Saraf

Agnosia

05 May 2021 | dr. Levina FeliciaDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Agnosia
Agnosia adalah hilangnya kemampuan seseorang untuk mengenali objek, wajah, suara, atau tempat. Penyakit langka ini melibatkan satu atau lebih panca indera.Kondisi agnsia biasanya hanya mempengaruhi salah satu serabut saraf yang mengirimkan informasi ke otak.Pasien dengan agnosia masih bisa berpikir, berbicara, dan berinteraksi. Panca indera tidak mengalami kerusakan, pasien juga tidak mengalami gejala amnesia (hilang ingatan) atau gangguan pemusatan perhatian.Oleh karena itu, orang yang mengalami agnosia mungkin tidak dapat mengidentifikasi suatu objek. Namun penderita dapat mengenalinya melalui karakteristik lain, seperti warna (dengan penglihatan) atau sentuhan.Harap diingat bahwa agnosia berbeda dengan anomia, yakni kondisi ketika seseorang tidak bisa menamai objek meski sudah menggunakan indera lainnya. 
Agnosia
Dokter spesialis Saraf
GejalaSulit mengenali objek, wajah, suara, atau tempat
Faktor risikoStroke, cedera kepala, ensefalitis
Metode diagnosisTanya jawab, pemeriksaan saraf, pencitraan
PengobatanRehabilitasi, terapi wicara, dan terapi okupasi
KomplikasiTerbatasnya aktivitas sehari-hari, menurunnya kualitas hidup
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala agnosia
Gejala agnosia adalah kesulitan mengenali atau mengidentifikasi objek, wajah, suara, atau tempat. Gejalanya berbeda-beda tergantung jenisnya di bawah ini:

Gejala agnosia visual

Agnosia visual terjadi ketika ada kerusakan otak pada jalur serabut saraf yang mengatur informasi visual (penglihatan). Terdapat beberapa tipe agnosia visual, antara lain:
  • Agnosia visual aperseptif

Agnosia visual aperseptif menyebabkan kesulitan mengenali bentuk atau wujud dari objek yang dilihat. Pasien dengan kondisi ini akan mengalami kesulitan membedakan satu objek dengan objek lainnya melalui penglihatan.Pasien juga dapat mengalami kesulitan meniru dan menggambar objek tersebut. Namun pasien dapat menunjuk dan mengangkat objek tersebut tanpa kesulitan, juga masih mengetahui untuk apa objek tersebut diperlukan.
  • Agnosia visual asosiatif

Agnosia visual asosiatif adalah ketidakmampuan untuk mengulang informasi yang terkait dengan objek. Termasuk nama objek dan kegunaannya. Jenis agnosia ini tidak membuat pasien kesulitan menggambar objek tersebut.Meskipun pasien kesulitan menamai objek tersebut dengan mata, pasien dapat mengenali ketika dibantu dengan petunjuk verbal atau gerakan.
  • Prosopagnosia

Prosopagnosia adalag ketidakmampuan mengenali wajah. Kesulitan ini juga dapat terjadi pada pasien dengan penyakit Alzheimer dan autisme.
  • Achromatopsia (buta warna)

Achromatopsia adalah ketidakmampuan mengidentifikasi warna yang dilihat.
  • Agnosic alexia

Pasien dengan kondisi ini kesulitan mengenali kata-kata secara visual, sehingga pasien sulit membaca. Pasien dapat berbicara dan menulis tanpa kesulitan.
  • Akinetopsia (motion blindness)

Akinetopsia merupakan kesulitan mengidentifikasi gerakan suatu objek. Kondisi langka ini dapat menyebabkan pasien melihat benda yang bergerak seperti bayangan.

Gejala agnosia auditori

Agnosia auditori dikenal juga dengan sebutan pure word deafness. Kondisi ini ditandai dengan ketidakmampuan mengenali dan mengerti kata-kata yang diucapkan walau pasien dapat mendengarnya dengan baik. Pasien juga masih bisa membaca, menulis, dan berbicara dengan baik.Salah satu jenis agnosia auditori adalah phonagnosia. Kondisi ini ditandai dengan ketidakmampuan mengenali dan mengidentifikasi suara orang yang dikenal.

Gejala agnosia taktil

Agnosia taktil adalah ketidakmampuan untuk mengenali objek dengan sentuhan. Pasien mampu merasakan berat objeknya, namun tidak bisa mengidentifikasi kegunaannya. Pasien dapat mengenali objek tersebut dengan melihatnya.Salah satu jenis agnosia taktil adalah autotopagnosia, yang ditandai dengan ketidakmampuan mengenali dan melakukan visualisasi bagian-bagian tubuh pasien itu sendiri. 
Penyebab agnosia adalah kerusakan pada jalur serabut saraf tertentu di otak. Jalur ini melibatkan area sensorik yang menyimpan informasi terkait persepsi dan identifikasi objek.Kerusakan serabut saraf terebut biasanya muncul karena luka pada bagian otak yang menyimpan informasi terkait bahasa. 

Faktor risiko agonsia

Kondisi-kondisi yang dapat menyebabkan luka atau kerusakan pada otak termasuk faktor risiko agnosia. Berikut contohnya:
  • Stroke
  • Cedera kepala
  • Ensefalitis
  • Dementia
  • Kanker otak
  • Anoxia (kurangnya suplai oksigen ke otak), misalnya karena keracunan karbon monoksida
 
Diagnosis agnosia dilakukan dengan cara-cara di bawah ini:
  • Tanya jawab

Dokter akan menanyakan gejala, faktor risiko, serta riwayat medis pasien dan keluarga.
  • Pemeriksaan khusus

Pemeriksaan ini dapat berupa pemeriksaan saraf, tes psikologi, dan tes fungsi otak. Langkah ini dapat memastikan ada tidaknya penyakit lain yang memicu agnosia. Pasalnya, agnosia tidak disebabkan penyakit saraf tertentu atau katarak.
  • Pemeriksaan daya ingat

Pemeriksaan untuk mendeteksi daya ingat dan kemampuan kognitif juga akan dilakukan. Contohnya, MMSE, Montreal Cognitive assessment, dan ADAS-cog.
  • Pemeriksaan afasia

Dokter juga bisa menyarankan pasien untuk menjalani pemeriksaan afasia, seperti Boston naming test dan western aphasia battery.
  • Pencitraan

Pemeriksaan pencitraan akan diperlukan untuk mencari tahu penyebab yang mendasari agnosia, CT scan dan MRI otak. 
Hingga saat ini, belum ada cara mengobati agnosia secara khusus. Namun dokter bisa merekomendasikan sederet penanganan berikut:
  • Menangani penyebab agnosia

Bila penyebab agnosia bisa diketahui, dokter akan menganjurkan langkah pengobatan khusus. Misalnya, mengatasi dan mencegah stroke, memberikan antibiotik atau operasi untuk abses otak, dan mengadakan operasi atau radioterapi untuk tumor otak.
  • Rehabilitasi, terapi wicara, dan terapi okupasi

Terapi-terapi ini berperan penting dalam pengobatan agnosia, dan bertujuan membantu pasien dalam memanfaatkan indera yang berfungsi baik untuk mengompensasi kekurangannya. 

Komplikasi agnosia

Bila terus dibiarkan, agnosia dapat memicu komplikasi berupa terbatasnya aktivitas sehari-hari. Kondisi ini juga dapat mempengaruhi kualitas hidup keluarga pasien secara signifikan. 
Pencegahan agnosia dapat dilakukan dengan mengurangi risikonya apabila penyebabnya terdeteksi. Namun bila pemicunya tidak diketahui, cara mencegah agnosia juga tidak tersedia. 
Hubungi dokter bila Anda atau orang di sekitar Anda mengalami gejala agnosia. 
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat riwayat bepergian yang baru-baru ini Anda lakukan.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
Anda juga dapat meminta keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter. 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Sejak kapan gejala muncul?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait agnosia?
  • Apakah ada anggota keluarga atau orang di sekitar Anda dengan gejala yang sama?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis agnosia. Dengan ini, penanganan bisa diberikan secara tepat. 
Healthline. https://www.healthline.com/health/agnosia
Diakses pada 5 Mei 2021
News Medical Health Sciences. https://www.news-medical.net/health/What-is-Agnosia.aspx
Diakses pada 5 Mei 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email