Ponsamic Tablet 500 mg

08 Jan 2020| Dea Febriyani
Golongan
Obat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
HET
Kemasan
1 box isi 10 strip @ 10 tablet (500 mg)
Produsen
Guardian Pharmatama
Ponsamic tablet adalah obat yang digunakan untuk mengobati berbagai nyeri ringan hingga sedang seperti sakit kepala dan sakit gigi. Obat ini merupakan golongan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Ponsamic tablet mengandung zat aktif asam mefenamat.

Asam mefenamat mengikat reseptor prostaglandin sintetase COX-1 dan COX-2, menghambat kerja sintetase prostaglandin. Reseptor yang berperan sebagai mediator utama terjadinya peradangan, sehingga gejala peradangan seperti demam dan nyeri akan berkurang. Obat ini mampu meringankan rasa nyeri seperti sakit gigi, sakit kepala, nyeri otot, dan mengatasi peradangan. sehingga mampu meredakan nyeri ringan hingga sedang seperti:

  • Sakit gigi.
  • Sakit kepala.
  • Nyeri setelah operasi.
  • Nyeri sendi.
  • Nyeri otot.
  • Nyeri haid (dismenore).
  • Peradangan sendi (osteoarthritis).
  • Pendarahan menstruasi dengan jumlah yang berlebih dan dalam waktu yang lebih lama (menorrhagia).
  • Nyeri dan peradangan akibat gangguan fungsi pada otot, saraf, sendi, tendon, tulang belakang, dan ligamen (gangguan muskuloskeletal).
  • Peradangan sendi yang disebabkan sistem kekebalan tubuh yang menyerang jaringannya sendiri (rheumatoid arthritis).

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Dewasa dan anak-anak 14 tahun ke atas:

  • Dosis awal: 500 mg.
  • Dosis lanjutan: 250 mg/6 jam.
    Obat dapat dikonsumsi maksimal selama 7 hari.
Sebaiknya dikonsumsi dengan makanan atau dikonsumsi sesudah makan.
  • Reaksi alergi berat (reaksi anafilaksis).
  • Gangguan kesulitan mengeluarkan urin (retensi urin).
  • Anemia.
  • Kelebihan kadar kalium dalam darah (hiperkalemia).
  • Terjadinya peningkatan jumah eosinofil dalam darah (eosinofilia).
  • Penurunan jumlah sel darah putih dalam tubuh (leukopenia).
  • Penurunan jumlah trombosit dalam tubuh (trombositopenia).
  • Kegagalan sumsum tulang membentuk granulosit (agranulositosis).
  • Sesak napas.
  • Telinga berdering (tinnitus).
  • Diare.
  • Mual.
  • Muntah.
  • Nyeri pada perut.
  • Kesulitan buang air besar (konstipasi).
  • Dada terasa nyeri atau panas akibat naiknya asam lambung ke kerogkongan (heartburn).
  • Peradangan pada dinding lambung (gastritis).
  • Hepatitis.
  • Perubahan pada warna kulit atau sklera mata yang menjadi kekuningan (jaundice).
  • Peningkatan enzim hati.
  • Asma.
  • Gatal pada kulit.
  • Gatal pada sebagian atau seluruh tubuh (pruritus).
  • Biduran (urtikaria).
  • Kemerahan pada kulit.
  • Reaksi alergi pada kulit yang ditandai dengan timbulnya ruam akibat infeksi (eritema multiformis).
  • Peningkatan tekanan darah (hipertensi).
  • Gangguan kesulitan tidur (insomnia).
  • Pasien yang memiliki alergi terhadap komponen obat ini.
  • Pasien dengan riwayat mengalami pendarahan pada saluran pencernaan akibat penggunaan obat aintiinflamasi non-steroid (NSAID).
  • Pasien yang mengalami pengencangan otot-otot yang melapisi saluran udara (bronkus) di paru-paru (bronkospasma), peradangan yang terjadi pada rongga hidung akibat reaksi alergi (rhinitis alergi), biduran (urtikaria) atau obat non steroid karena dapat menyebabkan terjadinya sensititvitas silang (cross sensitivity) akibat penggunaan antiinflamasi non-steroid (NSAID).
  • Pasien penderita gagal jantung.
  • Pasien dengan riwayat asma.
  • Pasien yang memiliki luka pada dinding lambung (tukak lambung) dan usus 12 jari (ulkus duodenum).
  • Pasien penderita peradangan pada saluran pencernaan.
  • Pasien penderita gangguan fungsi ginjal yang berat.
  • Wanita hamil pada trimester terakhir.
  • Pasien penderita peradangan pada usus besar (gastritis).
  • Pasien penderita tekanan darah tinggi (hipertensi).
  • Pasien dengan kondisi di mana kadar lipid atau lemak dalam darah meningkat tinggi (hiperlipidemia).
  • Pasien penderita kencing manis (diabetes melitus).
  • Pasien penderita gagal jantung.
  • Pasien yang mengalami dehidrasi.
  • Pasien yang mengalami penurunan jumlah darah dan cairan dalma tubuh secara drastis (hipovolemia).
  • Pasien penderita gagal ginjal dan hati.
  • Pasien lanjut usia.
  • Risiko pada sistem pembuluh darah.
  • Penggunaan obat anti inflamasi non steroid seperti meloxicam dapat meningkatkan risiko kejadian penyumbatan pembuluh darah jantung, serangan jantung (infark miokard), maupun stroke yang dapat berakibat fatal.
  • Gangguan jantung.
  • Risiko gangguan jantung dapat meningkat seiring dengan lama penggunaan obat. Pasien dengan riwayat gangguan jantung memiliki risiko kekambuhan yang lebih besar.
  • Nyeri paska operasi.
  • Penggunaan obat ini dikontraindikasikan untuk pasien yang mengalami nyeri paska operasi arteri koroner (coronary artery bypass graft)
  • Efek toksik pada hati.
  • Dapat meningkatkan kadar SGOT atau SGPT pada hati.
    • Furosemid dan hidroklortiazid.
      Penggunaan bersama asam mefenamat dapat menurunkan efek pengeluaran air seni pada obat diuretik furosemid dan hidroklortiazid.
    • Siklosporin dan takrolimus.
      Siklosporin dan takrolimus dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan fungsi pada ginjal (nefrotoksisitas).
    • Lithium.
      Meningkatan kadar lithium dalam plasma dan penurunan ekskresi lithium pada ginjal.
    • Digoksin dan metotreksat.
      Asam mefenamat dapat meningkatjan serum digoksin dan metotreksat, sehingga terjadi peningkatkan risiko terjadinya keracunan.
    • ACE inhibitor, antagonis angiotensin II, dan beta blocker.
      Asam mefenamat dapat mengurangi efek penurunan tekanan darah pada obat tekanan darah tinggi (antihipertensi).
    • Obat antiinflamasi nonsteroid lain atau salisilat seperti aspirin, obat penghambat proses pembekuan darah (antikoagulan) seperti warfarin.
      Obat di atas dapat meningkatkan risiko terjadinya perdarahan.
MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/mefenamic%20acid?mtype=generic Diakses pada 20 Juli 2020 DrugBank. https://www.drugbank.ca/drugs/DB00784 Diakses pada 20 Juli 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Persendian Sakit Bisa Jadi Tanda Chikungunya dan Rheumatoid Arthritis, Apa Bedanya?

Persendian sakit dapat menjadi penanda berbagai penyakit, seperti chikungunya dan rematik (rheumatoid arthritis). Persendian sakit membuat penderitanya tidak nyaman karena sendi membengkak dan terasa nyeri.
08 Aug 2019|Dina Rahmawati
Baca selengkapnya
Persendian Sakit Bisa Jadi Tanda Chikungunya dan Rheumatoid Arthritis, Apa Bedanya?

Sering Dialami Lansia, Kenali Cara Mengatasi Pengapuran Tulang Berikut

Pengapuran tulang kerap dialami oleh lansia akibat dari proses penggunaan sendi dalam jangka waktu lama. Kondisi ini bisa dicegah dengan gaya hidup sehat
22 Oct 2019|Nina Hertiwi Putri
Baca selengkapnya
Sering Dialami Lansia, Kenali Cara Mengatasi Pengapuran Tulang Berikut

3 Penyebab Sering Sakit Kepala yang Mungkin Menimpa Anda

Sering sakit kepala dapat merupakan pertanda adanya masalah pada pembuluh darah di otak. Beberapa penyakit yang menyebabkan sering sakit kepala, antara lain hipertensi dan tumor otak.
16 May 2019|Giovanni Jessica
Baca selengkapnya
3 Penyebab Sering Sakit Kepala yang Mungkin Menimpa Anda