Rexidron Tablet 200 mg

31 Agu 2020| Dea Febriyani

Deskripsi obat

Rexidron tablet adalah obat untuk mengatasi irama jantung yang tidak stabil atau tidak teratur. Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Rexidron tablet mengandung zat aktif amiodaron hidroklorida.
Rexidron Tablet 200 mg
Golongan ObatObat kerasObat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
Produk HalalYa
Kandungan utamaAmiodaron hidroklorida.
Kelas terapiAntiaritmia.
Kemasan1 box isi 3 strip @ 10 tablet (200 mg)
ProdusenNovell Pharmaceutical

Informasi zat aktif

Amiodaron atau golongan antiaritmia bekerja menghalangi saluran natrium, kalium, dan kalsium yang mengakibatkan perlambatan konduksi dan perpanjangan periode refraktori sehingga menghasilkan efek kronotropik negatif untuk menurunkan denyut jantung dengan cara mengubah irama jantung.

  • Absorpsi: Diabsorpsi secara perlahan dari saluran pencernaan.Kadar obat yang masuk ke dalam peredaran darah (ketersediaan hayati) sekitar 50% atau kisaran 35-65% dan waktu dimana obat mencapai kadar tertinggi dalam plasma (waktu puncak konsentrasi plasma) adalah 3-7 jam.
  • Distribusi: Terdistribusi secara luas dan terakumulasi dalam lemak, otot rangka, dan jaringan seperti hati, paru, dan limpa, melintasi plasenta, dan memasuki ASI. Volume distribusi 66 L/kg dengan kisaran 18-148 L/kg.
  • Metabolisme: Dimetabolisme di hati terutama oleh dalam bentuk metabolit aktif dan menjalani penyerapan kembali usus dari zat yang telah dikeluarkan empedu (resirkulasi enterohepatik).
  • Ekskresi: Diekskresi terutama melalui feses dan urin sebanyak kurang dari 1% dalam bentuk obat tidak berubah.Waktu yang dibutuhkan obat untuk dikeluarkan oleh tubuh dari separuh kadar awal obat (waktu paruh eliminasi) amiodaron adalah 58 hari atau kisaran 15-142 hari dan N-desethylamiodaron adalah 36 hari atau kisaran 14-75 hari.

Indikasi (manfaat) obat

Mengatasi:

  • Irama jantung yang tidak normal.
  • Irama jantung yang tidak stabil atau tidak teratur.

Amiodaron merupakan obat antiaritmia yang bekerja menghambat saluran natrium, kalium, dan kalsium yang menurunkan konduksi dan memperpanjang periode refraktori sehingga dapat mengubah irama jantung.

Komposisi obat

Amiodaron hidroklorida 200 mg.

 

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Dewasa:

  • Aritmia supraventrikular dan ventrikel:
    • Dosis awal: 200 mg sebanyak 3 kali/hari untuk satu minggu. Dosis dapat dikurangi menjadi 200 mg sebanyak 2 kali/hari.
    • Dosis pemeliharaan: kurang dari 200 mg/hari sesuai respon pasien.

Lansia: gunakan dosis efektif minimum.

Aturan pakai obat

  • Dikonsumsi dengan atau tanpa makanan secara konsisten.
  • Sebaiknya, konsumsi bersama makanan jika mengonsumsi amiodaron dalam dosis tinggi untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada saluran pencernaan.

Efek samping obat

  • Pengelihatan terganggu oleh cahaya terang atau penglihatan kabur.
    Jika Anda mengalami pengelihatan yang terganggu oleh cahaya yang terang atau terjadi penglihatan kabur, jangan mengemudi atau menggunakan alat atau mesin.
  • Perubahan rasa pada lidah, mimpi buruk, sulit tidur, dan tanda biru atau abu-abu di area kulit Anda yang terpapar sinar matahari.
    Jika Anda mengalami salah satu atau beberapa hal tersebut segera hubungi dokter Anda.
  • Mual dan muntah.
    Cobalah mengonsumsi makanan yang sederhada, hindari makanan yang berat atau berat dan cobalah mengonsumsi obat setelah makan.
  • Penurunan dorongan atau kinerja seks.
  • Gerakan tubuh yang tidak terkendali atau tidak biasa.
  • Kelelahan.
  • Sembelit.
  • Sulit tidur (insomnia).
  • Sakit kepala.
  • Sakit perut.

Perhatian Khusus

  • Pasien dengan implan defibrilator atau Implantable Cardioverter Defibrillator (ICD) atau alat pacu jantung.
  • Pasien dengan gagal jantung laten atau nyata.
  • Kelainan otot jantung (kardiomiopati) dekompensasi.
  • Pasien dengan tekanan darah rendah (hipotensi).
  • Pasien yang menjalani operasi.
  • Wanita hamil.
  • Lansia.

Kategori kehamilan

Kategori D: Hasil penelitian menunjukkan bahwa obat ini menimbulkan risiko pada janin manusia. Penggunaan pada ibu hamil dapat dipertimbangkan jika manfaat yang diberikan melebihi risiko yang mungkin timbul pada janin. Misalnya, bila obat dibutuhkan untuk mengatasi situasi yang mengancam jiwa atau penyakit serius, di mana obat lain tidak efektif atau tidak bisa diberikan.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Pasien dengan denyut jantung lambat (bradikardia) yang menyebabkan pingsan (sinkop).
  • Pasien yang memiliki alergi terhadap komponen obat ini termasuk yodium.
  • Pasien dengan serangan jantung.
  • Pasien dengan blok atrioventrikular derajat dua atau tiga.

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Obat antiaritmia, beta blocker, dan calcium channel blockers (CCB).
    Penggunaan bersama amiodaron meningkatkan risiko penurunan detak jantung (bradikardia).
  • Obat pencahar, diuretik, kortikosteroid sistemik.
    Penggunaan bersama amiodaron meningkatkan risiko peningkatan detak jantung (aritmia).
  • Rifampisin dan fenitoin.
    Penggunaan bersama amiodaron mengurangi efektivitas dengan inducer CYP3A4.
  • Siklosporin, klonazepam, digoksin, prokainamid, quinidin, simvastatin, dan warfarin.
    Penggunaan bersama amiodaron meningkatkan konsentrasi dari obat-obatan tersebut.

Apa yang harus dilakukan jika ada dosis terlewat?

  • Masih dekat dengan jadwal sebelumnya.
    Jika masih dekat dengan jadwal minum obat sebelumnya, segera konsumsi obat sesuai dosis yang terlewat.
  • Sudah mendekati jadwal berikutnya.
    Jika sudah mendekati jadwal selanjutnya, maka dosis yang terlewat dapat diabaikan dan lanjutnya konsumsi obat sesuai jadwal berikutnya.
  • Jangan menggandakan dosis yang terlewat.
    Jangan mengonsumsi total dosis antara yang terlewat dan dosis berikutnya, kecuali dianjurkan lain oleh dokter Anda.
  • Sering lupa mengonsumsi obat.
    Jika sering lupa untuk mengonsumsi obat, cobalah untuk menggunakan pengingat (alarm) sesuai jadwal minum obat atau meminta bantuan orang lain untuk membantu mengingatkan jadwal minum obat Anda. Selain itu, alternatif lainnya yaitu menggunakan kotak obat harian yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Kapan perlu menghentikan penggunaan dan menghubungi dokter?

Beri tahu dokter Anda jika Anda memiliki efek samping yang serius, seperti mudah memar atau mengalami perdarahan, kehilangan koordinasi, kesemutan atau mati rasa pada tangan atau kaki, gerakan tidak terkontrol, gejala gagal jantung baru atau yang memburuk seperti sesak napas, pergelangan kaki atau kakimengalami pembengkakakn, kelelahan yang tidak biasa, dan kenaikan berat badan yang tidak biasa dan secara tiba-tiba.

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/amiodarone?mtype=generic
Diakses pada 18 Agustus 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/amiodarone-oral-tablet#side-effects
Diakses pada 18 Agustus 2020

Patient. https://patient.info/medicine/amiodarone-for-irregular-heartbeats-cordarone-x#nav-4
Diakses pada 18 Agustus 2020

RxList. https://www.rxlist.com/cordarone-drug.htm#clinpharm
Diakses pada 18 Agustus 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

9 Manfaat Tahu Bagi Kesehatan Tubuh dan Mencegah Penyakit

Tahu adalah salah satu lauk favoritnya orang Indonesia. Selain tinggi protein, manfaat tahu juga untuk menurunkan risiko penyakit jantung dan diabetes, lho!
16 Sep 2019|Armita Rahardini
Baca selengkapnya
9 Manfaat Tahu Bagi Kesehatan Tubuh dan Mencegah Penyakit

Mengulik Prosedur Kateterisasi Jantung, Apa Saja Fungsinya?

Pernahkah Anda mengkhawatirkan kesehatan jantung? Kesehatan jantung memang harus senantiasa diperhatikan. Oleh karena itu, ada baiknya Anda juga mengenali prosedur kateterisasi jantung dan fungsi-fungsinya, sebagai antisipasi. Bisa jadi, Anda atau orang terdekat, akan menjalani prosedur medis ini.
03 Dec 2019|Fadli Adzani
Baca selengkapnya
Mengulik Prosedur Kateterisasi Jantung, Apa Saja Fungsinya?

Mencermati Gejala Kardiomiopati Hipertrofi atau Penebalan Otot Jantung

Kardiomiopati hipertrofi adalah penyakit otot jantung yang ditandai dengan penebalan yang tak normal. Kondisi ini bisa berbahaya karena dapat menghambat jantung memompa darah yang diperlukan tubuh. Banyak kasus kardiomiopati hipertrofik terjadi karena faktor genetik.
13 Sep 2020|Arif Putra
Baca selengkapnya
Mencermati Gejala Kardiomiopati Hipertrofi atau Penebalan Otot Jantung