Siclidon Tablet 100 mg

27 Okt 2020| Dea Febriyani
Siclidon tablet adalah obat untuk mengatasi berbagai infeksi bakteri.

Deskripsi obat

Siclidon tablet adalah obat untuk mengatasi infeksi bakteri seperti penyakit menular seksual gonore tanpa komplikasi, sifilis, demam kambuh dan tifus, jerawat, dan infeksi gusi (periodontitis). Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Siclidon tablet menganduk doksisiklin sebagai zat aktifnya.
Siclidon Tablet 100 mg
Golongan ObatObat kerasObat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
Produk HalalYa
Kandungan utamaDoksisiklin.
Kelas terapiAntibiotik.
Klasifikasi obatTetrasiklin.
Kemasan1 box isi 2 strip @ 10 tablet (100 mg)
ProdusenSanbe Farma

Informasi zat aktif

Doksisiklin atau obat antibiotik golongan tetrasiklin diindikasikan untuk pengobatan berbagai infeksi oleh bakteri gram positif dan gram negatif, aerob dan anaerob, serta jenis bakteri lainnya. Hal tersebut menghambat sintesis protein dengan menghambat subunit ribosom bakteri 30S sehingga bakteri tidak dapat berkembang biak atau memperbanyak diri.

  • Absorpsi: Mudah dan hampir sepenuhnya diabsorpsi dari saluran pencernaan. Ketersediaan hayati sekitar 93%. Waktu puncak konsentrasi plasma adalah 2 jam.
  • Distribusi: Didistribusikan secara luas ke jaringan tubuh (dengan afinitas kuat terhadap paru-paru dan jaringan ginjal) dan cairan. Melintasi plasenta dan memasuki ASI. Ikatan protein plasma sekitar 80-95%.
  • Metabolisme: Dimetabolisme di hati dan terkonsentrasi dalam di dalam empedu.
  • Ekskresi: Sekitar 23-40% melalui urin dan 30% melalui faeces. Waktu paruh eliminasi plasma adalah 12-24 jam.

Indikasi (manfaat) obat

Doksisiklin atau obat antibiotik golongan tetrasiklin diindikasikan untuk pengobatan berbagai infeksi oleh bakteri gram positif dan gram negatif, aerob dan anaerob, seperti:

  • Infeksi yang rentan terhadap antibiotik doksisiklin.
  • Penyakit menular seksual kencing nanah (gonore) tanpa komplikasi.
  • Peradangan pada testis (epididimo-orkitis) akibat infeksi Chlamydia trachomatis atau Neisseria gonorrhoeae.
  • Penyakit menular seksual sifilis.
  • Demam kambuh dan tifus yang ditularkan melalui kutu.
  • Pencegahan (profilaksis) tifus.
  • Serangan malaria falciparum akut yang resisten terhadap klorokuin.
  • Pencegahan (profilaksis) malaria.
  • Pengobatan dan pencegahan (profilaksis) antraks inhalasi.
  • Pencegahan (profilaksis) diare saat perjalanan.
  • Pencegahan (profilaksis) leptospirosis.
  • Infeksi gusi (periodontitis).

Komposisi obat

Doksisiklin 100 mg.

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

  • Infeksi yang rentan terhadap antibiotik doksisiklin: 200 mg pada hari pertama, kemudian pada hari berikutnya 100 mg/hari.
  • Infeksi berat: 200 mg/hari.
  • Penyakit menular seksual kencing nanah (gonore) tanpa komplikasi: 100 mg/hari sebanyak 2 kali/hari selama 7 hari.
  • Peradangan ada testis (epididimo-orkitis) akibat infeksi Chlamydia trachomatis atau Neisseria gonorrhoeae: 100 mg sebanyak 2 kali/hari selama 10 hari.
  • Penyakit menular seksual sifilis: 300 mg/hari dikonsumsi selama setidaknya 10 hari.
  • Demam kambuh dan tifus yang ditularkan melalui kutu: 100 mg atau 200 mg sebagai dosis tunggal.
  • Pencegahan (profilaksis) tifus: 200 mg sebagai dosis tunggal.
  • Serangan malaria Falciparum akut yang resisten terhadap klorokuin:
    • Kombinasi dengan kina: 200 mg/hari selama minimal 7 hari.
  • Pencegahan (profilaksis) malaria: 100 mg/hari.
  • Pengobatan dan pencegahan (profilaksis) antraks inhalasi: 100 mg sebanyak 2 kali/hari selama 60 hari.
  • Pencegahan (profilaksis) diare saat perjalanan: 200 mg/hari saat awal perjalanan, kemudian 100 mg/hari.
  • Pencegahan (profilaksis) leptospirosis: 200 mg/minggu selama perjalanan, kemudian 200 mg pada hari terakhir perjalanan.
  • Jerawat: 50 mg / hari selama 6-12 minggu.
  • Infeksi gusi (periodontitis): 20 mg/hari sebanyak 2 kali/hari selama 30 hari.

Aturan pakai obat

Dikonsumsi dengan atau tanpa makanan, tablet ditelan utuh dengan segelas penuh air dengan keadaan badan tegak selama 30 menit. Konsumsi makanan atau susu jika terjadi gangguan pencernaan.

Efek samping obat

  • Diare.
  • Sakit perut atau gangguan pencernaan.
  • Pertumbuhan mikroba yang berlebihan seperti jamur.
  • Nafsu makan berkurang.
  • Perubahan warna gigi.
  • Sakit kepala.
    Cobalah beristirahatlah dan minum banyak air, konsumsi obat penghilang rasa sakit seperti parasetamol dan ibuprofen.
  • Mual dan muntah.
    Konsumsi makanan yang ringan dan tidak pedas, konsumsi doksisiklin setelah makan tapi hindari produk susu, keju, dan yoghurt karena produk susu dapat menghentikan tubuh absorpsi obat. Minumlah banyak cairan, seperti air atau mengonsumsi buah labu untuk menghindari dehidrasi yang ditandai dengan urin yang lebih sedikit dari biasanya atau memiliki urin yang berbau kuat. Jangan minum obat apa pun untuk mengobati muntah tanpa konsultasi dengan apoteker atau dokter Anda
  • Sensitif terhadap sinar matahari.
    Gunakan kacamata hitam dan pakaian yang menutupi kulit Anda. Gunakan tabir surya pada kulit Anda dengan faktor perlindungan matahari (SPF) minimal 15 (jika Anda memiliki kulit putih, Anda mungkin membutuhkan jumlah yang jauh lebih tinggi dari ini). Gunakan juga produk tabir surya pada bibir Anda.

Perhatian Khusus

  • Pasien yang memiliki penyakit kelamin yang berdampingan.
  • Pasien dengan kondisi lemah otot (myasthenia gravis).
  • Pasien yang memiliki gangguan ginjal dan hati.

Kategori kehamilan

Kategori D: Hasil penelitian menunjukkan bahwa obat ini menimbulkan risiko pada janin manusia. Penggunaan pada ibu hamil dapat dipertimbangkan jika manfaat yang diberikan melebihi risiko yang mungkin timbul pada janin. Misalnya, bila obat dibutuhkan untuk mengatasi situasi yang mengancam jiwa atau penyakit serius, di mana obat lain tidak efektif atau tidak bisa diberikan.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Pasien yang memiliki alergi terhadap komponen obat ini.
  • Anak-anak usia 8 tahun di bawah (kecuali untuk pengobatan antraks).
  • Wanita hamil dan ibu menyusui.
  • Penggunaan metoksifluran.
  • Pasien dengan gangguan hati dan ginjal.
  • Pasien yang memiliki penyakit autoimun seperti lupus.
  • Pasien dengan kondisi lemah otot (myasthenia gravis).

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

    • Berpotensi Fatal: Penggunaan bersamaan dengan metoksifluran.
      Penggunaan bersama doksisiklin dapat menyebabkan toksisitas ginjal.
    • Kontrasepsi oral.
      Penggunaan bersama doksisiklin meningkatan risiko pendarahan.
    • Obat antikoagulan seperti warfarin.
      Penggunaan bersama doksisiklin meningkatkan risiko pendarahan.
    • Obat antasida yang mengandung Al, Ca atau Mg, Zn, garam Fe, sediaan bismut, karbamazepin, fenobarbital, fenitoin, dan primidon, siklosporin.
      Penggunaan bersama doksisiklin menurunkan metabolisme dari masing-masing obat tersebut.
    • Obat-obatan yang menginduksi enzim hati seperti rifampisin.
      Penggunan bersama doksisiklin dapat menurunkan paruh doksisiklin.

Apa yang harus dilakukan jika ada dosis terlewat?

  • Masih dekat dengan jadwal sebelumnya.

Jika masih dekat dengan jadwal minum obat sebelumnya, segera konsumsi obat sesuai dosis yang terlewat.

  • Sudah mendekati jadwal berikutnya.

Jika sudah mendekati jadwal selanjutnya, maka dosis yang terlewat dapat diabaikan dan lanjutnya konsumsi obat sesuai jadwal berikutnya.

  • Jangan menggandakan dosis yang terlewat.

Jangan mengonsumsi total dosis antara yang terlewat dan dosis berikutnya, kecuali dianjurkan lain oleh dokter Anda.

  • Sering lupa mengonsumsi obat.

Jika sering lupa untuk mengonsumsi obat, cobalah untuk menggunakan pengingat (alarm) sesuai jadwal minum obat atau meminta bantuan orang lain untuk membantu mengingatkan jadwal minum obat Anda. Selain itu, alternatif lainnya yaitu menggunakan kotak obat harian yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Kapan perlu menghentikan penggunaan dan menghubungi dokter?

  • Memar atau pendarahan yang tidak jelas (termasuk mimisan), sakit tenggorokan, suhu badan tinggi (38°C atau lebih) dan Anda merasa lelah.

Hal ini dapat menjadi tanda masalah darah. Jika Anda mengalami hal tersebut hentikan penggunaan obat ini dan segera konsultasikan kepada dokter Anda.

  • Diare (mungkin disertai kram perut) yang mengandung darah atau lendir.

Jika Anda mengalami diare parah yang berlangsung lebih dari 4 hari, hentikan penggunaan obat ini dan segera konsultasikan kepada dokter Anda

  • Telinga berdering atau berdengung.

Feses pucat dengan urin berwarna gelap, kulit kuning atau area putih mata Anda menjadi kuning.
Hal tersebut dapat menjadi tanda masalah hati. Jika Anda mengalami hal tersebut hentikan penggunaan obat ini dan segera konsultasikan kepada dokter Anda.

  • Nyeri sendi atau otot yang telah dimulai sejak Anda mulai menggunakan doksisiklin.
  • Sakit kepala parah, muntah dan masalah dengan penglihatan.

Hal tersebut dapat menjadi tanda adanya tekanan di sekitar otak Anda (hipertensi intrakranial). Jika Anda mengalami hal tersebut hentikan penggunaan obat ini dan segera konsultasikan kepada dokter Anda.

  • Kuku yang keluar dari dasar kuku.
    Hal ini bisa menjadi reaksi terhadap sinar matahari yang disebut foto-onikolisis
  • Mulut, bibir, atau lidah yang bengkak.
  • Sakit parah di bagian perut dengan atau tanpa diare berdarah, mual dan muntah.

Hal tersebut bisa menjadi tanda-tanda pankreatitis. Jika Anda mengalami hal tersebut hentikan penggunaan obat ini dan segera konsultasikan kepada dokter Anda.

  • Kesulitan atau rasa sakit saat menelan, sakit tenggorokan, asam lambung naik, nafsu makan berkurang atau nyeri dada yang semakin memburuk saat Anda makan.

Hal tersebut dapat menjadi tanda-tanda peradangan (esofagitis) atau tukak esofagus.

Nhs. https://www.nhs.uk/medicines/doxycycline/ Diakses pada 3 Agustus 2020 MMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/doxycycline Diakses pada 3 Agustus 2020 Drugbank. https://www.drugbank.ca/drugs/DB00254 Diakses pada 3 Agustus 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email