Phenytoin

04 Feb 2019| Olivia
Phenytoin bekerja pada jaringan saraf otak untuk menghentikan kejang

Penderita epilepsi menggunakan obat ini untuk mencegah kejang

Daftar merek obat yang beredar di Indonesia

Curelepz, Decatona, Dilantin, Ikaphen, Kutoin, Phenytoin Sodium, Phenitin, Zentropil

Deskripsi obat

Phenytoin merupakan obat yang digunakan untuk mencegah kejang pada penderita epilepsi. Obat ini termasuk golongan antikonvulsan yang bekerja pada jaringan saraf otak untuk menghentikan kejang.

Phenytoin (Fenitoin)
Golongan

Antikonvulsan

Kategori obat

Obat resep

Bentuk sediaan obat

Kapsul dan suntik

Dikonsumsi oleh

Dewasa dan anak-anak

Kategori kehamilan dan menyusui

Kategori D: Telah ditemukan bukti positif adanya risiko terhadap janin, namun penggunaan oleh wanita hamil dapat dipertimbangkan apabila ada manfaat dari penggunaan obat (Contoh: obat diperlukan dalam situasi mengancam jiwa atau pada penyakit serius dimana obat yang lebih aman tidak dapat digunakan atau tidak efektif).

Dosis obat

Dosis diberikan oleh dokter berdasarkan kondisi medis. Dosis yang diberikan mungkin bervariasi berdasarkan kondisi individu. Selama pengobatan, dokter akan melihat respons terhadap pengobatan dan melakukan penyesuaian dosis bila diperlukan.

Oral
Epilepsi

  • Dewasa: Awalnya, 3-4 mg/kg per hari atau 150-300 mg per hari, jika diperlukan dapat ditingkatkan secara progresif menjadi 600 mg per hari dengan selang waktu 7-10 hari. Dosis pemeliharaan: 200-500 mg per hari.
  • Anak: Awalnya, 5 mg/kg sehari dalam 2-3 dosis terbagi. Maksimal: 300 mg per hari. Dosis pemeliharaan: 4-8 mg/kg sehari dalam dosis terbagi.

Intravena
Kejang tonik-klonik status epilepticus

  • Dewasa: Sebagai fenitoin Na: Sebagai tambahan pada terapi benzodiazepine (misalnya diazepam): 10-15 mg/kg diberikan dengan injeksi lambat atau infus intermiten dengan kecepatan tidak lebih dari 50 mg/menit. Dosis pemeliharaan: 100 mg IV (atau per oral) diberikan tiap 6-8 jam.
  • Anak: 15–20 mg/kg dengan kecepatan tidak melebihi 1-3 mg/kg/menit.

Efek samping obat

Efek samping dapat terjadi pada pemakaian obat-obatan. Efek samping yang bersifat serius harus segera mendapatkan penanganan medis. Efek samping yang umum terjadi pada pemakaian obat phenytoin, antara lain: sakit kepala, mual, muntah, konstipasi, pusing, dan sulit tidur. Jika efek samping semakin memburuk segera hubungi dokter untuk mendapatkan penanganan medis.

Segera cari bantuan medis jika terjadi efek samping berikut:

  • Gangguan keseimbangan/koordinasi
  • Penglihatan kabur/gangguan penglihatan
  • Gangguan bicara
  • Kesemutan pada kaki atau tangan

Ada beberapa efek samping lain yang belum terdaftar. Jika Anda mengalami gejala selain yang disebutkan di atas, konsultasikan pada dokter Anda.

Perhatian Khusus

Beritahukan dokter mengenai riwayat penyakit Anda sebelumnya, terutama bila Anda memiliki riwayat atau kondisi berikut:

  • Penyakit jantung
  • Gangguan hati dan ginjal
  • Hipotiroidisme
  • Kehamilan dan menyusui

Jangan mengonsumsi obat ini jika mempunyai kondisi medis, seperti:

  • Kerusakan pada sumsum tulang
  • Gangguan irama jantung

Informasi lebih lengkap bisa dilihat pada kemasan.

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

Interaksi pada obat mungkin akan terjadi jika mengonsumsi beberapa obat secara bersamaan. Jika ingin menggunakan obat secara bersamaan dengan obat ini harap konsultasikan terlebih dahulu ke dokter Anda, dokter akan mengganti dosis obat tersebut jika memang harus digunakan secara bersamaan

Mengonsumsi obat phenytoin dengan obat lain secara bersamaan dapat menyebabkan beberapa interaksi, seperti:

  • Dapat meningkatkan kadar serum dengan amiodarone
  • Dapat menurunkan kadar serum albendazole, ciclosporin, dan digoxin
  • Dapat meningkatkan efektivitas amprenavir bila diberikan kombinasi fosamprenavir dan ritonavir

Informasi yang diberikan bukan sebagai pengganti konsultasi medis langsung dengan dokter, atau mengarahkan pemakaian obat dengan merek tertentu. Pemakaian obat harus dengan resep dokter. Ketersediaan obat tergantung pada indikasi yang disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/drugs-supplements/phenytoin-oral-route/description/drg-20072875
diakses pada 30 November 2018.

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/phenytoin/?type=brief&mtype=generic
diakses pada 30 November 2018.

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-4159-1057/phenytoin-oral/phenytoin-suspension-oral/details
diakses pada 30 November 2018.

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Penanganan Kejang pada Ibu Hamil yang Perlu Anda Ketahui

Kejang selama kehamilan adalah kondisi akibat kenaikan tekanan darah tinggi yang menyebakan kejang. Kondisi ini berbahaya karena pasokan oksigen ke janin alami penurunan.
03 May 2019|Nina Hertiwi Putri
Baca selengkapnya
Penanganan Kejang pada Ibu Hamil yang Perlu Anda Ketahui

Mengenal Berbagai Penyebab Epilepsi dan Faktor Risikonya

Penyebab epilepsi dapat berbeda pada setiap pengidapnya. Mulai dari pengaruh genetik, gangguan pada otak, hingga penyakit menular bisa jadi penyebabnya.
15 Nov 2019|Arif Putra
Baca selengkapnya
Mengenal Berbagai Penyebab Epilepsi dan Faktor Risikonya

Petit Mal, Kejang Sekejap yang Kerap Dialami Anak-Anak

Petit mal atau absans adalah kejang yang paling sering terjadi pada anak-anak. Disebut petit karena kejang ini berlangsung sangat cepat, kurang dari 15 detik. Bahkan, gejala kejang ini bisa sama sekali tidak terlihat. Meski demikian, petit mal bisa berbahaya jika menyebabkan seseorang hilang kesadaran.
24 Jul 2020|Azelia Trifiana
Baca selengkapnya
Petit Mal, Kejang Sekejap yang Kerap Dialami Anak-Anak