Opilax Sirup 60 ml

23 Okt 2020| Dea Febriyani
Opilax sirup adalah obat untuk mengatasi kesulitan buang air besar (konstipasi kronis).

Deskripsi obat

Opilax sirup adalah obat pencahar (laksatif) untuk mengatasi kesulitan buang air besar (konstipasi kronis) dan mengatasi kondisi ketika organ hati tidak mampu membuang zat-zat beracun di dalam tubuh (ensefalopati hepatik). Obat ini merupakan obat bebas yang tidak memerlukan resep dokter. Opilax sirup mengandung zat aktif laktulosa.
Opilax Sirup 60 ml
Golongan ObatObat bebas. Obat yang boleh dibeli secara bebas tanpa menggunakan resep dokter.
Produk HalalYa
Informasi tambahanLactose intolerant.
Kandungan utamaLaktulosa.
Kelas terapiLaksatif.
Kemasan1 box isi 1 botol @ 60 ml
ProdusenOtto Pharmaceutical Industries

Informasi zat aktif

Laktulosa adalah obat pencahar (lakastif) yang dapat meningkatkan gerakan relaksasi dan kontrasi otot pada saluran pencernaan (peristaltik) dengan menghasilkan efek perpindahan cairan pada usus besar sehingga dapat memudahkan pengeluaran feses. Pada penyakit hati (ensefalopati hepatik), obat ini dapat mengurangi penyerapan ion amonium dan senyawa nitrogen beracun lainnya, yang menyebabkan konsentrasi amonia darah akan berkurang.

Bedasarkan proses kerja obat dalam tubuh, laktulosa diketahui memiliki status:

  • Absorpsi: Diserap dengan buruk dari saluran pencernaan.
  • Metabolisme: Dimetabolisme oleh flora bakteri pada kolon untuk membentuk asam laktat, dan sejumlah kecil asam asetat dan asam format.
  • Ekskresi: Terutama melalui feses; urin (3% ke bawah sebagai obat tidak berubah).

Indikasi (manfaat) obat

  • Mengobati penyakit hati dimana organ hati tidak dapat mengeluarkan zat-zat beracun (ensefalopati hepatik).
  • Mengatasi kesulitan buang air besar yang terjadi selama beberapa minggu (konstipasi kronis).

Laktulosa adalah golongan obat pencahar (laksatif) yang akan melewati saluran pencernaan ke usus besar tanpa perubahan, kemudian dicerna oleh bakteri yang terjadi secara normal, meningkatkan kandungan cairan dari feses dan menyebabkan kembung, sehingga mendorong gerakan pada usus (peristaltik) dan pengosongan usus. Laktulosa juga digunakan untuk mengurangi kadar amonia serum pada pasien dengan penyakit hati. Pemecahan laktulosa mengasamkan usus besar, yang selanjutnya mengubah amonia menjadi amonium, yang tidak diserap dan dikeluarkan melalui feses.

Komposisi obat

Tiap 5 ml: laktulosa 3,335 g.

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Dewasa:

  • Konstipasi kronis:
    • Keadaan parah:
      • Dosis awal sehari selama 3 hari pertama: 30 ml.
      • Dosis pemeliharaan: 15-25 ml.
    • Keadaan Sedang:
      • Dosis awal sehari selama 3 hari pertama: 15-30 ml.
      • Dosis pemeliharaan: 10-15 ml.
    • Keadaan ringan:
      • Dosis awal sehari selama 3 hari pertama: 15 ml.
      • Dosis pemeliharaan: 10 ml.
  • Ensefalopati hepatik (pre-koma hepatik dan koma hepatik):
    • Dosis awal: 30-50 ml sebanyak 3 kali/hari.
    • Dosis pemeliharaan: 10-25 ml/hari.

Anak-anak:

  • Konstipasi kronis:
    • 1-6 tahun:
      • Dosis awal sehari selama 3 hari pertama: 5-10 ml.
      • Dosis pemeliharaan sehari: 5-10 ml.
    • 7-14 tahun:
      • Dosis awal sehari selama 3 hari pertama: 15 ml.
      • Dosis pemeliharaan sehari: 10 ml.
  • Ensefalopati hepatik (pre-koma hepatik dan koma hepatik):
    • Dosis awal: 30-50 ml sebanyak 3 kali/hari.
    • Dosis pemeliharaan:
      • 1-6 tahun: 5-10 ml.
      • 7-14 tahun: 10 ml.

Bayi:

  • Konstipasi kronis: 5 ml.
  • Ensefalopati hepatik (pre-koma hepatik dan koma hepatik): 5 ml.

Pada kondisi konstipasi kronis mungkin dibutuhkan waktu 48 jam sebelum buang air besar (defekasi) terjadi.

Aturan pakai obat

Dapat dikonsumsi dengan atau tanpa makanan. Dapat dikonsumsi dengan makanan untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada saluran pencernaan.

Efek samping obat

  • Sakit perut.
    Cobalah istirahat dan rileks. Makan dan minum secara perlahan dan makan dalam porsi yang lebih sedikit dan lebih sering dapat membantu. Menempatkan bantalan panas atau botol air panas tertutup di perut Anda juga dapat membantu. Jika Anda sangat kesakitan, segera hubungi apoteker atau dokter Anda.
  • Diare.
    Konsumsi banyak cairan untuk menghindari terjadinya dehidrasi. Dehidrasi ditandai dengan jumlah dan frekuensi buang air kecil yang lebih sedikit dari biasanya dan urin berbau tajam. Cobalah untuk menurunkan dosis laktulosa karena akan membantu mengobati diare. Jangan mengonsumsi obat lain untuk mengobati diare tanpa konsultasi dengan apoteker atau dokter.
  • Meningkatkan gas.
    Hindari konsumsi makanan yang menyebabkan angin seperti lentil, kacang polong, kacang-kacangan, dan bawang bombay. Mungkin juga membantu untuk makan lebih sedikit dan lebih sering, makan dan minum perlahan, dan berolahraga secara teratur. Beberapa obat farmasi dapat membantu buang angin, seperti tablet arang atau simetikon.
  • Muntah.
    Minum banyak cairan, seperti air untuk menghindari terjadinya kekurangan cairan atau dehidrasi. Minumlah sedikit demi sedikit. Jangan minum obat lain untuk mengobati muntah tanpa berbicara dengan apoteker atau dokter.
  • Perut kembung.
    Cobalah untuk minum laktulosa di antara waktu makan, bukan sebelum atau sesudahnya.
  • Mual.
    Cobalah minum laktulosa dengan makanan, atau campur dosis Anda dengan air atau jus buah.

Perhatian Khusus

  • Pasien yang menjalani prosedur bedah dengan menggunakan kauter listrik (elektrokauter) selama pemeriksaan melalui rektum (proktoskopi) atau kolon (kolonoskopi).
  • Pasien yang mengalami gangguan dalam mencerna laktosa (intoleransi laktosa).
  • Pasien penderita kencing manis (diabetes melitus).
  • Anak-anak terutama bayi.
  • Wanita hamil dan ibu menyusui.

Kategori kehamilan

Kategori B: Penelitian tidak menemukan efek malformasi atau efek yang mengganggu perkembangan janin pada trimester pertama dan selanjutnya. Studi pada reproduksi hewan telah membuktikan tingkat keamanan obat ini.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Pasien yang mengalami kelainan genetik yaitu ketidakmampuan dalam mencerna galaktosa sejak lahir (galaktosemia).
  • Pasien penderita peradangan pada usus seperti peradangan pada usus besar dan kolon (kolitis ulseratif) dan radang usus kronis yang menyebabkan peradangan pada lapisan dinding usus (penyakit crohn).
  • Pasien dengan sindrom nyeri perut yang tidak diketahui penyebabnya.
  • Pasien yang mengalami penyumbatan pada saluran pencernaan.
  • Pasien yang sedang menjalani diet rendah galaktosa.
  • Pasien yang mengalami luka pada saluran pencernaan.

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Antasida, neomisin, atau obat antiinfeksi.
    Laktulosa dapat menurunkan penyerapan dari obat di atas sehingga obat tidak memberikan efek yang sesuai.
  • Glutamin.
    Laktulosa dapat mengurangi efek dari obat glutamin, sehingga glutamin tidak bekerja dengan efektif.
  • Glikosida jantung.
    Laktulosa dapat meningkatkan efek glikosida jantung sehingga dapat menyebabkan risiko terjadinya efek samping.
  • Tiazid, steroid, dan amfoterisin B.
    Penggunaan laktulosa dengan obat di atas dapat menyebabkan peningkatan hilangnya kadar kalium dalam darah.

Apa yang harus dilakukan jika ada dosis terlewat?

  • Masih dekat dengan jadwal sebelumnya.
    Jika masih dekat dengan jadwal minum obat sebelumnya, segera konsumsi obat sesuai dosis yang terlewat.
  • Sudah mendekati jadwal berikutnya.
    Jika sudah mendekati jadwal selanjutnya, maka dosis yang terlewat dapat diabaikan dan lanjutnya konsumsi obat sesuai jadwal berikutnya.
  • Jangan menggandakan dosis yang terlewat.
    Jangan mengonsumsi total dosis antara yang terlewat dan dosis berikutnya, kecuali dianjurkan lain oleh dokter Anda.
  • Sering lupa mengonsumsi obat.
    Jika sering lupa untuk mengonsumsi obat, cobalah untuk menggunakan pengingat (alarm) sesuai jadwal minum obat atau meminta bantuan orang lain untuk membantu mengingatkan jadwal minum obat Anda. Selain itu, alternatif lainnya yaitu menggunakan kotak obat harian yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Kapan perlu menghentikan penggunaan dan menghubungi dokter?

Hentikan penggunaan dan hubungi dokter jika Anda mengalami diare.

Sesuai kemasan per Oktober 2020 MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/lactulose?mtype=generic
Diakses pada 1 Oktober 2020

Nhs. https://www.nhs.uk/medicines/lactulose/
Diakses pada 1 Oktober 2020

MedlinePlus. https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a682338.html
Diakses pada 1 Oktober 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/lactulose-oral-solution#about
Diakses pada 1 Oktober 2020

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-3367-7202/lactulose-oral/lactulose-liver-oral-rectal/details
Diakses pada 1 Oktober 2020

Drugs. https://www.drugs.com/mtm/lactulose.html
Diakses pada 1 Oktober 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email