Alfabet
# A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

Triamcinolone (Alias: Triamsinolon)

Ditulis oleh Lenny Tan
Terakhir ditinjau oleh dr. Virly
Triamcinolone menghambat pembentukan zat-zat peradangan pemicu penurunan reaksi autoimun
Triamcinolone dapat mengobati kelainan kulit dan mengurangi peradangan.

Merk dagang yang beredar:

Amtocort, Flamicort, Kenacort, Konicort, Ketricin, Omenacort, Rafacort, Triamcinolone, Triamcort, Tridez, Trilac, Trilone, Ziloven

Triamcinolone merupakan obat golongan kortikosteroid yang digunakan untuk menangani beberapa kelainan kulit, peradangan pada bagian mata dan sendi, pembengkakan, dan kondisi lainnya yang berhubungan dengan ketidaknyamanan pada kulit.  Obat ini memiliki efek antiperadangan dan imunosupresif (menekan reaksi imun) sehingga menghambat pembentukan zat-zat peradangan yang menyebabkan terjadi penurunan reaksi peradangan kronis dan penurunan reaksi autoimun.

Triamcinolone (Triamsinolon)
Golongan

Kortikosteroid

Kategori Obat

Obat resep

Bentuk Obat

Tablet, krim, suntik, semprot hidung, salep untuk dioleskan ke mulut

Dikonsumsi oleh

Dewasa dan anak-anak

Kategori Kehamilan dan Menyusui

IM / Intrartikular / Intrabursal / Intradermal / Intralesional / Intrasynovial / Parenteral / SC / Topikal

Kategori C: Penelitian pada hewan percobaan menunjukkan efek buruk terhadap janin dan tidak ditemukan studi yang memadai pada manusia. Namun mengingat efektivitasnya, penggunaannya dapat dipertimbangkan pada wanita hamil sekalipun berisiko.

Intravitreal / Penyuntikan pada mata

Kategori D: Terbukti menimbulkan risiko terhadap janin manusia, tetapi besarnya manfaat yang diperoleh jika digunakan pada wanita hamil dapat dipertimbangkan (misalnya jika obat diperlukan untuk mengatasi situasi yang mengancam jiwa atau penyakit serius di mana obat yang lebih aman tidak efektif atau tidak dapat diberikan).

Keamanan penggunaan triamsinolon oral selama kehamilan belum diketahui, dan disarankan untuk menggunakan alternatif obat lainnya terutama bila menyusui bayi prematur. Pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter Anda sebelum menggunakan obat.

Dosis

Dosis diberikan oleh dokter berdasarkan kondisi medisdan mungkin bervariasi berdasarkan kondisi individu. Selama pengobatan, dokter akan melihat respons terhadap pengobatan dan melakukan penyesuaian dosis bila diperlukan.

Intraartikular

Penyakit radang sendi

  • Dewasa: Dalam sediaan triamcinolone acetonide: 5-10 mg (sendi kecil), hingga 40 mg (sendi besar). Dosis maksimal: 80 mg sebagai injeksi tunggal pada beberapa sendi. Dalam sediaan triamcinolone hexacetonide: 2-6 mg (sendi kecil), 5-10 mg (sendi ukuran sedang), 10-20 mg (sendi besar). Diberikan pada 1 sendi setiap 3-4 minggu sesuai kebutuhan.
  • Anak: 3-12 tahun: Dalam sediaan triamcinolone hexacetonide: Pada artritis idiopatik juvenil: 0,5 mg / kg berat badan (sendi kecil), 1 mg / kg berat badan (sendi besar). Untuk tangan dan kaki, 1-2 mg (sendi metacarpophalangeal / metatarsophalangeal); 0,6-1 mg (sendi interphalang proksimal).

Intradermal

Peradangan kulit

Dewasa: Dalam sediaan triamcinolone acetonide: 1-3 mg / tempat. Dosis maksimal: 5 mg / tempat. Dosis maksimal: 30 mg bila injeksi pada beberapa tempat. Dalam sediaan triamcinolone diacetate: 5-25 mg dalam dosis terbagi, disuntikkan tidak lebih dari 100 mcg / cm2 dari luas permukaan kulit. Dalam sediaan triamcinolone hexacetonide: Hingga 500 mcg / in2 (kira-kira 80 mcg / cm2) pada kulit yang terkena.

Intramuskular

Pengontrolan gejala hay fever

  • Dewasa: Dalam sediaan triamcinolone acetonide: 40-100 mg sebagai dosis tunggal.

Intramuskular

Supresi gangguan peradangan dan alergi

  • Dewasa: Dalam sediaan triamcinolone acetonide: Dosis awal, 40 mg injeksi dalam pada otot gluteal. Ulangi jika diperlukan.
  • Anak: 6-12 tahun: Sama dengan dosis dewasa.

Intravitreus

Infeksi mata

Dewasa: Sebagai triamcinolone acetonide: Dosis awal, 4 mg sebagai dosis tunggal, dengan dosis berikutnya sesuai kebutuhan.

Intravitreus

Visualisasi selama vitrektomi

  • Dewasa: Dalam sediaan triamcinolone acetonide: 1-4 mg.

Mulut / Tenggorokan

Ulkus pada mulut

  • Dewasa: Dalam sediaan triamcinolone acetonide 1%: Tekan sejumlah kecil (kira-kira 0,6 cm) ke dalam lesi tanpa digosok sampai terbentuk lapisan tipis, mungkin dapat diperlukan jumlah yang lebih banyak untuk menutupi beberapa lesi. Dapat dioleskan sebelum tidur dan, bila perlu, 2 atau 3 kali sehari, sebaiknya dioles setelah makan. Evaluasi ulang jika tidak sembuh setelah 7 hari pengobatan.

Hidung

Pengobatan dan profilaksis rinitis alergi

  • Dewasa: Dalam sediaan triamcinolone acetonide: Dosis awal, 2 semprotan (110 mcg) ke setiap lubang hidung sekali sehari, dikurangi menjadi 1 semprotan (55 mcg) ke setiap lubang hidung sekali sehari ketika sudah terkendali.
  • Anak: Dalam sediaan triamcinolone acetonide: 2-5 tahun: Dosis maksimal: 1 semprotan (55 mcg) ke setiap lubang hidung sekali sehari; 6-12 tahun: 1 semprotan (55 mcg) ke setiap lubang hidung sekali sehari, dapat ditingkatkan menjadi 2 semprotan (110 mcg) ke setiap lubang hidung sekali sehari untuk gejala berat.

Periartikular (sekitar sendi)

Bursitis, tendinitis

  • Dewasa: Dalam sediaan triamcinolone hexacetonide: 10-20 mg.

Topikal

Dermatosis respons kortikosteroid

Dewasa: Dalam sediaan triamsinolon asetonid 0,025-0,5% krim / lotion / salep: Oleskan ke daerah yang terkena 2-4 kali sehari.

Aturan pakai Triamcinolone dengan benar

Selalu ikuti anjuran dari dokter atau baca petunjuk di kemasan obat toksin botulinum sebelum penggunaan.

  • Pada pemberian triamsinolone oral, perlu diperhatikan bahwa obat ini dapat menyebabkan sensasi tidak nyaman pada perut. Pastikan untuk mengonsumsi obat ini bersama dengan makanan.
  • Pada pemberian triamsinolone nasal dan inhalasi, tidak disarankan untuk mengobati gejala akut.
  • Pada penggunaan triamsinolone krim, gunakan obat ini hanya pada kulit. Jangan gunakan pada daerah wajah, selangkangan, atau ketiak.
  • Ketika menggunakan obat ini pada daerah sekitar mata, pastikan obat ini tidak mengenai mata karena dapat memperburuk atau menyebabkan glaukoma.
  • Jangan menghentikan pengobatan ini secara mendadak setelah terapi jangka panjang.
  • Gunakan obat ini hanya untuk kondisi yang ditentukan.

Efek Samping

Setiap pemakaian obat selalu mempunyai efek samping tertentu dan bersifat individual. Bila terjadi efek samping yang berlebih, harus segera ditangani oleh tenaga medis.

Efek samping yang mungkin timbul dari pemakaian triamcinolone, antara lain:

  • Supresi adrenal dengan tanda kelelahan, tidak mau makan, mual dan muntah, diare, penurunan berat badan, kelemahan, dan kadar gula dalam darah rendah.
  • Imunosupresi (misalnya, terjadi infeksi sekunder atau superinfeksi).
  • Sarkoma kaposi (tumor yang disebabkan oleh virus human herpesvirus 8/HHV8).
  • Miopati (gangguan otot).
  • Gangguan psikiatri termasuk insomnia dan depresi.
  • Munculnya jerawat.
  • Gangguan penglihatan, seperti peningkatan tekanan intraokular, endophthalmitis, katarak.
  • Saluran pencernaan: rasa tidak nyaman pada perut, mulut terasa kering, diare, konstipasi.
  • Terjadinya reaksi pada lokasi suntikan (nyeri kemerahan, bengkak, kematian jaringan, abses).
  • Peningkatan nafsu makan, gangguan toleransi glukosa, penumpukan cairan.
  • Perubahan mood.
  • Nyeri sendi.
  • Nyeri kepala.
  • Berpotensi fatal: Reaksi alergi berat.
  • Efek samping jangka panjang: Penurunan massa otot pada bagian lengan atau kaki, osteoporosis, patah tulang spontan, katarak, glaukoma, tukak lambung, gagal jantung kongestif.
  • Pemberhentian obat secara mendadak setelah terapi jangka panjang dapat menyebabkan anoreksia, mual, demam, sakit kepala, nyeri sendi, kelelahan, serta kembalinya peradangan dengan reaksi yang lebih berat.

Ada beberapa efek samping lain yang belum terdaftar. Jika Anda mempunyai efek samping lain diluar daftar di atas, konsultasikan segera ke dokter Anda. 

Peringatan

Beritahukan dan konsultasikan dengan dokter Anda mengenai riwayat penyakit Anda sebelumnya, terutama bila Anda memiliki riwayat atau kondisi berikut:

  • Pasien dengan glaukoma dan/atau katarak, hipertensi dan/atau gagal jantung, serangan jantung, diabetes mellitus, gangguan saluran pencernaan (diverticulitis, ulkus peptikum, kolitis ulseratif), sirosis, myasthenia gravis, osteoporosis, riwayat kejang.
  • Hindari pemberhentian obat secara mendadak.
  • Anak-anak.
  • Gangguan ginjal dan hati.
  • Kehamilan dan menyusui.

Jangan mengonsumsi obat ini jika mempunyai kondisi medis yang meliputi:

  • Kehamilan (trimester pertama) dan menyusui.
  • Penggunaan bersamaan dengan vitamin
  • Idiopathic thrombocytopenic purpura.
  • Malaria otak.
  • Psikosis akut.
  • Tuberkulosis aktif.
  • Keratitis herpes simpleks.
  • Pemberian vaksin hidup.
  • Alergi terhadap triamcinolone.
  • Penyakit tukak lambung.
  • Infeksi jamur sistemik.

Informasi lebih lengkap bisa dilihat melalui kemasan.

Interaksi

Interaksi obat mungkin terjadi bila beberapa obat dikonsumsi secara bersamaan. Jika ingin mengonsumsi obat secara bersamaan, konsultasikan ke dokter Anda terlebih dahulu. Bila perlu, dokter akan mengubah dosis obat atau mengganti obat dengan alternatif obat lainnya.

Mengonsumsi obat triamcinolone dengan obat lain secara bersamaan dapat menyebabkan beberapa interaksi berikut ini:

  • Dapat melawan efek yang ada pada antikolinesterase.
  • Meningkatkan efek peningkatan tekanan dalam bola mata bila dikonsumsi bersamaan dengan antikolinergik (Atropin).
  • Menurunkan efek antikoagulan jika diminum bersamaan dengan antikoagulan oral.
  • Meningkatkan efek hiperglikemia (kadar gula tinggi dalam darah) yang ditimbulkan oleh certinib.
  • Menghilangkan efek pengobatan obat anti diabetes (misalnya sulfonilurea) atau diuretik.
  • Menurunkan efek obat penurun tekanan darah termasuk diuretik.
  • Meningkatkan toksisitas jika diminum bersamaan obat jantung golongan digitalis.
  • Menurunkan konsentrasi isoniazid.
  • Meningkatkan efek ketokonazole.
  • Meningkatkan estrogen dalam darah jika diminum bersamaan dengan kontrasepsi oral.
  • Meningkatkan risiko perdarahan pada saluran cerna bila dikonsumsi bersamaan dengan OAINS (obat anti inflamasi non steroid).
  • Hipokalemia jika diikuti dengan penyuntikan Amphotericin-B.
  • Gangguan kelistrikan jantung jika diminum dengan disopyramide, quinidine, procainamide, amiodarone, sotalol, bepridil.

Ditinjau oleh: dr. Virly Isella

Penyakit
  • Alergi
Referensi

MIMS. http://mims.com/indonesia/drug/info/triamcinolone/?type=brief&mtype=generic

Diakses pada 11 Desember 2018

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-1456/triamcinolone-acetonide-topical/details

Diakses pada 11 Desember 2018

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/drugs-supplements/triamcinolone-topical-application-route/description/drg-20073937

Diakses pada 11 Desember 2018

BPOM. pionas.pom.go.id/monografi/triamsinolon

Diakses pada 11 Desember 2018

PubChem. https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/compound/triamcinolone_acetonide#section=GHS-Classification

Diakses pada 11 Desember 2018

PubChem. https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/compound/triamcinolone#section=MeSH-Pharmacological-Classification

Diakses pada 11 Desember 2018

Science Direct. https://www.sciencedirect.com/topics/veterinary-science-and-veterinary-medicine/triamcinolone

Diakses pada 11 Desember 2018

Back to Top