Tiaryt Tablet 200 mg

27 Okt 2020| Arif Putra
Tiaryt tablet 200 mg obat untuk menekan dan mencegah kambuhnya masalah irama jantung yang tidak beraturan.

Deskripsi obat

Tiaryt tablet adalah obat untuk menekan dan mencegah terjadinya gangguan irama jantung yang tidak beraturan. Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Tiaryt tablet mengandung zat aktif amiodaron hidroklorida.
Tiaryt Tablet 200 mg
Golongan ObatObat kerasObat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
HETRp 60.500/strip (200 mg) per Oktober 2019
Produk HalalYa
Kandungan utamaAmiodaron hidrokloria.
Kelas terapiAntiaritmia.
Kemasan1 box isi 3 strip @ 10 tablet (200 mg)
ProdusenPratapa Nirmala

Informasi zat aktif

Amiodaron merupakan golongan obat untuk mengatasi gangguan irama jantung (antiaritmia). Amiodaron mengobati dan mencegah detak jantung abnormal dengan bekerja di dalam sel untuk mengontrol kontraksi otot di jantung. Obat ini membantu jantung Anda berdetak normal.

Bedasarkan proses kerja obat dalam tubuh, amiodaron diketahui memiliki status:

  • Absorpsi: Diabsorpsi secara perlahan dari saluran pencernaan.Kadar obat yang masuk ke dalam peredaran darah (ketersediaan hayati) sekitar 50% atau kisaran 35-65% dan waktu dimana obat mencapai kadar tertinggi dalam plasma (waktu puncak konsentrasi plasma) adalah 3-7 jam.
  • Distribusi: Terdistribusi secara luas dan terakumulasi dalam lemak, otot rangka, dan jaringan seperti hati, paru, dan limpa, melintasi plasenta, dan memasuki ASI. Volume distribusi 66 L/kg dengan kisaran 18-148 L/kg.
  • Metabolisme: Dimetabolisme di hati terutama oleh dalam bentuk metabolit aktif dan menjalani penyerapan kembali usus dari zat yang telah dikeluarkan empedu (resirkulasi enterohepatik).
  • Ekskresi: Diekskresi terutama melalui feses dan urin sebanyak kurang dari 1% dalam bentuk obat tidak berubah.Waktu yang dibutuhkan obat untuk dikeluarkan oleh tubuh dari separuh kadar awal obat (waktu paruh eliminasi) amiodaron adalah 58 hari atau kisaran 15-142 hari dan N-desethylamiodaron adalah 36 hari atau kisaran 14-75 hari.

Indikasi (manfaat) obat

Mengatasi:

  • Gangguan irama jantung yang tidak normal atau tidak stabil.

Amiodaron termasuk dalam kelas obat yang digunakan untuk mengatasi gangguan irama jantung atau yang disebut dengan antiaritmia. Amiodaron mengobati dan mencegah detak jantung abnormal dengan bekerja di dalam sel untuk mengontrol kontraksi otot di jantung, sehingga membantu jantung Anda berdetak normal. Amiodaron bekerja menghambat saluran natrium, kalium, dan kalsium yang menurunkan konduksi dan memperpanjang periode refraktori sehingga dapat mengubah irama jantung.

Komposisi obat

Amiodaron hidroklorida 200 mg.

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Aritmia ventrikular:

  • Dosis awal: 4-8 tablet sebanyak 1kali/hari untuk 1-3 minggu.
  • Dosis lanjutan: 3-4 tablet sebanyak 1 kali/hari
  • Dosis pemeliharaan: 2 tablet sebanyak 1kali/hari


Aritmia supraventrikular: 3 tablet dibagi 3 dosis selama 1 minggu.

  • Dosis lanjutan: 1-2 tablet sebanyak 1 kali/hari.

Aturan pakai obat

  • Dikonsumsi dengan atau tanpa makanan secara konsisten.
  • Sebaiknya amiodaron dalam dosis tinggi dikonsumsi dengan makanan untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada saluran pencernaan.

Efek samping obat

  • Sakit kepala.
    Beristirahatlah hingga kondisi membaik, ketika mengalami sakit kepala hindari mengemudi kendaraan atau menjalankan mesin. Hindari mengonsumsi alkohol karena akan memperburuk keadaan.
  • Kesulitan buang air besar (konstipasi).
    Konsumsi air yang cukup dan konsumsi makanan yang mengandung serat tinggi seperti sayuran dan buah segar, serta sereal.
  • Pengelihatan terganggu oleh cahaya terang atau penglihatan kabur.
    Jika Anda mengalami pengelihatan yang terganggu oleh cahaya yang terang atau terjadi penglihatan kabur, jangan mengemudi atau menggunakan alat atau mesin.
  • Perubahan rasa pada lidah, mimpi buruk, sulit tidur, dan tanda biru atau abu-abu di area kulit Anda yang terpapar sinar matahari.
    Jika Anda mengalami salah satu atau beberapa hal tersebut segera hubungi dokter Anda.
  • Mual dan muntah.
    Cobalah mengonsumsi makanan yang sederhada, hindari makanan yang berat atau berat dan cobalah mengonsumsi obat setelah makan.
  • Penurunan dorongan atau kinerja seks.
  • Gerakan tubuh yang tidak terkendali atau tidak biasa.
  • Kelelahan.
  • Sakit perut.
  • Gangguan kesulitan tidur (insomnia).

Perhatian Khusus

  • Wanita hamil.
  • Anak-anak.
  • Pasien lanjut usia.
  • Kelainan otot jantung (kardiomiopati) dekompensasi.
  • Pasien dengan tekanan darah rendah (hipotensi).
  • Pasien yang menjalani operasi.
  • Pasien dengan implan defibrilator atau Implantable Cardioverter Defibrillator (ICD) atau alat pacu jantung.
  • Pasien dengan gagal jantung laten atau nyata.

Kategori kehamilan

Kategori D: Hasil penelitian menunjukkan bahwa obat ini menimbulkan risiko pada janin manusia. Penggunaan pada ibu hamil dapat dipertimbangkan jika manfaat yang diberikan melebihi risiko yang mungkin timbul pada janin. Misalnya, bila obat dibutuhkan untuk mengatasi situasi yang mengancam jiwa atau penyakit serius, di mana obat lain tidak efektif atau tidak bisa diberikan.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Pasien dengan serangan jantung.
  • Pasien dengan blok atrioventrikular derajat dua atau tiga.
  • Pasien dengan denyut jantung lambat (bradikardia) yang menyebabkan pingsan (sinkop).
  • Pasien yang memiliki alergi terhadap komponen obat ini termasuk yodium.

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Rifampisin dan fenitoin.
    Penggunaan bersama amiodaron mengurangi efektivitas rifampisin dan fenitoin.
  • Siklosporin, klonazepam, digoksin, prokainamid, kuinidin, simvastatin, dan warfarin.
    Penggunaan bersama amiodaron dapat meningkatkan konsentrasi dari obat-obatan tersebut. Sehingga dapat menyebabkan risiko terjadinya efek samping.
  • Obat antiaritmia, beta blocker, dan calcium channel blockers (CCB).
    Penggunaan bersama amiodaron meningkatkan risiko penurunan detak jantung (bradikardia).
  • Obat pencahar, diuretik, dan kortikosteroid sistemik.
    Penggunaan bersama amiodaron meningkatkan risiko peningkatan detak jantung (aritmia).

Apa yang harus dilakukan jika ada dosis terlewat?

  • Masih dekat dengan jadwal sebelumnya.
    Jika masih dekat dengan jadwal minum obat sebelumnya, segera konsumsi obat sesuai dosis yang terlewat.
  • Sudah mendekati jadwal berikutnya.
    Jika sudah mendekati jadwal selanjutnya, maka dosis yang terlewat dapat diabaikan dan lanjutnya konsumsi obat sesuai jadwal berikutnya.
  • Jangan menggandakan dosis yang terlewat.
    Jangan mengonsumsi total dosis antara yang terlewat dan dosis berikutnya, kecuali dianjurkan lain oleh dokter Anda.
  • Sering lupa mengonsumsi obat.
    Jika sering lupa untuk mengonsumsi obat, cobalah untuk menggunakan pengingat (alarm) sesuai jadwal minum obat atau meminta bantuan orang lain untuk membantu mengingatkan jadwal minum obat Anda. Selain itu, alternatif lainnya yaitu menggunakan kotak obat harian yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Kapan perlu menghentikan penggunaan dan menghubungi dokter?

Beri tahu dokter Anda jika Anda memiliki efek samping yang serius, seperti mudah memar atau mengalami perdarahan, kehilangan koordinasi, kesemutan atau mati rasa pada tangan atau kaki, gerakan tidak terkontrol, gejala gagal jantung baru atau yang memburuk seperti sesak napas, pergelangan kaki atau kakimengalami pembengkakakn, kelelahan yang tidak biasa, dan kenaikan berat badan yang tidak biasa dan secara tiba-tiba.

Sesuai kemasan per Oktober 2019

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/amiodarone?mtype=generic
Diakses pada 11 September 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/amiodarone-oral-tablet#side-effects
Diakses pada 11 September 2020

Patient. https://patient.info/medicine/amiodarone-for-irregular-heartbeats-cordarone-x#nav-4
Diakses pada 11 September 2020

RxList. https://www.rxlist.com/cordarone-drug.htm#clinpharm
Diakses pada 11 September 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email