Omemox Kaplet 500 mg

21 Nov 2019| Maria Yuniar
Golongan
Obat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
HET
Rp 19.800/strip per November 2019
Kemasan
1 box isi 10 strip @ 10 kaplet (500 mg)
Produsen
Mutiara Mukti Farma

Omemox kaplet adalah obat untuk mengatasi berbagai infeksi bakteri seperti infeksi saluran kemih, infeksi kulit dan jaringan lunak, serta infeksi saluran pernapasan. Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Omemox kaplet mengandung zat aktif amoksisilin.

Mengobati berbagai infeksi seperti:

Amoksisilin merupakan antibiotik kelas beta-laktam. Beta-laktam bekerja dengan mengikat protein pengikat penisilin yang menghambat proses yang disebut transpeptidasi, yang mengarah ke aktivasi enzim autolitik di dinding sel bakteri. Proses ini menyebabkan lisis pada dinding sel, dan dengan demikian, akan merusak sel bakteri.

Amoksisilin trihidrat 574 mg setara dengan amoksisilin 500 mg.

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

  • Dewasa dan anak-anak dengan berat badan 20 kg ke atas: 250-500 mg/8 jam.
  • Anak-anak dengan berat badan 20 kg ke bawah: 20-40 mg/kgBB/8 jam.

Dihitung dengan mengalikan berat badan pasien.

Dapat dikonsumsi dengan atau tanpa makanan. Dikonsumsi dengan makanan untuk memperbaiki penyerapan dan mengurangi rasa tidak nyaman pada saluran pencernaan.
  • Diare.
    Konsumsi banyak cairan untuk menghindari terjadinya dehidrasi. Tanda-tanda dehidrasi antara lain buang air kecil lebih sedikit dari biasanya atau urin berbau tajam. Jangan minum obat lain untuk mengobati diare tanpa berbicara dengan apoteker atau dokter.
  • Mual.
    Tetaplah mengonsumsi makanan sederhana dan jangan makan makanan terlalu banyak atau pedas. Mungkin membantu untuk mengambil amoksisilin setelah makan atau ngemil.
  • Gangguan saluran pencernaan.
  • Reaksi alergi.
Pasien yang memiliki alergi terhadap amoksisilin dan golongan penisilin lainnya.
  • Pasien penderita gangguan ginjal.
  • Wanita hamil dan ibu menyusui.
  • Pasien yang memiliki riwayat alergi terhadap beta laktam.
  • Pasien yang memiliki infeksi mononukleuosis.
  • Allopurinol.
    Penggunaan amoksisilin dan allopurinol dapat meningkatkan risiko terjadinya reaksi alergi.
  • Kloramfenikol, makrolida, sulfonamid, dan tetrasiklin.
    Obat di atas dapat mengganggu efek bakterisidal dari amoksisilin.
  • Probenecid.
    Probenecid dapat meningkatkan waktu paruh amoksilin dalam plasma.
  • Kontrasepsi oral.
    Amoksisilin menurunkan efektivitas kontrasepsi oral.
  • Warfarin.
    Amoksisilin dapat meningkatkan efek antikoagulan.

Sesuai kemasan per November 2019

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/amoxicillin
Diakses pada 14 Agustus 2020

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/solpenox?type=brief&lang=id
Diakses pada 14 Agustus 2020

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-1531-3295/amoxicillin-oral/amoxicillin-oral/details
Diakses pada 14 Agustus 2020

MedlinePlus. https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a685001.html
Diakses pada 14 Agustus 2020

Nhs. https://www.nhs.uk/medicines/amoxicillin/
Diakses pada 14 Agustus 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Rekomendasi 6 Obat Herbal TBC yang Bisa Ditemukan di Rumah Anda

Obat herbal TBC ternyata bisa ditemukan di dapur kita. Obat herbal ini memiliki khasiat yang bekerja dengan cara….Baca selengkapnya
Rekomendasi 6 Obat Herbal TBC yang Bisa Ditemukan di Rumah Anda

Kenali Penyebab Penyakit Kusta dan Cara Mencegahnya

Penyebab penyakit kusta sering dianggap sebagai kutukan. Padahal, penyakit yang dikenal dengan sebutan penyakit Hansen ini disebabkan oleh sebuah bakteri.
29 Jul 2019|Grace Ratnasari
Baca selengkapnya
Kenali Penyebab Penyakit Kusta dan Cara Mencegahnya

Apa itu Patogen dan Mengapa Berbahaya untuk Kesehatan?

Patogen mikroorganisme yang mampu menyebabkan penyakit. Mikroba ini dapat membuat kekebalan tubuh Anda menurun dan dapat menyebar melalui populasi manusia dengan berbagai cara. Pengobatan infeksi yang disebabkan bakteri patogen melibatkan penggunaan antibiotik.
20 Mar 2020|Dessy Diniyanti
Baca selengkapnya
Apa itu Patogen dan Mengapa Berbahaya untuk Kesehatan?