Pidovix Tablet 75 mg

16 Agu 2020| Dea Febriyani
Golongan
Obat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
HET
Kemasan
1 box isi 3 strip @ 10 tablet (75 mg)
Produsen
Lapi Laboratories

Pidovix tablet adalah obat yang untuk mencegah pembekuan darah yang menyebabkan berkurangnya aliran darah menuju jantung (sindrom koroner akut) sehingga dapat terjadi serangan jantung dan mencegah pembekuan darah (tromboemboli). Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Pidovix tablet mengandung zat aktif klopidogrel.

  • Mencegah risiko terjadi serangan jantung.
  • Mengatasi kondisi jantung yang tidak mendapat aliran darah dan oksigen yang cukup (angina tidak stabil).
  • Mencegah risiko stroke.
  • Mencegah risiko penyumbatan pembuluh darah pada tungkai kaki (arteri perifer).
  • Mencegah risiko pendaraah saat tindakan operasi jantung atau pembuluh darah.

Klopidogrel adalah obat golongan antiplatelet yaitu pengencer darah bekerja secara selektif dan ireversibel menghambat ikatan adenosin difosfat (ADP) pada reseptor P2Y12 sehingga menghambat aktivasi glikoprotein IIb / IIIa yang dimediasi adenosin difosfat (ADP) untuk mencegah pembekuan darah (agregasi platelet).

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

  • Pembekuan darah (tromboemboli):
    • Pasien penderita serangan jantung (infark miokard), stroke karena penyumbatan pembukuh darah ke otak (stroke iskemik), dan penyumbatan pembuluh darah pada tungkai kaki (arteri perifer): 75 mg/hari.
    • Pasien penderita Atrial fibrilasi yang memiliki setidaknya satu faktor risiko vaskular, tidak cocok menjalankan pengobatan dengan obat antagonis vitamin K, dan memiliki risiko perdarahan rendah: 75 mg/hari dikombinasi dengan aspirin.
  • Berkurangnya aliran darah menuju jantung (sindrom koroner akut):
    • Dewasa usia di bawah 75 tahun:
      • Pasien penderita serangan jantung STEMI (ST-segment Elevation Myocardial Infarction): 300 mg yang dilanjutkan dengan 75 mg/hari. Pengobatan dimulai sedini mungkin saat terjadi gejala dan selama 4 minggu.
      • Pasien penderita serangan jantung NSTEMI (Non-ST-segment Elevation Myocardial Infarction): 300 mg yang dilanjutkan dengan 75 mg/hari dikombinasi dengan asam asetil salisilat 75-325 mg/hari. Dosis asam asetil salisilat yang lebih tinggi memiliki risiko perdarahan yang tinggi maka direkomendasikan dosis asam asetil salisilat tidak boleh lebih tinggi dari 100 mg.
  • Lansia usia di atas 75 tahun:
    • Pasien penderita serangan jantung STEMI (ST-segment Elevation Myocardial Infarction): 75 mg/hari.

Dikonsumsi dengan atau tanpa makanan.

  • Diare, mual, muntah.
    Cobalah minum banyak air dan konsultasikan kepada profesional kesehatan Anda jika memiliki gejala dehidrasi seperti warna urin yang gelap dan bau yang menyengat. Jangan mengonsumsi obat diare tanpa izin dokter.
  • Pecahnya salah satu pembuluh darah (hemoragik): Pendarahan, mimisan, dan luka yang mudah terjadi pendarahan atau pendarahan yang berlangsung lama.
    Hati-hati dalam melakukan aktivitas yang dapat menyebabkan cedera atau terluka, selalu menggunakan helm ketika bersepeda, gunakan sarung tangan saat menggunakan benda tajam seperti gunting, pisau, dan alat berkebun, gunakan alat pencukur elektronik, gunakan sikat gigi yang lembut dan benang gigi.
  • Nyeri atau sakit perut.
    Cobalah tenang dan istrirahat, makan dan minum perlahan dengan porsi kecil dan lebih sering. Cobalah menggunaan handuk hangat atau botol air yang berisi air hangat ke atas perut untuk meringankan rasa sakitnya. Namun, jika Anda merasa sangat kesakitan, segera hubungi dokter Anda.
  • Gangugan pencernaan dan dada terasa terbakar atau nyeri.
    Konsumsi klopidogrel beberapa menit sebelum atau sesudah makan, dan jika rasa sakit pada saluran cerna tidak kunjung hilang, dapat menjadi gejala tukak lambung. Segera hubungi dokter Anda untuk mengatasi masalah tersebut.
  • Reaksi alergi obat: kulit kemerahan, pembengkakan (angioedema), dan gangguan pembekuan darah (hemofilia).
  • Pasien yang alergi terhadap komponen obat ini.
  • Pasien penderita perdarahan patologis aktif: luka pada lapisan mukosa usus kecil (ulkus peptikum) atau pendarahan tulang tengkorak (perdarahan intrakranial).
  • Pasien penderita gangguan ginjal.
  • Ibu menyusui.
  • Pasien penderita gangguan hati dan ginjal.
  • Pasien penderita gangguan pengenceran darah.
  • Pasien penderita gangguan pendarahan atau yang memilik risiko pendarahan seperti sehabis operasi.
  • Pasien dengan pendarahan di saluran cerna (gastrointestinal) dan penderita tekanan pada bola mata (intraokular).
  • Lansia.
  • Wanita hamil.
  • Ibu menyusui.
  • Aspirin, antikoagulan, antiplatelet, Non-Steroidal Anti-Inflammatory Drugs (NSAID), trombolitik, inhibitor glikoprotein IIb atau IIa, Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI).
    Pengunaan bersama klopidogrel meningkatkan risiko pendarahan.
  • Obat inhibitor enzim CYP2C19: espmeprazol, omeprazol, fluvoksamin, moklobemid, tiklopidin, karbamazepin, efavirenz.
    Pengunaan bersama klopidogrel menurunkan efek pencencer darah (antiplatelet).
  • Repaglidin dan paklitaxel.
    Pengunaan bersama klopidogrel meningkatkan konsentrasi substrat CYP2C8.
  • Obat antagonis opioid: morfin.
    Pengunaan bersama klopidogrel menunda dan menurunkan aktivitas absorpsi.

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/clopidogrel
Diakses pada 28 Juli 2020

Nhs. https://www.nhs.uk/medicines/clopidogrel/
Diakses pada 28 Juli 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Sebagai Pasien, Perlukah Kita Memahami Cara Membaca EKG?

Setelah menjalani tes EKG (elektrokardiogram), Anda mungkin mengalami kebingungan bagaimana cara membaca EKG. Sebaiknya Anda berkonsultasi ke dokter untuk memahami hasil tes EKG.
31 Oct 2019|Anita Djie
Baca selengkapnya
Sebagai Pasien, Perlukah Kita Memahami Cara Membaca EKG?

Penyakit Tidak Menular Ini Sering Berujung pada Kematian

Beberapa jenis penyakit tidak menular bisa menjadi penyebab kematian utama di dunia. Misalnya, serangan jantung, stroke, kanker, dan banyak lagi. Jenis-jenis penyakit ini cenderung memiliki kesamaan faktor risiko. Ada faktor risiko yang memang tidak bisa diubah, tapi tetap ada faktor risiko yang bisa diubah demi mencegah terjadinya penyakit mematikan ini.
23 Sep 2019|Armita Rahardini
Baca selengkapnya
Penyakit Tidak Menular Ini Sering Berujung pada Kematian

Sindrom Metabolik, Sepaket Gejala Penyakit Jantung, Stroke, dan Diabetes

Sindrom metabolik menyebabkan tekanan darah dan gula darah meningkat, penumpukan lemak perut, hingga kolesterol di atas rata-rata. Kondisi ini dapat dicegah dengan mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat.
01 Apr 2020|Azelia Trifiana
Baca selengkapnya
Sindrom Metabolik, Sepaket Gejala Penyakit Jantung, Stroke, dan Diabetes