Scopma Plus Kaplet

15 Des 2020| Maria Yuniar
Scopma Plus Kaplet adalah obat untuk mengatasi nyeri perut

Deskripsi obat

Scopma Plus kaplet adalah obat untuk mengatasi nyeri perut pada penyakit lambung atau usus halus, serta nyeri karena ketegangan otot (spastik) pada kandung empedu (traktus biliaris), organ ginjal, saluran panjang untuk mengeluarkan urine (ureter), kandung kemih (traktus urinarius), dan organ genital wanita. Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter.
Scopma Plus kaplet mengandung zat aktif hyoscine butylbromide dan paracetamol. Kombinasi zat aktif tersebut mampu mengatasi nyeri (analgesik) dengan cara merelaksasi otot polos saat terjadi kontraksi otot pada penyakit lambung, saluran empedu, hingga saluran kemih.

Scopma Plus Kaplet
Golongan ObatObat kerasObat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
HETRp 33.796/strip per Oktober 2019
Kandungan utamaHyoscine butylbromide dan paracetamol.
Kelas terapiAntispasmodik dan analgesik.
Klasifikasi obatAntagonis muskarinik.
Kemasan1 box isi 1 strip @ 10 kaplet
ProdusenIfars Pharmaceutical Laboratories

Informasi zat aktif

Hyoscine adalah obat golongan antimuskarinik yang biasa digunakan untuk mengatasi gejala penyakit Parkinson, seperti gerak yang tidak terkendali. Antimuskarinik bekerja dengan menghambat terbentuknya zat asetilkolin di otot polos saluran pencernaan, empedu dan saluran kemih, kelenjar sekretorik, serta sistem saraf pusat, sehingga dapat memberikan efek melebarkan pembuluh darah (spasmolitik).

  • Absorpsi: Diabsorpsi sekitar 8%.
  • Distribusi: Melewati sawar darah otak dan plasenta, serta memasuki ASI. Volume distribusi 128 L.
  • Metabolisme: Dimetabolisme di hati.
  • Eksresi: Melalui urine. Waktu yang dibutuhkan obat untuk dikeluarkan oleh tubuh dari separuh kadar awal obat (waktu paruh eliminasi) sekitar 5-11 jam.

Paracetamol mengurangi rasa sakit dengan meningkatkan ambang rasa sakit. Paracetamol adalah obat yang dapat menurunkan demam (antipiretik) dan meredakan nyeri (analgetik). Obat ini bekerja dengan mengurangi produksi bahan kimia yang menyebabkan terjadinya peradangan dan pembengkakan (prostaglandin) di otak.

Berdasarkan proses kerja obat dalam tubuh, paracetamol diketahui memiliki status:

  • Absorpsi: Diserap dengan baik setelah pemberian oral. Waktu saat obat mencapai kadar tertinggi dalam plasma (waktu puncak konsentrasi plasma) sekitar 10-60 menit (oral).
  • Distribusi: Disalurkan ke sebagian besar jaringan tubuh. Melintasi plasenta dan memasuki ASI. Ikatan protein plasma sekitar 10-25%.
  • Metabolisme: Terutama dimetabolisme di hati melalui konjugasi asam glukuronat dan sulfat, selanjutnya dimetabolisme melalui konjugasi dengan glutathione di hati dan ginjal.
  • Ekskresi: Terutama melalui urine, kurang dari 5% sebagai obat yang tidak berubah; 60-80% sebagai hasil dari proses metabolisme, yaitu metabolit glukuronida dan 20-30% metabolit sulfat. Waktu yang dibutuhkan obat untuk dikeluarkan oleh tubuh dari separuh kadar awal obat (waktu paruh eliminasi) sekitar 1-3 jam.

Indikasi (manfaat) obat

  • Nyeri yang sangat sering terjadi (paroksimal) pada penderita penyakit lambung atau usus halus.
  • Nyeri kejang yang terjadi pada kandung empedu, saluran kandung kemih, dan organ genital wanita saat haid atau menstruasi (dismenore).

Hyoscine butylbromide adalah obat golongan antispasmodik yang memiliki sifat relaksasi atau meredakan kram di perut, usus atau kandung kemih. Obat ini bekerja dengan cara mengendurkan otot-otot yang kram di usus. Hyoscine butylbromide mempunyai efek samping yang memicu terjadinya tekanan pada bola mata (glaukoma).
Paracetamol digunakan untuk meredakan nyeri ringan atau sedang karena masuk angin, sakit tenggorokan, sakit kepala, nyeri tubuh atau otot, kram menstruasi, artritis, atau sakit gigi. Anda juga bisa menggunakannya untuk menurunkan demam. Paracetamol mampu mengurangi pembengkakan atau peradangan dengan menghalangi pelepasan bahan kimia tertentu di otak yang menyebabkan rasa nyeri.

Komposisi obat

  • Hyoscine butylbromide 10 mg.
  • Paracetamol 500 mg.

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Dewasa: 1-2 kaplet sebanyak 3 kali/hari.
Dosis total tidak boleh melebihi 6 kaplet.

Aturan pakai obat

Ditelan utuh dengan sedikit air.

Efek samping obat

  • Mual.
    Hindari makanan yang sulit dicerna. Jangan berbaring setelah makan. Beristirahatlah dengan posisi kepala lebih tinggi dari kaki Anda. Jika Anda merasa mual saat bangun di pagi hari, makanlah daging tanpa lemak atau keju sebelum tidur. Anda juga bisa menyediakan biskuit di samping tempat tidur dan makanlah sediki sesaat setelah bangun tidur. Minumlah setidaknya enam gelas air sehari.
  • Muntah.
    Minumlah banyak air untuk menggantikan cairan yang hilang dan mencegah terjadinya dehidrasi. Dehidrasi ditandai dengan penurunan frekuensi dan jumlah urine, serta urine berwarna gelap dan berbau menyengat. Konsumsi makanan sederhana dan hindari makanan kaya rasa seperti makanan pedas.
  • Sakit kepala.
    Istirahatkan tubuh Anda agar lebih rileks. Makan dan minum secara perlahan dalam porsi lebih sedikit, tetapi lebih sering dapat membantu mengurangi efek samping ini. Anda juga bisa mengompres perut dengan bantalan panas atau botol berisi air panas.
  • Kesulitan buang air besar (konstipasi).
    Konsumsi makanan yang mengandung serat tinggi seperti sayuran dan buah segar serta sereal.
  • Kekeringan pada mulut dan kulit.
  • Jantung berdebar (palpitasi).
  • Gangguan irama jantung (aritmia).
  • Kondisi di mana jantung berdetak lebih lambat dari biasanya (bradikardia).
  • Keadaan di mana detak jantung melebihi 100 kali per menit (takikardia).
  • Gangguan penglihatan.
  • Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan hati.

Cara penyimpanan obat

Simpan pada suhu di bawah 30°C.

Perhatian Khusus

  • Dapat menyebabkan kelainan serius pada kulit, lapisan bola mata, rongga mulut, dubur, dan alat kelamin (sindrom Stevens-Johnson).
  • Hentikan penggunaan jika terjadi reaksi anafilaksis atau reaksi alergi berat.
  • Pasien yang mengalami gangguan fungsi ginjal yang berat.
  • Pasien gangguan jantung.
  • Pasien yang mengonsumsi alkohol.
  • Wanita hamil dan ibu menyusui.

Kategori kehamilan

Hyoscine butylbromide.
Kategori C: Belum terdapat penelitian terkontrol untuk penggunaan Scopma Plus kaplet pada ibu hamil. Namun, ada efek samping yang mungkin dapat mengganggu perkembangan dan pertumbuhan janin.
Oleh karena itu, penggunaannya pada ibu hamil hanya dapat dilakukan jika manfaat yang diberikan melebihi risiko yang mungkin timbul pada janin.
Konsultasikan penggunaan obat ini dengan dokter sebelum digunakan.

Paracetamol.
Kategori B: Penelitian tidak menemukan efek malformasi atau efek yang mengganggu perkembangan janin pada trimester pertama dan selanjutnya.
Studi pada reproduksi hewan telah membuktikan tingkat keamanan obat ini.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Pasien yang memiliki alergi terhadap komponen obat ini.
  • Pasien penderita gangguan fungsi hati.
  • Pasien penderita lemahnya otot tubuh akibat gangguan saraf (myasthenia gravis).
  • Pasien penderita pelebaran usus besar (megakolon).
  • Pasien penderita kerusakan mata akibat tekanan pada bola mata (glaukoma).

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Chloramphenicol.
    Penggunaan bersama paracetamol dapat meningkatkan kadar chloramphenicol dalam tubuh.
  • Metoclopramide dan domperidone.
    Jika dikonsumsi bersama obat di atas dapat meningkatkan absorpsi paracetamol, sehingga kadarnya akan meningkat,
  • Colestiramine.
    Penggunaan bersama colestiramine dapat menurunkan penyerapan paracetamol.
  • Phenobarbital, rifampisin, carbamazepin, dan phenytoin.
    Penggunaan bersama obat di atas dapat menurunkan kadar paracetamol.

Apa yang harus dilakukan jika ada dosis terlewat?

  • Masih dekat dengan jadwal sebelumnya.
    Jika masih dekat dengan jadwal menggunakan obat sebelumnya, segera gunakan obat sesuai dosis yang terlewat.
  • Sudah mendekati jadwal berikutnya.
    Jika sudah mendekati jadwal selanjutnya, dosis yang terlewat dapat diabaikan dan lanjutkan gunakan obat sesuai jadwal berikutnya.
  • Jangan menggandakan dosis yang terlewat.
    Jangan menggunakan total dosis antara yang terlewat dan dosis berikutnya, kecuali dianjurkan lain oleh dokter Anda.
  • Sering lupa mengonsumsi obat.
    Jika sering lupa menggunakan obat, cobalah menggunakan pengingat (alarm) sesuai jadwal minum obat atau mintalah bantuan orang lain mengingatkan jadwal minum obat Anda. Selain itu, alternatif lainnya yaitu menggunakan kotak obat harian sesuai kebutuhan Anda.

Kapan perlu menghentikan penggunaan dan menghubungi dokter?

Hentikan penggunaan dan hubungi dokter jika Anda mengalami reaksi alergi, seperti kesulitan bernapas dan rasa sakit pada mata.

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/paracetamol?mtype=generic
Diakses pada 26 November 2020

Drugs. https://www.drugs.com/uk/hyoscine-butylbromide-10mg-tablets-leaflet.html
Diakses pada 26 November 2020

MIMS. https://www.mims.com/philippines/drug/info/hyoscine?mtype=generic
Diakses pada 26 November 2020

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-362/acetaminophen-oral/details
Diakses pada 26 November 2020

Drugs. https://www.drugs.com/acetaminophen.html
Diakses pada 26 November 2020

Medicinet. https://www.medicinenet.com/acetaminophen/article.htm
Diakses pada 26 November 2020

MedlinePlus. https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a681004.html
Diakses pada 26 November 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email