Proxona Kaplet

17 Jul 2020| Lenny Tan
Golongan
Obat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
HET
Kemasan
1 box isi 20 strip @ 10 kaplet
Produsen
Harsen Laboratories

Proxona kaplet adalah obat untuk mengatasi peradangan dan alergi seperti alergi pada kulit, mata, dan saluran pernapasan. Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Proxona kaplet mengandung zat aktif deksametason dan deksklorfeniramin maleat.
Deksametason merupakan obat golongan kortikosteroid yang bekerja dengan mengurangi produksi senyawa yang menyebabkan peradangan (prostaglandin). Obat ini dapat mengobati berbagai kondisi peradangan seperti alergi, gangguan pada kulit, dan mampu menekan kekebalan tubuh.
Deksklorfeniramin maleat adalah antihistamin atau antialergi yang mampu mengatasi berbagai kondisi alergi, seperti alergi pada kulit, mata, dan saluran pernapasan. Obat ini bekerja dengan menghambat histamin yang diproduksi tubuh selama alergi.

Mengatasi berbagai kondisi alergi yang responsif terhadap kortikosteroid seperti:

  • Peradangan pada kulit yang menyebabkan kulit gatal dan kemerahan (dermatitis).
  • Gatal dan kemerahan pada mata yang disebabkan oleh alergi (konjungtivitis alergi).
  • Peradangan pada rongga hidung akibat adanya alergen atau pemicu alergi (rhinitis alergi).
  • Biduran (urtikaria).

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

  • Dewasa: 1 kaplet sebanyak 3 kali/hari.

  • Anak-anak:
    • 2-6 tahun: ¼ kaplet sebanyak 3 kali/hari.
    • 6-12 tahun: ½ kaplet sebanyak 3 kali/hari.

Dikonsumsi sesuai petunjuk dokter.

  • Sakit perut.
  • Kelemahan otot.
  • Kesulitan mengeluarkan urin (retensi urin).
  • Gangguan pada saluran pencernaan.
  • Gangguan menstruasi.
  • Sakit kepala.
  • Penglihatan kabur.
  • Gangguan pengeluaran garam dan cairan.
  • Nafsu makan meningkat.
  • Mengantuk.
  • Mulut kering.
  • Peningkatan tekanan bola mata (glaukoma).
  • Hidung tersumbat.
  • Bayi baru lahir.
  • Pasien yang mengalami luka pada dinding lambung (tukak lambung).
  • Pasien yang memiliki luka pada dinding usus 12 jari (tukak duodenum).
  • Bayi yang lahir prematur.
  • Pasien yang memiliki alergi terhadap komponen obat ini atau golongan kortikosteroid dan antihistamin lainnya.
  • Pasien penderita infeksi jamur sistemik.
  • Pasien penderita usia lanjut.
  • Pasien yang memiliki gangguan fungsi hati dan ginjal.
  • Pasien penderita kegagalan jantung dalam memompa pasokan darah yang dibutuhkan tubuh. Hal ini dikarenakan terjadi kelainan pada otot-otot jantung sehingga jantung tidak bisa bekerja secara normal (gagal jantung kongestif)
  • Pasien penderita kencing manis (diabetes melitus).
  • Hentikan penggunaan obat ini secara berangsur, jangan hentikan secara mendadak.
  • Pasien yang mengakami peningkatan tekanan bola mata (glaukoma).
  • Pasien yang memiliki tekanan darah tinggi atau di atas batas normal (hipertensi).
  • Kategori kehamilan dan menyusui:
    Kategori C. Penelitian pada hewan percobaan menunjukkan efek buruk terhadap janin dan tidak ditemukan studi yang memadai pada manusia. Namun, mengingat efektivitasnya, penggunaannya dapat dipertimbangkan pada wanita hamil sekalipun berisiko.
  • Penggunaan bersama dengan penghambat monoamin oksidase dapat meningkatkan efek obat ini.
  • Penggunaan bersama barbiturat, karbamazepin, fenotoin, dan rifampisin dapat meningkatkan metabolisme obat kortikosteroid.
  • Penggunaan bersama glikosida digitalis menyebabkan peningkatan risiko terjadinya gangguan irama jantung (aritmia).
  • Penggunaan bersama aspirin dapat meningkatkan risiko terjadinya pendarahan pada saluran pencernaan.
  • Penurunan efektivitas isoniazid.
  • Penggunaan obat ini dapat meningkatkan kadar gula dalam darah sehingga perlu dilakukan penyesuaian dosis antidiabetes.
  • Penggunaan bersama antibiotik makrolida dapat menyebabkan terjadinya peningkatan efektivitas obat ini.
  • Penggunaan bersama dengan vaksin hidup dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi.
  • Kolestiramin dan efedrin dapat menurunkan efektivitas obat ini.
  • Penggunaan bersama dengan ketokonazol dapat menurunkan efektivitas oat ini.

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/proxona
Diakses pada 15 Juli 2020

Drugs. https://www.drugs.com/dexamethasone.html
Diakses pada 15 Juli 2020

Drug. https://www.drugs.com/dexchlorpheniramine.html
Diakses pada 15 Juli 2020

Medscape. https://reference.medscape.com/drug/decadron-dexamethasone-intensol-dexamethasone-342741
Diakses pada 15 Juli 2020

Tabletwise. https://www.tabletwise.com/medicine-id/dexamethasone-dexchlorpheniramine-maleate
Diakses pada 15 Juli 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Cara Mengobati Alergi Rhinitis Tidak Harus Selalu Menggunakan Obat

Cara mengobati alergi tidak harus selalu menggunakan obat-obatan. Anda dapat menggunakan alternatif lain untuk menangani rhinitis yang ditimbulkan alergi.
18 Nov 2019|Anita Djie
Baca selengkapnya
Cara Mengobati Alergi Rhinitis Tidak Harus Selalu Menggunakan Obat

Jenis-jenis Alergi Protein Ini Perlu Anda Waspadai

Alergi protein terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi secara berlebihan terhadap protein dalam makanan yang dikonsumsi. Ada berbagai jenis alergi protein yang bisa terjadi. Apa saja?
25 Aug 2020|Dina Rahmawati
Baca selengkapnya
Jenis-jenis Alergi Protein Ini Perlu Anda Waspadai

Mengenal 7 Penyebab Jerawat Gatal dan Cara Mengatasinya

Penyebab jerawat gatal dapat bermacam-macam. Tak hanya akibat alergi ataupun fungal acne, efek samping penggunaan obat jerawat juga bisa jadi salah satu alasannya.Baca selengkapnya
Mengenal 7 Penyebab Jerawat Gatal dan Cara Mengatasinya