Nazovel Tablet 100 mg

16 Sep 2020| Dea Febriyani

Deskripsi obat

Nazovel tablet adalah obat untuk meredakan nyeri dan peradangan seperti pada peradangan sendi (arthritis), sakit gigi, sakit kepala, nyeri haid, dan menurunkan demam. Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Nazovel tablet mengandung zat aktif ketoprofen.
Nazovel Tablet 100 mg
Golongan ObatObat kerasObat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
Kemasan1 box isi 3 strip @ 10 tablet (100 mg)
ProdusenNovell Pharmaceuticals Laboratories

Indikasi (manfaat) obat

Mengatasi nyeri serta meringankan nyeri, bengkak dan kaku akibat peradangan pada:

Ketoprofen adalah obat golongan antiinflamasi nonsteroid (NSAID). NSAID membantu mengurangi rasa sakit, peradangan, dan demam. Ketoprofen bekerja dengan cara memblokir efek bahan kimia alami yang disebut enzim siklo-oksigenase (COX). Enzim ini membantu membuat bahan kimia lain, yang disebut prostaglandin, di dalam tubuh. Beberapa prostaglandin diproduksi di tempat cedera atau kerusakan, dan menyebabkan nyeri dan pembengkakan. Dengan memblokir efek enzim COX, lebih sedikit prostaglandin yang diproduksi, yang berarti rasa sakit dan peradangan akan mereda.

Komposisi obat

Ketoprofen 100 mg.

 

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Dewasa: 2-3 kali/hari.

Aturan pakai obat

Harus dikonsumsi dengan makanan atau sesudah makan, tablet ditelan utuh.

Efek samping obat

  • Gangguan saluran pencernaan, sakit perut dan ketidaknyamanan pada perut.
    Cobalah untuk mengonsumsi obat ini setelah makan, jika ketidaknyamanan masih berlanjut segera hubungi dokter Anda.
  • Mual atau muntah.
    Tetaplah mengonsumsi makanan sederhana dan hindari makanan berlemak atau makanan pedas. Jika mual atau muntah masih berlanjut segera bicarakan dengan dokter Anda.

Jarang:

  • Sakit kepala.
    Coabalah untuk beristirahat, hindari mengemudi atau menjalankan mesin.Jika sakit kepala masih berlanjut dan tidak hilang, segera hubungi dokter atau apoteker untuk meminta rekomendasi obat penghilang rasa sakit yang sesuai.Perut kembung.
  • Kesulitan buang air besar (konstipasi).
    Konsumsi makanan yang mengandung banyak serat atau berserat tinggi seperti buah dan sayuran segar untuk mengurangi sembelit.
  • Diare.
    Minum banyak cairan untuk mencegah terjadinya dehidrasi, dehidrasi ditandai dengan jumlah dan frekuensi buang air kecil yang lebih sedikit dari biasanya serta urin berwarna keruh dan berbau menyengat.
  • Pusing.
  • Perut kembung.
  • Mengantuk.
  • Gatal dan ruam pada kulit.
  • Pembengkakan pada kaki.
    Jika salah satu dari efek samping di atas menjadi mengganggu, segera hubungi dokter Anda.

Perhatian Khusus

  • Pasien dengan riwayat meningitis.
  • Pasien penderita lupus.
  • Pasien penderita gagal jantung.
  • Pasien yang mengalami gangguan kesulitan mengeluarkan cairan (retensi cairan).
  • Pasien yang mengalami kerusakan pada ginjal.
  • Pasien yang memiliki gangguan pada ginjal dan hati.
  • Anak-anak.
  • Wanita hamil pada trimester 1 dan 2.
  • Pasien yang mengonsumsi obat NSAID, antiplatelet, antikoagulan, dan kortikosteroid.
  • Tidak digunakan untuk jangka panjang.
  • Pasien penderita tekanan darah tinggi (hipertensi).
  • Pasien yang mengalami gangguan pada saluran pencernaan seperti kolitis ulseratif dan penyakit Crohn.
  • Pasien yang mengalami pembengkakan pada tubuh akibat penumpukan cairan pada jaringan (edema).

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Pasien dengan riwayat luka atau perdarahan pada saluran pencernaan akibat penggunaan NSAID.
  • Pasien penderita asma yang sensitif terhadap aspirin.
  • Pasien yang mengalami luka pada saluran pencernaan.
  • Pasien yang memiliki alergi terhadap ketoprofen, aspirin, atau obat NSAID lainnya.
  • Pasien dengan riwayat perdarahan pada saluran pencernaan.
  • Pasien yang mengalami perdarahan.
  • Pasien yang mengalami nyeri atau tidak nyaman pada perut (dispepsia kronik).
  • Pasien penderita gagal jantung berat.
  • Pasien dengan pengobatan nyeri perioperatif pada operasi jantung koroner atau CABG.
  • Pasien penderita diatesis hemoragik.
  • Pasien penderita gangguan pada hati dan ginjal berat.
  • Wanita hamil pada trimester ke 3.

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Glikosida jantung.
    Ketoprofen dapat menyebabkan perburukan gagal jantung.
  • Penghambat ACE, diuretik, antagonis reseptort angiotensin, heparin, siklosporin, trimetoprim, dan takrolimus.
    Ketoprofen dengan obat di atas dapat menyebabkan peningkatan risiko peningkatan kadar kalium dalam darah (hiperkalemia) dan toksisitas pada ginjal.
  • Probenesid.
    Ketoprofen dapat menyebabkan peningkatan kadar serum probenesid dan meningkatkan risiko terjadinya efek samping.
  • Litium, digoksin, dan metotreksat.
    Ketoprofen dapat meningkatkan kadar obat-obat di atas dan dapat meningkatkan risiko terjadinya toksisitas.
  • Aspirin, NSAID lain, kortikosteroid, SSRI dan antikoagulan seperti warfarin dan heparin.
    Penggunaan ketoprofen bersama obat di atas dapat menyebabkan peningkatan risiko terjadinya perdarahan dan luka pada saluran pencernaan.

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/nazovel
Diakses pada 31 Agustus 2020

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/ketoprofen
Diakses pada 31 Agustus 2020

Drugs. https://www.drugs.com/mtm/ketoprofen.html
Diakses pada 31 Agustus 2020

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-5995-8186/ketoprofen-oral/ketoprofen-oral/details
Diakses pada 31 Agustus 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/ketoprofen-oral-capsule#about
Diakses pada 31 Agustus 2020

MedlinePlus. https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a686014.html
Diakses pada 31 Agustus 2020

Patient. https://patient.info/medicine/ketoprofen-for-pain-and-inflammation-larafen-oruvail-valket
Diakses pada 31 Agustus 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email