Penmox Kaplet 500 mg

31 Agu 2020| Ajeng Prahasta

Deskripsi obat

Penmox kaplet adalah obat untuk mengobati berbagai infeksi bakteri seperti infeksi saluran kemih, saluran pernapasan, dan infeksi kulit. Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Penmox kaplet mengandung zat aktif amoksisilin.
Penmox Kaplet 500 mg
Golongan ObatObat kerasObat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
Produk HalalYa
Kandungan utamaAmoksisilin.
Kelas terapiAntiinfeksi.
Klasifikasi obatPenisilin.
Kemasan1 box isi 10 strip @ 10 kaplet (500 mg)
ProdusenCoronet Crown

Informasi zat aktif

Amoksisilin adalah antibiotik golongan penisilin, amoksisilin menghambat langkah transpeptidasi akhir dari sintesis peptidoglikan di dinding sel bakteri dengan mengikat ke 1 atau lebih protein pengikat penisilin (PBP), sehingga menghambat biosintesis dinding sel yang mengakibatkan lisis bakteri.

Bedasarkan proses kerja obat dalam tubuh, amoksisilin diketahui memiliki status:

  • Absorpsi: Diserap dengan cepat dan sempurna dari saluran pencernaan. Waktu untuk konsentrasi plasma puncak selama 1-2 jam.
  • Distribusi: Tersebar luas ke jaringan dan cairan tubuh. Melintasi plasenta dan memasuki ASI (jumlah kecil). Pengikatan protein plasma sekitar 20%.
  • Metabolisme: Menjalani metabolisme hati parsial dan diubah menjadi asam penicilloic.
  • Ekskresi: Melalui urin (60% sebagai obat tidak berubah) dan feses. Waktu paruh plasma sekitar 1-1,5 jam.

Indikasi (manfaat) obat

Mengobati berbagai infeksi seperti:

Amoksisilin merupakan kelas antibiotik beta-laktam. Obat ini bekerja dengan mengikat protein pengikat penisilin yang menghambat proses yang disebut transpeptidasi, yang mengarah ke aktivasi enzim autolitik di dinding sel bakteri. Proses ini menyebabkan lisis pada dinding sel, dan akan merusak sel bakteri.

Komposisi obat

Amoksisilin 500 mg.

 

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Dewasa:

  • Infeksi yang rentan: 250-500 mg/8 jam atau 500-875 mg/12 jam.
  • Gonore tanpa komplikasi: 3 g dalam dosis tunggal bersama probenecid.
  • Abses gigi: 3 g, diulangi setelah 10-12 jam.
  • Tonsilitis atau faringitis: 775 mg/hari, dikonsumsi selama 10 hari.
  • Pencegahan endokarditis: 2 g dalam dosis tunggal, 1 jam sebelum melakukan pembedahan.
  • Infeksi saluran napas yang parah dan berulang: 3 g.
  • Infeksi H. pylori: 750-1000 mg /hari.

Aturan pakai obat

Dapat dikonsumsi dengan atau tanpa makanan. Dapat dikonsumsi dengan makanan untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada saluran pencernaan.

Efek samping obat

  • Mual.
    Tetaplah mengonsumsi makanan sederhana dan jangan makan makanan terlalu banyak atau pedas. Mungkin membantu untuk mengambil amoksisilin setelah makan atau ngemil.
  • Diare.
    Konsumsi banyak cairan untuk menghindari terjadinya dehidrasi. Tanda-tanda dehidrasi antara lain buang air kecil lebih sedikit dari biasanya atau urin berbau tajam. Jangan minum obat lain untuk mengobati diare tanpa berbicara dengan apoteker atau dokter.
  • Gangguan saluran pencernaan.
  • Reaksi alergi.

Perhatian Khusus

  • Pasien penderita gangguan sumsum tulang dalam memproduksi sel darah putih yang terlalu banyak (leukimia limfatik).
  • Dapat menyebabkan terjadinya peradangan pada usus yang berat (kolitis berat).
  • Pada penggunaan obat ini dalam jangka panjang lakukan pemeriksaan ginjal, fungsi hati, dan tes darah selama terapi.
  • Pasien penderita gagal ginjal.
  • Wanita hamil dan ibu menyusui.

Kategori kehamilan

Kategori B: Penelitian tidak menemukan efek malformasi atau efek yang mengganggu perkembangan janin pada trimester pertama dan selanjutnya. Studi pada reproduksi hewan telah membuktikan tingkat keamanan obat ini.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Pasien yang memiliki alergi terhadap antibiotik golongan beta laktam seperti sefalosporin dan penisilin.
  • Pasien yang mengalami infeksi virus Epstein-Barr (EBV) yang dapat ditularkan melalui droplet atau liur saat batuk maupun bersin (mononukleosis).

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Allopurinol.
    Penggunaan amoksisilin dan allopurinol dapat meningkatkan risiko terjadinya reaksi alergi.
  • Kontrasepsi oral.
    Amoksisilin menurunkan efektivitas kontrasepsi oral.
  • Warfarin.
    Amoksisilin dapat meningkatkan efek antikoagulan sehingga dapat menyebabkan risiko terjadinya perdaragan.
  • Kloramfenikol, makrolida, sulfonamid, dan tetrasiklin.
    Obat di atas dapat mengganggu efek bakterisidal dari amoksisilin.
  • Probenesid.
    Probenecid dapat meningkatkan waktu paruh amoksilin dalam plasma sehingga dapat menyebabkan terjadinya toksisitas atau gangguan pada hati dan ginjal.

Apa yang harus dilakukan jika ada dosis terlewat?

  • Masih dekat dengan jadwal sebelumnya.
    Jika masih dekat dengan jadwal minum obat sebelumnya, segera konsumsi obat sesuai dosis yang terlewat.
  • Sudah mendekati jadwal berikutnya.
    Jika sudah mendekati jadwal selanjutnya, maka dosis yang terlewat dapat diabaikan dan lanjutnya konsumsi obat sesuai jadwal berikutnya.
  • Jangan menggandakan dosis yang terlewat.
    Jangan mengonsumsi total dosis antara yang terlewat dan dosis berikutnya, kecuali dianjurkan lain oleh dokter Anda.
  • Sering lupa mengonsumsi obat.
    Jika sering lupa untuk mengonsumsi obat, cobalah untuk menggunakan pengingat (alarm) sesuai jadwal minum obat atau meminta bantuan orang lain untuk membantu mengingatkan jadwal minum obat Anda. Selain itu, alternatif lainnya yaitu menggunakan kotak obat harian yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Kapan perlu menghentikan penggunaan dan menghubungi dokter?

  • Memar atau perubahan warna kulit, nyeri sendi atau otot yang muncul setelah 2 hari minum obat, ruam kulit dengan bercak merah melingkar.
  • Jika mengalami diare yang disertai kram perut, diare yang mengandung darah atau lendir. Jika Anda mengalami diare parah selama lebih dari 4 hari.
  • Kotoran pucat dengan urin berwarna gelap, menguningnya kulit atau bagian putih mata Anda merupakan tanda terjadinya masalah hati atau kandung empedu.

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/penmox-penmox%20forte?type=brief&lang=id
Diakses pada 18 Agustus 2020

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/amoxicillin
Diakses pada 18 Agustus 2020

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-1531-3295/amoxicillin-oral/amoxicillin-oral/details
Diakses pada 18 Agustus 2020

MedlinePlus. https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a685001.html
Diakses pada 18 Agustus 2020

Nhs. https://www.nhs.uk/medicines/amoxicillin/
Diakses pada 18 Agustus 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Serupa Tapi Tak Sama, Ini Perbedaan Gejala Coronavirus dan Flu Biasa

Gejala coronavirus atau COVID-19 dan flu bisa memiliki gejala yang hampir sama jika tidak segera diperiksa. Keduanya sama-sama disebabkan oleh virus yang menyerang saluran pernapasan manusia.Baca selengkapnya
Serupa Tapi Tak Sama, Ini Perbedaan Gejala Coronavirus dan Flu Biasa

Mengenal Obat Herbal Pneumonia yang Aman Dikonsumsi

Obat herbal pneumonia dapat Anda gunakan untuk mengurangi gejala dan melengkapi kebutuhan pengobatan medis yang telah diberikan oleh dokter di rumah sakit.
08 Aug 2019|Azelia Trifiana
Baca selengkapnya
Mengenal Obat Herbal Pneumonia yang Aman Dikonsumsi

Wabah Difteri Muncul Lagi, Kenali Penyebab dan Pencegahannya

Wabah difteri kembali menghantui masyarakat Indonesia. Meski merupakan infeksi penyakit menular dan bisa mengancam nyawa, penyakit difteri dapat dicegah melalui imunisasi.Baca selengkapnya
Wabah Difteri Muncul Lagi, Kenali Penyebab dan Pencegahannya