Movix Tablet

19 Jun 2020| Aby Rachman

Deskripsi obat

Movix tablet digunakan untuk terapi eksaserbasi akut peradangan sendi. Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Movix tablet mengandung zat aktif meloksikam yang mampu menghambat terjadinya proses peradangan.

Movix Tablet
Golongan ObatObat kerasObat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
HETRp 60.000/box (7,5 mg); Rp 94.000/box (15 mg) per
Kemasan1 box isi 2 strip @ 10 tablet (7,5 mg; 15 mg)
ProdusenLapi Laboratories

Indikasi (manfaat) obat

  • Terapi jangka pendek pada eksaserbasi akut nyeri akibat inflamasi atau peradangan ringan yang timbul karena gesekan ujung-ujung tulang penyusun sendi (osteoartritis).
  • Terapi jangka panjang pada peradangan sendi akibat sistem kekebalan tubuh yang menyerang jaringannya sendiri (rheumatoid arthritis).

Komposisi obat

  • Movix tablet 7,5 mg: meloksikam 7,5 mg.
  • Movix tablet 15 mg: meloksikam 15 mg.

 

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

  • Dewasa:
    • Osteoartritis: 7,5 mg/hari, dapat ditingkatkan hingga 15 mg/hari.
    • Rheumatoid arthritis: 15 mg/hari, dapat diturunkan hingga 7,5 mg/hari.
  • Pasien dengan risiko tinggi mengalami efek samping:
    • Dosis awal: 7,5 mg/hari.
  • Pasien dengan gagal ginjal berat: tidak boleh melebihi 7,5 mg/hari.
    • Dosis anjuran maksimal: 15 mg/hari.

Aturan pakai obat

Sebaiknya dikonsumsi dengan makanan.

Efek samping obat

  • Rasa tidak nyaman pada perut (dispepsia).
  • Mual.
  • Muntah.
  • Nyeri pada perut.
  • Kesulitan buang air besar (konstipasi).
  • Perut kembung.
  • Diare.
  • Peradangan pada lapisan kerongkongan (esofagitis).
  • luka (ulkus) pada gastroduodenal.
  • Peningkatan serum transaminase, bilirubin, kreatinin, dan urea.
  • Gatal pada sebagian atau seluruh tubuh (pruritus).
  • Ruam kulit.
    Radang yang terjadi pada mukosa mulut, biasanya berupa bercak putih kekuningan stomatitis).
  • Biduran (urtikaria).
  • Sensitif terhadap cahaya (fotosensitisasi).
  • Anemia.
  • Kondisi rendahnya jumlah sel darah putih di dalam tubuh (leukopenia).
  • Kondisi turunnya jumlah trombosit di bawah normal (trombositopenia).
  • Pembengkakan pada anggota tubuh yang terjadi karena penimbunan cairan di dalam jaringan (edema).
  • Peningkatan tekanan darah.
  • Jantung berdebar-debar (palpitasi).
  • Asma akut.
  • Kepala terasa ringan.
  • Pusing.
  • Kondisi yang membuat penderitanya mengalami pusing, sampai merasa dirinya atau sekelilingnya berputar (vertigo).
  • Telinga berdering (tinnitus).
  • Mengantuk.
  • Maag.

Perhatian Khusus

  • Pasien dengan riwayat gangguan saluran pencernaan bagian atas.
  • Pasien yang menjalani terapi antihemostatik.
  • Hentikan penggunaan jika terjadi luka pada lambung (ulkus peptik) atau pendarahan pada saluran pencernaan).
  • Pasien dengan penurunan aliran darah ke ginjal misalnya pada dehidrasi, gagal jantung kongestif, terjadinya kerusakan sel-sel hati yang membentuk jaringan parut (sirosis hati), kerusakan pada ginjal yang menyebabkan kadar protein di dalam urin meningkat (sindrom nefrotik), penyakit ginjal, terapi diuretik.
  • Dosis tidak boleh 7,5 mg/hari ke atas pada pasien dengan gagal ginjal stadium lanjut yang menjalani cuci darah (hemodialisis).
  • Peningkatan serum transaminase.
  • Pasien dengan kondisi lemah fisik (debil).
  • Pasien penderita lanjut usia.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Pasien penderita luka pada dinding lambung (tukak lambung aktif).
  • Pasien yang mengalami pendarahan pada saluran pencernaan dan serebrovaskular.
  • Pasien penderita gangguan fungsi hati dan ginjal tanpa cuci darah (dialisis).
  • Pasien penderita asma, jaringan yang tumbuh di bagian dalam saluran hidung (polip nasal), adanya bengkak pada beberapa bagian tubuh yang biasanya berada di sekitar mata, pipi, atau bibir (angioedema), dan biduran (urtikaria) yang disebabkan karena asetilsalisilat atau antiinflamasi non steroid lain.
  • Anak-anak.
  • Remaja 15 tahun ke bawah.
  • Wanita hamil dan menyusui.

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Obat antiinflamasi non steroid lain.
  • Heparin sistemik.
  • Obat trombolitik.
  • Litium.
  • Metotreksat.
  • Alat kontrasepsi dalam rahin.
  • Diuretik.
  • Obat antihipertensi.
  • Kolestiramin.
  • Siklosporin.

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/movix?type=brief&lang=id
Diakses pada 16 Juni 2020

Medscape. https://reference.medscape.com/drug/mobic-vivlodex-meloxicam-343299#0
Diakses pada 16 Juni 2020

Drugs. https://www.drugs.com/meloxicam.html
Diakses pada 16 Juni 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Kenali Ciri-ciri Pengapuran Tulang Sesuai Bagian Tubuh yang Mengalaminya

Pengapuran tulang dapat terjadi pada siapa saja dan menyerang berbagai bagian sendi manapun. Mengetahui gejala dan risiko komplikasinya dapat membuat Anda lebih awas.
13 Jul 2020|Annisa Trimirasti
Baca selengkapnya
Kenali Ciri-ciri Pengapuran Tulang Sesuai Bagian Tubuh yang Mengalaminya

Sering Dialami Lansia, Kenali Cara Mengatasi Pengapuran Tulang Berikut

Pengapuran tulang kerap dialami oleh lansia akibat dari proses penggunaan sendi dalam jangka waktu lama. Kondisi ini bisa dicegah dengan gaya hidup sehat
22 Oct 2019|Nina Hertiwi Putri
Baca selengkapnya
Sering Dialami Lansia, Kenali Cara Mengatasi Pengapuran Tulang Berikut

6 Hal Ini Menyebabkan Gangguan Tulang Ekor Sakit

Tulang ekor sakit merupakan kondisi yang sangat tidak nyaman karena bisa mengganggu aktivitas normal sehari-hari. Penyebab kondisi tersebut bisa bermacam-macam. Mulai dari cedera, melahirkan, hingga penyakit tertentu.
02 Sep 2019|Armita Rahardini
Baca selengkapnya
6 Hal Ini Menyebabkan Gangguan Tulang Ekor Sakit