Vitamin D terkandung dalam salmon, mackerel, tuna, susu fortifikasi
Vitamin D merupakan vitamin larut lemak

Calcidol, Calcium AD, Calc-os, Caldece, Calporosis D 500, Calporosis D 800, Caltrax, Dumocalcin Plus, D-Vit, Osvion Plus

Vitamin D merupakan vitamin larut lemak yang dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan sel, kesehatan tulang, fungsi imun serta mengurangi peradangan. Vitamin D mencetuskan penyerapan kalsium dalam usus dan mempertahankan kadar kalsium dan fosfat dalam darah untuk mineralisasi dan pertumbuhan tulang. Tanpa vitamin D pertumbuhan tulang akan buruk, tipis, dan rapuh. Vitamin D juga mencegah terjadinya osteoporosis pada lansia.

Vitamin D didapatkan dari luar tubuh (makanan dan suplemen), serta diproduksi didalam tubuh saat terdapat paparan sinar matahari ke kulit. Beberapa makanan yang mengandung vitamin D antara lain salmon, mackerel, tuna, susu fortifikasi. Beberapa makanan dengan kandungan vitamin D dalam jumlah sedikit yaitu keju dan kuning telur. Pada suplemen, vitamin D ada dalam dua bentuk yaitu D2 (ergocalciferol) dan D3 (cholecalciferol) yang berbeda dari segi struktur kimia. Perbedaan efektivitas kedua bentuk vitamin ini masih belum dapat dipastikan.

Vitamin D (Vitamin D)
Golongan

Vitamin

Kategori obat

Obat bebas

Bentuk sediaan obat

Tablet, tablet kunyah, serbuk infus

Dikonsumsi oleh

Dewasa dan anak-anak

Kategori kehamilan dan menyusui

Cholecalciferol

Kategori A:

Penelitian terkontrol pada wanita tidak menunjukkan risiko terhadap janin di trimester pertama kehamilan dan tidak ada bukti adanya risiko pada trimester selanjutnya, sehingga kecil kemungkinan adanya bahaya terhadap janin.

CATATAN: Kategori A ini berubah menjadi kategori D (terbukti menimbulkan resiko pada janin) bila dikonsumsi melebihi angka rekomendasi gizi yang dianjurkan.

Ergocalciferol :

Kategori A:

Penelitian pada wanita tidak memperlihatkan adanya resiko terhadap janin pada kehamilan trimester I (dan tidak ada bukti mengenai risiko pada trimester selanjutnya), dan sangat rendah kemungkinannya untuk membahayakan janin.

CATATAN: Kategori A ini berubah menjadi kategori C bila dikonsumsi melebihi angka rekomendasi gizi yang dianjurkan.

Selama menyusui, obat ini dapat digunakan namun dengan hati-hati, karena obat ini dikeluarkan melalui ASI, dan dapat menyebabkan hiperkalsemia (kadar kalsium tinggi dalam darah) pada bayi. Pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter Anda sebelum mengonsumsi obat ini.

Dosis obat

Dosis setiap orang pasti berbeda-beda. Pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi obat.

Oral

Suplemen Nutrisi:

Angka Kecukupan Gizi (AKG), sesuai dengan anjuran di Indonesia :

  • 0–11 bulan: 5 mcg/hari
  • 1–18 tahun: 600 IU (15 mcg)/hari
  • 19–64 tahun: 600 IU (15 mcg)/hari
  • >65 tahun: 800 IU (20 mcg)/hari
  • Wanita hamil dan menyusui: 600 IU (15 mcg)/hari

Rekomendasi American Academy of Pediatrics:

  • Anak yang mendapatkan ASI sebagian atau ASI eksklusif:

400 IU/hari sampai dengan penyapihan ASI dan diberikan susu formula terfortifikasi vitamin D ≥ 1.000 ml/hari

  • Anak yang tidak mendapatkan ASI:

Anak yang tidak mendapatkan susu formula terfortifikasi vitamin D

<1.000 ml/hari harus mendapatkan suplemen vitamin D 400 IU/hari.

Osteoporosis:

Profilaksis dan Tatalaksana:

  • >50 tahun : 800–1.000 IU (20–25 mcg) PO /hari dengan suplemen kalsium

Hipoparatiroid

50.000–200.000 IU (0,625–5 mg)/hari dengan suplemen kalsium

Rickets:

  • Anak: 3.000–5.000 IU/hari. Dosis maks: 000 IU/hari
  • Dewasa: 12.000–500.000 IU (0,3–12,5 mg)/hari

Hipofosfatemia Herediter

  • Anak: 40.000–80.000 (1-2 mg)/hari dengan suplemen fosfat, dosis dapat dikurangi setelah tahap pertumbuhan selesai.
  • Dewasa: 10.000–60.000 IU (0,25–1,5 mg)/hari dengan suplemen fosfat.

Baca petunjuk kemasan atau minum sesuai anjuran dokter Anda. Obat ini dapat dikonsumsi dengan atau tanpa makanan. Dosis diberikan sesuai kondisi medis Anda. Jangan mengubah dosis tanpa anjuran dokter. Beritahu dokter jika kondisi semakin memburuk atau tidak membaik.

Setiap pemakaian obat selalu mempunyai efek samping tertentu. Efek samping belum tentu terjadi di setiap pemakaian obat akan tetapi jika terjadi efek samping yang berlebih, harus segera di tangani oleh tenaga medis.

Vitamin D dapat menyebabkan efek samping seperti:

  • Gangguan irama jantung
  • Perubahan status mental
  • Konstipasi
  • Mulut kering
  • Sakit kepala
  • Hiperkalsemia
  • Nyeri pada otot dan tulang
  • Mual dan muntah
  • Kerusakan ginjal dan jantung

Ada beberapa efek samping lain yang belum terdaftar. Jika Anda mempunyai efek samping lain diluar daftar di atas, konsultasikan segera ke dokter Anda.

Beritahukan dokter Anda mengenai riwayat penyakit Anda sebelumnya, terutama bila Anda memiliki riwayat atau kondisi berikut:

  • Kehamilan dan menyusui
  • Hipoparatiroid
  • Berat badan berlebih (IMT>30kg/m2)
  • Penyakit ginjal
  • Tuberkulosis
  • Ergocalciferol: Gunakan dengan hati-hati pada gangguan ginjal, penyakit jantung, batu ginjal, dan aterosklerosis
  • Semua penderita yang menerima vitamin D harus memeriksa kadar plasma kalsium dengan interval waktu tertentu (awalnya tiap minggu)

Obat ini tidak boleh dikonsumsi pada keadaan:

  • Hiperkalsemia (kadar kalsium yang tinggi dalam darah)
  • Hipervitaminosis D
  • Alergi

Interaksi obat mungkin terjadi jika mengonsumsi beberapa obat secara bersamaan. Pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter Anda sebelum penggunaannya, dokter mungkin akan mengurangi dosis, atau bila perlu mengganti obat dengan alternatif obat lainnya.

Mengonsumsi vitamin D dengan obat lain secara bersamaan dapat menyebabkan beberapa interaksi seperti:

  • Vitamin D dapat meningkatkan kadar Aluminium hidroksida bila dikonsumsi bersamaan.
  • Konsumsi Vitamin D bersamaan dengan Digoksin dapat meningkatkan risiko terjadinya toksisitas digoksin.
  • Efektivitas vitamin D menurun bila dikonsumsi bersamaan dengan beberapa obat anti kejang seperti fenitoin dan fenobarbital
  • Vitamin D dapat meningkatkan kadar sukralfat dengan meningkatkan penyerapan aluminium yang terkandung dalam sukralfat.
  • Efek vitamin D akan meningkat bila dikonsumsi bersamaan dengan hidroklorothiazide.

Informasi yang diberikan bukan sebagai pengganti konsultasi medis langsung dengan dokter atau mengarahkan pemakaian obat dengan merek tertentu. Pemakaian obat harus dengan resep dokter. Ketersediaan obat tergantung pada indikasi yang disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Cranney C, Horsely T. Effectiveness and safety of Vitamin D. AHRQ publication. Agency for Healthcare Research and Quality. 2007.

Drugs. https://www.drugs.com/vitamin-d.html
Diakses pada 18 Desember 2018.

Hughes H. Kahl LK. The Harriet Lane Handbook 21st ed. Elsevier. 2018.

Holick MF. Vitamin Deficiency. N Engl J Med 2007;357:266-81.

Institute of Medicine, Food and Nutrition Board. Dietary Reference Intakes for Calcium and Vitamin D. Washington DC; National Academy Press, 2010.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/drugs-supplements-vitamin-d/art-20363792
Diakses pada 18 Desember 2018.

Medscape. https://reference.medscape.com/drug/drisdol-calciferol-vitamind-344417#0
Diakses pada 18 Desember 2018.

NIH. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK500914/
Diakses pada 18 Desember 2018.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 tahun 2013 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan bagi bangsa Indonesia. Depkes. 2013.

Wagner CL, Greer FR. American Academy of Pediatrics Comitte on Nutrition. Prevention of Rickets and Vitamin D deficiency in Infants, Children, and Adolescents. Pediatrics 2008;112:1142-1152.

Web MD. https://www.webmd.com/vitamins/ai/ingredientmono-929/vitamin-d
Diakses pada 18 Desember 2018.

Artikel Terkait