Planotab Tablet

10 Jul 2020| Dina Rahmawati
Golongan
Obat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
HET
Kemasan
1 box isi 20 strip @ 28 tablet
Produsen
Triyasa Nagamas Farma

Planotab tablet adalah kontrasepsi oral. Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Planotab tablet mengandung zat aktif levonorgestrel dan etinil estradiol.
Levonorgestrel adalah progestin yaitu bentuk sintetik dari hormon progesteron. Levonorgestrel adalah obat yang dapat mencegah kehamilan atau obat kontrasepsi darurat yang digunakan untuk mencegah kehamilan sebtelah berhubungan seksual tanpa pelindung.
Etinil estradiol adalah estrogen semisintetik yang bekerja seperti hormon estrogen dalam tubuh, obat ini biasa dikombinasikan dengan progestin atau progesteron.
Levonorgesterel dan etinil estradiol merupakan kombinasi kontrasepsi oral yang bekerja dengan mencegah indung telur melepaskan sel telur agar tidak dibuahi oleh sperma serta dapat mengubah lapisan rahim untuk mencegah nempelnya sel telur pada rahim.

Kontrasepsi oral untuk mencegah kehamilan.

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

  • Dosis: 1 tablet sebanyak 1 kali/hari.
    Penggunaan awal: Tunggu hingga periode haid berikutnya datang. Setelah haid datang, segera konsumsi obat dari bagian strip yang berwarna hijau, sesuai dengan dimulainya dari hari haid pertama. Lanjutkan mengonsumsi pil setiap hari sesuai dengan petunjuk tanda panah hingga semua pil dalam strip habis.

Dikonsumsi sejak hari pertama menstruasi dan lanjutkan mengonsumsi hingga pil habis, ikuti tanda panah yang ada dalam strip.

  • Mual.
  • Perubahan suasana hati atau mood.
  • Muntah.
  • Mual.
  • Sakit kepala sebelah (migrain).
  • Pendarahan diluar siklus haid.
  • Sakit kepala.
  • Peningkatan tekanan darah tinggi (hipertensi).
  • Pembengkakan pada organ akibat adanya penumpukan cairan dalam jaringan (edema).
  • Peningkatan atau penurunan berat badan.
  • Timbulnya bercak-bercak gelap pada kulit (hiperpigmentasi kulit).
  • Peningkatan produksi minyak dan timbulnya jerawat.
  • Tidak mengalami menstruasi (amenorrhea).
  • Gangguan metabolisme karbohidrat.
  • Gangguan metabolisme lemak dan lipoprotein.
  • Gangguan pada sirkulasi dan peredaran darah.
  • Penurunan jumlah sel darah merah, dan gangguan pembekuan darah.
  • Pada penggunaan dosis besar dapat menyebabkan kecacatan pada janin (teratogenik).
  • Payudara menjadi lunak.
  • Pasien penderita peradangan pembuluh darah vena (tromboflebitis).
  • Pasien yang memiliki bekuan darah yang bergerak melalui pembuluh darah (tromboemboli).
  • Pasien yang mengalami stroke atau gangguan aliran darah ke otak.
  • Pasien penderita tekanan darah tinggi yang berat (hipertensi berat).
  • Pasien penderita gangguan fungsi hati.
  • Pasien penderita anemia hemolitik kronik.
  • Pasien yang mengalami pendarahan pada genital yang tidak diketahui penyebabnya.
  • Pasien yang tidak mengalami haid selama 3 siklus atau lebih (amenorrhea).
  • Pasien penderita kanker payudara.
  • Pasien yang mengalami pembentukan jaringan baru dari pertumbuhan sel tubuh (neoplasia).
  • Pasien yang sedang atau ingin hamil.
  • Jika metode kontrasepsi oral ini digunakan untuk pertama kali, selama 14 hari pertama harus menggunakan tambahan cara pencegahan kehamilan tanpa hormon.
  • Hentikan penggunaan jika muncul gejala penggumpalan darah (tromboembolitik).
  • Pada pasien yang merokok dapat menyebabkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular.
  • Wanita berusia 35 tahun ke atas diharuskan berhenti merokok jika mengonsumsi kontrasepsi oral ini.
  • Penggunaan kontrasepsi oral ini dapat meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung (infark miokard), terbentuknya bekuan darah yang bergerak pada pembuluh darah (tromboemboli), penyakit serebrovaskular, stroke, hepatik neoplasia, kanker payudara, kanker pada lapisan rahim bagian dalam (endometrium), ovarium, dan kanker serviks, penyakit kelenjar gondok, peningkatan tekanan darah tinggi (hipertensi).
  • Pasien penderita tekanan darah tinggi (hipertensi).
  • Pasien yang memiliki kadar lemak dalam darah (hiperlipidemia), lakukan pemantauan kadar LDL.
  • Pasien yang memiliki kelebihan berat badan (obesitas).
  • Pasien penderita kencing manis (diabetes melitus).
  • Selama mengonsumsi obat ini, lakukan pemantauan tekanan darah, payudara, dan tes-tes laboratorium secara berkala.
  • Hentikan penggunaan jika terjadi penyakit kuning.
  • Wanita dengan riwayat depresi.
  • Hentikan penggunaan jika mengalami gangguan penglihatan seperti penglihatan kabur.
  • Hentikan penggunaan jika mengalami depresi yang serius.

Jika dikonsumsi bersama rifampisin, barbiturat, fenilbutazon, natrium fenitoin, dan ampisilin mampu menyebabkan peningkatan risiko terjadinya perdarahan.

Sesuai kemasan per Juli 2020

Medscape. https://reference.medscape.com/drug/altavera-seasonique-levonorgestrel-oral-ethinyl-estradiol-342762#4
Diakses pada 9 Juli 2020

Drugs. https://www.drugs.com/mtm/ethinyl-estradiol-and-levonorgestrel.html
Diakses pada 9 Juli 2020

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-1058-967/levonorgestrel-ethinyl-estradiol-oral/levonorgestrel-ethinyl-estradiol-non-cyclic-contraceptive-oral/details
Diakses pada 9 juli 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Mengungkap 10 Mitos dan Fakta Mengenai Seks dan Kehamilan

Mitos dan fakta mengenai seks dan kehamilan mungkin masih jadi misteri bagi banyak orang. Tidak semua anggapan yang kerap Anda dengar itu benar. Anda mesti tahu mana yang termasuk mitos dan mana yang benar-benar fakta, supaya bisa terhindar dari kehamilan yang tidak direncanakan.
29 Oct 2019|Armita Rahardini
Baca selengkapnya
Mengungkap 10 Mitos dan Fakta Mengenai Seks dan Kehamilan

Setelah Melahirkan Belum Haid, Bolehkah KB?

Setelah melahirkan belum haid, bolehkah KB? Mungkin banyak ibu yang ingin menunda kehamilan kedua setelah melahirkan, jadi tidak ada salahnya untuk mengetahui kapan sebaiknya penggunaan KB dilakukan!
15 Oct 2020|Fadli Adzani
Baca selengkapnya
Setelah Melahirkan Belum Haid, Bolehkah KB?

7 Pilihan Alat Kontrasepsi untuk Ibu Menyusui

Anda bisa menjalankan metode menyusui sebagai pilihan untuk menjalankan keluarga berencana (KB). Namun, metode ini hanya efektif enam bulan setelah persalinan. Ada beberapa pilihan KB yang dapat Anda gunakan, salah satunya adalah Pil KB.
03 May 2019|Maria Yuniar
Baca selengkapnya
7 Pilihan Alat Kontrasepsi untuk Ibu Menyusui

Penyakit Terkait