Scopma Kaplet 10 mg

08 Jun 2020| Aby Rachman
Scopma kaplet digunakan untuk meredakan kram pada saluran pencernaan, saluran kemih, dan saluran reproduksi.

Deskripsi obat

Scopma kaplet digunakan untuk meredakan kram pada saluran pencernaan, saluran kemih, dan saluran reproduksi. Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Scopma kaplet mengandung hiosin-N-butilbromida.

Scopma Kaplet 10 mg
Golongan ObatObat kerasObat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
HETRp 104.016/box per Juni 2020
Kemasan1 box isi 10 strip @ 10 kaplet (10 mg)
ProdusenIfars Pharmaceutical Laboratories

Indikasi (manfaat) obat

  • Meredakan kram pada saluran pencernaan, saluran kemih, dan saluran reproduksi.
  • Mencegah dan mengobati nyeri haid (dismenore).

Komposisi obat

Hiosin-N-butilbromida 10 mg.

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

  • Dewasa: 1-2 kaplet sebanyak 4 kali/hari.

  • Anak-anak 6-12 tahun: 1 kaplet sebanyak 3 kali/hari.

Aturan pakai obat

Dapat dikonsumsi dengan atau tanpa makanan.

Efek samping obat

  • Mulut kering.
  • Kulit kering.
  • Kesulitan buang air besar (konstipasi).
  • Jantung berdebar-debar (palpitasi).
  • Kemerahan dan panas pada wajah.
  • Denyut jantung melambat (bradikardi).
  • Gangguan irama jantung (aritmia).
  • Detak jantung melebihi 100 kali/menit (takikardi).
  • Reaksi paradoksikal seperti gelisah dan emosi yang tidak stabil.
  • Gangguan fungsi penglihatan.

Perhatian Khusus

  • Pasien penderita gangguan fungsi ginjal.
  • Pasien yang memiliki kadar bilirubin indirek tinggi dalam darah (sindrom Gilbert).
  • Pasien penderita penyakit jantung.
  • Pasien yang mengalami peradangan pada usus besar dan rektum (kolitis ulseratif).
  • Pasien penderita kelumpuhan otot usus (ileus paralitik).
  • Pasien yang mengalami penyempitan pada bagian ujung lambung (stenosis pilorus).
  • Hindari konsumsi alkohol.
  • Wanita hamil dan menyusui.
  • Pasien lanjut usia.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Pasien penderita kelainan pembentukan heme (porfiria).
  • Pasien yang mengalami peningkatan tekanan bola mata (glaukoma).
  • Pasien yang mengalami pembesaran kelenjar prostat (hipertrofi prostat) dengan kecenderungan kesulitan mengeluarkan urin (retensi urin).
  • Pasien penderita gangguan pada saluran pencernaan.
  • Pasien yang mengalami detak jantung melebihi 100 kali per menit (takikardi).
  • Pasien yang mengalami pembesaran usus besar (megakolon).

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Antihistamin.
  • Antidepresan.
  • Kuinidin.
  • Disopiramid.
  • Alkohol.
  • Analgesik narkotik.
  • Sedatif atau hipnotik.
  • Kalium klorida.

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/scopma?type=brief&lang=id
Diakses pada 4 Juni 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email