Normotil Tablet 2 mg

27 Okt 2020
no-image-drug

Deskripsi obat

Normotil tablet adalah obat untuk mengatasi diare yang berlangsung selama kurang dari 2 minggu (akut) maupun lebih dari 2 minggu (kronik). Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Normotil tablet mengandung zat aktif loperamid hidroklorida.
Normotil Tablet 2 mg
Golongan ObatObat kerasObat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
Produk HalalYa
Kandungan utamaLoperamid.
Kelas terapiAntidiare.
Kemasan1 box isi 6 strip @ 10 tablet (2 mg)
ProdusenNovell Pharmaceutical Laboratories

Informasi zat aktif

Loperamid merupakan obat golongan agonis opioid, berikatan dengan reseptor opioid langsung di dinding usus pada otot usus sirkuler dan longitudinal sehingga mengurangi peristaltik propulsi dan memperpanjang waktu transit, dan meningkatkan penyerapan air dan elektrolit. Loperamid bekerja dengan memperlambat pergerakan usus, ini mengurangi jumlah buang air besar dan membuat feses tidak terlalu encer.

Bedasarkan proses kerja obat dalam tubuh, loperamid diketahui memiliki status:

  • Absorpsi: Buruk, diserap di saluran pencernaan. Kadar obat yang masuk ke dalam peredaran darah (ketersediaan hayati) sekitar 0,3%.
  • Distribusi: Buruk, didistribusikan ke otak. Memasuki ASI (jumlah kecil). Ikatan protein plasma: sekitar 95%, terutama untuk albumin.
  • Metabolisme: Hampir sepenuhnya dimetabolisme di hati.
  • Ekskresi: Terutama melalui feses (sebagai obat dan metabolit yang tidak berubah); air seni. Waktu yang dibutuhkan obat untuk dikeluarkan oleh tubuh dari separuh kadar awal obat (waktu paruh eliminasi) kira-kira selama 10 jam.

Indikasi (manfaat) obat

  • Mengatasi diare yang berlangsung selama kurang dari 2 minggu (diare akut) maupun lebih dari 2 minggu (diare kronik).

Loperamid bekerja dengan memperlambat pergerakan usus, ini mengurangi jumlah buang air besar dan membuat feses tidak terlalu encer. Loperamid juga digunakan untuk mengurangi jumlah cairan pada pasien yang telah menjalani operasi pada pasien yang mengalami masalah buang air besar akibat gangguan usus besar (ileostomi). Obat ini juga digunakan untuk mengobati diare yang sedang berlangsung pada orang dengan penyakit radang usus.

Komposisi obat

Loperamid hidroklorida 2 mg.

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Diare kronis:

  • Dewasa:
    • Dosis awal: 4-8 mg/hari dikonsumsi dalam dosis terbagi.

Diare akut:

  • Dewasa:
    • Dosis awal: 4 mg, dilanjutkan dengan 2 mg setiap setelah buang air besar.
    • Dosis maksimal: 16 mg/hari. Hentikan penggunaan jika selama 48 jam kondisi tidak membaik.
  • Anak-anak:
    • 4-8 tahun: 1 mg sebanyak 3-4 kali/hari.
    • 9-12 tahun: 2 mg sebanyak 4 kali/hari. Dikonsumsi selama 5 hari.

Aturan pakai obat

Dapat dikonsumsi dengan atau tanpa makanan.

Efek samping obat

  • Kesulitan buang air besar (konstipasi).
    Hentikan penggunaan loperamid. Minum banyak air. Jika ini tidak membantu, bicarakan dengan apoteker atau dokter Anda.
  • Pusing.
    Jika loperamid membuat Anda merasa pusing saat berdiri, cobalah bangun dengan sangat lambat atau tetap duduk sampai Anda merasa lebih baik. Jika Anda mulai merasa pusing, berbaringlah agar tidak pingsan, lalu duduklah sampai Anda merasa lebih baik. Berhati-hatilah saat mengemudi atau menggunakan alat atau mesin jika Anda mengalami efek samping seperti pusing.
  • Mual.
    Coba minum loperamid dengan atau setelah makan atau ngemil. Ini juga dapat membantu jika Anda tetap mengonsumsi makanan sederhana dan tidak makan makanan kaya rasa atau pedas.
  • Sakit kepala.
    Pastikan Anda istirahat dan minum banyak cairan. Jangan minum terlalu banyak alkohol. Mintalah apoteker Anda untuk merekomendasikan obat penghilang rasa sakit. Bicaralah dengan dokter Anda jika sakit kepala berlangsung lebih dari seminggu atau semakin parah.
  • Perut kembung.
    Hindari makanan yang menyebabkan angin seperti lentil, kacang-kacangan, dan bawang. Mungkin juga membantu untuk makan lebih sedikit dan lebih sering, makan dan minum perlahan, dan berolahraga secara teratur. Konsumsi produk yang bisa Anda beli dari apotek untuk membantu mengatasi angin, seperti tablet arang atau simetikon.

Perhatian Khusus

  • Pasien penderita gangguan irama jantung (aritmia).
  • Pasien penderita gangguan hati.
  • Anak-anak.
  • Pasien penderita acquired immune deficiency syndrome (AIDS).
  • Pasien penderita peningkatan tekanan bola mata (glaukoma).
  • Pasien penderita penyumbatan pada pyloric.
  • Tidak direkomendasikan untuk penggunaan jangka panjang.
  • Dapat menyebabkan terjadinya dehidrasi, sehingga harus mengonsumsi cairan dan elektrolit.
  • Wanita hamil dan menyusui.
  • Hentikan penggunaan jika terjadi sembelit, perut kembung, dan kelumpuhan pada usus (ileus).
  • Pasien yang memiliki risiko gangguan irama jantung.
  • Pasien yang mengalami pendarahan pada leher kandung kemih.

Kategori kehamilan

Kategori C: Belum terdapat penelitian terkontrol untuk penggunaan normotil tablet pada ibu hamil, namun ada efek samping yang mungkin dapat mengganggu perkembangan dan pertumbuhan janin. Oleh karena itu, penggunaannya pada ibu hamil hanya dapat dilakukan jika manfaat yang diberikan melebihi risiko yang mungkin timbul pada janin. Konsultasikan penggunaan obat ini dengan dokter sebelum digunakan.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Pasien disentri akut yang ditandai dengan feses berdarah dan demam tinggi.
  • Pasien dengan kondisi peradangan pada usus besar atau usus halus (enterokolitis).
  • Pasien yang memiliki alergi terhadap komponen obat ini.
  • Pasien penderita diare karena infeksi.
  • Hindari penggunaan pada pasien yang mengalami kesulitan buang air besar (konstipasi).
  • Diare akut yang berkaitan dengan organisme yang mempenetrasi mukosa usus atau kolitis pseudomembranosa yang disebabkan antibiotik spektrum luas.
  • Pasien dengan kondisi ketika ada gas atau cairan menumpuk di dalam perut yang menyebapkan perut atau pinggang mengembung (distensi abdomen).
  • Pasien dengan kondisi ketika otot usus mengalami kelumpuhan (ileus).
  • Pasien dengan kondisi peradangan kronis yang terjadi pada usus besar.

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Kuinidin, ritonavir, gemfibrozil, ketokonazol, dan itrakonazol.
    Penggunaan lorapamid dengan obat di atas dapat menyebabkan peningkatan konsentrasi obat dan meningkatkan risiko efek samping.
  • Desmopresin oral.
    Lorapamid dapat meningkatkan efek dan kadar desmopresin oral sehingga dapat menyebabkan terjadinya efek samping.

Apa yang harus dilakukan jika ada dosis terlewat?

  • Masih dekat dengan jadwal sebelumnya.
    Jika masih dekat dengan jadwal minum obat sebelumnya, segera konsumsi obat sesuai dosis yang terlewat.
  • Sudah mendekati jadwal berikutnya.
    Jika sudah mendekati jadwal selanjutnya, maka dosis yang terlewat dapat diabaikan dan lanjutnya konsumsi obat sesuai jadwal berikutnya.
  • Jangan menggandakan dosis yang terlewat.
    Jangan mengonsumsi total dosis antara yang terlewat dan dosis berikutnya, kecuali dianjurkan lain oleh dokter Anda.
  • Sering lupa mengonsumsi obat.
    Jika sering lupa untuk mengonsumsi obat, cobalah untuk menggunakan pengingat (alarm) sesuai jadwal minum obat atau meminta bantuan orang lain untuk membantu mengingatkan jadwal minum obat Anda. Selain itu, alternatif lainnya yaitu menggunakan kotak obat harian yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Kapan perlu menghentikan penggunaan dan menghubungi dokter?

Hentikan penggunaan dan hubungi dokter jika Anda mengalami

  • Diare yang berair atau berdarah.
  • Sakit perut atau kembung.
  • Diare yang sedang berlangsung atau memburuk, atau
  • Detak jantung cepat atau berdebar kencang, dada berdebar, sesak napas, dan pusing tiba-tiba seperti Anda ingin pingsan.

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/loperamide?mtype=generic
Diakses pada 22 September 2020

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-4789-4025/loperamide-oral/loperamide-oral/details
Diakses pada 22 September 2020

NHS. https://www.nhs.uk/medicines/loperamide/
Diakses pada 22 September 2020

Drugs. https://www.drugs.com/mtm/loperamide.html
Diakses pada 22 September 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email