Proris Suspensi 60 ml

21 Des 2020| Aby Rachman
Ditinjau oleh Ajeng Prahasta
Proris suspensi adalah obat untuk menurunkan demam pada anak-anak dan meringankan nyeri

Deskripsi obat

Proris suspensi adalah obat untuk menurunkan demam pada anak-anak dan meringankan nyeri ringan hingga sedang. Obat ini termasuk dalam golongan obat bebas terbatas. Proris suspensi mengandung zat aktif ibuprofen.
Ibuprofen digunakan untuk meringankan sakit kepala, sakit gigi, kram menstruasi, dan nyeri otot, serta menurunkan demam akibat flu. Selain itu, ibuprofen juga bisa mengatasi nyeri, bengkak, dan rasa kaku akibat osteoartritis, arthritis, dan radang sendi atau rheumatoid arthritis).

Proris Suspensi 60 ml
Golongan ObatObat bebasObat bebas terbatas. Obat yang boleh dibeli secara bebas tanpa menggunakan resep dokter, namun aturan pakai serta efek sampingnya perlu diperhatikan.
Kandungan utamaIbuprofen.
Kelas terapiAnalgetik dan antipiretik.
Klasifikasi obatNon-Steroidal Anti-Inflammatory Drugs (NSAID).
Kemasan1 box isi 1 botol @ 60 ml
ProdusenPharos Indonesia

Informasi zat aktif

Ibuprofen adalah NSAID yang memiliki sifat antinyeri (analgesik), antiradang (antiinflamasi), dan penurun demam (antipiretik). Obat ini bekerja dengan menghambat enzim siklooksigenase-1 dan 2 yang dapat memproduksi prostaglandin, yaitu senyawa yang dapat menyebabkan terjadinya peradangan.

Berdasarkan proses kerja obat dalam tubuh ibuprofen diketahui memiliki status:

  • Absorpsi: Diserap dari saluran cerna, sebagian ke dalam kulit. Asupan makanan menurunkan tingkat penyerapan.
  • Distribusi: Memasuki ASI.
  • Metabolisme: Dimetabolisme di hati.
  • Ekskresi: Terutama melalui urine.

Indikasi (manfaat) obat

  • Membantu menurunkan demam pada anak-anak.
  • Meringankan rasa sakit ringan hingga sedang.
  • Mengatasi peradangan otot.

Ibuprofen mampu menghambat produksi prostaglandin, sehingga gejala peradangan, seperti pembengkakan, nyeri, atau demam akan berkurang.

Komposisi obat

Tiap 5 ml: ibuprofen 100 mg.

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Dewasa, untuk meringankan nyeri: 2 sendok takar 5 ml (10 ml) sebanyak 3-4 kali/hari.

Anak-anak:

  • 1-2 tahun: ½ sendok takar 5 ml (2,5 ml) sebanyak 3-4 kali/hari.
  • 3-7 tahun: 1 sendok takar 5ml sebanyak 3-4 kali/hari.
  • 8-12 tahun: 2 sendok takar 5 ml (10 ml) sebanyak 3-4 kali/hari.

Aturan pakai obat

Dikonsumsi setelah makan.

Efek samping obat

  • Kesulitan buang air besar (sembelit).
    Konsumsilah lebih banyak makanan berserat tinggi, seperti buah, sayuran segar, dan sereal, serta minumlah banyak air. Lakukan olahraga dengan berjalan-jalan atau berlari setiap hari. Jika ini tidak membantu, segera hubungi dokter atau apoteker.
  • Diare.
    Minumlah sedikit air, tetapi dalam waktu yang sering. Bicaralah dengan apoteker jika Anda memiliki tanda-tanda dehidrasi, seperti buang air kecil lebih jarang dari biasanya, atau urine berwarna gelap dan berbau menyengat. Jangan minum obat lain untuk mengobati diare tanpa berbicara dengan dokter atau apoteker.
  • Mual.
    Hindari makanan yang sulit dicerna. Jangan berbaring setelah makan. Beristirahatlah dengan posisi kepala lebih tinggi dari kaki Anda. Jika Anda merasa mual saat bangun di pagi hari, makanlah daging tanpa lemak atau keju sebelum tidur. Anda juga bisa menyediakan biskuit di samping tempat tidur dan makanlah sedikit sesaat setelah bangun tidur. Minumlah setidaknya enam gelas air sehari.
  • Muntah.
    Minumlah banyak air untuk menggantikan cairan yang hilang dari dalam tubuh dan mencegah dehidrasi. Kondisi dehidrasi ditandai dengan penurunan frekuensi dan jumlah urine, atau urine berwarna gelap dan berbau menyengat. Hindari konsumsi makanan pedas.
  • Pusing.
    Jika Anda mulai merasa pusing, baringkan tubuh Anda agar tidak pingsan. Duduklah sampai Anda merasa lebih baik. Berhati-hatilah saat mengemudi atau mengoperasikan mesin jika Anda mengalami efek samping ini.
  • Cemas.
  • Telinga berdenging.
  • Nyeri lambung.
  • Perut kembung.
  • Ruam pada kulit.
  • Penyempitan saluran pernapasan (bronkospasme).
  • Penurunan kadar trombosit dalam darah.
  • Penurunan kadar limfosit dalam darah.
  • Meningkatkan tekanan darah (hipertensi).

Cara penyimpanan obat

Simpan pada suhu di bawah 30°C dan jauhkan dari jangkauan anak-anak. Setelah kemasan dibuka, obat hanya boleh disimpan selama 14 hari.

Perhatian Khusus

  • Pasien penderita penyakit jantung.
  • Pasien tekanan darah tinggi (hipertensi).
  • Pasien dengan kolesterol tinggi.
  • Pasien penderita kencing manis (diabetes).
  • Pasien yang merokok.
  • Pasien dengan riwayat serangan jantung, stroke, atau pembekuan darah.
  • Pasien dengan riwayat maag atau perdarahan pada lambung.
  • Pasien dengan kondisi asma.
  • Pasien penderita penyakit hati atau ginjal.
  • Wanita hamil dan ibu menyusui.
  • Pasien penderita asma.
  • Pasien dengan kelainan darah.

Kategori kehamilan

Kategori C: Belum terdapat penelitian terkontrol untuk penggunaan Proris suspensi pada ibu hamil. Namun, ada efek samping yang mungkin dapat mengganggu perkembangan dan pertumbuhan janin.
Oleh karena itu, penggunaannya pada ibu hamil hanya dapat dilakukan jika manfaat yang diberikan melebihi risiko yang mungkin timbul pada janin.
Konsultasikan penggunaan obat ini dengan dokter sebelum digunakan.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Anak-anak berusia di bawah 1 tahun.
  • Pasien penderita luka pada dinding lambung (tukak lambung).
  • Pasien yang mengalami alergi terhadap ibuprofen.
  • Penderita yang bila menggunakan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) akan timbul gejala asma, peradangan dalam rongga hidung (rhinitis), atau biduran (urtikaria).

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Obat penurun tekanan darah tinggi (antihipertensi).
    Ibuprofen dapat meningkatkan tekanan darah jika digunakan bersama obat antihipertensi.
  • Obat penghilang rasa sakit dan peradangan (antiinflamasi).
    Penggunaan ibuprofen bersama antiinflamasi dapat meningkatkan risiko perdarahan pada lambung.
  • Aspirin.
    Pasien yang mengonsumsi aspirin dosis rendah untuk pengencer darah sebaiknya tidak mengonsumsi ibuprofen karena akan mengurangi efektivitas obat pengencer darah tersebut.
  • Digoxin.
    Ibuprofen dan digoxin bersama-sama dapat meningkatkan tekanan darah.
  • Lithium.
    Obat ini digunakan untuk beberapa gangguan mental. Ibuprofen dapat mempersulit tubuh menghilangkan lithium, sehingga dapat menyebabkan keracunan.
  • Methotrexate.
    Ibuprofen dapat mempersulit tubuh menghilangkan methotrexate dalam tubuh. Tingginya kadar methotrexate dalam tubuh dapat menyebabkan efek samping, seperti mual dan kehilangan nafsu makan.
  • Tacrolimus.
    Obat ini terutama digunakan setelah transplantasi organ untuk menghentikan sistem kekebalan tubuh menolak organ baru. Ibuprofen dengan tacrolimus dapat menyebabkan kerusakan ginjal.
  • Inhibitor reuptake serotonin selektif (SSRI) atau obat antidepresan.
    Jenis obat antidepresan, seperti citalopram, fluoxetine, paroxetine dan sertraline, yang diminum bersama ibuprofen dapat meningkatkan risiko perdarahan.
  • Obat antikoagulan atau pengencer darah, seperti warfarin.
    Mengonsumsi ibuprofen dengan warfarin dapat mengurangi efek antikoagulan, sehingga dapat menyebabkan terjadinya pembekuan darah.

Apa yang harus dilakukan jika ada dosis terlewat?

  • Masih dekat dengan jadwal sebelumnya.
    Jika masih dekat dengan jadwal minum obat sebelumnya, segera konsumsi obat sesuai dosis yang terlewat.
  • Sudah mendekati jadwal berikutnya.
    Jika sudah mendekati jadwal selanjutnya, dosis yang terlewat dapat diabaikan dan lanjutkan konsumsi obat sesuai jadwal berikutnya.
  • Jangan menggandakan dosis yang terlewat.
    Jangan mengonsumsi total dosis antara yang terlewat dan dosis berikutnya, kecuali dianjurkan lain oleh dokter Anda.
  • Sering lupa mengonsumsi obat.
    Jika sering lupa mengonsumsi obat, cobalah menggunakan pengingat (alarm) sesuai jadwal minum obat atau mintalah bantuan orang lain mengingatkan jadwal minum obat Anda. Selain itu, alternatif lainnya yaitu menggunakan kotak obat harian sesuai kebutuhan Anda.

Kapan perlu menghentikan penggunaan dan menghubungi dokter?

Hentikan penggunaan dan hubungi dokter jika Anda mengalami:

  • Perubahan penglihatan.
  • Sesak napas.
  • Pembengkakan atau penambahan berat badan yang cepat.
  • Ruam pada kulit.
  • Tanda-tanda perdarahan perut, seperti feses berdarah, batuk darah atau muntah yang terlihat seperti bubuk kopi.
  • Masalah hati dengan gejala mual, sakit perut bagian atas, gatal, perasaan lelah, gejala seperti flu, kehilangan nafsu makan, urine berwarna gelap, tinja berwarna tanah liat, dan penyakit kuning.
  • Masalah ginjal, seperti sedikit atau tidak ada buang air kecil, nyeri saat buang air kecil, bengkak di kaki atau pergelangan kaki, dan merasa lelah atau sesak napas.
  • Sel darah merah rendah (anemia) yang ditandai dengan kulit pucat, merasa pusing atau sesak napas, detak jantung cepat, dan kesulitan berkonsentrasi.
  • Terjadi reaksi kulit parah, seperti demam, sakit tenggorokan, bengkak di wajah atau lidah, rasa terbakar di mata, serta nyeri kulit diikuti ruam kulit yang menyebar (terutama di wajah atau tubuh bagian atas), juga menyebabkan kulit melepuh dan mengelupas.

Sesuai kemasan per April 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/can-tylenol-kill-you#overdose-symptoms
Diakses pada 10 Desember 2020

Health Navigator. https://www.healthnavigator.org.nz/medicines/i/ibuprofen/
Diakses pada 10 Desember 2020

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-5166-9368/ibuprofen-oral/ibuprofen-oral/details
Diakses pada 10 Desember 2020

Drugs. https://www.drugs.com/ibuprofen.html
Diakses pada 10 Desember 2020

MedlinePlus. https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a682159.html
Diakses pada 10 Desember 2020

Medical News Today/ ccounts.google.com/ServiceLogin/signinchooser?service=mail&passive=true&rm=false&continue=https%3A%2F%2Fmail.google.com%2Fmail%2F&ss=1&scc=1<mpl=default<mplcache=2&emr=1&osid=1&flowName=GlifWebSignIn&flowEntry=ServiceLogin
Diakses pada 10 Desember 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email