Naproxen

20 Mar 2019| Olivia
Ditinjau oleh dr. Anandika Pawitri

Gejala rheumatoid arthritis atau asam urat biasanya terjadi pada tangan, kaki, dan pergelangan tangan

Xenifar

Naproxen merupakan obat yang digunakan untuk mengobati rasa nyeri berat akibat radang sendi dan asam urat. Obat ini bekerja dengan melindungi tubuh dari zat yang menyebabkan peradangan. Golongan obat ini adalah obat anti-inflamasi non-steroid.

Naproxen (Naproksen)
Golongan

Anti-inflamasi nonsteroid

Kategori obat

Obat resep

Bentuk sediaan obat

Tablet dan kapsul

Dikonsumsi oleh

Dewasa, lansia, dan anak

Kategori kehamilan dan menyusui

Kategori C: Penelitian pada hewan percobaan menunjukkan efek buruk terhadap janin dan tidak ditemukan studi yang memadai pada manusia. Namun, mengingat efektivitasnya, penggunaannya dapat dipertimbangkan pada wanita hamil sekalipun berisiko

Dosis obat

Dosis diberikan oleh dokter berdasarkan kondisi medis. Dosis yang diberikan mungkin bervariasi berdasarkan kondisi individu. Selama pengobatan, dokter akan melihat respon terhadap pengobatan dan melakukan penyesuaian dosis bila diperlukan.

Oral
Dismenore, Gangguan otot akut

  • Dewasa: Awalnya, 500 mg diikuti dengan 250 mg tiap 6-8 jam. Maks: 1.250 mg pada hari pertama dan 1.000 mg setelahnya.
  • Lansia: Pengurangan dosis mungkin diperlukan.

Kelainan imunitas (rheumatic)

  • Dewasa: 0,5-1 g setiap hari sebagai satu atau dua dosis terbagi.
  • Lansia: Pengurangan dosis mungkin diperlukan.

Artritis idiopatik juvenil

  • Anak:  berumur >5 tahun 10 mg / kg / hari dalam 2 dosis terbagi  diberikan tiap 12 jam.

Gout Akut

  • Dewasa: Dosis awal 750 mg diikuti oleh 250 mg tiap 8 jam.
  • Lansia: Pengurangan dosis mungkin diperlukan.

Ikuti saran dan resep dokter.

  • Konsumsi 2 atau 3 kali sehari dengan segelas penuh air.
  • Minum obat ini dengan makanan untuk menghindari sakit perut.
  • Dosis didasarkan pada kondisi respons medis.

Konsumsi obat sesuai petunjuk dokter.

Efek samping dapat terjadi pada pemakaian obat-obatan. Mual, muntah, sakit kepala merupakan efek samping yang umum terjadi selama pemakaian obat ini. Beritahukan dokter Anda mengenai setiap efek samping yang terjadi pada Anda.

Bila Anda mengalami gejala yang berat/serius sebagai berikut, segera hubungi dokter Anda:

Edema perifer, CHF, palpitasi, vasculitis, takikardi, dispnea/sulit bernafas; sembelit, mulas, sakit perut, mual; sakit kepala, kantuk, pusing, vertigo, sakit kepala ringan, ketidakmampuan untuk berkonsentrasi, depresi mental, perubahan kondisi mood (mudah gugup, mudah marah), kelelahan, malaise, insomnia, gangguan tidur, kelainan mimpi, meningitis aseptik; tinitus, gangguan pendengaran atau penglihatan; trombositopenia, leukopenia, granulositopenia, eosinofilia, agranulositosis, anemia aplastik, anemia hemolitik; glomerulonefritis, nefritis interstitial, sindrom nefrotik, fungsi hati abnormal; pruritus, ruam, erupsi kulit, ekimosis, mialgia, kelemahan otot dan kram.

Beritahukan dokter Anda mengenai riwayat penyakit Anda sebelumnya, terutama bila Anda memiliki riwayat atau kondisi berikut:

  • Pasien dengan riwayat penyakit kardiovaskular atau faktor risiko untuk penyakit kardiovaskular.
  • Riwayat perdarahan GI atau ulkus peptikum, retensi cairan atau gagal jantung.
  • Gangguan ginjal dan hati.
  • Kehamilan dan menyusui.

Kontraindikasi:

Jangan mengonsumsi obat ini jika mempunyai kondisi medis seperti:

  • Hipersensitivitas terhadap naproxen, aspirin atau NSAID lainnya.
  • Pengobatan nyeri perioperatif dalam pengaturan operasi CABG.
  • Riwayat asma, urtikaria, reaksi tipe alergi.
  • Gangguan ginjal berat.

Informasi lebih lengkap bisa dilihat melalui kemasan.

Konsumsi beberapa obat secara bersamaan dapat menimbulkan interaksi obat. Konsumsi Naproxen dapat terjadi meningkatkan toksisitas metotreksat, mengurangi efek penurunan tekanan darah dari ACE inhibitor atau antagonis reseptor angiotensin II, meningkatkan  risiko kejadian GI yang serius dengan aspirin, peningkatan risiko perdarahan GI dengan warfarin, mengurangi efek natriuretik dari furosemide atau diuretik tiazid, dapat meningkatkan konsentrasi litium serum dan mengurangi pembersihan litium ginjal. Penyerapan tertunda dengang antasid, colestyramine, atau sukralfat. Dapat mengganggu efek antihipertensi β-blocker (Propranolol). Dapat meningkatkan kadar serum dengan probenesid.

Informasi yang diberikan bukan sebagai pengganti konsultasi medis langsung dengan dokter atau mengarahkan pemakaian obat dengan merek tertentu. Pemakaian obat harus dengan resep dokter. Ketersediaan obat tergantung pada indikasi yang disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/naproxen/?type=brief&mtype=generic
Diakses pada 26 November 2018

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-5173-1289/naproxen-oral/naproxen-oral/details
Diakses pada 26 November 2018

Mayoclinic. https://www.mayoclinic.org/drugs-supplements/naproxen-oral-route/side-effects/drg-20069820
Diakses pada 26 November 2018

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Meski Pahit, Manfaat Brotowali untuk Kesehatan Sungguh Luar Biasa

Di Indonesia, manfaat brotowali sudah lama diakui. Tanaman ini kerap digunakan untuk membantu dalam mengobati malaria, mengurangi nyeri, hingga mengelola kadar gula darah. Namun brotowali tetap memiliki efek samping yang perlu Anda perhatikan.
18 Feb 2020|Rieke Saraswati
Baca selengkapnya
Meski Pahit, Manfaat Brotowali untuk Kesehatan Sungguh Luar Biasa

Makanan untuk Asam Urat Ini Baik untuk Cegah Gejalanya

Makanan untuk asam urat sebenarnya cukup beragam. Beberapa makanan tersebut bahkan diketahui dapat menurunkan kadar asam urat dalam darah secara signifikan.
20 Nov 2019|Fadli Adzani
Baca selengkapnya
Makanan untuk Asam Urat Ini Baik untuk Cegah Gejalanya

Sakit dan Lesu Tanpa Pemicu Jelas, Mungkin Gejala Gangguan Somatoform

Gangguan somatoform umumnya ditandai dengan rasa nyeri atau lemas tanpa penyebab fisik yang jelas. Kondisi ini bisa disembuhkan melalui terapi perilaku kognitif dan validasi emosinya.
29 Mar 2020|Azelia Trifiana
Baca selengkapnya
Sakit dan Lesu Tanpa Pemicu Jelas, Mungkin Gejala Gangguan Somatoform