Ipol

Vaksin polio adalah vaksin yang diberikan bagi bayi (paling cepat diberikan pada usia 6 minggu), anak-anak, dan orang dewasa untuk mencegah penyakit poliomyelitis yang disebabkan oleh virus polio tipe 1, 2, dan 3.

Penyakit polio atau poliomyelitis adalah penyakit infeksi yang sangat mudah menular dan menyebabkan gangguan pada sistem saraf. Berdasarkan data WHO, diperkirakan 1 dari 200 orang yang mengalami polio akan berakhir lumpuh total.

Walaupun negara-negara Asia Tenggara sudah dinyatakan bebas polio, namun masih ada beberapa negara lain di dunia yang masih belum bebas dari polio seperti Afganistan, Pakistan, dan Nigeria.  

Oleh karena itu Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tetap merekomendasikan vaksin polio sebagai imunisasi wajib.

Terdapat 2 macam vaksin polio, yaitu vaksin polio suntik atau inactivated poliovirus vaccine (IPV) dan oral polio vaccine (OPV) atau tetes. Vaksin polio tetes sebaiknya tidak diberikan pada orang dengan sistem kekebalan tubuh rendah seperti pada penderita HIV/AIDS, orang yang sedang menjalani kemoterapi, dll.

Khusus vaksin polio suntik, pemberiannya tidak boleh lewat suntikan intravena, hanya boleh lewat jalur intramuskular dan subkutan.

Vaksin Polio (-)
Golongan

Vaksin

Kategori obat

Obat keras/obat resep

Bentuk sediaan obat

Obat suntik, obat tetes mulut

Dikonsumsi oleh

Bayi, anak-anak, dewasa muda

Kategori kehamilan dan menyusui

Vaksin Polio Suntik

Belum ada informasi mengenai kategori keamanan pemberian vaksin polio pada wanita hamil. Vaksin polio hanya diberikan pada wanita hamil bila benar-benar dibutuhkan.

Keamanan penggunaan vaksin polio suntik selama menyusui belum diketahui. Pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter Anda sebelum menggunakannya.

Vaksin Polio Tetes

Kategori C:  Penelitian pada binatang percobaan menunjukkan efek samping terhadap janin dan tidak ada penelitian terkontrol pada wanita; atau belum ada penelitian pada wanita hamil atau binatang percobaan. Obat hanya dapat diberikan jika manfaat yang diperoleh melebihi besarnya risiko yang mungkin timbul pada janin.

Bila diberikan sesuai jadwal imunisasi, menyusui tidak memengaruhi respon imun bayi ketika diberikan vaksin polio oral.

Dosis obat

Dosis setiap orang pasti berbeda-beda. Pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan atau mengonsumsi obat.

Dosis pemberian vaksin polio adalah sebagai berikut:

Dosis Vaksin Polio Suntik

  • Anak-anak dan Bayi

Imunisasi dasar: 0,5 ml vaksin polio suntikan intramuskular atau subkutan setiap kali pemberian. Dianjurkan pemberian pada usia 2,4, dan 6-18 bulan atau paling cepat dapat diberikan pada bayi usia 6 minggu dengan jarak waktu pemberian antara 1 dosis dengan lainnya adalah 8 minggu atau lebih.

Imunisasi Ulangan/Booster: sama pada usia 4-6 tahun

  • Dewasa

Bagi yang sama sekali belum pernah mendapat vaksin polio sebelumnya : 0,5 ml vaksin polio suntikan intramuskular atau subkutan setiap kali pemberian. Vaksin polio diberikan 3 kali dengan jarak waktu pemberian pertama dan kedua 1-2 bulan dan dosis ketiga diberikan 6-12 bulan kemudian.

Bagi yang sudah pernah mendapat vaksin polio saat anak-anak namun tidak lengkap: setidaknya satu kali pemberian vaksin polio 0,5 ml suntikan intramuskular atau subkutan.

Bagi yang sudah pernah mendapat vaksin polio secara lengkap namun sedang berisiko tinggi terpapar virus polio: 0,5 ml  vaksin polio suntikan intramuskular atau subkutan.

Dosis Vaksin Polio Tetes

  • Bayi dan anak

Imunisasi dasar: Dosis pertama 0,5 ml vaksin polio tetes pada usia 6-12 minggu. Dosis kedua diberikan 8 minggu setelah dosis pertama. Dosis ketiga diberikan pada usia 6 bulan, paling lambat diberikan pada usia 18 bulan.

Imunisasi ulangan/booster: saat anak mulai sekolah pada usia 4-6 tahun. Namun bila anak telah mendapat dosis ketiga imunisasi dasar polio saat ulang tahun ke-4, maka dosis ulangan tidak perlu diberikan.

  • Anak-anak yang belum pernah mendapat imunisasi dasar polio

Anak-anak sampai usia 18 tahun: dosis pertama 0,5 ml vaksin polio tetes. Dosis kedua diberikan 8 minggu setelah dosis pertama. Dosis ketiga diberikan 8-12 bulan setelah dosis kedua.

  • Dewasa yang belum pernah mendapat imunisasi dasar polio sebelumnya

Dosis pertama 0,5 ml vaksin polio tetes, dilanjutkan dosis kedua 8 minggu setelah dosis pertama. Dosis ketiga diberikan 8-12 bulan setelah dosis kedua.

Selalu ikuti anjuran dari dokter atau baca petunjuk di kemasan magnesium sulfate sebelum penggunaan.

Suntikan vaksin polio sebaiknya dilakukan secara intramuskular atau subkutan, jangan memberikan lewat suntikan intravena.

Untuk vaksin polio tetes, bila tidak tertelan dengan baik atau muntah dalam 5-10 menit setelah mendapat vaksin polio tetes, ulangai pemberian vaksin polio tetes. Apabila telah dilakukan pengulangan pemberian vaksin namun masih belum berhasil juga, ulangi pemberian vaksin pada kunjungan berikutnya.

Setelah mendapat vaksin polio tetes, hindari pemberian suntikan antibiotik intramuskular selama setidaknya 30 hari.

Pemakaian obat umumnya memiliki efek samping tertentu dan bersifat individual. Jika terjadi efek samping yang berlebih, harus segera ditangani oleh tenaga medis.

Vaksin polio suntik dapat menyebabkan efek samping (reaksi ikutan pasca imunisasi) yang meliputi:

  • Pembengkakan, kemerahan dan rasa nyeri di area suntikan
  • Demam
  • Rasa lelah
  • Nafsu makan menurun
  • Muntah
  • Pada bayi dan anak-anak: iritabilitas dan menangis terus-menerus

Vaksin polio tetes dapat menyebabkan efek samping berupa penyakit polio sendiri karena kandungan vaksin yang berisi virus polio hidup yang dilemahkan. Namun efek samping ini sangat jarang terjadi.  Kasus polio hanya ditemukan pada 1 dari 2.6-5 juta kali pemberian pemberian vaksin polio tetes.

Orang yang lebih rentan mengalami efek samping vaksin polio tetes ini adalah yang sistem tubuhnya rendah (misalnya penderita HIV/AIDS, orang yang menjalni kemoterapi, dll).

Ada beberapa efek samping lain yang mungkin belum tercantum dalam daftar di atas. Jika Anda mengalami efek samping selain dari yang terdaftar di atas, segera konsultasikan juga ke dokter Anda.

Beritahukan dan konsultasikan dengan dokter mengenai riwayat penyakit Anda sebelumnya, terutama bila Anda memiliki riwayat atau kondisi berikut bila mendapat vaksin polio suntik:

  • Riwayat alergi terhadap vaksin lain sebelumnya
  • Kehamilan dan menyusui

Beritahukan kondisi berikut kepada dokter Anda sebelum mendapat vaksin polio oral:

Kontraindikasi

Jangan memberikan vaksin polio bila mempunyai kondisi medis di bawah ini:

  • Alergi terhadap salah satu komponen dalam vaksin polio
  • Sedang sakit (demam tinggi)

Khusus vaksin polio tetes, hindari pemberiannya pada:

  • orang dengan sistem imun rendah

pada orang yang memiliki riwayat alergi terhadap neomisin atau streptomisin

Interaksi obat mungkin terjadi jika Anda menggunakan atau mengonsumsi beberapa obat secara bersamaan. Pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter Anda sebelum menggunakannya. Bila perlu, dokter mungkin akan mengurangi dosis atau mengganti obat dengan alternatif obat lainnya.

Sampai sekarang tidak diketahui interaksi yang dapat terjadi akibat pemberian vaksin polio suntik dengan obat lain.

Obat-obat berikut dapat berinteraksi dengan vaksin polio tetes bila diberikan bersamaan:

  • Obat-obatan yang menekan sistem imun seperti kortikosteroid, obat golongan antimetabolit, dan terapi radiasi. Semuanya dapat menurunkan efektivitas vaksin polio oral dan dapat membuat virus polio malah bereplikasi lebih cepat dalam tubuh.
  • Bila diberikan bersamaan dengan vaksin MMR atau jarak pemberian vaksin polio oral dengan MMR kurang dari 1 bulan, dapat menurunkan efektivitas vaksin polio tetes.
  • Bila diberikan bersamaan dengan vaksin kolera, tifoid, dan vaksin terhadap parasit Yersinia pestis dapat menyebabkan efek samping.

Untuk mencegah interaksi yang tidak diiinginkan, beritahukanlah semua obat yang sedang Anda konsumsi atau gunakan kepada dokter sebelum pemberian vaksin polio.

Informasi yang diberikan bukan sebagai pengganti konsultasi medis langsung dengan dokter atau mengarahkan pemakaian obat dengan merk tertentu. Pemakaian obat harus dengan resep dokter. Ketersediaan obat tergantung pada indikasi yang disetujui BPOM.

Drugs https://www.drugs.com/breastfeeding/poliovirus-vaccines.html
Diakses 17 September 2019

RX List. https://www.rxlist.com/ipol-drug.htm#indications
Diakses 13 September 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/poliomyelitis
Diakses 13 September 2019

IDAI. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/melengkapi-mengejar-imunisasi-bagian-ii
Diakses 13 September 2019

RX LIST https://www.rxlist.com/orimune-drug.htm#description
Diakses 17 September 2019

WHO. https://www.who.int/biologicals/areas/vaccines/polio/opv/en/
Diakses 17 September 2019

FDA. https://www.fda.gov/media/75695/download
Diakses 13 September 2019

Artikel Terkait