Paratenza Suspensi 60 ml

Ditinjau oleh Ajeng Prahasta
Paratenza suspensi adalah obat untuk mengurangi batuk dan flu.

Deskripsi obat

Paratenza suspensi adalah obat untuk mengurangi batuk dan flu. Obat ini termasuk dalam golongan obat bebas terbatas. Paratenza suspensi mengandung zat aktif parasetamol, pseudoefedrin hidroklorida, dekstrometorfan hidrobromida, dan klorfeniramin maleat.
Paratenza Suspensi 60 ml
Golongan ObatObat bebasObat bebas terbatas. Obat yang boleh dibeli secara bebas tanpa menggunakan resep dokter, namun aturan pakai serta efek sampingnya perlu diperhatikan.
HETRp 15.587/botol (60 ml) per November 2019
Produk HalalYa
Kandungan utamaParasetamol, pseudoefedrin hidrokloria, dekstrometorfan hidrobromida, dan klorfeniramin maleat.
Kelas terapiParasetamol, pseudoefedrin hidrokloria, dekstrometorfan hidrobromida, dan klorfeniramin maleat.
Klasifikasi obatObat batuk dan flu. Analgesik non-opioid. Dekongestan. Antitusif.
Kemasan1 box isi 1 botol @ 60 ml
ProdusenIfars Pharmaceutical Laboratories

Informasi zat aktif

Kategori C: Belum terdapat penelitian terkontrol untuk penggunaan paratenza sirup pada ibu hamil, namun ada efek samping yang mungkin dapat mengganggu perkembangan dan pertumbuhan janin. Oleh karena itu, penggunaannya pada ibu hamil hanya dapat dilakukan jika manfaat yang diberikan melebihi risiko yang mungkin timbul pada janin. Konsultasikan penggunaan obat ini dengan dokter sebelum digunakan.

Indikasi (manfaat) obat

  • Meringankan gejala flu seperti demam, sakit kepala, hidung tersumbat, dan bersin-bersin yang disertai batuk tidak berdahak.

Parasetamol bekerja dengan penghambatan sintesis prostaglandin di SSP sehingga akan memberikan efek analgesik dengan peningkatan ambang nyeri dan memberikan efek antipiretik melalui tindakan langsung pada pusat pengatur panas hipotalamus untuk memblokir efek pirogen endogen. Hal ini menyebabkan peningkatan pembuangan panas melalui keringat dan pelebaran pembuluh darah (vasodilatasi).
Pseudoefedrin adalah dekongestan yang mengecilkan pembuluh darah di saluran hidung. Pembuluh darah yang membesar dapat menyebabkan hidung tersumbat. Pseudoefedrin secara langsung merangsang reseptor alfa-adrenergik mukosa pernapasan untuk menghasilkan vasokonstriksi, penyusutan selaput lendir hidung yang membengkak, pengurangan penyempitan pembuluh darah (hiperemia) jaringan, pembengakakan (edema), dan hidung tersumbat.
Dekstrometorfan menekan refleks batuk dengan bekerja langsung di pusat batuk di medula.
Klorfeniramin maleat termasuk dalam kelompok obat yang disebut antihistamin yang membantu mengurangi gejala alergi dengan mencegah efek zat yang disebut histamin. Histamin diproduksi oleh tubuh sebagai respons terhadap zat asing yang membuat tubuh alergi.

Komposisi obat

Tiap 5 ml:

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Anak-anak:

  • 2-5 tahun: ½ sendok takar 5 ml (2,5 ml) sebanyak 3 kali/hari.
  • 6-12 tahun: 1 sendok takar 5 ml sebanyak 3 kali/hari.
  • Dewasa dan anak 12 tahun ke atas: 2 sendok takar 5 ml (10 ml) sebanyak 3 kali/hari.

Aturan pakai obat

Dikonsumsi sesuai petunjuk dokter.

Efek samping obat

  • Mengantuk.
    Ketika Anda mengantuk Beristirahatlah dan jangan mengemudi kendaraan atau menjalankan mesin ketika mengantuk.
  • Sakit kepala.
    Pastikan Anda beristirahat dan minum banyak cairan. Jangan minum terlalu banyak alkohol. Jika sakit kepala terjadi selama satu minggu lebih mintalah rekomendasi obat penghilang rasa sakit kepada apoteker.
  • Mulut kering.
    Cobalah untuk mengonsumsi permen bebas gula atau permen karet bebas gula.
  • Mual atau muntah.
    Minumlah sedikit air tetapi dalam waktu yang sering. Jika mengalami buang air kecil lebih jarang dari biasanya atau urine berwarna gelap dan berbau menyengat, hubungi dokter Anda.
  • Penggunaan dosis tinggi dapat menyebabkan risiko terjadinya perdarahan pada lambung.
  • Sakit kepala yang membuat penderita mengalami sensasi seperti berputar (vertigo).
  • Pada penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan hati.
  • Gangguan psikomotor.
  • Kesulitan mengeluarkan urin (retensi urin).
  • Gangguan irama jantung (aritmia).
  • Jantung berdebar-debar (palpitasi).

Perhatian Khusus

  • Pasien penderita dengan gangguan fungsi hati dan ginjal.
  • Pasien kerusakan saraf mata akibat meningkatnya tekanan pada bola mata (glaukoma).
  • Pasien kondisi ketika kelenjar prostat membesar (hipertrofi prostat).
  • Pasien produksi hormon tiroid berlebihan akibat adanya gangguan pada kelenjar tiroid (hipertiroid).
  • Pasien gangguan pada kandung kemih untuk mengeluarkan urin (retensi urin).
  • Anak 6 tahun ke bawah.
  • Wanita hamil dan menyusui.
  • Dapat mempengaruhi kemampuan mengendarai kendaraan bermotor atau menjalankan mesin.
  • Hati-hati penggunaan bersamaan dengan obat-obat lain yang menekan susunan saraf pusat.
  • Penggunaan pada penderita yang mengkonsumsi alkohol dapat meningkatkan risiko kerusakan fungsi hati.
  • Pasien penderita debil dan kurangnya pasokan oksigen di sel dan jaringan tubuh (hipoksia).
  • Pasien dengan gangguan fungsi pernapasan.

Kategori kehamilan

Antihistamin generasi ke-1.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Penderita yang hipersensitif terhadap komponen obat ini
  • Penderita dengan gangguan fungsi hati yang berat
  • Penderita dengan gangguan jantung dan diabetes melitus.

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Penghambat monoamin oksidase (MAOI).
    Penggunaan bersama obat di atas dapat menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan darah (hipertensi).
  • Fenobarbital, karbamazepin, dan fenitoin.
    Penggunaan bersama dengan obat di atas dapat menyebabkan terjadinya peningkatan potensi kerusakan pada hati.
  • Kolestiramin dan lixisenatide.
    Penggunaan bersama obat di atas dapat menyebabkan penurunan efek dari parasetamol.
  • Antikoagulan warfarin.
    Penggunaan bersama warfarin dapat meningkatkan risiko terjadinya perdarahan.
  • Metoklopramid.
    Metoklopramid dapat meningkatkan efek antinyeri dari parasetamol.

Apa yang harus dilakukan jika ada dosis terlewat?

Parasetamol adalah obat yang dapat menurunkan demam (antipiretik) dan meredakan nyeri (analgetik). Obat ini merupakan obat yang dapat bekerja dengan mengurangi produksi bahan kimia yang menyebabkan terjadinya peradangan dan pembengkakan (prostaglandin) di otak. Parasetamol mengurangi rasa sakit dengan meningkatkan ambang rasa sakit, yaitu dengan membutuhkan rasa sakit yang lebih besar untuk berkembang sebelum seseorang merasakannya.

Berdasarkan proses kerja obat dalam tubuh, parasetamol diketahui memiliki status:

  • Absorpsi: Diserap dengan baik setelah pemberian oral. Waktu dimana obat mencapai kadar tertinggi dalam plasma (waktu puncak konsentrasi plasma) Sekitar 10-60 menit (oral).
  • Distribusi: Didistribusikan ke sebagian besar jaringan tubuh. Melintasi plasenta dan memasuki ASI. Ikatan protein plasma sekitar 10-25%.
  • Metabolisme: Terutama dimetabolisme di hati melalui konjugasi asam glukuronat dan sulfat, selanjutnya dimetabolisme melalui konjugasi dengan glutathione di hati dan ginjal.
  • Ekskresi: Terutama melalui urin kurang dari 5% sebagai obat yang tidak berubah; 60-80% sebagai metabolit glukuronida dan 20-30% sebagai metabolit sulfat). Waktu yang dibutuhkan obat untuk dikeluarkan oleh tubuh dari separuh kadar awal obat (waktu paruh eliminasi) sekitar 1-3 jam.

Pseudoefedrin hidroklorida termasuk dalam kelompok obat yang disebut dekongestan simpatomimetik. Pseudoefedrin hidroklorida bekerja dengan mengurangi tersumbatnya saluran pernapasan bagian atas, termasuk hidung, sehingga lebih mudah untuk bernapas.

Berdasarkan proses kerja obat dalam tubuh, pseudoefedrin diketahui memiliki status:

  • Absorpsi: Diserap dengan cepat dan cepat dari saluran gastrointestinal.
  • Distribusi: Memasuki ASI (jumlah kecil). Volume distribusi: 2,64-3,51 L / kg.
  • Metabolisme: Dimetabolisme di hati melalui N-demethylation menjadi norpseudoephredrine (metabolit aktif).
  • Ekskresi: Melalui urin (43-96% sebagai obat tidak berubah, 1-6% sebagai norpseudoephedrine). Urin basa menurunkan eliminasi ginjal. Waktu yang dibutuhkan obat untuk dikeluarkan oleh tubuh dari separuh kadar awal obat (waktu paruh eliminasi): 9-16 jam (pH 8); 3-6 jam (pH 5).

Dekstrometorfan menekan refleks batuk dengan tindakan langsung di pusat batuk di medula. Dextromethorphan memiliki potensi antitusif yang hampir sama dengan kodein tetapi tidak menyebabkan analgesia atau kecanduan dan sedikit atau tanpa depresi SSP dan tidak memiliki aksi ekspektoran; ia juga menghasilkan lebih sedikit efek samping subjektif dan GI dibandingkan kodein. Pengobatan dimaksudkan untuk meredakan frekuensi batuk tanpa menghilangkan refleks pelindung batuk. Dalam dosis terapeutik, obat tidak menghambat aktivitas siliaris.

Berdasarkan proses kerja obat dalam tubuh, dekstrometorfan hidrobromida diketahui memiliki status:

  • Absorpsi: Diserap dengan mudah dari saluran GI.
  • Distribusi: Tidak diketahui.
  • Metabolisme: Dimetabolisme secara ekstensif oleh hati. Waktu paruh plasma sekitar 11 jam.
  • Ekskresi: Sedikit yang diekskresikan tidak berubah. Metabolit diekskresikan terutama dalam urin; sekitar 7% sampai 10% diekskresikan dalam tinja.

Klorfeniramin maleat termasuk dalam kelompok obat yang disebut antihistamin. Antihistamin membantu mengurangi gejala alergi dengan mencegah efek zat yang disebut histamin. Histamin diproduksi oleh tubuh sebagai respons terhadap zat asing yang membuat tubuh alergi. 

Berdasarkan proses kerja obat dalam tubuh, klorfeniramin maleat diketahui memiliki status:

  • Absorpsi: Diserap dengan baik dari saluran GI. Makanan di perut menunda penyerapan tetapi tidak mempengaruhi kadar obat yang masuk ke dalam peredaran darah (ketersediaan hayati).
  • Distribusi: Didistribusikan secara luas ke dalam tubuh; obat itu sekitar 72% terikat protein.
  • Metabolisme: Metabolisme sebagian besar di sel mukosa GI dan hati (efek lintasan pertama).
  • Ekskresi: Waktu yang dibutuhkan obat untuk dikeluarkan oleh tubuh dari separuh kadar awal obat (waktu paruh) adalah 12 hingga 43 jam pada orang dewasa dan 10 hingga 13 jam pada anak-anak; obat dan metabolit diekskresikan dalam urin.

Kapan perlu menghentikan penggunaan dan menghubungi dokter?

  • Masih dekat dengan jadwal sebelumnya.
    Jika masih dekat dengan jadwal minum obat sebelumnya, segera konsumsi obat sesuai dosis yang terlewat.
  • Sudah mendekati jadwal berikutnya.
    Jika sudah mendekati jadwal selanjutnya, maka dosis yang terlewat dapat diabaikan dan lanjutnya konsumsi obat sesuai jadwal berikutnya.
  • Jangan menggandakan dosis yang terlewat.
    Jangan mengonsumsi total dosis antara yang terlewat dan dosis berikutnya, kecuali dianjurkan lain oleh dokter Anda.
  • Sering lupa mengonsumsi obat.
    Jika sering lupa untuk mengonsumsi obat, cobalah untuk menggunakan pengingat (alarm) sesuai jadwal minum obat atau meminta bantuan orang lain untuk membantu mengingatkan jadwal minum obat Anda. Selain itu, alternatif lainnya yaitu menggunakan kotak obat harian yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Sesuai kemasan per November 2019

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/pseudoephedrine?mtype=generic
Diakses pada 23 Oktober 2020

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/chlorphenamine?mtype=generic
Diakses pada 23 Oktober 2020

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/paracetamol?mtype=generic
Diakses pada 23 Oktober 2020

Drugs. https://www.drugs.com/mtm/acetaminophen-chlorpheniramine-and-pseudoephedrine.html
Diakses pada 23 Oktober 2020

NPS. https://www.nps.org.au/medicine-finder/demazin-cold-and-flu-tablets
Diakses pada 23 Oktober 2020

GlowM. https://www.glowm.com/resources/glowm/cd/pages/drugs/d026.html
Diakses pada 23 Oktober 2020

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-2207/chlorpheniramine-pseudoephedrine-acetaminophen-oral/details
Diakses pada 23 Oktober 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email