Titan Tablet 150 mg

29 Jan 2021| Ajeng Prahasta
Titan tablet adalah obat untuk mengatasi kelebihan asam lambung seperti sindrom Zollinger-Ellison.

Deskripsi obat

Titan tablet adalah obat untuk mengatasi kelebihan asam lambung seperti sindrom Zollinger-Ellison dan luka pada dinding lambung. Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Titan tablet mengandung zat aktif ranitidin.

Titan Tablet 150 mg
Golongan ObatObat kerasObat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
Produk HalalYa
Kandungan utamaRanitidin.
Kelas terapiAntasida.
Klasifikasi obatAntagonis reseptor histamin H2.
Kemasan1 box isi 10 strip @ 10 tablet (150 mg)
ProdusenHexpharm Jaya

Informasi zat aktif

Ranitidin secara kompetitif dan reversibel menghambat histamin pada reseptor H2 dari sel parietal lambung sehingga menghambat sekresi asam lambung, volume lambung dan mengurangi konsentrasi ion hidrogen.

Bedasarkan proses kerja obat dalam tubuh, ranitidin diketahui memiliki status:

  • Absorpsi: 50% dari dosis yang diberikan diserap dari saluran pencernaan. Waktu untuk konsentrasi plasma puncak selama 2-3 jam. Ketersediaan hayati sekitar 50%.
  • Distribusi: Minimal menembus sawar darah-otak, melintasi plasenta dan memasuki ASI. Volume distribusi sekitar 1,4 L/kg. Pengikatan protein plasma sekitar 15%.
  • Metabolisme: Dimetabolisme di hati menjadi N-oksida (metabolit utama), S-oksida, dan N-desmetil metabolit.
  • Ekskresi: Terutama melalui urin sebanyak 30%, feses (sebagai metabolit). Waktu paruh eliminasi sekitar 2,5-3 jam .

Indikasi (manfaat) obat

Mengatasi peningkatan asam lambung seperti pada kondisi:

  • Sensasi rasa terbakar pada area dada dan kerongkongan yang disebabkan karena peningkatan asam lambung ke kerongkongan dan terjadi iritasi kerongkongan.
  • Luka pada dinding usus 12 jari (tukak duodenum).
  • Luka pada dinding lambung (tukak lambung).
  • Tumor di pankreas atau bagian atas usus halus (sindrom Zollinger-Ellison).
  • Peradangan mukosa esofagus yang disebabkan oleh refluks cairan lambung atau duodenum esofagus (esofagitis refluks).

Ranitidin adalah obat yang mampu menghalangi produksi asam oleh sel penghasil asam di lambung. Obat ini termasuk dalam kelas obat yang disebut penghambat H2 (histamin-2). Histamin adalah bahan kimia alami yang merangsang sel-sel di perut untuk menghasilkan asam. H2-blocker menghambat aksi histamin pada sel, sehingga mengurangi produksi asam oleh lambung. Karena asam lambung yang berlebihan dapat merusak esofagus, lambung, dan duodenum serta menyebabkan peradangan dan ulserasi, mengurangi asam lambung mencegah dan menyembuhkan peradangan dan tukak yang disebabkan oleh asam.

Komposisi obat

Ranitidin 150 mg.

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Dewasa:

  • Tukak duodenum: 150 mg sebanyak 2 kali/hari dikonsumsi selama 4-8 minggu.
    • Terapi pemeliharaan: 150 mg/hari.
  • Tukak lambung: 150 mg sebanyak 2 kali/hari dikonsumsi selama 2 minggu.
    • Terapi pemeliharaan: 150 mg/hari.
  • Keadaan hipersekresi patologis (Zollinger Ellison, mastositosis sistemik): 150 mg sebanyak 2 kali/hari.
  • Refluks gastroesofagitis: 150 mg sebanyak 2 kali/hari.
  • Esofagitis erosif: 150 mg sebanyak 4 kali/hari.
    • Pemeliharaan dan penyembuhan esofagitis erosif: 150 mg, sebanyak 2 kali/hari

Aturan pakai obat

Dapat dikonsumsi dengan atau tanpa makanan.

Efek samping obat

  • Sakit perut.
    Cobalah untuk istirahat dan rileks. Makan dan minum secara perlahan dan makan lebih sedikit dan lebih sering. Menempatkan bantalan panas atau botol berisi air panas tertutup di perut Anda. Jika Anda sangat kesakitan, segera hubungi dokter atau apoteker Anda.
  • Kesulitan buang air besar (konstipasi).
    Konsumsi lebih banyak makanan berserat tinggi seperti buah dan sayuran segar dan sereal, dan minum banyak air. Cobalah berolahraga, misalnya dengan berjalan-jalan atau berlari setiap hari. Jika ini tidak membantu, segera hubungi apoteker atau dokter Anda.
  • Mual.
    Hindari makanan yang kaya rasa atau makanan yang pedas ketika mengonsumsi obat ini.
  • Sakit kepala.
  • Lemas.
  • Diare.

Perhatian Khusus

  • Penderita penyakit paru kronik.
  • Pasien penderita kencing manis (diabetes).
  • Pasien dengan faktor predisposisi gangguan irama jantung.
  • Pasien yang mengalami gangguan kekebalan atau sakit parah.
  • Singkirkan keganasan lambung atau kemungkinan keganasan sebelum memulai terapi.
  • Pasien penderita gangguan fungsi ginjal dan hati.
  • Anak-anak.
  • Kehamilan dan menyusui.

Kategori kehamilan

Kategori B: Penelitian tidak menemukan efek malformasi atau efek yang mengganggu perkembangan janin pada trimester pertama dan selanjutnya. Studi pada reproduksi hewan telah membuktikan tingkat keamanan obat ini.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

Pasien dengan riwayat kelainan proses pembentukan heme yang tidak sempurna (porfiria akut).

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Warfarin.
    Perubahan waktu protrombin dan peningkatan konsentrasi serum dengan antikoagulan kumarin seperti warfarin.
  • Prokainamid dan N-asetilprokainamid.
    Ranitidin dosis tinggi dapat mengurangi ekskresi dan meningkatkan konsentrasi plasma prokainamid dan N-asetilprokainamid.
  • Triazolam, glipizid, midazolam, atazanavir, gefitnib, ketokonazol, dan delaviridin.
    Dapat mengubah absorpsi obat yang bergantung pada pH yang dapat menyebabkan peningkatan absorpsi pada triazolam, glipizid, dan midazolam atau penurunan absorpsi misalnya atazanavir, gefitnib, ketokonazol, dan delaviridin.
  • Sukralfat.
    Penyerapan ranitidin dapat menurun jika dikonsumsi dengan sukralfat.

Apa yang harus dilakukan jika ada dosis terlewat?

  • Masih dekat dengan jadwal sebelumnya.
    Jika masih dekat dengan jadwal minum obat sebelumnya, segera konsumsi obat sesuai dosis yang terlewat.
  • Sudah mendekati jadwal berikutnya.
    Jika sudah mendekati jadwal selanjutnya, maka dosis yang terlewat dapat diabaikan dan lanjutnya konsumsi obat sesuai jadwal berikutnya.
  • Jangan menggandakan dosis yang terlewat.
    Jangan mengonsumsi total dosis antara yang terlewat dan dosis berikutnya, kecuali dianjurkan lain oleh dokter Anda.
  • Sering lupa mengonsumsi obat.
    Jika sering lupa untuk mengonsumsi obat, cobalah untuk menggunakan pengingat (alarm) sesuai jadwal minum obat atau meminta bantuan orang lain untuk membantu mengingatkan jadwal minum obat Anda. Selain itu, alternatif lainnya yaitu menggunakan kotak obat harian yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Kapan perlu menghentikan penggunaan dan menghubungi dokter?

Jika merasa sakit perut, kehilangan nafsu makan, urin gelap, penyakit kuning (kulit atau mata menguning), demam, menggigil, batuk berlendir, nyeri dada, sesak napas, detak jantung cepat atau lambat, mudah memar atau berdarah, atau masalah dengan kulit atau rambut Anda.

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/ranitidine?mtype=generic
Diakses pada 24 Agustus 2020

NHS. https://www.nhs.uk/medicines/ranitidine/
Diakses pada 24 Agustus 2020

Patient. https://patient.info/medicine/ranitidine-to-reduce-stomach-acid-zantac#:~:text=Ranitidine%20is%20helpful%20in%20the,reflux%20oesophagitis)%2C%20and%20indigestion.
Diakses pada 24 Agustus 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/ranitidine-oral-tablet#about
Diakses pada 24 Agustus 2020

Kalbemed. https://kalbemed.com/product/137
Diakses pada 24 Agustus 2020

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-165655-7033/heartburn-relief-ranitidine-oral/ranitidine-tablet-oral/details
Diakses pada 24 Agustus 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email