Morphine

02 Mar 2021| Olivia
Ditinjau oleh Veronika Ginting
Morphine adalah obat yang digunakan untuk mengatasi nyeri berat

Morphine adalah obat yang digunakan untuk mengatasi nyeri berat

Daftar merek obat yang beredar di Indonesia

MST Continus

Deskripsi obat

Morphine adalah obat yang digunakan untuk mengatasi nyeri berat. Morphine termasuk ke dalam golongan obat analgesik opioid yang digunakan untuk mengobati nyeri hebat, misalnya rasa sakit setelah operasi dan cedera serius, serta nyeri akibat kanker atau serangan jantung.

Morphine juga digunakan untuk mengatasi jenis nyeri jangka panjang lainnya, saat obat penghilang rasa sakit lain atau yang kekuatannya lebih lemah dibandingkan morphine tidak dapat lagi bekerja. Di dalam tubuh, morphine memiliki beberapa efek, seperti mengurangi rasa sakit, menghilangkan rasa lapar, dan menekan batuk.

Morphine termasuk obat yang penggunaannya diawasi di beberapa negara untuk mencegah penyalahgunaan obat. Mintalah surat keterangan dari dokter bahwa Anda sedang menjalani pengobatan morphine jika berencana melakukan perjalanan ke luar negeri.

Morphine (Morfina)
GolonganKelas terapi : Analgesik Klasifikasi Obat : Opioid.
Kategori obatObat resep
Bentuk sediaan obatTablet, injeksi
Dikonsumsi olehDewasa dan lansia
Kategori kehamilan dan menyusuiKategori C: Belum terdapat penelitian terkontrol, tetapi ada efek samping yang mungkin dapat mengganggu perkembangan dan pertumbuhan janin.
Dosis obatDosis setiap orang berbeda-beda. Pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan atau mengonsumsi obat.

Efek samping obat

Setiap penggunaan obat berpotensi menimbulkan efek samping. Jika efek samping memburuk, segera cari bantuan tenaga medis. Efek samping yang mungkin timbul dari pemakaian morphine, antara lain:

  • Sakit perut.
    Cobalah istirahat agar tubuh Anda lebih rileks. Kompreslah perut Anda menggunakan handuk hangat atau botol berisi air panas.
  • Diare.
    Untuk mengatasi diare ringan, Anda perlu mengganti cairan dan elektrolit (garam) yang hilang dengan meminum banyak air atau minuman olahraga kaya elektrolit. Hindari kopi, minuman berkafein, minuman manis, soda, dan alkohol karena memiliki efek pencahar.
  • Mual.
    Hindari makanan yang sulit dicerna. Jangan berbaring setelah makan. Beristirahatlah dengan posisi kepala lebih tinggi dari kaki Anda. Jika Anda merasa mual saat bangun di pagi hari, makanlah daging tanpa lemak atau keju sebelum tidur.
    Anda juga bisa meletakkan biskuit di samping tempat tidur Anda dan makanlah sedikit sesaat setelah bangun tidur. Minumlah setidaknya enam gelas air sehari.
  • Muntah.
    Duduk atau berbaring dalam posisi bersandar. Minumlah sedikit minuman manis karena minuman dengan gula di dalamnya bisa membantu menenangkan perut. Namun, hindari minuman asam, seperti jus jeruk atau jus anggur.
  • Penurunan tekanan darah (hipotensi) berat.
  • Konstipasi (sembelit).
  • Pingsan (sinkop).
  • Kekurangan sel darah merah (anemia).
  • Gangguan pada irama jantung.
  • Penglihatan kabur.
  • Kecemasan.
  • Kebingungan.
  • Ketergantungan.
  • Halusinasi.
  • Kesulitan tidur (insomnia).
  • Perubahan suasana hati.
  • Kemerahan (ruam) kulit.
  • Mulut kering.

Perhatian Khusus

Obat ini tidak dapat digunakan dalam jangka panjang. Beri tahu dokter mengenai riwayat penyakit sebelumnya, terutama jika Anda memiliki riwayat atau kondisi berikut ini.

  • Kekurangan jumlah darah dan cairan tubuh (hipovolemia).
  • Penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular), seperti serangan jantung.
  • Kerusakan kelenjar adrenal, sehingga tidak dapat memproduksi hormon (penyakit Addison). 
  • Gangguan saluran empedu.
  • Peradangan pankreas (pankreatitis) akut.
  • Pembesaran prostat (hiperplasia prostat).
  • Kelemahan otot rangka (myasthenia gravis).
  • Kondisi kesehatan mental, misalnya depresi, kecemasan, dan gangguan stres setelah trauma.
  • Kejang.
  • Gangguan tiroid.
  • Riwayat penyalahgunaan obat-obatan atau alkoholisme akut.
  • Penumpukan lemak berlebihan (obesitas).
  • Gangguan hati dan ginjal berat.
  • Ibu hamil dan menyusui.

Penyimpanan

Simpan pada suhu antara 20-25°C, serta terlindung dari cahaya matahari langsung. Jangan simpan di tempat lembap.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

Jangan mengonsumsi obat ini jika mempunyai kondisi medis, seperti:

  • Alergi terhadap morphine.
  • Penyakit saluran napas obstruktif.
  • Gangguan pergerakan usus akibat kelumpuhan otot usus (ileus paralitik).
  • Penyakit hati akut.
  • Cedera kepala.
  • Peningkatan tekanan rongga kepala (intrakranial).
  • Asma bronkial akut atau berat.
  • Gagal jantung sekunder akibat penyakit paru-paru kronis.
  • Penggunaan bersama selama atau dalam 14 hari setelah terapi obat golongan monoamine oxidase inhibitors (MAOI).

Kategori kehamilan & menyusui

Kategori C: Belum terdapat penelitian terkontrol untuk penggunaan morphine pada ibu hamil. Namun, ada efek samping yang mungkin dapat mengganggu perkembangan dan pertumbuhan janin.
Oleh karena itu, penggunaannya pada ibu hamil hanya dapat dilakukan jika manfaat yang diberikan melebihi risiko yang mungkin timbul pada janin.
Konsultasikan penggunaan obat ini dengan dokter sebelum digunakan.

Kapan perlu menghentikan penggunaan dan menghubungi dokter?

Jangan menghentikan penggunaan obat secara tiba-tiba tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter jika telah menggunakan morphine selama beberapa minggu. Hal tersebut dapat menimbulkan gejala putus obat, yaitu efek fisik dan mental yang akan timbul jika menghentikan penggunaan obat secara tiba-tiba.

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

Interaksi mungkin terjadi jika Anda menggunakan beberapa obat bersamaan. Apabila ingin menggunakan obat ini bersama obat lain, harap konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu. Sebab, dokter mungkin saja mengubah dosisnya.

Berikut ini jenis obat yang akan menimbulkan interaksi tertentu saat digunakan bersama morphine.

  • Codeine, oxycodone, buprenorfin, nalbuphine, pentazocine.
    Menggunakan morphine bersama obat pereda nyeri di atas akan mengurangi efektivitas masing-masing obat dalam meredakan nyeri.
  • Obat tidur atau gangguan kecemasan, seperti alprazolam, lorazepam, dan zolpidem.
    Menggunakan morphine bersama obat di atas dapat meningkatkan efek samping obat tersebut.
  • Obat antialergi atau antihistamin, seperti cetirizine dan diphenhydramine.
    Menggunakan morphine bersama obat di atas akan mengurangi efektivitas obat dalam mengurangi gejala alergi.

Informasi yang diberikan bukan sebagai pengganti konsultasi medis langsung dengan dokter, atau mengarahkan pemakaian obat dengan merek tertentu. Pemakaian obat harus dengan resep dokter. Ketersediaan obat tergantung pada indikasi yang disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/morphine/?type=brief&mtype=generic
Diakses pada 27 Januari 2021

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-327-819/morphine-oral/morphine-oral/details
Diakses pada 27 Januari 2021

MayoClinic. https://www.mayoclinic.org/drugs-supplements/morphine-oral-route/side-effects/drg-20074216
Diakses pada 27 Januari 2021

MedlinePlus. https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a682133.html
Diakses pada 27 Januari 2021

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email