Suldox Tablet

27 Okt 2020| Dea Febriyani
Suldox tablet adalah obat yang digunakan untuk mengobati malaria.

Deskripsi obat

Suldox tablet adalah obat yang digunakan untuk mengobati malaria yang disebarkan melalui gigitan nyamuk. Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Suldox mengandung zat aktif sulfadoksin dan pirimetamin.
Suldox Tablet
Golongan ObatObat kerasObat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
HET0
Produk HalalYa
Kandungan utamaSulfadoksin dan pirimetamin.
Kelas terapiAntimalaria.
Klasifikasi obatKlorokuin.
Kemasan1 box isi 10 strip @ 6 tablet
ProdusenActavis

Informasi zat aktif

Pirimetamin merupakan antagonis asam folat yang bekerja menghambat reduksi asam dihidrofolik menjadi asam tetrahidrofolat (asam folinat), sementara sulfadoksin merupakan analog struktural asam p-aminobenzoat (PABA) yang bekerja secara kompetitif menghambat sintesis asam dihidrofolat yang penting untuk konversi PABA menjadi asam folat. Kombinasi sulfadoksin dan pirimetamin menghasilkan aksi sinergis melawan plasmodium yaitu parasit yang disebarkan melalui nyamuk dan menyebabkan penyakit malaria. Sulfadoksin dan pirimetamin memiliki waktu paruh yang lama yang memungkinkan pemberian dosis tunggal. Berdasarkan proses kerja obat dalam tubuh, pirimetamin diketahui memiliki status:

  • Absorpsi: Puncak konsentrasi plasma adalah 4 jam.
  • Distribusi: Volume distribusi sulfadoksin adalah 0,14 L/kg dan pirimetamin adalah 2,3 L/kg. Ikatan protein adalah 90% dan obat terdistribusi melewati plasenta dan masuk ke dalam ASI.
  • Metabolisme: Metabolisme sulfadoksin sebanyak 5% muncul dalam darah sebagai metabolit asetat dan 2-3% sebagai glukuronida. Pirimetamin diubah menjadi beberapa metabolit.
  • Ekskresi: Waktu paruh eliminasi pirimetamin adalah 100 jam dan waktu paruh eliminasi sulfadoksin adalah 200 jam. Diekskresi terutama melalui ginjal.

Indikasi (manfaat) obat

  • Terapi pada pengobatan dan pencegahan pasien dengan penyakit malaria yang disebarkan melalui gigitan nyamuk.

Pirimetamin bekerja dengan menghambat reduksi asam dihidrofolik menjadi asam tetrahidrofolat (asam folinat), dan sulfadoksin adalah analog struktural asam p-aminobenzoat (PABA) yang bekerja secara kompetitif menghambat sintesis asam dihidrofolat yang penting untuk konversi PABA menjadi asam folat sehingga sulfadoksin dan pirimetamin menghasilkan aksi sinergis melawan plasmodium yaitu parasit yang disebarkan melalui nyamuk dan menyebabkan penyakit malaria.

Komposisi obat

  • Sulfadoksin 500 mg.
  • Pirimetamin 25 mg.

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Dewasa: 2-3 tablet dalam bentuk dosis tunggal. Jangan ulangi pemberian obat selama 7 hari.

Anak-anak:

  • 2 tahun ke bawah dengan berat badan 5-10 kg: ½ tablet dalam dosis tunggal.
  • 2-5 tahun dengan berat badan 10-20 kg: 1 tablet dalam dosis tunggal.
  • 5-10 tahun dengan berat badan 20-30 kg: 1½ tablet dalam dosis tunggal.
  • 10-14 tahun dengan berat badan 30-45 kg: 2 tablet dalam dosis tunggal. Jangan ulangi pemberian obat selama 7 hari.

Aturan pakai obat

Dikonsumsi bersama makanan, minum banyak air, dan tablet harus ditelan secara utuh.

Efek samping obat

  • Sindrom Stevens-Johnson.
    Sindrom Stevens-Johnson merupakan efek samping langka dari yang ditandai dengan gejala seperti flu, diikuti oleh ruam merah atau ungu yang menyebar, dan membentuk lepuh.
  • Biduran (urtikaria).
  • Kepekaan berlebihan terhadap cahaya (fotosensitisasi).
  • Gatal diseluruh atau sebagian tubuh (pruritus).
  • Telinga berdenging (tinnitus).
  • Pusing hingga sekeliling terasa berputar (vertigo).
  • Kesulitan tidur (insomnia).
  • Nyeri sendi (artralgia).
  • Mual dan muntah.
  • Sakit kepala.
  • Sakit perut.
  • Diare.

Perhatian Khusus

  • Pasien kekurangan enzim G6PD yang menyebabkan kehancuran pada sel-sel darah merah.
  • Wanita hamil.
  • Minumlah banyak air untuk mencegah terbentuknya kristal pada urin (kristaluria).
  • Pasien yang memilliki gangguan ginjal atau hati.
  • Pasien dengan kekurangan folat di dalam tubuh.
  • Pasien yang memiliki penyakit asma bronkial.
  • Hindari paparan sinar matahari berlebihan.
  • Hentikan penggunaan obat jika muncul ruam pada kulit.

Kategori kehamilan

Kategori C: Belum terdapat penelitian terkontrol untuk penggunaan suldox tablet pada ibu hamil, namun ada efek samping yang mungkin dapat mengganggu perkembangan dan pertumbuhan janin. Oleh karena itu, penggunaannya pada ibu hamil hanya dapat dilakukan jika manfaat yang diberikan melebihi risiko yang mungkin timbul pada janin. Konsultasikan penggunaan obat ini dengan dokter sebelum digunakan.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Pasien yang memiliki kelainan darah (diskrasia darah).
  • Pasien dengan kondisi kekurangan sel darah merah akibat kekurangan folat di dalam tubuh (anemia megaloblastik).
  • Pasien yang memiliki alergi terhadap komponen obat ini.
  • Pasien yang memiliki gangguan ginjal atau hati berat.
  • Wanita hamil dan ibu menyusui.
  • Bayi usia 2 bulan ke bawah.

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Warfarin.
    Penggunaan bersama sulfadoksin dan pirimetamin dengan warfarin meningkatkan efek dari warfarin.
  • Halofantrin dan klorpromazin.
    Penggunaan bersama sulfadoksin dan pirimetamin meningkatkan kadar halofantrin dan klorpromazin di dalam tubuh.
  • Zidovudin dan klozapin.
    Penggunaan bersama sulfadoksin dan pirimetamin meningkatkan risiko terjadinya penurunan sel darah (mielosupresi).

Apa yang harus dilakukan jika ada dosis terlewat?

  • Masih dekat dengan jadwal sebelumnya.
    Jika masih dekat dengan jadwal minum obat sebelumnya, segera konsumsi obat sesuai dosis yang terlewat.
  • Sudah mendekati jadwal berikutnya.
    Jika sudah mendekati jadwal selanjutnya, maka dosis yang terlewat dapat diabaikan dan lanjutnya konsumsi obat sesuai jadwal berikutnya.
  • Jangan menggandakan dosis yang terlewat.
    Jangan mengonsumsi total dosis antara yang terlewat dan dosis berikutnya, kecuali dianjurkan lain oleh dokter Anda.
  • Sering lupa mengonsumsi obat.
    Jika sering lupa untuk mengonsumsi obat, cobalah untuk menggunakan pengingat (alarm) sesuai jadwal minum obat atau meminta bantuan orang lain untuk membantu mengingatkan jadwal minum obat Anda. Selain itu, alternatif lainnya yaitu menggunakan kotak obat harian yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Kapan perlu menghentikan penggunaan dan menghubungi dokter?

Hentikan penggunaan dan hubungi dokter jika Anda mengalami:

  • Sakit tenggorokan dan bengkak di lidah Anda.
  • Kulit pucat, mudah memar, dan bintik-bintik ungu di bawah kulit.
  • Ruam pada kulit.
  • Terdapat darah dalam urin Anda.
  • Gejala demam, pilek atau flu.
  • Batuk baru atau memburuk, demam, dan kesulitan bernapas.
  • Detak jantung tidak teratur.
  • Tanda-tanda defisiensi folat seperti kelelahan yang tidak biasa, perubahan suasana hati, merasa mual, sariawan, ketidaknyamanan perut, dan kehilangan nafsu makan.
  • Reaksi kulit yang parah seperti demam, sakit tenggorokan, bengkak di wajah atau lidah Anda, rasa terbakar di mata Anda, nyeri kulit, diikuti dengan ruam kulit merah atau ungu yang menyebar (terutama di wajah atau tubuh bagian atas) dan menyebabkan lepuh dan pengelupasan.

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/sulfadoxine%20+%20pyrimethamine
Diakses pada 10 Agustus 2020

Rxlist. https://www.rxlist.com/fansidar-drug.htm#side_effects
Diakses pada 10 Agustus 2020

medicinenet. https://www.medicinenet.com/sulfadoxine_with_pyrimethamine-oral/article.htm#MissedDose
Diakses pada 10 Agustus 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email