Atofar Tablet 10 mg

30 Des 2019| Aby Rachman

Deskripsi obat

Atofar tablet 10 mg adalah obat untuk menurunkan kadar kolesterol jahat dan lemak dalam darah serta meningkatkan kolesterol baik. Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Atofar tablet mengandung zat aktif atorvastatin.
Atofar Tablet 10 mg
Golongan ObatObat kerasObat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
HETRp 154.000/strip per Oktober 2019
Produk HalalYa
Kandungan utamaAtorvastatin.
Kelas terapiAgen dislipidemia.
Klasifikasi obatThienopyridine
Kemasan1 box isi 3 strip @ 10 tablet (10 mg)
ProdusenPratapa Nirmala

Informasi zat aktif

Atorvastatin merupakan obat yang termasuk dalam golongan statin. Atorvastatin bekerja secara selektif dan kompetitif menghambat HMG-CoA reduktase untuk menghasilkan mevalonat. Pengurangan hasil produksi mevalonate menjadi stimulasi pemecahan molekul menjadi lebih sederhadana (katabolisme) LDL, akibatnya menurunkan kadar kolesterol jahat seperti LDL.

Berdasarkan proses kerja obat dalam tubuh, atorvastatin diketahui memiliki status:

  • Absorpsi: Diserap dengan cepat dari saluran pencernaan. Kadar obat yang masuk ke dalam peredaran darah (ketersediaan hayati) sekitar 12-14% dan waktu dimana obat mencapai kadar tertinggi dalam plasma (waktu konsentrasi puncak plasma) selama1-2 jam.
  • Distribusi: Volume distribusi kira-kira 381 L. Pengikatan protein plasma sebesar 98% ke atas.
  • Metabolisme: Dimetabolisme di hati, menjalani metabolisme jalur pertama yang ekstensif di mukosa gastrointestinal dan hati.
  • Ekskresi: Terutama melalui empedu; melalui urin (<2% sebagai obat tidak berubah). Waktu yang dibutuhkan obat untuk dikeluarkan oleh tubuh dari separuh kadar awal obat (waktu paruh eliminasi) kira-kira selama 14 jam.

Indikasi (manfaat) obat

  • Diet tambahan untuk mengurangi kolesterol total, LDL, apolipoprotein b, dan trigliserida pada pasien hiperkolesterolemia primer, hiperlipidemia campuran, hiperkolesterolemia heterozigot, dan homozigot familial.
  • Pencegahan komplikasi penyakit yang berkaitan dengan jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular)
  • Mengurangi risiko penyakit jantung koroner fatal dan serangan jantung (infark miokard).
  • Mengurangi risiko stroke.
  • Mengurangi risiko prosedur memperbaiki aliran darah arteri koroner yang tersumbat (revaskularisasi) dan nyeri dada (angina pektoris).

Atorvastatin bekerja dengan memperlambat produksi kolesterol dalam tubuh untuk menurunkan jumlah kolesterol yang menumpuk pada dinding arteri dan menghalangi aliran darah ke jantung, otak, dan bagian tubuh lainnya, dengan menurunkan kadar kolesterol dan lemak dalam darah dapat mencegah terjadinya penyakit jantung, nyeri dada (angina), stroke, dan serangan jantung. Atorvastatin merupakan salah satu obat yang termasuk dalam golongan statin.

Komposisi obat

 

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Dewasa:

  • Hiperkolesterolemia heterozigot familial, dislipidemia campuran, dan hiperkolesterolemia nonfamilial:
    • Dosis awal: 10 atau 20 mg sebanyak 1 kali/hari. Dosis dapat disesuaikan sesuai dengan respon pada interval 2-4 minggu.
    • Dosis umum: 10-80 mg sebanyak 1 kali/hari.
    • Dosis maksimal: 80 mg/hari.
    • Pasien yang membutuhkan penurunan kolesterol LDL sebanyak 45% ke atas: dosis dimulai pada 40 mg sebanyak 1 kali/hari.
  • Mencegah terjadinya penyakit kardiovaskular pada pasien berisiko tinggi:
    • Dosis awal pencegahan primer: 10 mg/hari. Dosis dapat ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan untuk mencapai kadar kolesterol LDL yang seharusnya.

Anak-anak 10-17 tahun:

  • Hiperkolesterolemia heterozigot familial:
    • Dosis awal: 10 mg sebanyak 1 kali/hari. Dosis dapat disesuaikan sesuai respon pada interval 4 minggu.
    • Dosis umum: 10 mg sebanyak 1 kali/hari.
    • Dosis maksimal: 20 mg/hari.

Aturan pakai obat

Dapat dikonsumsi dengan atau tanpa makanan. Hindari konsumsi jus anggur secara berlebihan (lebih dari 1 liter/hari).

Efek samping obat

  • Sakit tenggorokan.
    Cobalah berkumur dengan air asin hangat atau gunakan parasetamol atau ibuprofen untuk meringankan rasa sakit atau ketidaknyamanan. Jika gejala ini berlangsung lebih dari satu minggu, konsultasikan kepada apoteker atau dokter.
  • Sakit kepala.
    Pastikan untuk beristirahat yang cukup dan konsumsi banyak cairan. Hindari mengonsumsi alkohol. Mintalah apoteker untuk rekomendasikan obat penghilang rasa sakit. Sakit kepala biasanya akan hilang setelah minggu pertama mengonsumsi atorvastatin. Jika sakit kepala berlangsung lebih dari seminggu atau semakin memburuk segera hubungi dokter Anda.
  • Munculnya gejala pilek.
    Cobalah untuk konsumsi parasetamol atau ibuprofen secara teratur selama beberapa hari. Jika gejala kembali setelah berhenti mengonsumsi obat penghilang rasa sakit, konsultasikan kepada dokter Anda.
  • Mual atau gangguan pencernaan.
    Tetaplah konsumsi makanan sederhana dan jangan mengonsumsi makanan pedas. Cobalah untuk meminum obat ini setelah makan mungkin akan membantu mengurangi efek samping ini. Jika Anda terus mengalami gejala gangguan pencernaan, tanyakan apoteker Anda untuk merekomendasikan antasida. Hubungi dokter Anda jika gejala Anda berlanjut selama lebih dari beberapa hari atau jika semakin parah.
  • Sakit atau nyeri pada punggung dan persendian.
    Jika mengalami nyeri otot yang tidak biasa, kelemahan atau kelelahan yang bukan disebabkan karena latihan atau kerja keras, konsultasikan ke dokter. Mungkin Anda memerlukan tes darah untuk memeriksa penyebabnya. Anda juga dapat meminta rekomendasi obat penghilang rasa sakit kepala apoteker.
  • Kesulitan buang air besar (konstipasi) atau perut kembung.
    Konsumsi makanan yang mengandung serat tinggi seperti sayur, buah segar, sereal, dan konsumsi banyak air putih. Cobalah lebih teratur berolahraga, seperti berjalan kaki atau lari Jika ini tidak membantu, konsultasikan kepada dokter atau apoteker.
  • Diare.
    Konsumsi banyak air untuk menghindari terjadinya dehidrasi. Dehidrasi ditandai dengan penurunan frekuensi dan jumlah buang air kecil yang lebih sedikit dari biasanya atau urin yang berarna gelap dan berbau tajam.
  • Mimisan.
    Cobalah untuk mengolesi vaselin tipis-tipis pada tepi dalam bagian hidung.

Perhatian Khusus

  • Anak-anak.
  • Pasien yang mengalami kerusakan atau kematian jaringan otot rangka.
  • Pasien yang mengalami pembedahan mayor.
  • Pasien dengan gangguan metabolisme berat.
  • Pasien penderita gangguan ginjal.
  • Pasien yang mengalami stroke baru-baru ini.
  • Pasien yang mengonsumsi alkohol.
  • Pasien penderita penyakit kencing manis (diabetes melitus).
  • Pasien penderita kelainan otot herediter.
  • Pasien yang mengalami serangan iskemik sementara.
  • Pasien yang mengalami infeksi akut berat.
  • Pasien yang memiliki kadar tiroid yang rendah dalam tubuh (hipotiroidisme).
  • Pasien yang mengonsumsi obat klaritromisin, itrakonazol, fosamprenavir, ritonavir, plus darunavir, fosamprenavir, atau saquinavir, elbasvir atau grazoprevir, boceprevir, dan nelfinavir.
  • Pasien yang mengalami kejang yang tidak dapat terkontrol.

Kategori kehamilan

Kategori X: Penggunaan atofar tabet tidak disarankan pada ibu hamil. Penelitian menunjukkan adanya dampak berupa kelainan pada janin, mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin, serta risiko efek sampingnya lebih besar pada wanita hamil daripada manfaatnya. Konsultasikan dengan dokter sebelum mengonsumsi obat ini. Khususnya bagi ibu hamil pada trimester pertama, harus lebih berhati-hati mengingat efek sampingnya dapat mengganggu perkembangan dan pertumbuhan organ janin.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Wanita hamil dan ibu menyusui.
  • Pasien yang mengonsumsi obat siklosporin, asam fusidat sistemik, telaprevir, glekaprevir, pibrentasvir, dan kombinasi tipranavir atau ritonavir.
  • Pasien yang memiliki alergi terhadap atorvastatin.
  • Pasien penderita penyakit hati.

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Kombinasi siklosporin, telaprevir, glekaprevir/pibrentasvir, dan tipranavir/ritonavir.
    Penggunaan atorvastatin dan obat-obat di atas dapat menyebabkan terjadinya peningkatan risiko gangguan otot (miopati) serta kerusakan dan kematian jaringan otot rangka (rhabdomyolysis).
  • Rifampisin, efavirenz, fenitoin, antasida Al atau Mg, dan kolestipol.
    Penggunaan atorvastatin dengan obat di atas dapat menyebabkan penurunan kadar dari atorvastatin dalam plasma sehingga efektivitas atorvastatin akan berkurang.
  • Asam fusidat sistemik.
    Penggunaan atorvastatin bersama atau dalam 7 hari setelah penggunaan asam fusidat sistemik dapat menyebabkan terjadinya kerusakan dan kematia jaringan otot rangka yang fatal (rhabdomyolysis).
  • Digoksin dan kontrasepsi oral seperti norethindron dan etinil estradiol.
    Atorvastatin dapat menyebabkan peningkatan kadar serum digoksin dan kontrasepsi oral sehingga dapat menyebabkan risiko terjadinya efek samping.
  • Penghambat protease HIV dan HCV, itrakonazol, ketokonazol, klaritromisin, eritromisin, verapamil, diltiazem, femofibrat, gemfibrozil, kombinasi ezetimib, niasin, dan ritikina.
    Penggunaan atorvastatin dan obat-obat di atas dapat menyebabkan terjadinya peningkatan risiko gangguan otot (miopati) serta kerusakan dan kematian jaringan otot rangka (rhabdomyolysis).

Apa yang harus dilakukan jika ada dosis terlewat?

  • Masih dekat dengan jadwal sebelumnya.
    Jika masih dekat dengan jadwal minum obat sebelumnya, segera konsumsi obat sesuai dosis yang terlewat.
  • Sudah mendekati jadwal berikutnya.
    Jika sudah mendekati jadwal selanjutnya, maka dosis yang terlewat dapat diabaikan dan lanjutnya konsumsi obat sesuai jadwal berikutnya.
  • Jangan menggandakan dosis yang terlewat.
    Jangan mengonsumsi total dosis antara yang terlewat dan dosis berikutnya, kecuali dianjurkan lain oleh dokter Anda.
  • Sering lupa mengonsumsi obat.
    Jika sering lupa untuk mengonsumsi obat, cobalah untuk menggunakan pengingat (alarm) sesuai jadwal minum obat atau meminta bantuan orang lain untuk membantu mengingatkan jadwal minum obat Anda. Selain itu, alternatif lainnya yaitu menggunakan kotak obat harian yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Kapan perlu menghentikan penggunaan dan menghubungi dokter?

  • Jika terdapat ruam kulit dengan bercak merah muda hingga merah, terutama di telapak tangan atau telapak kaki.
  • Jika mengalami sakit perut yang parah bisa menjadi tanda masalah pankreas.
  • Jika Anda mengalami nyeri otot, kelemahan otot atau kram otot bisa menjadi tanda terjadinya kerusakan otot dan kerusakan ginjal. Jika mengalami kulit kuning atau sklera mata menjadi kekuningan, feses pucat dan urin berwarna gelap bisa menjadi tanda terjadinya gangguan pada hati.
  • Jika mengalami batuk, sesak napas, dan penurunan berat badan bisa menjadi tanda penyakit paru-paru.

Sesuai kemasan per Oktober 2019

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/clopidogrel
Diakses pada 25 September 2020

Nhs. https://www.nhs.uk/medicines/clopidogrel/
Diakses pada 25 September 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Sering Muncul di Berita, Apa Artinya ODP, PDP, dan Suspect Virus Corona?

ODP, PDP, dan suspect adalah istilah untuk mengelompokkan orang-orang yang dilacak rentan terhadap risiko infeksi virus Corona (COVID-19). Apa beda arti dari ODP dan PDP?
14 Jul 2020|Nina Hertiwi Putri
Baca selengkapnya
Sering Muncul di Berita, Apa Artinya ODP, PDP, dan Suspect Virus Corona?

Hati-hati! Batuk Kering Terus-Menerus Tanda Penyakit Serius

Batuk kering terus menerus tidak boleh diremehkan karena bisa jadi ada masalah kesehatan yang serius, seperti kanker paru-paru, GERD, hingga infeksi saluran pernapasan atas.
14 May 2019|Anita Djie
Baca selengkapnya
Hati-hati! Batuk Kering Terus-Menerus Tanda Penyakit Serius

Jangan Diremehkan, Sakit Perut Bagian Bawah pada Pria Bisa Jadi Tanda 5 Penyakit Ini

Penyebab sakit perut bagian bawah pada pria dapat menandakan suatu gejala penyakit tertentu, seperti radang usus buntu, hernia inguinal, torsio testis, dan radang prostat. Jadi, jangan remehkan jika Anda mengalaminya dan segeralah periksa ke dokter.
03 May 2019|Nina Hertiwi Putri
Baca selengkapnya
Jangan Diremehkan, Sakit Perut Bagian Bawah pada Pria Bisa Jadi Tanda 5 Penyakit Ini