaan, dan sebagainya).
  • Jika terdapat kondisi medis tertentu, rasa takut, cemas, dan penghindaran yang dilakukan tetap berlebihan.
  • Rasa takut, cemas, atau penghindaran tidak dapat dijelaskan dengan gejala-gejala dari gangguan mental lainnya, seperti fobia secara spesifik atau yang tergantung situasi, gangguan kecemasan sosial, gangguan obsesif-kompulsif, gangguan dismorfik tubuh (body dysmorphic disorder), post-traumatic disorder, ataupun separation anxiety disorder
  • Situasi-situasi tersebut hampir selalu dapat memicu rasa takut atau cemas secara langsung.
  • Situasi-situasi tersebut secara aktif dihindari, membutuhkan keberadaan orang yang dikenal, atau ditahan dengan rasa takut atau cemas yang intens. 
  • Rasa cemas atau takut yang dirasakan tidak sesuai dengan ancaman yang sebenarnya terjadi pada situasi-situasi tersebut dan pada kontek sosial budaya.

Penyebab

Penyebab dari Agorafobia belum dapat dipastikan. Namun, diperkirakan ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi, seperti:

  • Kondisi kesehatan dan genetika. 
  • Individu yang meresponi serangan panik dengan rasa takut dan penghindaran yang berlebihan.
  • Stres pada lingkungan dan pengalaman traumatis yang terjadi sebelumnya, seperti pernah dilecehkan, kematian orangtua, ataupun pernah diserang. 
  • Memiliki anggota keluarga yang memiliki agorafobia (kemungkinan diturunkan). 
  • Individu yang memiliki tempramen yang pencemas.
  • Individu yang memiliki gangguan panik atau fobia lainnya.

Diagnosis

Agorafobia didiagnosis berdasarkan kriteria khusus yang dideteksi melalui:

  • Gejala atau tanda-tanda yang dialami. 
  • Pemeriksaan secara mendalam dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya.
  • Pemeriksaan fisik untuk mengetahui kondisi-kondisi lain yang mungkin menimbulkan gejala.
  • Diagnosis dari kriteria-kriteria di DSM-5.

Pengobatan

Agorafobia dapat ditangani dengan:

  • Medikasi, berupa antidepresan dan anticemas. 

  • Psikoterapi, salah satu jenis psikoterapi yang efektif dalam menangani agorafobia adalah terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy). Terapi perilaku kognitif dapat membantu penderita untuk belajar mengidentifikasi hal-hal apa yang memicu gejala-gejala serangan panik dan apa yang memperparah gejala-gejala tersebut, bagaimana mengatasi dan mentoleransi gejala-gejala yang dialami, cara-cara untuk menghadapi pemikiran-pemikiran yang membuat cemas, serta bagaimana mengubah perilaku tidak sehat yang tidak inginkan dengan teknik desentisisasi atau terapi paparan (exposure therapy) yang menempatkan penderita pada situasi atau kondisi yang membuat takut dan cemas secara aman. 

Jika Anda mengalami agorafobia, beberapa hal yang dapat Anda lakukan adalah:

  • Tetap mengikuti penanganan yang diberikan.
  • Mempelajari teknik-teknik untuk menangasi stres dan relaksasi, seperti meditasi, yoga, dan sebagainya.
  • Hindari rokok, alkohol, kafein, dan narkotika.
  • Bercerita dengan orang-orang terdekat mengenai masalah yang dialami atau mengikuti komunitas-komunitas dengan orang-orang yang juga mengalami hal yang serupa agar dapat saling berdiskusi dan mendukung satu sama lainnya.
  • Menerapkan pola hidup yang sehat, seperti mengonsumsi makanan yang bergizi, istirahat yang cukup, dan olahraga yang teratur.
  • Jangan menghindari situasi-situasi atau tempat-tempat yang membuat Anda cemas dan takut. Hadapilah situasi-situasi atau tempat-tempat tersebut secara bertahap dan lama kelamaan Anda akan menyadari bahwa rasa takut dan cemas Anda mungkin akan berkurang. 

Pencegahan

Tidak ada cara yang pasti untuk mencegah agorafobia dan kecemasan biasanya meningkat saat penderita semakin menghindari situasi yang ditakutkan. Penderita dapat berlatih pergi ke tempat-tempat yang membuat takut dan cemas secara bertahap untuk dapat mengalahkan rasa takut dan cemas yang dirasakan. Jika penderita merasa kesulitan, penderita dapat meminta bantuan anggota keluarga atau orang-orang terdekat untuk pergi bersama atau mencari dokter dan ahli kesehatan mental yang dapat membantu. 

Jika Anda mengalami kecemasan yang berlebihan sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari atau merasakan serangan panik yang berulang, segeralah konsultasi dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya. Dapatkan bantuan lebih awal agar gejala tidak semakin buruk, jika tidak segera ditangani maka gangguan yang dialami akan menjadi lebih parah dan makin sulit ditangani.

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Berkonsultasilah dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya jika Anda memiliki gejala-gejala seperti yang telah disebutkan di atas.

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Berkonsultasi dengan Dokter?

Buatlah daftar mengenai gejala-gejala yang dialami, informasi mengenai masalah-masalah kehidupan yang baru-baru ini dialami, semua obat atau zat-zat yang dikonsumsi, serta pertanyaan-pertanyaan untuk ditanyakan kepada dokter dan ahli kesehatan mental lainnya, seperti:

  • Apa yang menyebabkan gejala-gejala yang saya rasakan?
  • Jenis penanganan apa yang direkomendasikan?
  • Apa risiko efek samping dan kontra indikasi dari obat yang direkomendasikan?
  • Apakah terdapat brosur, website, atau materi-materi tercetak yang bisa saya peroleh seputar kondisi yang saya alami?

Apa yang Akan Dilakukan Dokter pada Saat Konsultasi?

Dokter dan ahli kesehatan mental lainnya akan bertanya:

  • Kapan Anda pertama kali merasakan gejala-gejala ini?
  • Apa gejala yang paling menganggu Anda?
  • Apakah Anda menghindari situasi atau tempat apa pun karena Anda takut mereka akan memicu gejala Anda?
  • Apakah Anda pernah didiagnosis dengan gangguan mental tertentu? Jika ya, apa penanganan yang paling efektif pada waktu itu?
  • Apakah Anda pernah terpikir untuk menyakiti diri Anda?
  • Apakah ada yang dapat memperbaiki dan memperparah gejala yang Anda alami?
  • Apakah Anda menghindari tempat-tempat atau situasi-situasi yang memicu gejala-gejala yang dialami?
  • Kapan gejala-gejala Anda akan sering muncul?
  • Apakah Anda pernah didiagnosis dengan kondisi medis tertentu?
  • Apakah Anda pernah mengonsumsi alkohol atau narkotika?
  • Bagaimana gejala yang dialami memengaruhi kehidupan Anda dan orang-orang terdekat Anda?
Referensi

Mayo Clinic.
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/agoraphobia/symptoms-causes/syc-20355987 
Diakses pada 12 Oktober 2018. 

Medscape.
https://emedicine.medscape.com/article/288016-overview#a2
Diakses pada 19 Maret 2019

NHS. 
https://www.nhs.uk/conditions/agoraphobia/
Diakses pada 12 Oktober 2018.

Back to Top