Psikologi

Agorafobia

Diterbitkan: 24 Feb 2021 | Dedi IrawanDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Agorafobia
Penderita agorafobia akan merasa terjebak, tidak berdaya, dan malu ketika berada di tengah keramaian
Agoraphobia atau agorafobia adalah jenis gangguan kecemasan yang membuat penderita takut berlebihan terhadap ruangan terbuka atau tempat umum. Penderita biasanya menghindari tempat maupun situasi yang mungkin memicu panik, terperangkap, tidak berdaya, atau malu.Ada berbagai macam situasi atau tempat yang dapat memicu agorafobia. Misalnya, transportasi umum, ruangan terbuka maupun tertutup yang bisa dipakai untuk umum.Penderita bahkan bisa mengalami gejala agorafobia saat berdiri dalam antrean atau berada di tengah keramaian.Pengidap agorafobia mungkin merasa membutuhkan seseorang, seperti kerabat atau teman, untuk pergi bersamanya ke tempat-tempat umum. Rasa takutnya bisa begitu besar sehingga ia tidak bisa meninggalkan rumah. Akbatnya, aktivitas sehari-hari pun akan terganggu.Ketakutan yang muncul biasanya berupa rasa khawatir berlebih bahwa penderita tidak akan bisa mendapatkan jalan keluar atau bantuan saat kecemasannya bertambah. Umumnya, penderita pernah mengalami serangan panik yang berkembang menjadi agorafobia.  

Jenis-jenis agorafobia

Agorafobia terbagi menjadi dua jenis di bawah ini:
  • Agorafobia terkait serangan panik

Sebagian kasus agorafobia berkembang sebagai komplikasi dari gangguan panik. Kondisi ini muncul setelah penderita mengalami serangan panik dalam situasi atau lingkungan tertentu, yang menyebabkan trauma. Akbatnya, penderita akan berusaha menghindarinya.
  • Agorafobia yang tidak terkait serangan panik

Agorafobia juga bisa diderita oleh orang yang tidak terkena gangguan panik. Kondisi ini bisa muncul pada mereka yang mengalami ketakutan berlebih pada kondisi tertentu. 
Agorafobia
Dokter spesialis Jiwa, Psikolog
GejalaTakut ke tempat umum, takut menggunakan transportasi umum, takut berkerumun
Faktor risikoUsia, jenis kelamin, pernah mengalami pelecehan seksual
Metode diagnosisPemeriksaan gejala dan fisik, wawancara dengan ahli jiwa, kategori DSM-5
PengobatanPskoterapi, obat antidepresan dan obat anti-kecemasan
ObatFluoxetine, sertraline, benzodiazepine
KomplikasiDepresi, penyalahgunaan alkohol dan narkoba
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala agorafobia
Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5), gejala agorafobia meliputi:  1. Adanya ketakutan atau kecemasan yang terlihat jelas pada setidaknya dua dari lima situasi di bawah ini:
  • Menggunakan transportasi umum, seperti bus, kereta, pesawat, dan kapal
  • Berada di tempat terbuka, seperti pasar, tempat parkir, dan sebagainya
  • Berada di tempat tertutup, seperti toko, bioskop, dan sebagainya
  • Mengantre atau berada di tengah keramaian
  • Sendirian di luar rumah
2. Individu menghindari situasi-situasi tersebut karena berpikir bahwa sulit untuk melarikan diri atau tidak akan mendapat bantuan saat gejala-gejala panik atau peristiwa yang memalukan terjadi (contoh, takut jatuh di dekapan orang yang tua atau takut mengompol di tempat umum).3. Situasi-situasi tersebut hampir selalu memicu rasa takut atau cemas secara langsung.4. Situasi-situasi tersebut secara aktif dihindari oleh penderita dan membuatnya membutuhkan keberadaan orang yang dikenal5. Penderita memendam kondisinya meski merasakan ketakutan atau kecemasan yang intens6. Penyebab rasa cemas atau takut bukanlah ancaman yang benar-benar terjadi7. Rasa cemas, takut, atau sikap menghindar terus berlangsung selama enam bulan atau lebih8. Rasa takut, cemas, atau sikap menghindar mengganggu kehidupan penderita, baik secara sosial, pekerjaan, dan lainnya.9. Jika penderita didiagnosis mengalami kondisi medis tertentu, rasa takut, cemas, dan sikap menghindarnya muncul secara berlebihan.10. Rasa takut, cemas, atau sikap menghindar yang tidak berkaitan dengan gejala gangguan mental lain. Misalnya, fobia secara spesifik atau tergantung situasi, gangguan kecemasan sosial, gangguan obsesif-kompulsif, gangguan dismorfik tubuh (body dysmorphic disorder), post-traumatic disorder, atau separation anxiety disorder. 
Hingga sekarang, penyebab agorafobia belum diketahui dengan pasti. Namun ada beberapa faktor yang diduga bisa memengaruhi kemungkinan seseorang untuk mengalami kondisi ini.Beberapa faktor risiko agorafobia tersebut meliputi:
  • Pengidap agorafobia umumnya masih anak-anak, tapi juga bisa mulai terjadi pada akhir remaja atau awal dewasa sebelum usia 35 tahun.
  • Jenis kelamin perempuan. Kaum hawa lebih berisiko untuk mengalami agorafobia daripada pria.
  • Mengalami gangguan panik atau fobia lain.
  • Menanggapi serangan panik dengan takut dan sikap menghindar yang berlebihan.
  • Mempunyai sikap mudah cemas atau gugup.
  • Memiliki anggota keluarga dengan gangguan sejenis.
  • Memiliki pengalaman traumatis di masa kecil, seperti kematian orang tua atau pelecehan seksual.
  • Mengalami peristiwa yang membuat stres, seperti kehilangan orang yang dicintai, perceraian, atau kehilangan pekerjaan.
  • Memiliki riwayat penyakit mental, seperti depresi, anoreksia, atau bulimia
  • Menyalahgunakan alkohol atau narkoba.
  • Sedang mengalami hubungan yang toksik.
  • Takut menjadi korban kejahatan atau serangan teroris jika keluar rumah.
  • Takut tertular penyakit mematikan jika berkerumun.
  • Takut melakukan sesuatu yang memalukan di depan orang lain.
 
Untuk memastikan diagnosis agorafobia, dokter dapat melakukan sederet metode pemeriksaan di bawah ini:
  • Tanya jawab

Dokter akan menanyakan dan mengamai gejala yang dialami oleh pasien. Demikian pula dengan faktor risiko pasien.
  • Pemeriksaan fisik

Dokter akan mencari ada tidaknya tanda-tanda agorafobia pada pasien.
  • Wawancara dengan ahli kejiwaan

Pasien perlu menjalani wawancara dengan dokter spesialis kejiwaan atau psikolog.
  • Diagnosis berdasarkan kriteria di DSM-5

Sebagian besar dokter ahli jiwa akan menentukan diagnosis agorafobia dengan kriteria DSM-5, yang berisi daftar gejala serta kuosioner. 
Cara mengobati agorafobia dapat ditentukan berdasarkan tingkat keparahan gejala maupun kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan. Penanganan yang dapat dianjurkan oleh dokter bisa berupa:

1. Psikoterapi

Salah satu jenis psikoterapi yang efektif dalam menangani agorafobia adalah terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy/CBT). Terapi ini dapat membantu penderita untuk mempelajar beberapa hal berikut:
  • Mengidentifikasi hal-hal yang memicu dan memperparah gejala serangan panik.
  • Mengetahui cara mengatasi dan mentoleransi gejala-gejala yang muncul.
  • Mengenali cara menghadapi pemikiran yang memicu rasa cemas.
  • Mengubah perilaku yang tidak sehat dengan teknik desentisisasi atau terapi paparan (exposure therapy). Terapi ini menempatkan penderita pada situasi atau kondisi memicu rasa takut dan cemas, namun dengan pengawasan dari ahli sehingga tetap aman. 

2. Obat-obatan

Dokter umumnya memberikan beberapa obat di bawah ini untuk penderita agiorafobia:
  • Antidepresan

Obat antidepresan yang dapat diresepkan berupa selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI). Contohnya, fluoxetine dan sertraline.Obat ini digunakan untuk mengobati pasien agorafobia akibat gangguan panik.
  • Anticemas

Jenis obat anticemas yang biasanya diberikan oleh dokter adalah benzodiazepine. Obat ini berfungsi meredakan kecemasan akut dan hanya boleh digunakan untuk jangka pendek karena berpotensi memicu ketergantungan.

3. Penanganan mandiri

Jika mengalami agorafobia, beberapa hal di bawah ini dapat dilakukan:
  • Mematuhi penanganan yang diberikan oleh dokter
  • Mengelola stres, misalnya mempelajari teknik relaksasi (seperti meditasi dan yoga)
  • Menghindari rokok, alkohol, kafein, dan narkotika
  • Berbagi cerita dengan orang-orang terdekat mengenai masalah yang dialami
  • Bergabung dalam support group agar dapat saling berdiskusi dan mendukung sesama pengidap agorafobia
  • Menerapkan pola hidup yang sehat, seperti mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, cukup istirahat, dan teratur berolahraga
  • Jangan terus menghindari situasi atau tempat yang memicu cemas maupun takut, dan hadapilah secara bertahap 
 

Komplikasi agorafobia

Jika tidak ditangani dengan benar, agorafobia bisa menyebabkan komplikasi berikut:
  • Penderita tidak mau meninggalkan rumah, sehingga tidak bisa bekerja, bersekolah, atau beraktivitas dengan normal
  • Depresi
  • Penyalahgunaan alkohol atau narkoba
  • Gangguan kesehatan lain, termasuk gangguan kecemasan atau gangguan kepribadian lainnya
 
Karena penyebabnya belum diketahui secara pasti, cara mencegah agorafobia juga belum tersedia.Agorafobia dan kecemasan biasanya akan meningkat saat penderita terus-menerus menghindari situasi yang ia takuti. Karena itu, penderita sebaiknya berusaha untuk tetap mendatangi tempat atau situasi yang membuatnya takut serta cemas.Dengan begitu, penderita perlahan-lahan mampu mengalahkan rasa takut maupun cemas yang menderanya. Namun lakukan langkah ini dengan hati-hati. Jika merasa kesulitan, penderita dapat meminta bantuan dari keluarga atau orang terdekat untuk menemani.  
Berkonsultasilah dengan dokter atau psikolog jika Anda mengalami gejala agorafobia. Jangan membiarkan kondisi Anda bertambah parah. 
Sebelum melakukan kunjungan ke dokter, persiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buatlah daftar mengenai gejala yang muncul.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang dialami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan kepada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberi dukungan moral maupun membantu mengingat informasi yang disampaikan dokter.
 
Dokter kemungkinan akan mengajukan pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali muncul?
  • Apa saja gejala yang terasa paling menganggu?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait agorafobia?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis agorafobia agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/agoraphobia/symptoms-causes/syc-20355987 
Diakses pada 12 Oktober 2018
Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/288016-overview#a2
Diakses pada 19 Maret 2019
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/agoraphobia/
Diakses pada 12 Oktober 2018
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email