Methadone

28 Agu 2019| Maria Yuniar
Ditinjau oleh dr. Anandika Pawitri
Methadone termasuk golongan analgesik opioid (narkotika) untuk mengobati kecanduan terhadap heroin

Methadone digunakan untuk mengobati kecanduan heroin

Deskripsi obat

Methadone merupakan obat yang digunakan untuk menghilangkan rasa sakit dari sedang sampai parah seperti pasca operasi. Obat ini juga digunakan untuk mengobati kecanduan terhadap heroin.

Methadone termasuk golongan analgesik opioid (narkotika). Obat ini bekerja pada sistem saraf untuk menghilangkan rasa sakit.

Methadone (Metadon)
Golongan

Analgesik opioid

Kategori obat

Obat resep

Bentuk sediaan obat

Tablet, bubuk, cairan

Dikonsumsi oleh

Dewasa dan anak

Kategori kehamilan dan menyusui

Kategori C: Penelitian pada hewan percobaan menunjukkan efek buruk terhadap janin dan tidak ditemukan studi yang memadai pada manusia. Namun, mengingat efektivitasnya, penggunaannya dapat dipertimbangkan pada wanita hamil sekalipun berisiko

Dosis obat

Dosis berdasarkan kondisi medis, dan mungkin bersifat individual. Selama pengobatan, dokter akan memantau respons terhadap pengobatan dan melakukan penyesuasian dosis bila diperlukan.  

Analgesik (pereda nyeri):

  • Dewasa: 2,5-10 mg sebagai dosis awal, setiap 6-8 jam sesuai kebutuhan. Dosis dapat ditingkatkan perlahan, berdasarkan respons tubuh terhadap pengobatan. Obat juga bisa diberikan melalui suntikan. Jangan gunakan obat lebih dari 2 kali sehari untuk jangka panjang.
  • Anak: 0,7 mg/kg per hari dalam dosis terbagi, setiap 4-6 jam sesuai kebutuhan. Maksimal 10 mg per dosis. Penambahan dosis harus dilakukan dengan hati-hati, berdasarkan kebutuhan pasien.

Neonatal abstinence syndrome (NAS):

  • Anak: 100 mcg/kg, ditingkatkan 50 mcg/kg setiap 6 jam sampai gejala bisa dikendalikan. Untuk jangka panjang, obat harus diberikan dalam 2 dosis terbagi setiap hari.

Batuk akut akibat kanker paru-paru:

  • Dewasa:1-2 mg setiap 4-6 jam. Kurangi dosis setiap 12 jam, untuk penggunaan jangka panjang.

Ketergantungan opioid (narkotika):

  • Dewasa: 20-30 mg sebagai dosis awal, dalam dosis tunggal. Tambahan dosis 5-10 mg mungkin dibutuhkan jika gejala tidak mereda, atau saat gejala muncul kembali. Dosis maksimal 40 mg pada hari pertama. Untuk menstabilkan pasien, dosis diberikan sebesar 40 mg dalam dosis tunggal maupun terbagi. Setelah pasien stabil selama 2-3 hari, dosis bisa dikurangi bertahap, atau dengan interval 2 hari. Dosis bersifat individual dan disesuaikan dengan kondisis pasien, untuk menjaga gejala putus obat tetap dalam batas wajar.
  • Anak: Dosis bersifat individual, berdasarkan toleransi tubuh terhadap candu. Setelah jangka waktu perawatan tertentu, pengurangan obat harus dilakukan perlahan. Pengurangan dosis tidak melebihi 10% dalam satu waktu, dengan interval 10-14 hari di antara pengurangan dosis.

Efek samping obat

Setiap pemakaian obat berpotensi menimbulkan efek samping. Meski belum tentu terjadi, efek samping yang berlebihan harus segera mendapat penanganan medis.

Obat methadone dapat menyebabkan efek samping berupa mual, muntah, konstipasi, pusing, mulut kering. Jika efek memburuk, segera hubungi dokter untuk mendapatkan penanganan medis.

Segera cari pertolongan medis jika mengalami efek samping berikut ini yang meski jarang, tapi sifatnya serius.

  • Kesulitan buang air kecil
  • Sakit perut
  • Perubahan mental
  • Kelelahan yang tidak biasa

Ada beberapa efek samping lain yang belum disebutkan di atas. Jika Anda mengalami efek samping lain, tanyakan pada tenaga kesehatan.

Perhatian Khusus

Beri tahu dokter mengenai riwayat penyakit sebelumnya, terutama bila Anda memiliki riwayat atau kondisi berikut ini.

  • Gangguan hati dan gangguan ginjal
  • Masalah pernapasan
  • Penyakit pankreas
  • Penyakit kandung empedu

Jangan mengonsumsi obat ini jika mempunyai kondisi medis seperti:

  • Masalah pernapasan akut
  • Cedera kepala

Informasi lebih lengkap bisa dilihat melalui kemasan obat.

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

Interaksi mungkin terjadi jika Anda mengonsumsi beberapa obat bersamaan. Apabila ingin mengonsumsi methadone bersama dengan obat lain, harap konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu. Sebab, dokter mungkin saja mengubah dosisnya.

Berikut ini jenis obat yang akan menimbulkan interaksi tertentu saat digunakan bersamaan dengan methadone.

Jenis ObatInteraksi
Naloxone, naltrexone, pentazocine, nalbuphine, butorphanol, buprenorphinePotensi gejala putus obat
Antiretrovirals (abacavir, amprenavir, efavirenz, nelfinavir, nevirapine, ritonavir, lopinavir), rifampin, phenytoin, phenobarbital, carbamazepinePenurunan efektivitas obat
CYP3A4 inhibitor (ketoconazole, voriconazole, sertraline, fluvoxamine)Peningkatan toksisitas
Pengatur ritme jantungPeningkatan risiko toksisitas kardiak
Alkohol, opioid lain, depresan CNSPeningkatan depresi central nervous system (CNS)
Desipramine, zidovudinePeningkatan kadar desipramine dan zidovudine dalam darah

Informasi yang diberikan bukan sebagai pengganti konsultasi medis langsung dengan dokter, atau mengarahkan pemakaian obat dengan merek tertentu. Pemakaian obat harus dengan resep dokter. Ketersediaan obat tergantung pada indikasi yang disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

https://www.webmd.com/drugs/2/drug-2671-1194/methadone-oral/methadone-dispersible-tablet-oral/details
Diakses pada 23 November 2018

Mayoclinic. https://www.mayoclinic.org/drugs-supplements/methadone-oral-route/description/drg-20075806
Diakses pada 23 November 2018

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/methadone/?type=brief&mtype=generic
Diakses pada 23 November 2018

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email