Seretide diskus inhaler 50/250 mcg adalah obat yang digunakan untuk terapi reguler penyakit obstruktif saluran napas yang reversibel termasuk asma, serta terapi penyakit paru obstruktif kronis termasuk bronkitis kronik, emfisema.
Seretide diskus inhaler 50/250 mcg adalah obat yang digunakan untuk terapi reguler penyakit obstruktif saluran napas yang reversibel termasuk asma, serta terapi penyakit paru obstruktif kronis termasuk bronkitis kronik, emfisema.
Seretide diskus inhaler 50/250 mcg adalah obat yang digunakan untuk terapi reguler penyakit obstruktif saluran napas yang reversibel termasuk asma, serta terapi penyakit paru obstruktif kronis termasuk bronkitis kronik, emfisema.
Seretide diskus inhaler 50/250 mcg adalah obat yang digunakan untuk terapi reguler penyakit obstruktif saluran napas yang reversibel termasuk asma, serta terapi penyakit paru obstruktif kronis termasuk bronkitis kronik, emfisema.
Golongan obat Merah Obat keras: diharuskan menggunakan resep dokter.
Kemasan 1 diskus @ 60 dosis
Produsen Glaxo Smith Kline LLC

Seretide adalah obat untuk terapi reguler penyakit obstruktif saluran napas yang reversibel termasuk asma, serta terapi penyakit paru obstruktif kronis termasuk bronkitis kronik, emfisema. Obat ini merupakan obat keras yang membutuhkan resep dokter. obat ini mengandung zat aktif salmeterol, fluticasone propionate.

Terapi reguler penyakit obstruktif saluran napas yang reversibel termasuk asma, serta terapi penyakit paru obstruktif kronis termasuk bronkitis kronik, emfisema.

  • Salmeterol 50 mcg.
  • Fluticasone propionate 250 mcg.

Dewasa dan anak 4 tahun ke atas:

  • Penyakit Obstruksi Saluran napas: 1 Inhalasi sebanyak 2 kali/hari.
  • Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK): 1 inhalasi sebanyak 2 kali/hari.

Dihirup melalui mulut lalu dihembuskan.

  • Serak atau disfonia.
  • Sakit kepala.
  • Infeksi jamur mulut dan tenggorokan (kandidiasis).
  • Iritasi tenggorokan.
  • Jantung berdebar debar (palpitasi).
  • Tremor.
  • Pengetatan otot-otot yang melapisi saluran udara (bronkus) di paru-paru (bronkospasme paradoksikal).
  • Nyeri sendi (artralgia).
  • Kram otot.

Pasien penderita hipersensitif terhadap zat yang terkandung dalam obat ini.

  • Tidak untuk meredakan gejala asma akut.
  • Gangguan kardiovaskular berat.
  • Hipokalemia yang tidak diterapi.
  • Kondisi di mana terdapat hormon tiroid yang berlebih pada aliran darah dalam tubuh
  • (tirotosikosis).
  • Hamil
  • Laktasi.
  • Penyekat β selektif dan non selektif.
  • Penghambat CYP450 seperti: Ritonavir, eritromisin, ketokonazol.
  • MAOI.
  • Antidepresan trisiklik.
  • L-dopa.
  • L-tiroksin.
  • Oksitosin.
  • Antiaritmia.
  • Xantin.

Sesuai kemasan per Oktober 2019.

Artikel Terkait