Mesol Tablet

Deskripsi obat

Mesol tablet digunakan untuk mengobati berbagai kondisi peradangan seperti radang sendi, lupus, psoriasis, kolitis ulseratif, gangguan alergi, dan gangguan kelenjar endokrin. Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Mesol tablet mengandung zat aktif metilprednisolon yang mampu mencegah pelepasan zat dalam tubuh yang menyebabkan peradangan, obat ini tersedia dalam 3 dosis yaitu 4 mg, 8 mg, dan 16 mg.

Mesol Tablet
Golongan ObatObat kerasObat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
HETRp 60.000/box (4 mg); Rp 105.000/box (8 mg); Rp 15
Kemasan1 box isi 3 strip @ 10 tablet (4 mg; 8 mg; 16 mg)
ProdusenGracia Pharmindo

Indikasi (manfaat) obat

Mengobati:

  • Gangguan kelenjar endokrin.
  • Peradangan sendi.
  • Penyakit kolagen.
  • Penyakit kulit.
  • Penyakit asma bronkial.
  • Eksim yang terjadi akibat peradangan pada kulit (dermatitis atopik).
  • Penyakit mata.
  • Gangguan saluran pernapasan dan saluran pencernaan.
  • Kelainan darah.
  • Tumor (neoplasma).
  • Pembengkakan pada anggota tubuh yang terjadi karena penimbunan cairan di dalam jaringan (edema).
  • Eksaserbasi akut dari gangguan saraf pada otak, mata, dan tulang belakang (multiple sklerosis).
  • Peradangan pada kulit yang ditandai dengan ruam merah, kulit kering, tebal, bersisik, dan mudah terkelupas (psoriasis).
  • Gangguan alergi.
  • Lupus.

Komposisi obat

  • Mesol tablet 4 mg: metilprednisolon 4 mg.
  • Mesol tablet 8 mg: metilprednisolon 8 mg.
  • Mesol tablet 16 mg: metilprednisolon 16 mg.

 

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

  • Dosis awal: 4-48 mg/hari.
  • Multipel sklerosis: 160 mg/hari untuk beberapa minggu, dilanjutkan dengan 64 mg/hari selama 1 bulan.

Aturan pakai obat

Sebaiknya dikonsumsi dengan makanan.

Efek samping obat

  • Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.
  • Gangguan fungsi pada ligamen, otot, saraf, sendi, dan tendon, serta tulang belakang (gangguan muskuloskeletal).
  • Luka pada dinding lambung (tukak peptik) yang disertai pendarahan dan penyumbatan (perforasi).
  • Radang pada kelenjar pankreas (pankreatitis).
  • Penumpukan gas atau cairan dalam perut (distensi abdomen).
  • Peradangan dan luka pada lapisan kerongkongan (esofagitis ulseratif).
  • Penyakit kulit.
  • Kejang.
  • Peningkatan tekanan intrakranial dengan papiledema.
  • Kondisi yang membuat penderitanya mengalami pusing, sampai merasa dirinya atau sekelilingnya berputar (vertigo).
  • Sakit kepala.
  • Kejang.
  • Pseudotumor serebral.
  • Katarak silokapsular posterios.
  • Peningkatan tekanan intraokular mata.
  • Peningkatan tekanan bola mata (glaukoma).
  • Salah satu atau kedua bola mata menonjol keluar (eksoftalmus).
  • Keseimbangan nitrogen negatif akibat katabolisme protein.
  • Reaksi alergi.
  • Jerawat.
  • Ketidakstabilan emosional.
  • Kemerahan pada kulit.
  • Kesulitan mengeluarkan cairan (retensi cairan).
  • Gangguan kesulitan tidur (insomnia).
  • Peningkatan berat badan.

Perhatian Khusus

  • Penggunaan jangka panjang.
  • Anak-anak.
  • Bayi.
  • Pasien penderita peradangan pada usus besar (kolon) dan bagian akhir usus besar yang tersambung ke anus (kolitis ulseratif non spesifik).
  • Pasien dengan riwayat pembedahan anatomosis intestinal, peradangan divertikula yang terdapat pada saluran pencernaan (divertikulitis), luka pada dinding lambung (tukak peptik) aktif atau laten, gangguan ginjal (insufisiensi ginjal), tekanan darah tinggi (hipertensi), pengeroposan tulang (osteoporosis), dan kelemahan otot (miastenia gravis).
  • Penggunaan bersama dengan asam asetilsalisilat.
  • Pasien dengan kondisi ketika tubuh hanya menghasilkan sedikit hormon tiroid (hipotiroid).
  • Rusaknya organ hati akibat terbentuknya jaringan parut (sirosis).
  • Pasien penderita kencing manis (diabetes melitus).
  • Wanita hamil dan ibu menyusui.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Pasien yang memiliki alergi terhadap komponen obat ini.
  • Pasien penderita infeksi jamur sistemik.
  • Pasien penderita luka pada dinding lambung (tukak lambung).
  • Pengeroposan tulang (osteoporosis).
  • Gangguan psikiatrik.
  • Pasien penderita infeksi parasit di dalam usus besar (amubiasis).
  • Pasien penderita penyakit saraf yang dapat menyebabkan kelumpuhan permanen (poliomielitis).
  • Pasien penderita glaukoma sudut sempit atau sudut terbuka.
  • Pasien penderita infeksi virus.

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Glikosida jantung.
  • Diuretik.
  • Obat antidiabetik.
  • Derivat kumarin.
  • Rifampisin.
  • Fenitoin.
  • Barbiturat.
  • Aspirin.
  • Ketokonazol.
  • Siklosporin.
  • Troleandomisin.

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/mesol?type=brief&lang=id
Diakses pada 16 Juni 2020

Medscape. https://reference.medscape.com/drug/medrol-medrol-dosepak-methylprednisolone-342746#0
Diaskes pada 16 Juni 2020

Drugs. https://www.drugs.com/methylprednisolone.html
Diakses pada 16 Juni 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Apakah Anda Boleh Menjemur Pakaian Dalam Rumah?

Menjemur pakaian tidak boleh sembarangan. Ada hal-hal yang perlu diperhatikan agar kebersihannya tetap terjaga, terutama bagi Anda yang sering menjemur pakaian dalam rumah.
15 Jan 2020|Rieke Saraswati
Baca selengkapnya
Apakah Anda Boleh Menjemur Pakaian Dalam Rumah?

Alergi Ayam Dapat Dicegah dan Diobati dengan Hal Ini!

Alergi ayam tidak boleh diremehkan. Sebab, gejalanya bermacam-macam, mulai dari sesak napas hingga hilangnya kesadaran.
31 Aug 2020|Fadli Adzani
Baca selengkapnya
Alergi Ayam Dapat Dicegah dan Diobati dengan Hal Ini!

Ragam Efek Samping Cataflam Ini Harus Diperhatikan oleh Pasien

Efek samping cataflam yang umum terjadi cukup beragam, mulai dari sakit perut, mual, hingga sakit kepala. Efek samping cataflam juga ada yang bersifat serius sehingga pasien harus berhati-hati.
22 Oct 2020|Arif Putra
Baca selengkapnya
Ragam Efek Samping Cataflam Ini Harus Diperhatikan oleh Pasien