Rifastar kaplet obat untuk pengobatan suatu penyakit tuberculosis.
Rifastar kaplet obat untuk pengobatan suatu penyakit tuberculosis.
Rifastar kaplet obat untuk pengobatan suatu penyakit tuberculosis.
Rifastar kaplet obat untuk pengobatan suatu penyakit tuberculosis.
Golongan obat Merah Obat keras: diharuskan menggunakan resep dokter.
Kemasan 1 box isi 3 strip @ 10 kaplet
Produsen Indofarma

Rifastar adalah obat untuk pengobatan suatu penyakit infeksi menular bisa menyerang berbagai organ, terutama paru-paru (tuberkulosis) yang disebabkan oleh Mycobaterium tuberculosis. Obat ini merupakan golongan obat keras yang membutuhkan resep dokter. Rifastar mengandung rifampisin, isoniazid, pirazinamid, etambutol hidroklorida.

Pengobatan suatu penyakit infeksi menular bisa menyerang berbagai organ, terutama paru-paru (tuberkulosis) yang disebabkan oleh Mycobaterium tuberculosis.

  • Rifampisin 150 mg.
  • Isoniazid 75 mg.
  • Pirazinamid 400 mg.
  • Etambutol hidroklorida 275 mg.
  • Anak-anak dan remaja:
    • Berat badan 30-37 kg: 2 tablet/hari.
    • Berat badan 38-54 kg: 3 tablet/hari.
    • Berat badan 55-70 kg: 4 tablet/hari.
    • Berat badan 71 kg ke atas: 5 tablet/hari.

Dikonsumsi saat perut kosong (satu jam sebelum makan atau dua jam sebelum tidur).

  • Kerusakan sel-sel hati.
  • Gangguan fungsi hati dan kandung empedu: Peningkatan serum transaminase, bilirubinemia, bilirubinuria, sakit kuning, hepatitis yang parah.
  • Peningkatan serum transaminase.
  • Gangguan sistem syaraf: Neuropati perifer.
  • Gangguan pencernaan: Diare, sakit perut, mual, gangguan makan, muntah.
  • Gangguan fungsi ginjal dan saluran kemih.
  • Gangguan nutrisi dan metabolik: Hiperurikemia.
  • Gangguan pernapasan, dada, dan dinding dada.
  • Gangguan muskuloskeletal: Artralgia.
  • Gangguan kulit dan jaringan subkutan: Eritema, eksantema, pruritus dengan atau tanpa ruam, urtiakaria.
  • Pasien yang hipersensitif terhadap zat aktif atau zat tambahan obat.
  • Penderita penyakit hati akut.
  • Pasien pewarnaan kuning yang tampak pada sklera dan kulit yang disebabkan oleh penumpukan bilirubin (ikterus).
  • Penderita gangguan fungsi hati berat.
  • Penderita gangguan penglihatan akibat peradangan pada saraf mata (neuritis optik).
  • Penderita dengan kondisi kesehatan yang biasanya ditandai oleh adanya serangan akut artritis inflamatori berulang dengan gejala kemerahan, lunak yang terasa sakit dan panas pada pembengkakan sendi (gout akut).
  • Penderita HIV.
  • Pasien dengan riwayat kejang.
  • Dapat meningkatkan serum asam urat.
  • Pasien penderita gangguan ginjal.
  • Pasien penderita gangguan fungsi hati.
  • Pasien penderita gagal ginjal.
  • Pasien penderita diabetes mellitus.
  • Wanita hamil.
  • Pasien penderita kelainan genetik yang timbul akibat proses pembentukan heme yang tidak sempurna (porfiria).
  • Perubahan warna cairan tubuh.
  • Antiretroviral.
  • Antiepilepsi.
  • Imunosupresan.
  • Kumarin.
  • Kortikosteroid.

Sesuai kemasan per November 2019.

Artikel Terkait