Trilac Tablet 4 mg

27 Okt 2020| Aby Rachman
Trilac tablet adalah obat antiinflamasi yang digunakan untuk menangani beberapa kelainan kulit, peradangan pada bagian mata dan sendi, serta pembengkakan.

Deskripsi obat

Trilac adalah obat untuk menangani peradangan pada sendi, serta beberapa kelainan kulit. Obat ini merupakan golongan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Trilac tablet mengandung zat aktif triamsinolon.
Trilac Tablet 4 mg
Golongan ObatObat kerasObat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
HETRp 51.333/strip per Desember 2019
Produk HalalYa
Kandungan utamaTriamsinolon.
Kelas terapiAntialergi dan antiinflamasi.
Klasifikasi obatGlukokortikoid.
Kemasan1 box isi 3 strip @ 10 tablet (4 mg)
ProdusenNovell Pharmaceutical Laboratories

Informasi zat aktif

Triamsinolon merupakan obat golongan kortikosteroid yang bekerja dengan menekan migrasi leukosit polimorfonuklear dan mengurangi permeabilitas kapiler sehingga mengurangi peradangan. Triamsinolon juga menekan sistem kekebalan dengan mengurangi aktivitas dan volume sistem limfatik.

Berdasarkan proses kerja obat dalam tubuh, triamsinolon diketahui memiliki status:

  • Absorpsi: Diserap dengan mudah setelah pemberian oral. Waktu puncak konsentrasi terjadi sekitar 1-2 jam.
  • Distribusi: Dihilangkan cepat dari darah dan didistribusikan ke otot, kulit, hati, usus, dan ginjal. Obat terikat secara luas pada protein plasma (transkortin dan albumin). Hanya bagian yang tidak terikat yang aktif. Adrenokortikoid didistribusikan ke dalam ASI dan melalui penghalang plasenta.
  • Metabolisme: Dimetabolisme di hati menjadi metabolit glukuronida dan sulfat yang tidak aktif.
  • Ekskresi: Metabolit tidak aktif dan sejumlah kecil obat yang tidak termetabolisme diekskresikan oleh ginjal. Jumlah obat yang tidak signifikan juga dibuang melalui feses. Waktu paruh biologis triamsinolon adalah 18 jam hingga 36 jam.

Indikasi (manfaat) obat

  • Kelainan fungsi endokrin:
    • Kondisi ketika kelenjar adrenal tidak memproduksi hormon kortisol (insufisiensi adrenokortikoid) primer atau sekunder.

  • Kelainan fungsi rematik:
    • Radang sendi yang menyerang penderita peradangan pada kulit yang ditandai dengan ruam merah, kulit kering, tebal, bersisik, dan mudah terkelupas (psoriasis) (arthritis psoriatik).
    • Peradangan sendi akibat sistem kekebalan tubuh yang menyerang jaringannya sendiri (arthritis reumatoid).
    • Peradangan pada selubung tendon (ankylostenosyvitis).
    • Pembengkakan pada sendi akibat kadar asam urat berlebih dalam tubuh (arthritis gout akut).

  • Penyakit dermatologis:
    • Penyakit autonium dimana sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel sehat di lapisan atas kulit (pemfigus).
    • Kondisi ruam gatal ketika sistem kekebalan imun tubuh bereaksi dengan gluten yang dicerna oleh tubuh (herpetiformis dermatitis bullous).
    • Reaksi hipersensitivitas pada kulit yang seringkali dipicu oleh terjadinya infeksi (erythema multiforma) parah atau sindrom Steven-Johnson.
    • Kondisi kulit yang kemerahan dan mengelupas pada area tubuh yang luas (dermatitis eksfoliatif).
    • Bentuk paling umum dari jenis kanker darah yang disebut limfoma sel-T kulit (mycosis fungoides).

  • Keadan alergi:
    • Reaksi alergi yang terjadi ketika menghirup alergen tertentu (rhinitis alergi) musiman dan tahunan.
    • Asma bronkial.
    • Ruam gatal kemerahan pada kulit yang muncul akibat kontak langsung dengan zat tertentu (dermatitis kontak).
    • Penyakit kulit kronis yang membuat kulit meradang, gatal, kering, dan pecah-pecah (dermatitis atopik).
    • Reaksi alergi terhadap suntikan serum (penyakit serum).
    • Pembengkakan yang terjadi akibat reaksi alergi (angioedema).
    • Biduran (urtikaria) parah.

  • Penyakit mata:
    • Alergi parah, akut dan kronis dan proses inflamasi yang melibatkan mata dan berkaitan dengan bagian-bagian anatomi, seperti:
      • Alergi konjungtivis.
      • Peradangan atau inflamasi yang terjadi pada kornea mata (keratitis).
      • Allergic corneal marginal ulcers.
      • Penyakit yang disebabkan oleh virus Varisela-zoster yang bersifat terlokalisir (herpes zoster opthalmicus otitis)
      • Peradangan tertentu pada bagian mata (iridocyclitis).
      • Peradangan pada bagian mata yang disebut koroid (choriorenitis).
      • Inflamasi segmen anterior.
      • Peradangan yang terjadi pada uvea atau lapisan tengah mata (uveitis posterior) panjang.
      • Peradangan yang melibatkan jaringan choroid (choroditis).
      • Gangguan penglihatan akibat peradangan pada saraf mata (neuritis optic).
      • Kondisi peradangan yang mempengaruhi kedua mata (oftalmia simpatis).
  •  
  • Penyakit respirasi:
    • Sel tubuh mengalami peradangan (sarkoidosis) simtomatik.
    • Kumpulan tanda seperti demam, sesak napas, eosinofilia, dan pada foto Roentgen thoraks terlihat infiltrat yang akan hilang selama 3 minggu (sindrom loeffier) yang tidak bisa diatasi oleh obat lain.
    • Penyakit yang menyerang paru-paru atau pernapasan dimana penyakit ini timbul ketika menghirup debu atau asap (berrylliosis).
    • Tuberculosis paru-paru yang tiba-tiba atau menyebar kerika diberikan bersamaan kemotrapi antituberkulosis yang sesuai.
    • Kondisi di mana kantung udara di paru-paru secara bertahap hancur, membuat napas lebih pendek (emfisema) paru-paru dimana brokospasma atau edema brokial.
    • Fibrosis paru-paru interstisial yang menyebar (sindrom Hamma-rich).

  • Kelainan fungsi hermatologi:
    • Kondisi saat jumlah keping darah rendah (trombositopenia) pada orang dewasa.
    • Penyakit kurang darah akibat penghancuran sel darah merah lebih cepat dibandingkan pembentukannya (anemia hemolitik).
    • Anemia.
    • Anemia hipopalstik kongenital (erythroid).

  • Penyakit Neoplastik:
    • Leukemia dan limfoma pada orang dewasa.
    • Kanker darah yang berawal dalam sumsum tulang belakang (leukemia) akut pada anak-anak.

  • Keadaan Edematous: 
    • Untuk menyebabkan diuresis atau mengurangi proteinuria pada sindrom nefrotik tipe non-uremik, idiopatik atau yang dikarenakan oleh lupus erythematosus.

  • Penyakit gastrointestinal:
    • Penyakit kondisi yang dapat menyebabkan usus besar membengkak dan dapat menimbulkan perforasi kecil (ulcerative colitis), enteritis regional dan kelainan melabsorbsi.


Triamsinolon mampu menekan sistem kekebalan dengan mengurangi aktivitas dan volume sistem limfatik, menghasilkan limfositopenia (terutama limfosit T), menurunkan tingkat imunoglobulin dan komplemen, mengurangi bagian kompleks imun melalui membran basal, dan menekan reaktivitas jaringan terhadap interaksi antigen-antibodi. Triamsinolon mampu menstimulasi sintesis enzim yang dibutuhkan untuk menurunkan respon inflamasi.

Komposisi obat

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

  • Dewasa dan anak-anak 12 tahun ke atas: 4-48 mg/hari.
  • Anak-anak 12 tahun ke bawah: 416 mcg-1,7 mg/kgBB/hari.
    Dosis dihitung dengan mengalikan berat badan pasien.

Aturan pakai obat

Sebaiknya dikonsumsi dengan makanan.

Efek samping obat

  • Gangguan cairan dan elektrolit.
  • Suatu kondisi yang mengganggu fungsi sendi, ligamen, otot, saraf dan tendon, serta tulang belakang (gangguan muskuloskeletal)
  • Gangguan sistem pencernaan: kerusakan pada lapisan mukosa (ulkus peptikum).
  • Gangguan sistem kontrol kelenjar tanpa saluran (ductless) yang menghasilkan hormon yang tersirkulasi di tubuh melalui aliran darah untuk memengaruhi organ-organ lain (endokrin).
  • Kejang (konvulsi).
  • peningkatan tekanan di dalam rongga kepala (intrakranial) dengan pembengkakan yang terjadi pada saraf optik mata (papiledema).
  • Vertigo.
  • Sakit kepala.
  • Kondisi saraf perifer yang meradang (neuritis).
  • Sensasi kesemutan, menggelitik, menusuk-nusuk, atau pembakaran kulit seseorang tanpa efek fisik jangka panjang yang jelas (parestesia).
  • Perburukan kondisi kejiwaan.
  • Peningkatan tekanan yang dihasilkan oleh isi bola mata terhadap dinding bola mata dan sangat bervariasi pada orang normal dan penderita miopi (intraokular).
  • Kerusakan saraf mata akibat meningkatnya tekanan pada bola mata (glaukoma).
  • Kondisi yang mana salah satu atau kedua bola mata menonjol keluar (eksoftalmus).
  • Gula darah tinggi (hiperglikemia).
  • Ekskresi glukosa ke dalam urin (glikosuria).
  • Keseimbangan negatif nitrogen.
  • Peradangan dinding pembuluh darah (necrotizing angitis).
  • Peradangan pada pembuluh darah balik (tromboflebitis).
  • Kondisi ketika terjadi penggumpalan darah pada satu atau lebih pembuluh darah vena dalam (tromboemboli).
  • Perburukan infeksi atau menyamarkan gejala-gejala infeksi.
  • Kondisi kehilangan kesadaran sementara yang biasanya berhubungan dengan kurangnya aliran darah ke otak (sinkop).

Perhatian Khusus

  • Pasien dengan infeksi herpes pada mata yang dapat menyebabkan kebutaan
  • (herpes simpleks okular).
  • Pasien dengan peradangan usus (kolitis ulserativa nonspesifik).
  • Pasien dengan tekanan bola mata yang tinggi (glaukoma) atau buramnya lensa mata (katarak).
  • Pasien dengan riwayat kejang.
  • Anak-anak.
  • Pasien dengan gangguan hati dan ginjal.
  • Wanita hamil dan ibu menyusui.
  • Pasien dengan serangan jantung (infark miokard akut).
  • Pasien dengan gangguan saluran pencernaan.
  • Pasien dengan tekanan darah tinggi (hipertensi).
  • Pasien dengan kerusakan hati (sirosis).
  • Pasien dengan kadar kadar hormon tiroid yang rendah (hipotiroidisme).

Kategori kehamilan

Kategori C: Belum terdapat penelitian terkontrol untuk penggunaan trilac tablet pada ibu hamil, namun ada efek samping yang mungkin dapat mengganggu perkembangan dan pertumbuhan janin. Oleh karena itu, penggunaannya pada ibu hamil hanya dapat dilakukan jika manfaat yang diberikan melebihi risiko yang mungkin timbul pada janin. Konsultasikan penggunaan obat ini dengan dokter sebelum digunakan.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Pasien penderita komplikasi malaria akibat adanya parasit yang menyebabkan kerusakan pada sawar otak (malaria serebral).
  • Pasien penderita infeksi jamur sistemik.
  • Pasien penderita parasitosis.
  • Pasien penderita yang mengalami kesulitan dalam membedakan antara imajinasi dan kenyataan (psikosis akut).
  • Pasien penderita tuberkulosis.
  • Pasien penderita herpes simpleks keratitis.
  • Pasien yang memiliki alergi terhadap triamsinolon.
  • Pasien yang memiliki jumlah sel keping darah yang rendah sehingga menjadi mudah berdarah dan memar (trombositopenia idiopatik purpura).

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Obat antikolinergik seperti atropin.
    Penggunaan bersama triamsinolon meningkatkan tekanan intraokular.
  • Obat antikoagulan.
    Penggunaan bersama triamsinolon mengurangi efek antikoagulan dari obat-obatan antikoagulan oral.
  • Seritinib.
    Penggunaan bersama triamsinolon meningkatkan efek hiperglikemia yaitu meningkatkan kadar gula darah.
  • Obat turunan sulfonilurea dan insulin.
    Penggunaan bersama triamsinolon menurunkan efek terapi antidiabetik.
  • Obat antihipertensi dan diuretik.
    Penggunaan bersama triamsinolon menurunkan tekanan darah arteri.
  • Obat NSAID.
    Penggunaan bersama triamsinolon meningkatkan risiko pendarahan di saluran cerna.
  • Kontrasepsi oral.
    Penggunaan bersama triamsinolon meningkatkan kadar serum estrogen.
  • Disopiramid, kuinidin, prokainamid, amiodaron, sotalol, bepridil.
    Penggunaan bersama triamsinolon meningkatkan risiko perpanjangan interval QT.

Sesuai kemasan per Desember 2019

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/triamcinolone?mtype=generic
Diakses pada 21 Agustus 2020

Drugs. https://www.drugs.com/triamcinolone.html
Diakses pada 21 Agustus 2020

Glowm. https://www.glowm.com/resources/glowm/cd/pages/drugs/t057.html
Diakses pada 21 Agustus 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email