Salbutamol adalah alat bantu hirup untuk mengobati asma dan penyakit paru
Salbutamol dapat mengatasi asma dan penyakit paru-paru

Asmacare, Azmacon, Astharol, Azmacon, Fartolin, Glisend, Grafalin, Lasal, Salbuven, Suprasma, Suprasma Nebule, Velutine, Ventolin Inhaler, Ventolin Nebule, Ventolin Tablet/Sirup

Salbutamol merupakan obat yang digunakan untuk mengobati dan mencegah bronkospasme pada penderita asma dan penyakit paru-paru. Obat ini termasuk golongan bronkodilator yang bekerja melemaskan otot-otot di saluran udara dan meningkatkan aliran udara ke paru-paru

Salbutamol (Albuterol)
Golongan

Bronkodilator (beta2-agonist dengan reaksi cepat)

Kategori obat

Obat Resep

Bentuk sediaan obat

Obat hirup (inhaler), obat infus, tablet, sirup

Dikonsumsi oleh

Dewasa dan anak-anak

Kategori kehamilan dan menyusui

Kategori C: Penelitian pada hewan percobaan menunjukkan efek buruk terhadap janin dan tidak ditemukan studi yang memadai pada manusia. Namun, mengingat efektivitasnya, penggunaannya dapat dipertimbangkan pada wanita hamil sekalipun berisiko.

Dosis obat

Dosis diberikan oleh dokter berdasarkan kondisi medis. Dosis yang diberikan mungkin bervariasi berdasarkan kondisi individu. Selama pengobatan, dokter akan melihat respon terhadap pengobatan dan melakukan penyesuaian dosis bila diperlukan.

Bronkospasme yang parah (inhalasi)

  • Dewasa: Melalui nebuliser: 2,5-5 mg, hingga 4 kali sehari, sebagai alternatif, dapat diberikan terus menerus dengan laju 1-2 mg / jam.
  • Anak: umur lebih dari 4 tahun dosis sama seperti orang dewasa.

Bronkospasme akut (inhalasi)

  • Dewasa: Sebagai aerosol dosis terukur atau inhaler serbuk kering (90 atau 100 mcg/aktuasi): 1 atau 2 kali hirup hingga 4 kali sehari. Maksimal: 800 mcg setiap hari.
  • Anak: 6-12 tahun 1 kali hirup, dapat ditingkatkan menjadi 2 kali hirup per hari jika diperlukan. Maksimal: 400 mcg setiap hari.

Asma berat akut (inhalasi)

  • Dewasa: Sebagai inhalasi dosis terukur (100 mcg / aktuasi) melalui perangkat pengatur jarak/spacer: Awalnya, 4 kali hirup sehari, kemudian 2 kali hirup sehari tambahan setiap 2 menit menurut respons. Maksimal: 10 kali hirup.

Profilaksis bronkospasme yang dipicu oleh latihan (inhalasi)

  • Dewasa: Sebagai aerosol dosis terukur atau inhalasi serbuk kering (90 atau 100 mcg / aktuasi): 2 kali hirup 15 - 15 menit sebelum latihan.
  • Anak: 6-12 tahun 1 kali hirup 10-15 menit sebelum berolahraga.

Persalinan prematur tanpa komplikasi (Intervena)

  • Dewasa: Untuk menahan persalinan prematur antara 22 dan 37 minggu kehamilan: Awalnya, 10 mcg / menit, meningkat secara bertahap pada interval 10 menit sampai ada respons; laju infus ditingkatkan perlahan sampai kontraksi berhenti. Pertahankan laju selama 1 jam setelah kontraksi berhenti, kemudian secara bertahap dikurangi hingga 50% dengan interval 6 jam. Dosis biasa: 10-45 mcg / menit. Durasi maksimal: 48 jam. Dosis sebaiknya diberikan dengan bantuan pompa syringe.

Bronkospasme Parah (intravena)

  • Dewasa: Dalam larutan 50 mcg / mL : diberikan dengan dosis 250 mcg (4 mcg / kg) disuntikkan secara perlahan. Dapat diulang jika perlu. Bila diberikan dengan larutan 10 mcg/mL diberikan dengan dosis umum 10-45 mcg/menit. Durasi pemberian maksimal 48 jam. Dosis sebaiknya diberikan dengan bantuan pompa syringe.
  • Anak: umur lebih dari 12 tahun dosis sama seperti orang dewasa.

Bronkospasme Parah (Parenteral)

  • Dewasa: IM / SC: 500 mcg (8 mcg / kg) dan diulang tiap 4 jam sesuai kebutuhan.
  • Anak: >12 tahun sama dengan dosis dewasa.

Bronkospasme akut (Oral)

  • Dewasa: 2-4 mg 3 atau 4 kali sehari, hingga 8 mg 3 atau 4 kali sehari sesuai kebutuhan pasien. Sediaan tablet yang dilepas: 8 mg 2 kali sehari.
  • Anak: 2-6 tahun 1-2 mg, umur 6-12 tahun 2 mg, umur > 12 tahun sama dengan dosis dewasa. Dosis yang diberikan 3 atau 4 kali sehari.
  • Lansia: 2 mg 3 atau 4 kali sehari

Baca petunjuk pada kemasan atau ikuti anjuran dokter sebelum mengonsumsi obat salbutamol.

Obat ini digunakan sesuai perintah dari dokter, tanyakan langsung kepada dokter Anda untuk menggunakan obat ini secara jelas.

Dosis akan diberikan sesuai kondisi medis. jangan menggunakan nya terlalu sering dan jangan berhenti menggunakan obat ini atau obat asma tanpa memberi tahu dokter karena dapat meningkatkan masalah pernafasan

Beritahu dokter jika kondisi semakin memburuk atau tidak membaik.

Di setiap pemakaian obat selalu mempunyai efek samping tertentu. Efek samping belum tentu terjadi di setiap pemakaian obat akan tetapi jika terjadi efek samping yang berlebihan, harus langsung ditangani oleh medis.

Obat salbutamol dapat menyebabkan efek samping yang sering terjadi jika dikonsumsi seperti: sakit kepala, sakit punggung, mual, muntah, diare, sakit perut, pusing, gugup, nyeri dada, dada berdebar, insomnia, reaksi alergi, konjungtivitis, hipokalemia, peningkatan keringat, gemetar, kram otot, flu. Dapat pula mengakibatkan eritema multiforme, dan sindrom steven johnson. Berpotensi fatal mengakibatkan bronkospasme paradoksikal (berulang). Jika efek samping semakin memburuk segera hubungi dokter untuk mendapatkan penanganan medis.

Segera cari bantuan medis jika terjadi efek samping jarang terjadi namun serius seperti:

Ada beberapa efek samping lain yang belum terdaftar. Jika Anda mempunyai efek lain seperti di atas , tanyakan kepada profesional perawatan kesehatan Anda.

Beritahukan dokter Anda mengenai riwayat penyakit Anda sebelumnya, terutama bila Anda memiliki riwayat atau kondisi berikut:

Kontraindikasi

Jangan mengonsumsi obat ini jika mempunyai kondisi medis seperti:

  • Penyakit jantung
  • Kehamilan

Informasi lebih lengkap bisa dilihat melalui kemasan.

Interaksi pada obat mungkin akan terjadi jika mengonsumsi beberapa obat secara bersamaan. Jika ingin menggunakan obat secara bersamaan harap konsultasi ke dokter Anda, dokter akan mengganti dosis obat tersebut jika memang harus digunakan secara bersamaan

Mengonsumsi obat salbutamol dengan obat lain secara bersamaan dapat menyebabkan beberapa interaksi seperti:

  • Dapat meningkatkan risiko hipokalemi bila digunakan bersama golongan obat yang menurunkan jumlah Kalium darah, seperti kortikosteroid, diuretik, xanthines, digoxin.
  • Meningkatkan risiko inersia uteri apabila digunakan dengan anestesi halogenasi (bius umum).
  • Dapat menimbulkan antagonis efek obat anti-diabetes.
  • Dapat meningkatkan risiko edema paru dengan kortikosteroid.
  • Kerja salbutamol dapat dipengaruhi oleh guanetidin, resepin, metildopa, golongan TCA (antidepresan trisiklik), dan MAOI (inhibitor monoamin oksidase).
  • Peningkatan risiko kardiovaskular bila digunakan dengan golongan simpatomimetik.
  • Memiliki efek antagonis dengan penghambat reseptor beta.

Informasi yang diberikan bukan sebagai pengganti konsultasi medis langsung dengan dokter atau mengarahkan pemakaian obat dengan merek tertentu. Pemakaian obat harus dengan resep dokter. Ketersediaan obat tergantung pada indikasi yang disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Wiley. https://bpspubs.onlinelibrary.wiley.com/doi/pdf/10.1111/j.1476-5381.1969.tb07975.x
Diakses pada 12 Juni 2019

Science Direct. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0022347605800514
Diakses pada 12 Juni 2019

Mayoclinic. https://www.mayoclinic.org/drugs-supplements/albuterol-inhalation-route/proper-use/drg-20073536
Diakses pada 05 Desember 2018

Drugs. https://www.drugs.com/albuterol.html
Diakses pada 05 Desember 2018

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/salbutamol/?type=brief&mtype=generic
Diakses pada 05 Desember 2018

Drugs. https://www.drugs.com/cg/bronchospasm.html
Diakses pada 12 Agustus 2019

Artikel Terkait