Meproson Tablet 4 mg

Deskripsi obat

Meproson tablet adalah obat untuk mengatasi berbagai kondisi peradangan. Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Meproson tablet mengandung zt aktif metilprednisolon.
Metilprednisolon adalah obat golongan kortikosteroid yang bekerja dengan menekan kekebalan tubuh sehingga mencegah pelepasan zat dalam tubuh yang menyebabkan terjadinya peradangan. Obat ini dapat digunakan untuk mengobati bebagai kondisi peradangan seperti radang sendi, lupus, peradangan pada kulit yang ditandai dengan ruam merah, kulit kering, tebal, bersisik, dan mudah terkelupas (psoriasis), peradangan pada usus besar dan rektum (kolitits ulseratif), ganggguan alergi, gangguan kelenjar endokrin, dan kondisi yang memengaruhi kulit, mata, paru-paru, perut, sistem saraf, dan sel darah.

Meproson Tablet 4 mg
Golongan ObatObat kerasObat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
Kemasan1 box isi 10 strip @ 10 tablet (4 mg)
ProdusenMeprofarm

Indikasi (manfaat) obat

Mengobati:

  • Peradangan sendi (arthritis).
  • Peradangan sendi akibat sistem kekebalan tubuh yang menyerang jaringannya sendiri (rheumatoid arthritis).
  • Gangguan sistem kekebalan tubuh seperti lupus.
  • Peradangan pada kulit yang ditandai dengan ruam merah, kulit kering, tebal, bersisik, dan mudah terkelupas (psoriasis).
  • Peradangan pada usus besar dan rektum (kolitits ulseratif).
  • Ganggguan alergi.
  • Gangguan kelenjar endokrin.
  • Kondisi yang memengaruhi kulit, mata, paru-paru, perut, sistem saraf, dan sel darah.

Komposisi obat

 

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

  • Antiinflamasi dan penekan sistem imun:
    • Dewasa:
      • Dosis awal: 2-60 mg/hari dalam 1-4 dosis terbagi.
    • Anak-anak: 0,5-1,7 mg/kb BB/hari dalam dosis terbagi tiap 6-12 jam.
      (Dihitung dengan mengalikan berat badan pasien)

  • Alergi:
    • Dewasa:
      • Hari pertama: 24 mg/hari (8 mg sebelum sarapan, 4 mg setelah makan siang, 4 mg setelah makan malam, dan 8 mg saat tidur malam).
      • Hari ke-2: 20 mg/hari (4 mg sebelum sarapan, 4 mg sesudah makan siang, 4 mg sesudah makan malam, dan 8 mg saat tidur malam).
      • Hari ke-3: 16 mg/hari (4 mg sebelum sarapan, 4 mg sesudah makan siang, 4 mg sesudah makan malam, dan 4 mg saat tidur malam).
      • Hari ke-4: 12 mg/hari (4 mg sebelum sarapan, 4 mg sesudah makan siang, dan 4 mg saat tidur malam).
      • Hari ke-5: 8 mg/hari (4 mg sebelum sarapan dan 4 mg saat tidur malam).
      • Hari ke-6: 4 mg/hari dikonsumsi sebelum sarapan.

Aturan pakai obat

Sebaiknya dikonsumsi dengan makanan.

Efek samping obat

  • Reaksi alergi berat.
  • Gangguan kejiwaan seperti depresi, euforia, gangguan kesulitan tidur (insomnia), dan perubahan suasana hati.
  • Lebih rentan terkena infeksi jamur atau bakteri.
  • Peningkatan tekanan darah tinggi.
  • Gangguan dalam mengeluarkan cairan dan natrium.
  • Luka pada dinding lambung dan usus.
  • Jerawat.
  • Kelemahan otot.
  • Tidak mengalami menstruasi selama 3 siklus berturut-turut (amenorrhea).
  • Sakit kepala.
  • Pembengkakan akibat penumpukan cairan pada tubuh (edema).
  • Gangguan pada saluran pencernaan.
  • Sindrom cushing dengan gejala pembengkakan pada wajah (moon face) dan peningkatan berat badan.
  • Katarak.
  • Peningkatan tekanan intraokular pada mata (glaukoma).
  • Nyeri otot.
  • Pengeroposan tulang (osteoporosis).

Perhatian Khusus

  • Hentikan penggunan obat ini secara bertahap, jangan hentikan secara mendadak.
  • Pasien penderita luka pada dinding lambung (tukak lambung).
  • Pasien penderita tekanan darah tinggi (hipertensi).
  • Pasien yang mengalami kelemahan otot tubuh akibat gangguan pada saraf dan otot (miastenia gravis).
  • Pasien yang mengalami serangan jantung akut.
  • Pasien penderita katarak.
  • Pasien yang mengalami peningkatan tekanan bola mata (glaukoma).
  • Pasien penderita penyakit tiroid.
  • Pasien penderita gangguan ginjal dan hati.
  • Kategori kehamilan dan menyusui:
    Ketegori C. Penelitian pada hewan percobaan menunjukkan efek buruk terhadap janin dan tidak ditemukan studi yang memadai pada manusia. Namun, mengingat efektivitasnya, penggunaannya dapat dipertimbangkan pada wanita hamil sekalipun berisiko.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Pasien yang memiliki riwayat alergi terhadap komponen obat ini.
  • Pasien penderita tuberkulosis.
  • Pasien penderita kencing manis (diabetes melitus).
  • Pasien yang mengalami infeksi jamur sistemik.
  • Pasien penderita penyakit herpes simpleks dan varisela.
  • Pasien penderita pengeroposan pada tulang (osteoporosis).

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Penggunaan bersama aminoglutamid dapat menghilangkan tekanan adrenal yang diindukso oleh kortikosteroid.
  • Penggunaan bersama dengan obat diuretik dan amfoterisin B dapat menyebabkan risiko penurunan kadar kalium dalam darah (hipokalemia).
  • Penggunaan bersama dengan antibiotik makrolida dapat menyebabkan penurunan bersihan.
  • Penggunaan bersama isoniazid menyebabkan penurunan kadar serum isoniazid.
  • Penggunaan bersama kolestiramin dapat meningkatkan bersihan.
  • Penggunaan bersama dengan siklosporin menyebabkan risiko terjadinya kejang.
  • Penggunaan bersama estrogen menyebabkan penurunan metabolisme.
  • Penggunaan bersama glikosida digitalis menyababkan risiko terjadinya gangguan irama jantung (aritmia).
  • Penggunaan bersama ketokonazol dan eritromisin dapat menyebabkan terjadinya peningkatan metabolisme.
  • Aspirin dapat meningkatkan terjadinya risiko gangguan pada saluran pencernaan.
  • Penggunaan bersama warfarin dapat menyebabkan peningkatan risiko perdarahan.
  • Dapat menurunkan efektivitas obat antidiabetes.

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/methylprednisolone
Diakses pada 15 Juli 2020

Drugs. https://www.drugs.com/methylprednisolone.html
Diakses pada 15 Juli 2020

Rxlist. https://www.rxlist.com/medrol-drug.htm
Diakses pada 15 Juli 2020

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/methylprednisolone-oral-tablet#side-effects
Diakses pada 15 Juli 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Ini Jenis Makanan untuk Penderita Autoimun Seperti Ashanty

Ashanty mengabarkan dirinya menderita penyakit autoimun. Meski belum ada cara ampuh untuk mengobatinya, penyakit ini dikatakan dapat dikendalikan melalui pola makan yang tepat. Apa saja makanan untuk penderita autoimun yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi?Baca selengkapnya
Ini Jenis Makanan untuk Penderita Autoimun Seperti Ashanty

Telapak Kaki Sakit Saat Bangun Tidur Bisa Disebabkan 5 Penyakit Ini

Telapak kaki sakit saat bangun tidur, akan terasa sangat mengganggu ketika beranjak dari tempat tidur. Jika ingin mengatasinya, kenali dulu penyebab kondisi tersebut. Dengan begitu, Anda bisa melakukan perawatan yang tepat.
20 Oct 2020|Fadli Adzani
Baca selengkapnya
Telapak Kaki Sakit Saat Bangun Tidur Bisa Disebabkan 5 Penyakit Ini

Kenali Dampak Positif dan Negatif Film Horor Bagi Kesehatan

Film horor selalu berhasil membuat penontonnya merasa takut dan berdebar. Jangan disepelekan, hal ini dapat memberikan dampak positif dan negatif bagi kesehatan.
27 Aug 2019|Grace Ratnasari
Baca selengkapnya
Kenali Dampak Positif dan Negatif Film Horor Bagi Kesehatan